PANDEMONIUM

PANDEMONIUM
BAB III : PENGHIANATAN (?)



"Fredricka.." Terdengar suara perempuan memanggil namanya, suaranya sangat lembut.


"Fredricka... " Sekali lagi suara itu memanggil namanya untuk kedua kali nya dan Fredricka membuka matanya perlahan.


Awalnya Fredricka mengira itu adalah suara teman-temannya, namun ia salah. Saat Fredricka membuka matanya ia ada ditempat lain, semuanya serba putih lalu menjadi hitam disaat Fredricka mulai berjalan kearah timur, ia melihat sebuah benda aneh. Itu seperti Core suatu benda maupun lainnya, didepan Core tersebut ada seorang perempuan yang terlihat seusia dengan dia, di rantai dan dia hanya duduk perlahan menatap Fredricka.


Fredricka hanya tau dia seorang perempuan, namun sebagian besar dirinya tertutup oleh bayangan, hingga akhirnya saat Fredricka melihat agak dekat ia langsung sontak bahwa perempuan itu adalah dirinya, ia tidak paham apa yang terjadi.


"Jadi, Fredricka.. Ini adalah pertama kali kita jumpa,apa kau kaget? tenang, aku tidak akan memangsa otakmu seperti para Pandemonium yang terkontaminasi dengan mutant." Perempuan itu berbicara, namun Fredricka terlalu takut untuk melihatnya.


Perempuan itu tertawa, tawa khas orang jahat. Ia kemudian dengan susah payah berdiri dengan rantai yang membelenggu dirinya kemudian berjalan kearah Fredricka.


"Jangan mendekat.. Siapa kamu dan tempat apa ini." Balas Fredricka dengan nada suara ketakutan, namun ia mencoba untuk berani.


"Bukankah itu jelas, kau adalah aku dan aku adalah kamu." Perempuan itu tersenyum, wajahnya membuat Fredricka bingung apa yang ia rencanakan.


"Ahh, tidak percaya ya? Baiklah, aku adalah Crystal of Vortex yang berada didalam dirimu." Imbuhnya.


Lalu ia memberikan jeda dengan berbalik dan melihat Core yang ada di belakangnya.


"Aku memanggil mu kesini atas kemauanku begitu kesadaranku pulih, karena kesadaran ku pulih maka terjadi perubahan besar pada elemen yang kamu bawa." Jelasnya.


"Perubahan? Apa maksudmu?. " Balas Fredricka dengan wajah penasaran.


"Perubahan elemen Pandemonium tentu saja, aku menetralkannya, berkat itu kau sekarang memiliki kekuatan Vortex milikku, Thunder and Void." Balas perempuan itu dengan detail.


Fredricka menutup matanya, ia sudah tidak takut sekarang dan ia menghembuskan nafasnya.


"Sepertinya kamu masih bingung, mulai dari namaku dan siapa aku. " Perempuan itu terkekeh dan ia menggerakkan rantai tersebut dengan susah payah.


"Tidak usah, karena kita ada berada di alam bawah sadarku, maka aku bisa mengetahui namamu." Kali ini Fredricka tersenyum dan perlahan membuka matanya.


"Cepat tanggap rupanya, iya benar aku adalah Promethia dan suatu kebetulan kita mirip." Balas Promethia.


Mereka berdua saling menatap dan tiba-tiba pandangan Fredricka menjadi kabur, hingga akhirnya saat ia membuka matanya kembali, ia sudah berada di ruangan yang jelas adalah kamarnya sendiri di Harbringer.


Ia melihat Vera yang masih tertidur lelap ditemani oleh boneka kelinci yang ia peluk di kasur yang lain. Disituasi sekarang Vera sangat imut bagi Fredricka, bagaimana tidak tidur dengan memeluk boneka.


"Ranjang single bed ini, nyaman banget kayak dirumah." Ucap Fredricka dengan suara pelan dan ia cukup suka dengan kasur yang ia pakai sekarang.


"Apakah kamu tidak bisa tidur, Rika?. " Di keheningan tersebut, Fredricka kemudian mendengar suara Arabel yang terdengar layaknya orang bangun tidur.


"Masih jam segini, mau pergi keluar mengambil udara segar?." Kata Fredricka yang kini tersenyum, Arabel hanya menjawab dengan mengangguk, mengurangi keributan yang akan membangunkan Vera.


Mereka berdua pun mengambil senjata mereka untuk berjaga-jaga sambil berjalan keluar dari kamar mereka. Kamar yang nyaman dengan tiga single bed, bagi Fredricka itu sama seperti ia tidur di hotel bintang 5 di New York.


Fredricka maupun Arabel kini mencapai kantin, kantin ini dibuka 24 jam nonstop dan dijaga oleh robot sebagai Shopkeeper. Robot ini bicara dan bertingkah layaknya manusia dan para dokter menamainya Tesla MK1.


"..!!. "


Ketika mereka berdua hendak duduk, alarm darurat berbunyi dan seketika kapal ini terlihat kacau.


Tanpa berbicara, Fredricka langsung berlari sekencang mungkin untuk melihat Vera, Arabel yang ada disamping nya juga ikutan berlari mengikuti Fredricka.


Saat mereka ada di lorong, Pandemonium muncul dengan tampilan yang berbeda. Meskipun masih ada rasa-rasa gumpalan di fisik mereka, namun mereka kini sudah berevolusi layaknya makhluk hidup yang sangat aneh yang bisa berjalan.


"Fredricka, serahkan ini padaku,kau cepatlah ke kamar kita dan bangunkan Vera." Arabel kemudian mengeluarkan pedang dan senjata api miliknya dan ia membukakan sebuah celah dimana Fredricka bisa lewat.


Fredricka mengangguk lalu ia mulai berlari melewati Arabel, Arabel tidak mengalihkan pandangannya dan hanya fokus pada monster itu.


*Dorr.. Dorr..*


Tembakan dilakukan oleh Arabel terhadap para Pandemonium dan disaat dirinya mau di serang oleh Pandemonium, senjata yang ia pegang tersebut kini berubah menjadi tameng yang cukup keras, membuat lengan Pandemonium terpental bersama dengan tubuh mereka.


Disuatu mekanisme tameng tersebut masih ada berupa senjata api yang diselundupkan diantara lapisan tamengnya yang membuat Arabel dapat bertarung dengan fleksibel.


"Gun Eclipse..!. " Arabel menembakkan sebuah magnet kecil melayang berbentuk lingkaran dan magnet tersebut menyedot Pandemonium disekitar layaknya magnet ketemu magnet.


Tak ingin melewatkan kesempatan, Arabel menggerakkan giginya dan menebas Pandemonium langsung sekaligus dengan gerakan yang cepat.


Disisi Mori, Mori yang awalnya berbincang dengan para dokter kini sudah melawan lima Pandemonium dengan Great sword miliknya.


Great sword miliknya sangatlah baru dan bisa mengeluarkan misil kecil dengan kekuatan ledakan yang dapat menghancurkan tiga Pandemonium sekaligus ditambah Mori mendapatkan armor baru yang amat sangat kuat.


"Vera, Arabel, Fredricka tunggu aku, aku akan datang. "


Di sisi Fredricka, kini Fredricka sudah hampir sampai di kamar mereka, dengan tenaga yang masih full Fredricka tancap gas berlari dan dengan segera membuka pintu kamar mereka.


"...!! Ini.. " Alangkah terkejutnya Fredricka melihat kamar berantakan dan satu ranjang kelihatannya rusak parah, yang terpenting lagi adalah Vera tidak ada disana sama sekali.


"Vera! Kamu dimana!. " Seru Fredricka dan kini mulai mencari di setiap kamar bahkan ruangan.


*GRRR.*


Saat Fredricka hendak pergi ke ruang lainnya, Pandemonium datang dan menyerang Fredricka. Fredricka yang masih belum siap hanya bisa menghindar serangan tersebut dengan reflek yang bagus melakukan salto ke belakang.


"Pandemonium lagi.." Fredricka mengangkat katana yang tidak bersarung tersebut dan melakukan kuda-kuda sebelum akhirnya Fredricka menebas Pandemonium dengan sekali tebas tepat kearah leher mereka.


Dengan hampir susah payah karena Fredricka merasa Pandemonium telah berevolusi menjadi agak kuat, Fredricka berhasil dan tak sengaja memasuki ruang yang terlihat seperti ruang kontrol.


Didepan Fredricka, Fredricka melihat sosok yang ia kenali, Vera. Dengan semangat Fredricka menghampirinya.


"Vera, syukur lah kamu selamat.. Hehe, mari kita pu-. " Sebelum Fredricka menyentuh pundak temannya itu, ia seperti dihantam sesuatu yang keras yang membuat Fredricka terpental keras dan ia melihat Vera, melihat Vera dengan Vibe yang terasa beda.


"Vera... Kenapa, kamu... "


Pandangan Fredricka mulai memudar hingga akhirnya kesadaran nya hilang total dan ia tak sadarkan diri. Fredricka sangat kaget apa yang dilakukan temannya tersebut, ia masih tidak percaya Vera melakukan hal itu, tapi Fredricka merasakan juga bahwa itu bukan Vera, apakah ia lepas kendali, tapi kenapa ia berkhianat kepadanya.


...-Bersambung-...