
Arabel masih bertarung dengan para Pandemonium yang kini seperti nya sudah tidak ada lagi kehadirannya, Arabel langsung melakukan kontak dengan Fredricka namun tidak ada yang terjadi, Transphone milik Fredricka tidak merespon yang membuat Arabel jadi khawatir.
Ia dengan segera pergi, namun pada saat yang sama Mori datang dengan pedang besarnya dan menghentikan langkah Arabel.
"Arabel, kamu tidak apa-apa? Dimana yang lain? " Kata Mori yang melemparkan pertanyaan kepada Arabel.
"Fredricka tadi menuju kamar kami, melihat Vera." Balas Arabel.
"Kalau begitu, Ayo segera bergegas kesana. " Ucap Mori dan ia langsung berlari menuju kekamar mereka bertiga dan di ikuti oleh Arabel.
Saat berada didalam ruangan, alangkah kagetnya mereka melihat Fredricka yang tak sadarkan diri di sudut ruangan. Mereka langsung berlari kearah Fredricka dan memegang bahu Fredricka sambil mengucapkan namanya.
"Ini tidak bagus, Fredricka pingsan, Arabel segera lihat kemana Vera berada dan aku akan ke ruang dokter bersama Fredricka." Ucap Mori dan Arabel pun mengangguk setuju.
Arabel berdiri dan ia dengan segera keluar dari ruangan untuk menyelamatkan Vera. Arabel takut Vera akan diculik oleh Pandemonium itu sendiri dan menjadikan Vera sebagai objek percobaan ganas mereka.
*Duarr*
Saat sudah berada di ruangan server, Arabel terpental karena ledakan yang ada didekatnya, ia kaget sekaligus bingung.
Arabel langsung berdiri dan langsung siaga, ia melihat siluet hitam tak jauh darinya dan kaget ketika ia melihat bahwa siluet itu adalah Vera. Rambutnya yang putih, bola mata nya yang merah darah dan disekitar wahah dibagian pipi bagian atas ada seperti sebuah simbol yang terlihat seperti retakan, retakan itu bercahaya merah darah seperti matanya.
Bukan, bukan simbol tapi seperti urat nadi tapi dengan warna merah.
"Sistem Harbringer telah ditaklukkan dan penyusup muncul, hancurkan dan binasakan target." Ucap Vera dengan suara datar.
Dengan form Vera yang setengah android persis seperti waktu mereka pertama kali melakukan misi, ia kini mengumpulkan energi yang berasal dari tubuhnya kemudian ia menembakkan sebuah laser merah kepada Arabel.
Arabel berhasil menghindari serangan dari Vera dan Vera kemudian menyerangnya dengan misile milik Vera.
"Vera, bangun!. " Seru Arabel yang kini sambil menghindari serangan proyektil milik Vera.
Vera kini berkamuflase, ia seperti menghilang dan membuat Arabel kebingungan hingga akhirnya ia di tinju dengan kuat oleh besi yang membuat Arabel terpental dan merasakan tulang bahunya seperti retak.
"Vera... Kumohon... "
Arabel menghunuskan pedangnya ketanah, menjadikan pedangnya itu sebagai alat untuk dia berdiri.
Setelah itu tanpa Arabel sadari, ia merasakan air mulai muncul mengelilingi tubuhnya, lalu melibas Vera yang mencoba memukul Arabel dari belakang, membuat Vera tepental dan menghantam besi yang ada di belakang nya.
"Vera!. " Seru Arabel.
Arabel menyimpan senjata apinya dan ia memegang gagang pedangnya dengan kedua tangannya setelah ia melepaskan hunusannya ketanah.
"Ughh... Target harus dieliminasi segera."
Vera kini melakukan hal yang sama seperti waktu mereka pertama kali mengerjakan misi, menyatukan kedua tangannya untuk menembak Arabel dalam skala besar.
Arabel kini melesat maju kedepan, kearah Vera dan Vera yang masih dalam proses loading pun menyerang dengan misile yang ada di belakang tubuhnya yang terlihat seperti sayap modern dan Arabel dapat menghindari semua serangan, merasakan tubuhnya bergerak seperti air dan kemudian memukul dahi Vera dengan gagang pedang milik Arabel yang membuat Vera gagal untuk melakukan proses serangan pamungkas nya.
Akibat pukulan tersebut membuat Vera terpental lagi dan kini ia menghantam besi yang ada. Arabel kemudian melihat Vera terjatuh dan tidak bergerak, Arabel berasumsi langsung bahwa Vera pingsan.
"Maafkan aku Vera, aku tidak bermaksud." Ucap Arabel dan ia langsung menghampiri Vera yang kini terlihat kembali normal, layaknya Vera yang Arabel ketahui.
Arabel kemudian mulai menggendong Vera dan mulai berjalan menuju ruang dokter untuk dirawat. Alarm juga sudah dimatikan dan ancaman dari Pandemonium sudah di rampungkan.
Arabel tidak tahu bahwa Vera, Vera masih bangun dan ia hanya berpura-pura, terbukti disaat Arabel tidak melihat wajah Vera, Vera membuka satu matanya sedikit sambil tersenyum sinis.
Sesampainya diruangan dokter, Arabel melihat Fredericka sudah siuman dan kini makan kari ayam yang dibuat oleh Dokter Alia, dokter asal Indonesia yang juga jago masak.
"Kalau kamu mau kari ayam, masih ada sisa loh.." Ucap Fredericka.
Walaupun rasa kari ayam ini sangat lezat, tapi ia masih terasa asing dan terbiasa dengan masakan yang dibuat Vera ataupun Arabel meskipun masakan mereka kurang enak, kecuali Arabel yang masakannya hampir setara masakan dokter Alia.
"Dimana bu Mori? " Ucap Arabel setelah ia merasa janggal ketimbang mendengar tentang makanan yang di ucapkan Fredricka.
"Terakhir kali Tanigawa pergi keluar dengan pesawat kecil ke Downhorn City lebih cepat, mungkin perintah dari kepala sekolah. " Ucap dokter Alia.
Wajar saja Mori keluar dan pergi lebih dulu mengingat penyerangan Pandemonium dan Vera lepas kendali membuat semua jadi sedikit terhambat.
Mereka semua terdiam, menunggu moment yang tepat untuk berbicara, namun ketika salah satu dari mereka mencoba berbicara, seorang wanita dewasa yang terlihat berumur 24 tahun datang dengan pakaiannya yang terlihat beda.
Ia terlihat seperti dokter namun juga bukan, zirah besi yang ada di sekitar bahunya meskipun ringan, tapi membuat wanita ini terlihat seperti petarung jago. Rambut hitam yang diikat biasa kini tergerai dengan halus seiring ia berjalan dengan agak santai.
"Ahh kamu datang juga, Mei Qingling. Gimana dengan misi yang terakhir kali?." Sapa dokter Alia.
Mei menghembuskan nafasnya, hembusan lega ketimbang mengeluh.
"Setelah kerumitan itu, aku berhasil memecahkannya,jadi jangan khawatir dokter." Balas Mei dengan senyuman, ia kemudian menolehkan pandangannya kearah Fredericka, Vera dan juga Arabel.
"Kalian yang di bicarakan oleh Sensei Mori ya." Ucap Mei dengan santai.
Fredericka dan Arabel hanya terdiam dan bingung.
"Ahh sungguh diriku sangat keliru, namaku Mei Qingling, kalian bisa panggil aku Mei dan biasanya rekan-rekan ku manggil diriku adalah Tian. " Imbuh Mei.
"Namaku, Fredericka, Fredricka Zachglow.."
"Panggil saja aku Arabel dan ini adalah Vera. "
Keduanya memperkenalkan diri mereka setelah Mei melakukan perkenalan, mereka terlihat asing dengan Mei, padahal Mei sendiri adalah Council President sekaligus Ketua kelas mereka sendiri, itulah sebabnya Mei mulai membuka mulutnya untuk berbicara bahwa dia adalah ketua kelas mereka.
"Maafkan aku ketua kelas, hehe aku yang nolep ini jarang perhatiin sekitar." Ucap Fredericka sambil cengengesan.
Mei hanya tersenyum dan perhatiannya teralihkan oleh Vera, ia kemudian mendekati Vera dan memegang lengannya serta mengangkatnya sedikit.
"Ini kan.. "
Mei melihat tangan kiri Vera, tepatnya di perbatasan pergelangan tangan terdapat Crystal kecil yang tertanam menyatu dengan kulit dan kulit Vera yang ada di sekitar Crystal itu akan menjadi bening tidak terlihat hingga tangannya terlihat memiliki kristal yang tertempel ditangannya atau tertancap.
"Peninggalan Primordial dan awalnya dijaga oleh guardians terkuat yang pernah ada dengan sebutan The Piecemaker. " Lirih Mei, Mei kemudian melirik Alia yang masih melakukan pekerjaannya.
Penemuan Alia tujuh tahun silam adalah Sigma. Awalnya Alia menamakannya Singularity, namun karena nama itu tidak cocok dengan penemuannya, Alia mengubahnya menjadi Sigma.
Dan Sigma mulai dipakai oleh Elite Knight alias Knight Rank S yang tidak memiliki kekuatan dari Crystal, juga karena daya tahan mereka kuat atas pelatihan yang dijalankan, Sigma ini merupakan jenis kekuatan yang bisa dikatakan sangat kuat meskipun tidak sekuat Crystal.
Sigma bisa saja ditanamkan dibagian yang bisa dibilang cukup unik. Punggung dipasang kan satu dan tangan kiri juga kanan dipasang kan sigma sebanyak satu.
Hal itu dirancang agar saat penggunaan, pengguna Sigma tidak akan mengalami gangguan pada punggung dan kedua lengan mereka, bahkan Sigma ini cukup simpel dan bentuknya hampir mirip seperti tato dengan simbol yang berbeda.
Ada juga Sigma yang ditanamkan di dahi mereka dengan tujuan agar kewarasan mereka tetap normal karena Sigma jenis ini adalah Dark Sigma : Nosferatu.
Sigma ini sudah memiliki pengguna, yaitu Flavina Bianca, Elite Knight terkuat untuk saat ini di organisasi Crest dan knight yang paling setia terhadap Crest.
...-BERSAMBUNG-...