
"Bianca, aku sudah di lokasi dan benar yang kamu bilang, juga tempat ini memiliki aura yang berbeda."
Erin tidak tidur sama sekali, ia langsung pergi ke tempat dimana Bianca melakukan tugas investigasi. Tempatnya ada di sisi timur kota Downhorn, luasnya hingga mencapai wilayah kanada, namun tempat ini sangat lusuh dan sangat di tinggalkan.
Cahaya hitam tiba-tiba muncul dan sosok perempuan gagah dengan tombak di tangannya berdiri dengan posisi yang kokoh, ia melihat Erin dan tersenyum.
"Ah Bianca kamu sudah datang, bagaimana situasinya." Tanya Erin, Erin penasaran apa yang terjadi di sisi barat kota Downhorn.
"Disana sedang ada pertempuran antara penyihir dan Pandemonium, tapi tenang karena aku meminta Drill dan Tao Ming membantu mereka." Balas Bianca.
Erin langsung menghela nafasnya, sedikit lega meskipun rencana ini berubah total. Demi menjaga kota Downhorn dan seluruh dunia, ia tidak masalah sebesar apapun rencana itu berubah.
"Sejujurnya, aku agak ragu akan hal ini kepala sekolah, kamu adalah The Watcher, pemimpin dari Crest."
Bianca mencoba menemukan kata-kata yang pas saat ia berbicara namun berakhir diam, Erin paham apa maksud dari Bianca. Orang yang awalnya adalah musuh dari Erin sendiri kini menjadi teman bahkan mengabdi kepada kepemimpinan Erin.
"Flavina, aku tau aku adalah pemimpin. Tapi, bukan berarti aku harus merengek di belakang saja. Menjadi pemimpin itu dia berani memimpin organisasi nya, memimpin orang yang ia kenal dan percaya padanya." Jelas Erin, ia juga menepuk pelan bahu Bianca meskipun Erin tidak pantas karena tubuhnya kecil tidak seperti Bianca.
"Sudah lama sekali sejak lima puluh tahun lalu kamu memanggilku begitu." Bianca tersenyum, ia teringat akan ingatan masa lalunya, saat ia menjadi orang sangat keras dan kejam. Bahkan Bianca pernah mencoba untuk menghancurkan bumi tanpa terkecuali, bahkan dia sekalipun.
"Heheheh, cerita yang mengharukan. Tapi tenang, cerita yang sangat sedih itu akan menjadi sejarah saat kalian sudah berada di alam kematian."
Suara yang serak, berat dan menakutkan terdengar tak jauh dari mereka. Baik Erin maupun Bianca menoleh ke sumber suara, lalu berbalik hanya untuk mendapati sosok bayangan hitam dengan senyuman jahat yang tampaknya ia tidak bisa tutup.
"Hmm.. Pandemonium kah ini Bianca?. " Bisik Erin kepada Bianca.
Bianca menatap sosok tersebut, dibandingkan dengan Pandemonium ia lebih cocok sebagai Pseudo. Entitas dirinya sangat terasa bagi Bianca, sebagai pemegang Sigma Nosferatu sekaligus ia adalah Sinner. Berbeda dengan Erin yang merupakan seorang Saint, ia tidak merasakan bahkan tidak mengenal makhluk ini.
"Dia adalah Pseudo-Barbaros, diciptakan oleh Barbatos sendiri dan menurut informasi yang aku kumpulkan, Barbaros bekerja sama dengan Albaz." Jelas Bianca, menjawab pertanyaan Erin.
"Kalau begitu, dia harus dikalahkan sekarang juga." Ucap Erin bersemangat, menunjukkan giginya dan mulai melakukan posisi bertarung disertai oleh aura putih yang keluar dari tubuhnya kemudian mengalir kepada rantai-rantai yang keluar disaat Sigma milik Erin aktif.
"Seperti dulu ya.. Baiklah, kita masih punya banyak waktu." Balas Bianca.
Bianca mengetuk ujung gagang tombaknya ke tanah dan penampilan nya yang tadi hanya memakai setelan jas miliknya kini sudah berubah menjadi pakaian seorang knight.
Aura Bianca juga muncul secara tiba-tiba, aura hitam miliknya dan Sigma Nosferatu milik Bianca aktif. Cahaya hitam muncul bak raja kegelapan yang hendak mencekam lawan-lawannya.
"Hoo... Ingin merasakan cakaran mautku, ini sakit loh."
Pseudo yang bengis tersebut mulai berlari sembari tubuhnya mengalami bentuk yang berbeda, sayap berbentuk sayap iblis dan taring yang ada di mulutnya kelihatan walau cuma bayang-bayang.
Ketika Pseudo Bengis melompat dan menerjang,ujung tombak milik Bianca menusuk ulu hati sang Pseudo, namun Pseudo Bengis malah tertawa dan ia meledakkan diri atau setidaknya ia mempunyai skill yang unik.
Untungnya pada saat yang tepat, Erin melindungi dirinya dan Bianca secara bersamaan. Sebuah barrier cahaya yang dipancarkan melalui rantai dan tak lama setelah itu sebuah sabit cahaya muncul dan mulai berputar-putar di area sekeliling mereka berdua untuk berjaga-jaga akan serangan dadakan Pseudo.
"Divindus, aku memanggilmu untuk evolusi dengan keadaan ku saat ini." Ucap Erin.
Cahaya mulai bermunculan, cahaya yang muncul dari bawah pijakan mereka,setelah pijakan di sekitar mereka sudah retak akibat guncangan hebat milik Erin.
"Sekarang...!!. " Seru Bianca sembari mengayun-ayunkan tombaknya dengan lihai hingga akhirnya dengan keras menancap sekitar pijakannya.
"Star Eclipse...!!. " Seru Bianca dan Erin.
Kekuatan mereka terlalu besar ditempat itu, Pseudo Bengis yang awalnya bersembunyi untuk melakukan serangan licik kini terpaksa mundur. Ia merasakan kulitnya terbakar dan juga perasaan meleleh, ia seperti es batu dan juga merasa seperti lilin.
Dengan meringis kesakitan, ia mundur dan melaksanakan rencana kabur karena tidak bisa menahan kedua ksatria kelas A dan seorang kepala sekolah yang sama kuatnya.
"Huh? hey lihat disana kepala sekolah." Bianca segera menunjuk ke arah pohon yang tiba-tiba saja mekar tumbuh, pohon sakura ini tumbuh dengan tidak masuk akal.
Akarnya merambat dengan sangat cepat seiringan dengan ia tumbuh, lalu akar tersebut mengeluarkan sebuah energi yang membuat area sekitar mereka berdua berubah menjadi tempat yang baru.
"Ini.. " -Erin
"Benar keponakanku, ini adalah dimensi yang kalian cari. Dari banyak cara agar aku bisa..AGAR AKU BISA MENGULANG DUNIA, DIMANA DUNIA TIDAK ADA PANDEMONIUM DAN KITA MANUSIA BISA HIDUP TENANG..." Ucap suara yang begitu dikenal, dia adalah Albaz, dulunya pahlawan tapi sekarang ia malah membelot melakukan tindakan yang begitu kejam.
"Hentikan paman..!! Biarkan dunia ini berjalan dengan semestinya, semakin paman berbuat aneh maka semakin buruk..!!. " Erin meninggikan nada suaranya, ia terpancing emosi oleh perkataan Albaz.
Benar-benar terpancing oleh suara Albaz, ia tidak tahu ia dijebak oleh suara Albaz. Dijebak oleh permainan hati, tubuh Erin mendadak memudar dan perlahan wujudnya menjadi cahaya bola yang didalamnya adalah chip.
"Erin..ERIN..!! " Bianca yang tidak bisa mencegah hal tersebut hanya bisa memanggil namanya dengan kuat sementara Albaz hanya tertawa.
"Kau...Manusia ter-anjing yang pernah aku lihat..!! Pengecut... TUNJUKKAN WAJAHMU.. " Jeritnya.
Hatinya hancur melihat Erin seperti itu, hatinya menggebu-gebu ingin menghajar Albaz. Albaz bermain licik dan Bianca tidak suka orang yang bermain licik dan pengecut seperti Albaz.
"Ahh Bianca, ckckck.. Sayang sekali kamu memihak kepada mereka, gabung sini... Kita akan membuat ulang dunia ini." Suara Albaz terdengar seperti mengajak sekarang.
Saat Bianca mencoba mengendalikan dirinya, ia melihat sosok yang keluar dari bayangan. Ia bukan Albaz, dia adalah Ra, makhluk yang mempunyai kemampuan bicara yang amat sangat menusuk dan berbisa.
Bianca tidak tau bahwa jika makhluk ini lebih buruk dari yang dibicarakan dan lebih licik, mereka masuk ke perangkap musuh. Ia sendiri baru menyadari bahwa ruangan ini, semua dimensi ini palsu, lalu kuncinya bukan ada di dimensi ini.
"Tik Tok Tik Tok... waktumu memilih ksatria pemberani.. " Nada mengejek sekaligus dengusan terdengar hampir bersamaan dari mulut makhluk ini.
Lamunan Bianca berakhir di saat setelah makhluk tersebut mengetuk pijakan di sekitarnya mengikuti alunan detak waktu. Bianca harus menemukan cara agar bisa menyelamatkan Erin kembali apapun caranya, itulah sebabnya Bianca memegang erat tombaknya dan wajah bak singa mengamuk terlukis di wajahnya.
...-Bersambung-...