PANDEMONIUM

PANDEMONIUM
BAB XIII : SEBUKET BUNGA MAWAR III



"Jumlah gen nya sudah melebihi apa yang diperkirakan,tidak,lebih tepatnya terlalu banyak. "


Disebuah lab,seorang profesor mengenakan seragam khas nya sedang memandang tabung yang berisikan gadis berambut hitam sedang tertidur sembari ia sedang menelpon seseorang dengan handphone nya.


"Ini sudah hari ke seratus dua puluh lima sejak kita menemukannya Albert, kita tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan ini."


"Ahh, apa iya? kurasa kamu hanya takut kepada pemerintah, ayolah tidak apa-apa dan semua baik-baik saja."


"Penyiksaan adalah yang terbaik untuk mengeluarkan identitas asli manusia, gen akan terpicu dan menyebabkan mutasi pada tubuh manusia, dengan begini proses pemasukan crystal akan terwujud."


Seorang pria yang awalnya tadi menyentuh kaca tabung, memandangi tubuh sang gadis kini berbalik dan pergi ke ruang kendali. Ia mulai melakukan pemasukan kristal dengan sadis, membuat gadis terbangun secara tiba-tiba dengan teriakan dan juga tangisan, isakan dan erangan yang begitu berat.


"...!!. " Vita dengan segera membuka matanya ketika ia merasakan sebuah mimpi yang tampak nyata, mimpi akan ingatan tentang Ming.


Ia berada di sebuah gedung, menginap semalaman agar terhindar dari badai yang dibuat oleh sang Crystal of Depression. Atau bisa dibilang karena efek negatif zat kimia juga kekuatan supranatural yang dipancarkan dari energi crystal buatan.


Vita dengan segera melihat kearah jam tangannya, sudah pukul tiga pagi, Vita dengan segera mengemas barang-barang nya dan ketika ia selesai, ia mengintip keluar dan melihat situasi nya.


"Baiklah, kurasa ini udah cukup damai cuacanya." Batin Vita dengan senyuman pahit, teringat akan memori seseorang yang harusnya tidak ia lihat.


Ia kemudian mulai membuka pintu dari bangunan yang ditempati Vita, menutup pintunya dan mulai melanjutkan perjalanannya. Kali ini posisi sang Crystal sudah menjauh, terasa oleh auranya.


Tanpa basa-basi Vita langsung mengejar mereka, Vita melompati apa yang bisa ia lompat dan menangkap kayu yang menancap di dinding dan mengayunkan tubuhnya agar bisa melemparkan tubuhnya dengan tinggi keatas yang selanjutnya ia melompati dari satu jendela ke jendela lain hingga akhirnya ia berada diatap sebuah rumah.


"Perkuat : Kecepatan berlari" Ia melafalkan beberapa mantra dan ia merasakan pergelangan kakinya terasa ringan dan siap berlari.


Tanpa basa-basi Vita melompati dari satu atap ke atap lain, tanpa perlu takut dia akan jatuh karena berat badan yang tidak dapat ditanggung atap karena tubuhnya sekarang sudah ringan seringan bulu.


"Menyingkir dulu.." Ucap Vita dan ia membuat segel tangan yang menciptakan lingkaran sihir dan kemudian api mulai membakar Pandemonium yang tiba-tiba datang untuk menghalangi Vita.


Setelah memakan beberapa menit lamanya, Vita sampai juga di depan sebuah kubah es raksasa. Hal yang Vita tidak suka lagi adalah kubah ini memiliki rasa negatif, keputusasaan yang membawa Vita kembali mengingat masa lalu Ming walau kali ini sebatas suara saja.


"Aku Ming, aku bersumpah akan melindungi orang yang berhak mendapatkan perlindungan serta sumpah setia kepada kelompok ini."


Angin dingin bertiup kencang, Vita membuka matanya dan menatap kubah tersebut.


"Kamu tidak menyerah ya, biarkan aku bersamanya. Aku akan mengobatinya aku berjanji." Ucap seorang laki-laki yang Vita tidak salah ingat, ia adalah Chen.


Chen duduk diatas kubah es, di samping laki-laki itu terdapat gadis crystal yang lukanya semakin parah.


"Aku tidak bisa, dia adalah-"


"Crystal buatan? hasil kimia dan eksperimen brutal yang mengharuskan dia kehilangan apa yang ia miliki baik secara fisik, mental maupun seksual? Benar, tapi aku tidak peduli.. " Laki-laki ini secara berani memotong perkataan Vita dengan lancang.


"Aku dengar Crest mempunyai tiga anggota Crystal, aku tau mereka bukan eksperimen. Tapi bayangkan mereka diposisi Ming dan kamu ada di posisi ku."


"Aku tidak bisa membiarkan orang yang aku sayangi mati karena orang busuk seperti kalian."


Vita masih belum mendongak keatas, ia masih terus menutup matanya, ia bingung tapi juga ia harus melakukannya. Laki-laki ini sudah kehilangan akal sehat, jika ia tidak menyingkir dari gadis tersebut, maka Chen akan mati karena radiasi Crystal kimia.


"Penyihir maupun manusia, semuanya sama saja tidak mau mendengarkan orang susah seperti ku." Chen kemudian melompat dari atas dan mendaratkan diri tepat disamping kanan Vita.


"Kesehatan mental mu perlu diperbaiki, dia bukan orang yang sama." Kata Vita dan ia menghunuskan pedangnya ke tanah yang membuat sebuah getaran sekaligus gelombang energi yang menerbangkan Chen dan menubruk nya ke dinding.


"... Sssrrsshh shaaaahhh.. "


Sesuai dugaan, Ming bakal turun dan langsung menyergap Vita dengan cakarnya. Vita langsung menciptakan perisai sihir untuk menahan serangannya dan kemudian mementalkannya keatas dan bersiap untuk menusuk Ming yang telah menjadi Crystal of Depression.


"... Nggh... Apa ini." Ucap Vita dengan panik ketika mendapati kakinya di pegang oleh tangan mayat yang sama sekali tidak mempunyai gairah hidup, mencoba menarik Vita kedalam rasa depresi.


" Sihir Suci : Keberanian." Ucap Vita, lalu sekujur tubuhnya di selimuti oleh aura merah dan tangan-tangan yang berada dibawah kaki Vita terbakar dan hangus.


"Sudah kubilang tinggalkan kami berdua! !!. " Chen kini sudah berada di dekat Vita dengan tubuh yang babak belur, bukan. Hanya pakaiannya saja, Chen rupanya sudah menjadi Cyborg, pantas saja ia bisa tahan dengan radiasi dari Crystal of Depression.


Chen mengambil sebuah jarum besar di balik jaket tebalnya, benda itu muat ditangan layaknya memegang pisau. Chen mengumpulkan auranya ketika ia mengayunkan jarum miliknya, tentu saja Vita menghindarinya dengan cepat, serangan demi serangan yang di luncurkan Chen dan kini Crystal of Depression ikut membantu Chen.


"Sihir Suci : Peleburan Acak." Ucap Vita ketika Chen mengambil salah satu mobil dan melemparkannya ke arah Vita.


Langsung saja mobil itu berhenti dan melebur menjadi kawanan kupu-kupu. Kupu-kupu tersebut kemudian berubah menjadi jarum, banyaknya jarum berdasarkan jumlah kawanan kupu-kupu.


"... "


Dengan perintah dari Vita, jarum tersebut melesat dan menyerang Chen dan Crystal of depression secara brutal. Pertarungan yang dimana nyawa jadi taruhannya, rasa terpaksa dilakukan oleh Vita.


Benar, Vita sudah mengalahkan mereka berdua. Chen perlahan merosot ke tanah, darah merembas keluar dari dahinya yang terkena dua jarum dan tubuhnya telah banyak sekali tertancap jarum yang tajam nya seperti pisau bahkan pedang.


Rasa sakit yang dialami Chen, ia akhirnya merasakan rasanya ajal mendekat. Ia mulai kehilangan pandangannya, sangat buram hingga gelap. Nafasnya tidak teratur dan ia menyempatkan diri untuk memanggil nama Ming.


Disamping Chen yang sudah tidak bernyawa, Crystal of Depression merasa sangat takut dan ia tidak bisa bergerak sama sekali.


"... Nggh... Terimakasih sudah mau mengakhiri penderitaan ku dan Chen..Tolong, setelah aku mati,aku ingin berada di dekat Chen. " Setelah sekian waktu berlalu, akhirnya Crystal of Depression atau Ming memaksakan dirinya untuk terakhir kalinya berbicara kepada Vita.


Vita kemudian membuat segel di lingkaran sihir yang ia buat sambil mengatakan "Sama-sama, semoga kalian bisa mencapai kebahagiaan yang kekal. " Setelah selesai berbicara, Vita mendorong lingkaran sihir yang sudah jadi ke kelemahan inti dari Ming.


Ming merasakan kesakitan ketika lingkaran sihir masuk kedalam intinya, memporak-porandakan tubuhnya hingga akhirnya intinya meleleh dan Ming yang sudah merosot, kini sudah jatuh sepenuhnya ketanah dengan darah yang merembas paling banyak ketimbang Chen


"Ngh.. Maafkan aku." Ucap Vita.


Vita menggunakan sihirnya untuk mengangkat tubuh Ming dengan hati-hati, ia juga membuat darah yang keluar berhenti sejenak dan ketika sudah berada disamping Chen, Vita dengan sangat hati-hati meletakkan Ming.


Setelah itu, Vita mulai berdoa dan memberikan penghormatan terakhir. Apa yang dilakukan Ming saat ia masih menjadi prajurit pemberani yang kuat, sayang sekali Ming dikala itu tidak mempunyai Sigma dan keburu di tarik oleh Friggs.


Sebuket bunga mawar, satu persatu bunga tersebut lepas layaknya daun dan hanya meninggalkan sebuah sejarah baru, andai saja Pandemonium dan peperangan tidak pecah saat itu, mungkin akan lain cerita.


...-Bersambung-...