PANDEMONIUM

PANDEMONIUM
BAB XVIII : EVOLUSI DAN MULAI ULANG



"Selamat tinggal, Crystal of Hope... "


Albaz memusatkan konsentrasi nya ke Apple of Eden, benda tersebut berekasi dan ia terlihat seperti menyerap energi putih disekitar dengan daya serap yang begitu besar.


Setelah itu Apple of Eden menembakkan sebuah meriam sihir yang begitu besar dan cepat kearah Vera. Saat meriam sudah berada di dekat Vera, bola meriam sihir itu meledak hingga dimensi ini terlihat berantakan dan penuh asap sekarang.


Albaz hanya menunggu melihat apa yang terjadi, tapi didalam hatinya ia siap karena ia tau tidak mudah untuk mengatasi Crystal utama seperti Vera, Arabel dan Fredericka.


Maka dari itu ia menyimpan Apple of Eden dan menarik pedang besarnya yang berkobar api. Hingga asap sudah reda dan Vera yang tadinya berada disana, kini hilang dari pandangannya dan ia dengan segera mendongak keatas, melihat Vera menunjukkan jati Crystal yang sebenarnya.


Tubuh Vera diselimuti oleh armor dan Albaz dapat merasakan armor itu sangat kuat. Bahkan sayap nya lebih seperti sayap Mecha, dihiasi oleh neon yang bergerak di masing-masing tubuh dari tulang sayap nya.


Kedua matanya tertutup oleh topeng besi dan ia tampak terlihat layaknya android,mecha android ataupun wujud lainnya.


"..hah!. "


Albaz menggunakan pedangnya untuk memblokir tembakan Vera, serangan pertama Vera yang tanpa bergerak saja Vera bisa memanggil meriam-meriam dengan energi yang berbeda bahkan salah satu diantara meriam adalah sihir dengan 5 elemen sekaligus, yaitu Api, air, tanah, angin dan elektrik.


Bahkan saat Albaz memblokir serangan pun, serangan Vera yang tadi meledak dan menyebabkan lantai disekitar Albaz berubah menjadi segumpal kotak kecil yang berhamburan keatas karena gravitasi energi yang tiba-tiba naik keatas layaknya magnet dan tiap kotak kecil meledak lagi dengan suara yang lembut namun mematikan.


Dan lagi-lagi Albaz berhasil melindungi dirinya dengan menyerap kekuatan ledakan milik Vera.


Ia berfikir ini bukan saat yang terbaik untuk menyerang Vera, maka dari itu Albaz memanfaatkan asap yang diakibatkan Vera untuk menghilang dan pergi kabur.


"... Dia kabur... Sialan.. " Vera menggerakkan gigi nya lalu ia dengan cepat juga tenang.


Baginya, apa yang ia pandang seperti pandangan sesosok robot, sangat canggih ia bahkan dapat melakukan scan dan dapat memerintahkan Ai dalam hal apapun.


Tapi anehnya, saat berada di dalam bentuk ini, apalagi saat ia mengeluarkan kekuatan besar tadi, Vera tidak merasakan rasa lelah ataupun efek samping lainnya.


"Verifikasi data, generasi baru Crystal of Hope."


"Verifikasi nama, Vera Sergeeva."


"Silahkan untuk memberi nama, padaku Master Vera."


Kelihatannya memang benar dalam wujud ini ia ditemani oleh sistem, lalu ia mencoba untuk memikirkan nama yang cocok.


"Jarvan saja, seperti didalam video game dan film yang aku suka tapi aku merubah beberapa di dalamnya,hehe."


Setelah Vera memverifikasi nama sistem, Sistem Ai, Jarvan milik Vera melakukan Enhance otomatis yang membuat penampilan di sekitar pinggang Vera menjadi lebih modern dan terasa hidup, bahkan lingkaran bulat berwarna biru langit di tengah dada armornya muncul dan di tengah lingkaran nya ada tulisan huruf V dan J yang menyatu menjadi satu.


Vera menahan nafasnya sebentar dan ia merasa bahwa apa yang hari ini terjadi sangat keren, Vera tersenyum dan melihat armornya yang berwarna biru dan putih tersebut.


Bahkan Vera baru saja menyadari akan perubahan rambutnya yang berwarna putih saat didalam wujud nya ini, juga gaya rambut nya ikut berubah.


Setelah beberapa momen ia rasakan, ia teringat akan tanggung jawabnya sebagai Crystal of Hope. Secara langsung Vera menggunakan salah satu dari sekian keahliannya dan memunculkan beberapa layar digital, keyboard digital dan beberapa kode bermunculan.


Vera juga merasa paham akan kode itu, kode peretasan alat Albaz dan memanfaatkannya untuk memutar waktu. Ia juga melihat kode yang muncul, kode itu adalah posisi Fredricka, Arabel bahkan kepala sekolah sekaligus pemimpin dari Crest, Erin muncul di layar.


Dengan segera, Vera berusaha menghubungi mereka setelah Vera melakukan sedikit sabotase kepada alat milik Albaz.


*Bzzzt.. *


Sebuah 3 hologram sekaligus terpampang di depan Vera dan mereka terlihat baik-baik saja.


"Siapa ini... Eh bentar, itu kamu Vera?. " Ucap Fredricka dengan suara ribut nya seperti biasa.


"Benar, Fredricka ini Vera. Semuanya, aku bisa menghentikan.. Bukan, bukan,bukan.. Maksud ku mengurangi kesempatan Albaz dalam mencapai tujuannya." Ucap Vera.


Vera melihat, teman-temannya juga melakukan Evolusi seperti dirinya. Tapi dari ekspresi mereka, mereka lebih seperti orang yang abis babak belur. Terutama Fredricka yang terlihat ia seperti baru memahami sesuatu dan mempelajari sesuatu.


"Lanjutkan Vera." Erin pertama kali menyahut ucapan Vera dengan antusias.


Vera menjelaskan bahwa ia bisa memutar waktu, menggunakan harapan orang untuk memanfaatkan nya. Tapi meskipun begitu, ada sejarah yang tidak bisa diubah termasuk kematian dari Mori. Vera juga menjelaskan situasi sekarang ia telah mengulur waktu dengan menyabotase alat milik Albaz, Vera juga memiliki pengetahuan bahwa tingkat kehancuran dunia yang paling tinggi berada di tangan kanan Albaz, yaitu, Ra dan mereka harus menghentikan nya, jika gagal...


"Dengan kata lain... "


"Kemungkinan jika gagal menghentikan Ra dan jika kamu mengulang dunia sekali lagi, maka ingatan akan kehangatan dan memori tentang kita saling mengenal akan hilang. " Ucap Fredricka menyimpulkan.


"Tumben pinter kamu, Fredricka. " Balas Vera.


"Heh, aku ini pintar.. Ya cuma malas saja. " Cetus Fredericka.


Setelah mereka selesai berbicara, besi mecha yang ada di sekitar pinggul Vera mulai bergerak dan membentuk senjata sabit. Vera memegang senjatanya itu dan dengan perlahan mundur kebelakang kemudian berbalik.


Vera menghembuskan nafasnya perlahan dan ia memegang erat sabit nya dan menebaskannya ke depan yang menciptakan sebuah ruang portal baru.


"Fredericka, Arabel.. Ayo.. " Ucap Vera dan ia masuk kedalam portal tersebut, diikuti oleh Arabel dan Fredricka.


Tak heran jika Vera merasa lebih rileks sedangkan Arabel menjadi lebih pendiam.


"Inilah yang dinamakan pengaturan ulang dunia."


Mendengar suara seorang pria, ketiga gadis tersebut serentak berbalik badan dan masing-masing dari mereka mulai memegang senjata mereka, bersiap untuk menyerang Albaz.


"Santai saja, dunia lagi dalam proses pembuatan ulang... semua chip sudah terkumpul kecuali kalian bertiga dan satu penyihir licik." Ucap Albaz, matanya penuh dengan kekosongan dan ia menatap satu persatu ketiga gadis yang waspada kepada dirinya.


"Tidak...Ini sama saja kamu menghancurkan bumi dan membuatnya seolah-olah kamu adalah pencipta baru dari dunia ini dan kamu telah membuat akar baru dan akar itu kini membentuk dunia baru." Ucap Fredricka dan Vera berbarengan.


Yang Albaz ketahui adalah ia ingin menciptakan dunia tanpa sesuatu yang abnormal bagi dirinya dan mengembalikan apa yang pernah dekat dengannya.


"Sepertinya kalian telah membuat jawaban." Albaz tersenyum tipis, ia tau bakal seperti ini.


Ketika Albaz sudah mulai mengangkat senjatanya, secara sembrono Fredricka menerjang sembari mengayunkan pedangnya dan membuat kerusakan yang besar ketika Albaz menghindari serangan Fredricka cukup cepat dengan melompat keatas.


"... "


Saat berada di udara, Albaz mengulurkan tangannya keatas dan puluhan pedang mengincar Fredricka. Fredricka dengan reflek yang bagus menangis semua bahkan membakar dan menghanguskan pedang-pedang tersebut.


Fredricka tidak tau, di setiap pecahan pedang tersebut memiliki percikan api yang langsung lengket di kulit Fredricka seperti magnet, Fredricka langsung merasakan panas di sekujur tubuhnya dan dalam sekejap saja setengah tubuh Fredricka sudah kopong terbakar oleh suatu entitas.


Tubuh Fredricka langsung terjatuh dan darah merembas kemana-mana serta bau gosong terasa di hidung Arabel dan Vera


"Fredricka..!! " Seru Vera dan Arabel.


Mereka kemudian mulai menyerang Albaz dengan seluruh kemampuan mereka, Albaz dengan senang hati melayani mereka. Albaz mengeluarkan sayap nya, sayap besi hitam dan menangis senjata Vera dan Arabel dengan sayap besinya.


"Sepertinya kalian tidak paham. " Ucap Albaz.


"Kekuatan bukanlah segalanya jika kalian tidak paham konsep awal. "


Merasa tidak puas, Albaz mengencangkan sayapnya dan besi tersebut sebagian terlepas dan menusuk langsung ke ulu hati Arabel.


"Uhuk... ughh.. "


Arabel menahan rasa sakit, mulutnya sudah mengeluarkan darah. Semakin lama tenaganya semakin habis dan tubuhnya tidak bisa menahan besi keras yang di lancarkan oleh Albaz.


"Ingin menyelamatkan dunia? Bagaimana bisa menyelamatkan dunia jika melawan ku saja sudah keteteran. " Terdengar suara hinaan saat Albaz mencemooh mereka berdua.


Albaz menunggu momen saat Vera lengah dan disaat Vera benar-benar lengah dan salah posisi, Albaz bergerak kebelakang Vera dan langsung memegang kepala Vera dan memutus sendi leher Vera dengan keras.


Ia terpaksa untuk mengalahkan ketiga gadis ini, selain ia membutuhkan Crystal mereka, Albaz juga tidak ingin rencananya terganggu. Albaz melemparkan tubuh Vera yang tidak bernyawa kearah dimana Fredricka dan Arabel juga sudah terbaring tidak memiliki nyawa.


"Aku tau kamu disini... Alia... Tunjukkan batang hidung mu, aku butuh sihir waktu untuk menyelesaikan tujuanku." Ucap Albaz.


Albaz menunggu sangat begitu lama, ia dengan waspada melihat, menyapu daerah sekelilingnya dengan mata nya yang jeli, hingga akhirnya sebuah portal muncul dan ia dengan secara paksa terseret portal tersebut.


Di dimensi yang lain lagi, Albaz terpelanting keras ketika keluar dan masuk dari dimensi ke dimensi lain. Ia langsung memasang posisi setengah duduk dan memperkokoh pose nya agar ia tidak terguling.


Albaz melihat, seorang wanita berambut biru tersenyum. Tangannya secara anggun digerakkan dan tubuh dari ketiga gadis yang ikut terbawa tadi menjadi cahaya dan terbang masuk kedalam genggaman wanita tersebut.


"Alia... Aku harusnya tau kamu bakal tidak tega melihat mereka mati ditanganku. " Ucap Albaz dengan bangga.


"Terus kenapa? bangga? kamu kehilangan kewarasan dan kamu bangga?." Balas Alia.


Albaz tau dan mengerti, sekuat apapun dia, sebagus dan meskipun pengalaman banyak, jika ia bertemu Alia yang merupakan penyihir legendaris dalam dua dunia yang berbeda maka ia bakal mati.


"Jika kamu ingin dunia baru maka aku akan berikan, atas kehendak dan keinginanku." Imbuh Alia.


Crystal yang ada di genggamannya kini ia membuka genggamannya, membiarkan Crystal tersebut berjalan memutari lengannya, menciptakan sebuah sarung tangan putih dan sarung tangan tersebut memiliki empat slot, dimana slot tersebut dapat diisi dengan Crystal.


Satu persatu Crystal telah masuk dan satu Crystal yang kosong ia ambil dari kalung milik Alia sendiri. Energy dari Crystal tersebut kini membesar dan makin bercahaya, apa yang ada di sekitar nya akan lenyap seperti Albaz yang kini sudah tidak ada di hadapan Alia.


Albaz meskipun ia lenyap, ia akan hidup lagi dan setiap ia hidup lagi maka ia akan semakin kuat. Hal yang Alia khawatirkan adalah ia tidak akan selamanya bisa begini dan mungkin saja dialah yang bakal dijadikan mainan oleh Albaz.


Dari sekian Crystal yang ada, Crystal of Hope adalah Crystal yang paling banyak bereaksi dan kini telah berevolusi. Harapan manusia, harapan dunia yang membuat energy Crystal ini semakin besar.


"Aku Alia, akan memperbaiki dunia dimana Pandemonium masih ada,dunia tanpaku." Ucapnya.


Hanya itu yang bisa ia katakan, hanya itu yang bisa ia lakukan karena ia masih ingin melihat kemajuan yang terjadi di dunia ini. Ia memperbaiki waktu dan akan terjadi setelah kematian Mori.


Ia kemudian menjentikkan jarinya dan cahaya langsung menyambar disekitar, seolah-olah dunia sedang meresetkan dirinya. Hanya tersisa Alia disana dan tubuh Alia juga mulai berubah menjadi abu karena efek dari kekuatan yang besar yang tidak bisa dihindari.


...-To Be Continued~...