
Tepat berada di gang-gang kecil kota Jakarta pusat, seorang gadis penyihir melangkahkan kakinya dari satu gang ke gang yang lain. Matanya yang jeli memandang ke sekitar dengan jeli, tampak terlihat tidak lelah.
Gadis berambut hitam dan berwajah khas asia tenggara, khususnya Indonesia ini adalah salah satu murid yang selamat atas kejadian tersebut. Ia sempat di culik oleh orang jahat yang menjadikan kejadian besar ini, kekacauan ini sebagai peluang bisnis. Untungnya gadis cantik tersebut dapat menggunakan kekuatannya dengan baik, membuat para penculik babak belur dan ia melaporkan kepada pihak Crest.
Nama gadis berambut hitam ini adalah Malanda Revita. Mempunyai darah keturunan Indonesia dan Jepang, tapi ia memilih untuk menjadi seorang knight walaupun dia berbakat dalam sihir, ia harusnya masuk kedalam akademi penyihir Gurjana yang kini sudah hancur dan dikabarkan para murid dan guru menghilang bahkan ada yang bermutasi menjadi Pandemonium.
Kegundahannya dimasa lalu di selamatkan oleh Erin, kepala sekolah sekaligus The Watcher dari organisasi raksasa Crest. Dikala itu ia bertemu dengan Erin di sebuah cafe, termenung sembari melirik rintik-rintik hujan yang mulai turun.
Ia sangat kesepian dan juga beban hidup sebagai anak pertama yang harus ia pikul. Ia kerap sering di bully disekolah karena dianggap aneh, sayangnya dunia ini tidak adil karena disaat ia mengadu kepada guru maupun kepala sekolah, hasilnya malah Vita yang dimarahin bahkan dengan tegas mengancam dikeluarkan dari sekolah jika ia melukai murid-murid meskipun ia tidak sengaja.
Lalu datanglah Erin, Erin tertarik melihat kekuatan aneh yang dimiliki Vita, itu adalah kekuatan sihir. Kekuatan sihir yang tidak perlu di cari akan datang sendiri dan tinggal di poles dan di evolusi.
Kehidupan Vita berubah, ia menjadi gadis yang periang namun kini cenderung protektif dan ceroboh. Tapi teman-teman barunya saat ia berada di sekolah, dimana yang memimpin sekolah tersebut adalah Erin tidak mengejek atau menghina Vita atau menjauhi nya.
Vita malah senang, diterima oleh orang untuk pertama kalinya di hidupnya. Tentu saja dia adalah Fredricka, anak yang pintar namun pemalas, terkadang sangat gegabah.
Vita adalah orang kedua yang Fredricka temui di sekolah setelah Arabel. Tepatnya disaat matapelajaran gabungan tentang sejarah, Fredricka dengan ceria mengoceh tiada henti Sampai-sampai Fredricka dimarahi oleh Mori selalu pengajar mereka.
"Vita berjanji.. Kepala sekolah Erin, aku akan membawamu pulang dan aku akan membalas kebaikan mu juga Fredricka. " Ucap gadis tersebut sembari mengambil tongkat kecilnya dan mengayunkan tongkat tersebut dengan jarinya layak nya seorang penghibur di acara sirkus.
Ia mendengar beberapa berita lewat alat komunikasi yang ia pasang di salah satu telinganya, alat komunikasi yang juga berguna sebagai radio informasi dalam siklus informasi yang dibawakan Crest.
"Menyingkir lah."
Ia mengayunkan tongkat nya kesamping kiri, cahaya kuning muncul diujung tongkatnya dan ketika ia mengipaskan tongkatnya ke kanan, cahaya tersebut berubah menjadi sebuah gelombang listrik yang melesat kearah Pandemonium didepannya.
Sekitar 6 Pandemonium langsung jatuh dalam satu ayunan.
**Bzzzt* (Suara sambungan komunikasi*)
"Halo, Revita melapor bahwa Pandemonium telah ditumbangkan.. Aku menuju ke arah markas cabang dari organisasi musuh dan mencoba mengumpulkan informasi secara diam. "
"Laporan diterima, Revita. Aku adalah informan barumu, Lavina." Suara serak seorang gadis terdengar dan kemudian sebuah hologram kecil muncul dari smartwatch milik Vita.
Revita di Jakarta selain mengamankan kota, ia juga diminta untuk menginvestigasi organisasi kecil yang mencoba menciptakan Crystal baru, kehidupan baru dan wadah baru. Mereka tidak tau informasi lebih, tapi eksperimen kali ini berbahaya karena Crystal tersebut mengandung zat kimia yang paling ditakuti oleh makhluk hidup biasa karena dapat mengantarkan orang-orang biasa, makhluk biasa kepada kematian.
*Tap.. Tap...*
Suara langkah kaki dari seseorang bergeming diantara bangunan ini, sangat kuat dan sangat dekat. Vita dengan segera melakukan penyamaran dan bersembunyi di sebuah sudut dinding diantara bangunan ini dan menyatu dengan gelapnya malam.
"Nghh... Sssrsshh."
Vita kali ini dapat melihat dengan jelas ketika suara itu datang, dia terlihat seperti manusia. Namun, bahu kiri dan bahu kanannya mencuat sebuah es yang ujungnya runcing nan tajam.
Wajah nya sangat pucat, seorang gadis yang Vita asumsikan dia adalah eksperimen yang terlepas dari organisasi tersebut.
"..."
Benar, saat Vita menggunakan mata batinnya, ia melihat bahwa gadis ini merupakan eksperimen daripada pembuatan Crystal oleh organisasi sesat.
"...!! "
*Sringg... Jleb*
Vita sangat kaget ketika benda es tajam meluncur kearah Vita. Untungnya Vita mempunyai refleksi yang bagus, sehingga ia menghindari benda tersebut yang mengincar dahi kepalanya dan mengenai dinding yang ada di belakangnya.
"Kalau begitu." -Vita.
Tongkat kecil yang Revita pegang kini menyatu dengan lengannya dan bertransformasi menjadi zirah kecil yang terletak di pergelangan tangannya.
Ia juga memunculkan sebuah lingkaran sihir yang ada ditangannya dan lingkaran sihir besar yang ada didekat gadis crystal tersebut.
Sebuah tangan besar dengan cakar yang sangat kuat muncul dari dalam lingkaran sihir yang besar, ketika Vita menggerakkan tangannya, tangan dari makhluk didalam portal tersebut ikut bergerak dan menghantam gadis crystal tersebut dan menciptakan pecahan besar dan suara pukulan besar, membuat tanah disekitar antara Revita dan gadis crystal bergetar.
"Apakah berhasil?. " Batinnya.
"Ahh, A-aarghh.. " Teriak gadis crystal yang ternyata ia menahan serangan Vita dengan duri es yang menjulang keatas.
"Apa dia sedang mencoba melawan?. " Tanya Vita dengan suara lirih.
Vita kemudian keluar dari penyamarannya dan ia melakukan mantra penyerangan dan menyerang gadis crystal bertubi-tubi. Apapun itu, ia terlihat sangat menderita dan Vita ingin ia lekas cepat sembuh dari penderitaan dan hanya ada kematian menantinya.
"Berhenti,kubilang BERHENTI.!! " Suara seorang laki-laki terdengar bersamaan dengan sebuah pisau melesat tak jauh dari Vita, menancap dinding dan meledakkan sebuah zat yang membuat penglihatan Vita kabur.
"Nghh... Sialan.. "
Dan benar saja, seorang laki-laki datang menghampiri gadis crystal yang saat didekati malah terdiam, ia tidak bergerak dan mencoba memahami siapa yang ada didepannya.
"Tak apa, ayo kesini.." Laki-laki itu menangkap pergelangan tangan gadis crystal,menariknya dengan terburu-buru dan tidak peduli bahwa ketika ia menarik lengan gadis tersebut tangannya sempat tersayat kecil dan meneteskan darah. gadis crystal tersebut hanya terdiam saja dan mengikuti tarikan dari laki-laki tersebut.
Setelah penglihatan dari Vita membaik, ia melihat ke sekeliling tidak ada orang lagi selain dirinya. Semuanya terlihat sepi dan Vita tidak merasakan aura apapun yang ada dimiliki gadis crystal tersebut.
"... Jejak darah. " Ucap Vita.
Ia mendekati darah kecil ditempat gadis crystal tadi berada dan menyerap darah tersebut untuk mengirimkan nya kepada Lavina.
*Bzzzt*
"Kiriman diterima, mohon tunggu sebentar ya. " Sebuah pesan balasan dari Lavina langsung terkirim setelah Vita mengirim sampel darah tersebut.
Ia ingin tau, siapa laki-laki yang menghalangi jalannya tadi.
...-Bersambung-...