
Hari ini seperti biasa di kota pusat singapura, begitu hidup dan ramai. Yah setidaknya itulah yang dirasakan seorang gadis yang sedang duduk manis sembari menyeruput teh nya dengan nyaman.
Rambutnya yang hitam berkibar
layaknya bendera karena diterbangkan oleh angin pagi. Mata merah marun khas miliknya yang begitu kalem menatap ke sekeliling nya dan ia menyadari bahwa sebentar lagi dia akan pergi berangkat ke sekolah.
Heimdall Academy adalah tempat gadis tersebut belajar, belajar menjadi seorang ksatria sejati juga menjadi seorang pendekar kuat.
Setelah ia meminum teh untuk terakhir kali hari ini, gadis tersebut mengambil dan memakai tas nya dan ia pamitan dengan ayahnya yang sekarang sakit parah. Yang ada di pikiran gadis tersebut saat ini adalah bagaimana ia bisa dengan cepat menyelesaikan urusan sekolah dan langsung bekerja. Mungkin dia akan dipilih atau disuruh pilih ingin menjadi Ksatria atau menjadi pengurus logistik bahkan menjadi penjaga perpustakaan.
Gadis tersebut sudah tau jika Heimdall academy dipegang oleh organisasi yang bernama Crest,sebuah organisasi yang dimana selalu menciptakan hal-hal baru. Sejauh ini tidak ada yang aneh tapi gadis ini tidak peduli, yang terpenting adalah mencari uang, ia juga ingin mendapatkan uang dan menggunakan uang tersebut untuk membeli hiburan untuknya selain untuk biaya pengobatan ayahnya.
"Fredricka!" Seseorang berseru kepadanya, gadis yang dipanggil Fredricka tersebut berbalik dan mendongak keatas dan melihat seorang gadis seusianya melakukan parkour dan mendarat tepat di dengan lancar dan tanpa menubruk Fredricka sekalipun.
Benar sekali, dia adalah teman dari Fredricka saat masih berada di Methodist Girl's School. Fredricka mendengar bahwa gadis ini akan bersekolah di Indonesia yang berarti mereka harus berpisah.
"Fredricka! Ehe, aku punya sesuatu untukmu." Ucap gadis tersebut dan mengulurkan tangannya yang memegang gantungan kunci boneka teddy.
"Sudah kubilang panggil aku Rika... Dan.. Makasih atas hadiahnya." Fredricka menerima hadiah tersebut dan memeluk temannya itu, sayangnya waktu terus berjalan dan Fredricka tidak ingin terlambat sekolah dan temannya tersebut mengangguk paham dan sebelum pergi, dia berjanji akan mengunjungi Fredricka.
Setelah perpisahan dan beberapa menit kemudian, mungkin setengah jam akhirnya Fredricka sampai kesekolah barunya Heimdall Academy.
Di sana sudah berdiri seorang gadis yang tersenyum melihat para siswi datang, ah ya hampir kelupaan ngomong-ngomong, Heimdall Academy mencatat rekor memiliki siswi terbanyak dibandingkan dengan para siswa mereka, bahkan sempat trending di situs Website.
Dengan segera Fredricka datang mendatangi gadis berambut coklat tersebut dengan ramah.
"Hai, apakah kamu juga siswi disini?" Tanya Fredricka.
Gadis tersebut langsung memandang Fredricka tanpa jeda, ia hanya tersenyum sebelum mengeluarkan kata-katanya.
"Fredricka benar? Kalau begitu selamat datang di Heimdall Academy, aku adalah kepala sekolah kamu." Ucap gadis tersebut.
Fredricka langsung menganga tidak percaya, kaget karena gadis semuda dia menjadi kepala sekolah di Akademi terbaik di Singapura pada tahun ajaran sekarang karena memiliki kualitas knight yang bisa dikatakan lumayan tinggi.
"Hehe, aku tau kamu bakal tidak percaya tapi percayalah aku ini sudah dewasa." Ucap kepala sekolah sambil memegang pundak Fredricka.
Gimana mau percaya, kepala sekolah ini lebih terlihat seperti gadis SMP kelas 2 ketimbang kepala sekolah.
Bell berbunyi dan para siswi berbaris didepan lapangan termasuk Fredricka.
Tak lama setelah itu, gadis yang terlihat seperti kepala sekolah tersebut mendekati mimbar dan melihat murid-muridnya sebelum ia memulai bicaranya.
"Pertama-tama aku ucapkan selamat datang kepada kalian yang telah bergabung di Heimdall Academy. Aku, Erin Yerles selaku kepala sekolah kalian sekali lagi mengucapkan selamat bergabung.. "
Setelah kepala sekolah Erin menyelesaikan kata-katanya, kepsek Erin langsung menjauh dari mimbar dan salah satu perwakilan guru juga mengucapkan hal yang sama dan akhirnya merayakan kedatangan siswi baru dengan melakukan kegiatan olahraga bahkan memasak di Heimdall Academy.
Suasana yang indah dan ramai, Fredricka sangat senang dan menikmati kegiatan tersebut dengan riang hingga akhirnya ia melihat seorang siswa berambut putih menyendiri di salah satu sudut bangku Heimdall Academy.
"Hey, aku buatin mie goreng loh. Nih buat kamu." Fredricka memberikan sepiring mie goreng kepada gadis tersebut.
Gadis tersebut mendongak melihat Fredricka lalu kearah makanan, ia langsung mengambil piring tersebut dan memakannya dengan perlahan.
"Hey Fredricka! Ini sosis nya dah siap loh, kamu mau tidak?." Ucap seorang gadis lainnya yang memanggil Fredricka dan menawarkan sosis padanya.
"Sisakan aja nanti aku makan." Balas Fredricka dan melihat gadis yang memanggilnya mengangguk dengan senyuman.
Setelah gadis tersebut lanjut asik dengan kegiatannya, Fredricka duduk disamping gadis berambut putih tersebut.
"Arabel.. Arabel Nahara.." Setelah selesai makan, gadis tersebut memberitahukan sebuah nama dan Fredricka langsung paham bahwa itu adalah namanya.
"Arabel, nama yang bagus.. Namaku Fredricka Zachglow, kamu bisa panggil aku Rika, senang berkenalan denganmu Arabel." Fredricka dengan semangat memperkenalkan dirinya.
Arabel mengangguk lalu tersenyum.
"Makasih sekali lagi makanannya Fredricka.. Maksudku, Rika.. Sungguh makanannya enak banget." Ucap gadis tersebut.
"Kalau mau, aku bisa buatkan lagi."
"Eh? yang benar?."
Begitulah percakapan mereka berdua dan awal mereka berdua berteman baik.
Senyuman dari candaan terlukis didalam sejarah mereka berdua, gadis rambut putih yang bernama Arabel tersebut merasakan kehangatan dari Fredricka.
Seperti api yang tidak pernah padam, menyala didalam kegelapan dan memberikan setitik cahaya sebelum akhirnya api tersebut berevolusi menjadi cahaya seutuhnya.
Dari rooftop seorang gadis rambut coklat melihat mereka,ya dia adalah Erin,kepala sekolah mereka menatap mereka dengan senyuman diwajahnya.
"Sepertinya dia yang datang sendiri ke sekolah ini." Ucap seorang gadis berdiri dengan hormat di belakang Erin.
Erin sekali lagi melihat mereka berdua dari kejauhan sebelum mengucapkan sepatah atau dua kata.
"Zachglow dan Nahara." Erin langsung merenung, memikirkan organisasi Friggs. Tentu saja, Friggs mendengar organisasi tersebut telah menciptakan eksperimen baru dan itu berhasil.
Mereka membangunkan pemimpin mereka yang hidup 600 tahun lalu, Gawain Nahara. Gawain adalah pendiri dari Friggs,dulu nama dari organisasi ini adalah Freya, sejak kematian dari Gawain dan Farrah demi menyelamatkan dunia, organisasi tersebut dipegang oleh anak cucu Nahara dan mengganti nama dari Freya Company menjadi Friggs Company.
Berita buruk atau berita baik,tapi yang jelas Erin harus waspada kepada mereka. 5 tahun lalu ledakan besar terjadi atas eksperimen mereka, menciptakan anomali yang amat sangat menjijikkan sebut saja ras mereka adalah ras Pandemonium, ras yang penuh dengan kehidupan yang rusak yang ada didalam diri mereka.
Dan hal yang paling berbahaya adalah salah satu dari jenis mereka dapat mengeluarkan zat aneh yang dapat merusak pikiran makhluk hidup seperti manusia dan membuatnya jadi tidak berakal layaknya Zombie. Untung saja Knight kelas S dari Heimdall Academy mampu merebut kembali posisi kritis tersebut dan menyelamatkan kota Singapura.
...-BERSAMBUNG-...