
4 Bulan kemudian, Fredricka memiliki misi baru dari Heimdall akademi. Setelah belajar banyak dari akademi akhirnya ia mempunyai misi dan langsung praktek di lapangan.
Tentu saja misi ini dibawah komando wali kelas mereka,Tanigawa Mori. Sebagai kapten tentunya,kapten daripada Crest yang memimpin dengan beranggotakan Fredricka Zachglow, Arabel Nahara dan Vera Sergeeva di tim baru Tanigawa untuk sekarang.
Fredricka kini memandangi Pandemonium yang tengah menyerang kota, tak hanya itu organisasi lain yaitu Society juga menggunakan kesempatan ini untuk menyerang Crest.
"Fredricka, di arah jam 9 pesawat tempur akan mencoba menyerangmu." Suara dari Tanigawa Mori terdengar dan Fredricka mengangguk.
Dengan posisi siap siaga Fredricka melihat pesawat melesat dengan cepat menuju ke arah nya, dengan timing yang sangat pas Fredricka berhasil melompat menghindar serangan tersebut dan mendarat dibadan pesawat sembari memberikan tekanan pada pijakan kakinya lalu ia menendang sekali pesawat tersebut menjadi tidak terkendali.
Fredricka melompat dari pesawat tersebut dan saat sudah jauh dari pesawat jet, pesawat tersebut meledak dan Fredricka menciptakan rantai dan tangan besar dan seperti Hook maupun tali biasa, Fredricka langsung mengarahkan rantai yang ujung nya seperti tangan tersebut ke badan pesawat yang ada dibawahnya.
Fredricka berguling saat mendarat dan langsung mengeluarkan pistol dan pedang miliknya.
"Hati-hati Fredricka, segerombolan Pandemonium datang kearahmu." Ucap Vera dengan nada suara yang serius.
Fredricka memegang erat pedangnya dan ia melihat beberapa Pandemonium muncul di hadapannya dan Fredricka melawan mereka dengan gigih dan lincah.
Api dan petir, Fredricka dapat mengeluarkan energi tersebut ketika ia datang ke ruang medis karena di panggil oleh dokter yang bernama Zahlan. Serum tersebut berguna untuk memancing potensi elemen yang sebenarnya ada di tubuh Fredricka, sekarang Fredricka hanya perlu memoles kekuatannya.
Tanpa rasa takut Fredricka menghadapi Pandemonium yang lagi-lagi datang menyerangnya.
*Jdorr!!*
Sebuah suara tembakan terdengar dan Pandemonium jatuh dan tubuh mereka melebur menjadi pasir berwarna kuning.
Fredricka mengenali suara senjata ini dan langsung mendongak keatas dimana Arabel sudah ada untuk menolongnya.
Drone yang dinaiki Arabel kemudian tertembak oleh pesawat musuh dan Arabel jatuh,untungnya ada Fredricka disana untuk menangkap Arabel dan berpindah lagi ke Crest Airship yang sudah datang dan berada dibawah pesawat jet, Bentuknya memang seperti kapal tapi percayalah ini adalah pesawat ketimbang kapal.
"Dasar kamu,melakukan hal konyol kayak gitu" Ucap Fredricka, Arabel membalasnya dengan tersenyum dan tertawa kecil.
Tak lama kemudian wanita berambut biru dan gadis pendek berambut hijau toska menghampiri mereka. Wanita berambut biru tersebut adalah Tanigawa Mori dan gadis berambut hijau toska tersebut bernama Vera Sergeeva.
"Kerja bagus semuanya,menurut radar dokter Zahlan tidak ada lagi Pandemonium yang tersisa,kalian sudah mendapatkan cairan yang dimiliki Pandemonium?" Mori menyodorkan tangannya kedepan dengan pelan dan tangannya meminta benda yang ada di tangan Arabel.
Arabel tentu saja menyerahkan tabung kecil yang berisikan cairan Pandemonium tersebut dan tersenyum saat sudah menyerahkan tabung tersebut.
"Belum, kalian belum masuk ke kelas A. Ini adalah awal dari ujian kalian, ujian untuk mencapai knight kelas S." Dengan suara tegas ia sepertinya tau isi pikiran Arabel dan Fredricka, bahkan mungkin saja Vera.
"Ayolah bu guru, setidaknya kasih jaminan gitu." Balas Fredricka dengan wajah memelas.
Fredricka,Vera dan Arabel melihat satu sama lain dan tersenyum hingga akhirnya mereka masuk kedalam kapal yang besar ini. Namun, sebelum mereka semua masuk kedalam sebuah misil menubruk kapal mereka ini dan meledak membuat sebuah getaran besar.
Untungnya 2 bulan sebelumnya Fredricka,Vera dan Arabel sudah belajar cara menyeimbangkan diri ketika di sebuah kapal maupun pesawat.
Sejujurnya ini terlalu awal bagi mereka, namun karena kepala sekolah melihat potensi fisik mereka layak untuk naik langsung ke Ksatria kelas B,jadi mereka dilatih dalam waktu singkat.
Meskipun begitu Fredricka adalah orang yang terkadang kalem, periang bahkan ia berani untuk bolos sekolah karena Fredricka punya sifat malas. Untungnya Vera dan Arabel mau berinisiatif untuk menyeret Fredricka agar tidak malas. Fredricka juga terkadang orang yang sangat pemikir bahkan peduli, seperti ayahnya dan orang asing ia tak segan untuk bantu.
Sebuah misil kecil kemudian muncul dan seperti ular yang siap memangsa, misil tersebut melesat dengan cepat. Tapi untungnya Vera berhasil melindungi mereka bertiga dengan energy barrier.
Karena mereka bertiga tidak punya source untuk menggunakan sihir, jadi menggunakan energy dan teknologi adalah solusinya.
Vera kemudian mengaktifkan sebuah mekanisme menggunakan energy nya untuk mengendalikan teknologi yang ada di perlengkapannya. Perlengkapan Vera awalnya terlihat seperti aksesoris biasa,namun ketika ia mengaktifkan nya maka aksesoris tersebut mulai bergerak dan merambat di sekitar lengan kanan Vera hingga akhirnya lapisan besi yang merambat dilengan kiri Vera tersebut kini sudah membentuk layaknya lengan robot.
"Viscount, aktifkan mode Canon." Ucap Vera dan kemudian beberapa aksesoris lainnya melakukan hal yang sama seperti tangan kanan Vera. Vera kemudian menyatukan tangan nya dan membentuk layaknya meriam versi canggih.
Fredricka bisa merasakan saat senjata tersebut mulai bekerja dan mengeluarkan cahaya di corong depannya, senjata tersebut menggunakan energi alam untuk mengisi daya dan Fredricka dapat merasakan energy Pandemonium tercampur kedalam. Fredricka maupun Arabel langsung menjaga jarak saat persiapan sudah berada di titik 80%, mereka berdua tidak tau apa yang Vera pikirkan.
Ketika proses sudah 99% , sebuah kapal musuh yang sama besarnya dengan milik Crest muncul tak jauh dari mereka, sepertinya kapal itu dapat berkamuflase dengan alam langit. Saat sudah 100% dan hendak menembak kearah kapal musuh dan BOOM! Kapal musuh terkena serangan dan akibat dari serangan tersebut membuat kapal tersebut langsung oleng dan mulai jatuh kebawah.
"Vera sejak kapan kamu.. " Fredricka terkejut karena dengan sekali serang dapat menumbangkan kapal besar milik musuh dan Vera hanya tersenyum saja.
Fredricka kemudian teringat sesuatu kalau Vera memiliki kemampuan dalam mengetahui posisi musuh dengan melacak mereka meskipun memiliki presentase keberhasilan tapi bagi Fredricka itu adalah kemampuan yang keren.
"Sumpah keren banget kamu Vera..!! " Dengan bersemangat Fredricka kembali menghampiri Vera yang kini sudah kembali kebentuk semula, kelihatannya ini adalah pertama kali ia menggunakan kekuatannya seperti itu dan Vera hanya bisa tersenyum.
"Vera tidak kuat, mungkin itu hanya keberuntungan.. Bukankah begitu kak Arabel?"
Sebelum Arabel sempat membalas sebuah alat komunikasi milik Vera menyala dan memunculkan hologram kecil dari wali kelas mereka.
"Kalian tidak apa-apa? Aku mendengar kabar dari Kapal 7A terkena serangan." Ucap Mori.
"Kami tidak apa-apa bu guru, Vera tadi keren abis pokoknya." Balas Fredricka dengan semangat.
Mori menepuk dahinya pelan dan sedikit menahannya sambil menghembuskan nafasnya.
"Yang penting kalian tidak apa-apa, segera balik ke HQ, kepala sekolah ingin bicara dengan kalian." Ucap Mori dan saluran komunikasi dengan nya berakhir.
...-BERSAMBUNG-...