PANDEMONIUM

PANDEMONIUM
BAB XX : INVASI DI LAUTAN WENXIA



Rencana telah gagal, sesuai dugaan dari Albaz bahwa Alia akan datang menggagalkan rencana nya.


"Masih ada waktu... Masih ada kesempatan.. Tapi, Alia kamu sudah berusaha keras. Sahabatku, semoga kamu akan tenang di sebuah eksistensi yang lain. "


Meskipun Albaz terkadang kumat layaknya orang gila, ia masih punya hati untuk mengasihani lawannya, mengasihani musuhnya. Albaz menurunkan sorot matanya, terlukis kesedihan yang ada di bola matanya.


"Tapi kamu tidak akan bisa menghentikan ku, Alia."


Albaz menghembuskan nafasnya dengan berat. Sebagai salah satu orang yang melahirkan dunia hingga mempunyai cabang layaknya akar dan membentuk pohon Yggdrasil, ia harus bertanggung jawab akan hal tersebut.


Rencananya yang digagalkan Alia beresiko fatal, dunia lain telah terbentuk, eksistensi makhluk lain pastinya akan lahir. Seperti bumi ini, bahkan mungkin ada dunia tanpa Pandemonium atau bahkan Pandemonium bergerak meluas..


Pedangnya tanpa ia sadari bercahaya putih yang kemudian berubah menjadi cahaya hitam dan diakhiri menjadi cahaya tanpa warna. Albaz melihat pedang tersebut bereaksi sesuai apa yang hatinya rasakan, rasa hampa tanpa kekasihnya, rasa hampa tanpa teman-temannya yang mendukungnya. Tapi ia berdiri disini dengan tujuan menghilangkan Pandemonium dari dunia, Pandemonium adalah penyakit dunia yang harus disembuhkan. Seperti manusia jika terkena demam, maka harus ditangani oleh metode yang ingin digunakan.


"Teman lama, kali ini aku akan memanggilmu dengan nama baru, tentu saja nama itu akan bagus, nama yang akan aku pakai untuk mencapai tujuan ku lebih jelas."


Albaz menusukkan pedangnya ke lantai dan ia menatap pedang tersebut dengan hampa namun ada harapan disana. Ia hanya ingin masalah cepat selesai agar ia bisa beristirahat dengan damai, ia harus menemukan jawabannya juga.


"Ra, jalankan operasi nya dengan pelan.."


Ucap Albaz.


Albaz mengambil sebuah benda, benda itu adalah mentahan Crystal yang belum mempunyai wadah dan memberikannya kedalam pedang miliknya sendiri. Pedang tersebut bereaksi dengan hebat dan memancarkan energi kuat, namun Albaz dan Ra tidak bergeming sedikitpun dari tempat mereka.


"Kita punya tamu tidak diundang.."


Ketika Albaz mengucapkan kata itu, kedua bola matanya berubah menjadi kuning terang layaknya emas.


...\=\=×\=\=...


Disisi lain, Mei mengajak Fredricka, Arabel dan Vera untuk mengunjungi tempatnya. Mengunjungi dunianya yaitu Wenxia, disini Mei juga ingin mengajari mereka bertiga teknik menggunakan senjata dengan baik.


Terkhusus Fredericka, Mei ingin mengajarkan sesuatu yang spesial kepada Fredricka secara rahasia saja.


"Waaaahhh besar sekali..!!! Ah liat ada patung melayang..!! " Ucap Arabel kesenangan.


Seperti anak-anak yang senang melihat mainan, tanpa sadar Arabel sudah duluan didepan dan menyentuh patung-patung yang berbentuk seperti hewan.


"Ketua Mei... Ehem, maksud aku Mei.. Errrr.."


Mei menolehkan kepalanya ketika ia mendengar Vera ingin berbicara. Ia tidak membalas dengan kata-kata, namun dengan ekspresi wajah dan sedikit memainkan alis matanya.


"Ini adalah domain ku, ilusi milikku. Tempat ini juga adalah dimana aku lahir."


Mei menyorot kan pandangannya kebawah, Alia berkorban demi mereka dengan mengubah beberapa realitas. Tak hanya itu saja, Mei mulai memiliki ingatan masa depan, ingatan dimana dunia tidak lagi sama.


"Mm? Ketua Mei? kamu gapapa?. "


Fredricka khawatir saat memerhatikan Mei memegang dahinya, dahi itu Mei kerutkan.


"Tidak apa-apa.. shh, ughh.. Aku baik-baik saja, cuma butuh istirahat duduk sejenak."


Balas Mei dan ia memasang senyum canggung, senyum yang juga mengungkapkan sebuah kata "maaf merepotkan kalian".


Mei dibantu oleh Fredricka dan Vera untuk duduk di dekat patung Wen. Sedangkan Arabell sedang asik melihat hingga posisi mereka sangat jauh, mungkin saja udah terpisah dan mereka bertiga belum menyadari akan Arabell.


"Ketua, harusnya kau tidak memaksakan diri.. Bisa saja lain kali kamu bawa kami kesini." Ucap Fredricka.


"Hadeh, tapi ini juga salah kita sih.. Bagaimana ya, uhmm.. Arabell gimana menurutmu?. "


"ARABELL MENGHILANG..!!. "


Fredricka langsung ikut lihat kiri kanan bahkan ke sekitarnya, tidak ada tanda Arabell.


"Uhh, sinyal Arabell tidak ada disini.. Kemana dia."


Vera yang mencoba mendeteksi sinyal kehidupan Arabell tidak ada sekalipun.


"Kamu mencari dia?."


Suara wanita terdengar, suara yang mengerikan. Seperti suara beberapa gema yang digabung menjadi satu dengan suara dengkuran gajah.


Vera, Fredricka dan Mei langsung mendongak keatas. Mereka bertiga sama-sama terkejut dan Mei menggertakkan giginya.


"Kamu... Kamu..Harusnya kamu masih tersegel di Kuil Ashuddhatta."


Mata Mei dipenuhi oleh ketakutan dan rasa terkejut, keringat dingin membasahi tubuhnya. Ia melihat kondisi Arabell yang babak belur, seperti dicakar oleh sesuatu yang kuat hingga pakaiannya yang bagus kini terlihat jorok dan compang camping.


"Turunkan Arabell sekarang..!!. " Seru Vera.


Vera mengubah lengan kirinya menjadi senjata proyektil eksplosif dan mulai menembakkan beberapa serangan kearah makhluk tersebut.


Sayangnya serangan tersebut tidak mengenai makhluk besar itu, setiap tembakan Vera mengecil hingga tidak terlihat lagi oleh mata.


"Vera hentikan, kamu tidak bisa melawan dia. "


Mei berdiri dengan susah payah namun berhasil, sorotan mata yang tajam mengarah ke makhluk besar tersebut.


"YA.. YAA..!!! Aku adalah Nggawa Kabinasa, Ratu dari kehancuran.. Dengan kata lain, aku adalah Mahapralaya Nggawa Kabinasa..!!!! HAHAHA, HAHAHHAA. "


Nggawa tertawa sangat keras hingga tempat ini bergetar hebat, bunga teratai diatas kepalanya membuatnya terlihat seperti topi, namun juga terlihat seperti rambut. Tubuhnya sangat tinggi, setinggi gedung pencakar langit dan mempunyai empat lengan. Masing-masing lengan ada yang memegang tombak trisula, pedang bulan dan buku. Satu tangannya memiliki keunikan tersendiri yaitu mempunyai cakar yang tajam, siap untuk mencabik lawannya hingga tak ada satupun yang tersisa.


"Nggawa apa?." Tanya Fredricka yang kini menoleh kearah Mei.


"Mahapralaya Nggawa Kabinasa, dia adalah sosok yang tercipta dari aura negatif yang ada di Asia, kecuali Asia Timur karena suatu kubah yang amat kuat untuk mementalkan aura negatif. Ini salah satu Pandemonium tingkat akhir, mungkin bisa dikatakan Elite Pandemonium."


"Selagi manusia masih memiliki sifat negatif, dia akan ada. Bahkan abadi dan memang harus di segel."


Mei menceritakan dengan lengkap kepada teman-temannya dan Nggawa hanya bisa tersenyum.


"Bagus, kalian sudah tau.. Sekarang, bagaimana jika aku melenyapkan teman kalian yang ada didalam gelembung ini sebagai hadiah terimakasih ku..?. "


Senyum penuh kemenangan dan kesombongan terlukis di wajah Nggawa ketika Fredricka, Mei dan Vera menggertakkan gigi mereka.


"Ohh Iron Qingling, dimana keberanian dan kekuatan kemahakuasaan mu? kemana sifat bengismu.. heh! apa kau sudah terlalu tua? kasihan sekali.. kasihan sekali.. Lihatlah dirimu sekarang, aku punya dendam kepadamu.. "


"Oh Iron Qingling, dimanakah sifat kokohmu? kamu sekarang sama saja dengan kecoak kecoak ini.. Memalukan..!!. "


Nggawa terus saja mengolok-olok Mei, tentu saja dengan tawa yang puas. Kaki Mei gemetaran, tidak pernah seperti itu sebelumnya, ada sesuatu yang aneh dan ia baru menyadari nya.


Rasa itu adalah rasa takut karena Nggawa semakin kuat, Pandemonium didalam diri Nggawa telah semakin memuncak. Vera dan Fredricka masih belum bisa mengendalikan kekuatan mereka sepenuhnya, akan beresiko jika mereka menggunakan kekuatan Crystal mereka.


Tak hanya itu, Mei melihat di atas belahan dada Nggawa terdapat sebuah Crystal dan di dahi Nggawa juga mempunyai Crystal. Biasanya, Crystal adalah kelemahan makhluk seperti Nggawa bahkan Fredricka dan yang lainnya.


Hingga akhirnya.. Hingga akhirnya sebuah cahaya melesat ntah darimana dan menusuk lengan kiri dan lengan kanan Nggawa tepat sasaran.


...-Bersambung-...