
"Vera.... Vera... " Suara seorang gadis terdengar dengan jelas dan Vera dengan segera membuka matanya
Ia kaget dan tidak mengerti, tidak mengertinya karena ia tidak tau berada dimana dan kaget ketika ia melihat seseorang yang terlihat seperti seorang gadis berambut biru muda.
"Uhmm, kamu siapa?. " Tanya Vera dengan bingung.
"Kurasa kamu paham, setiap Crystal punya domain mereka masing-masing." Gadis itu menjawab pertanyaan Vera.
"Ahh tapi aku bukan Crystal of Hope dan aku memaksa ragamu kemari bukan tanpa alasan." Imbuh gadis itu lagi.
Vera hanya terdiam dan makin bingung apa yang gadis ini katakan. Maka dari itu, saat melihat Vera makin bingung, gadis berambut biru itu memulai untuk melakukan sesuatu dan yang awalnya adalah domain yang berisikan kode-kode yang hanya Vera yang tau kini sudah berada di dunia yang sangat asing.
Vera juga melihat gadis berambut biru masih berada didekat nya dan ia duduk dengan anggun ketika kursi muncul di belakang nya, ia terlihat seperti tau bakal ada kursi muncul begitu saja maka dari itu dia terlihat santai.
"Pertama-tama, aku ini Dr.Alia.. Kamu pasti kaget dan tidak percaya, tapi percayalah inilah diriku yang sebenarnya. " Ucap gadis yang mengakui dirinya sebagai dokter Alia tersebut.
"Kedua, Albaz menang dalam ambisinya.. Bumi hancur dan sekarang ia sedang dalam proses pembuatan bumi baru. "
Ketika Dr. Alia mengucapkan fakta yang tidak bisa diterima, yang awalnya Vera kira adalah lelucon, setelah ia melihat Vision lebih lengkap tentang kejadian yang sebenarnya membuat Vera patah hati.
Vera terdiam sekali lagi, ia mencoba berfikir dengan benar. Terakhir kali ia mendengar suara letusan pistol dan setelah mendengar suara itu, dahi Vera terasa hangat dan ia merasakan pandangannya buram.
Vera kemudian menanyakan apa yang ia ingat dan ia pikirkan itu nyata, lalu Vera bertanya apakah ia sekarang berada di pintu gerbang dunia selanjutnya. Tentu saja Dr. Alia tertawa kecil mendengar pertanyaan Vera dan wajahnya kembali serius.
"Tidak Vera, kamu tidak mati.. Mungkin hampir mati, tapi aku berhasil mengundurkan waktu sebelum jiwamu lepas dari ragamu dan langsung menyeretmu kedalam dimensi mu sendiri." Jawab Dr. Alia.
Vera langsung mati kata, ia tidak menyangka bisa hidup tapi ia tidak tau apakah teman-temannya akan selamat, tapi menurut Vera yang selamat hanya yang menggunakan Crystal atau Sigma.
Renungan Vera dan rasa sedih Vera dibatalkan ketika Dr.Alia mengucapkan kalimat yang membangkitkan mood Vera.
"Tapi aku bisa memutar waktu dimana kalian masih punya banyak waktu untuk fokus ke Ra. " Ucap Dr. Alia.
Karena Dr. Alia paham dan menduga Vera akan kebingungan, Dr. Alia memberikan ingatan dari sisi pihak ke 3,dimana ia melihat dengan jelas bahwa Ra, tangan kanan Albaz menembak kepalanya dari belakang dan tembakan keras itu menembus otaknya.
Dr. Alia juga menjelaskan, ketika detik-detik Vera akan ditembak, gangguan ruang dan waktu terjadi begitu saja, Dr. Alia langsung pergi menyelamatkan mereka berdua sebelum nyawa merenggut mereka. Dr. Alia juga menyebutkan bahwa dirinya sekarang membelah dirinya sendiri menjadi 2 untuk menuntun Vera dan Arabel.
Keberadaan Fredricka, ia tidak di ketahui meskipun sudah memakai sihir pelacak dari dimensi ke dimensi ataupun mengintip dari universe lain. Jejak kehidupan dari Fredricka juga tidak kelihatan dan terasa bagi Dr. Alia.
Vera meskipun senang akan kata yang di lontarkan Dr. Alia tadi, ia masih tidak enak juga memikirkan konsekuensi yang disebabkan oleh insiden yang dilakukan Dr.Alia dan Albaz nantinya.
Perasaan ini, sangat tidak enak. Ia merasakan tubuhnya gemetaran, ia merasakan dirinya terlalu lemah. Meskipun ia sadar, ia hanyalah manusia biasa dan juga seorang kristal, tetap aja dia aslinya hanya manusia yang memiliki keterbatasan.
Ketika ketakutan hampir merajalela didalam hatinya, Dr.Alia memegang pundak Vera dengan pelan. Ini sudah ke dua belas kalinya ia melakukan hal yang sama dengan Vera yang berbeda, jadi ia tau apa yang harus dilakukan. Yaitu mematahkan segel akan keraguan dan mulai menghadapi, menanggapi harapan-harapan manusia yang hidup di dunia ini.
Bahkan dibalik keputusasaan terdapat rasa harapan, meskipun kecil tetap aja itu akan menjadi salah satu sumber kebangkitan dan evolusi Crystal of Hope.
"Aku mendengarkan dokter." Balas Vera.
"Aku tau kamu punya keraguan akan dirimu, tapi untuk sekarang coba perlahan kalahkan itu dengan keyakinan dan keberanianmu, dengarkanlah harapan-harapan dari orang-orang, itu akan menjadi langkah awal evolusi kekuatan crystal mu. " Jelas Dr.Alia.
Vera agak ragu pada awalnya, namun ia tidak punya pilihan lain. Ia mulai menutup matanya sembari mengatur nafasnya agar dapat dengan tenang fokus dan mengikuti arahan Dr.Alia.
"...Hmm? Ah sepertinya udah waktunya."
Tubuh Dr.Alia seperti akan melebur menjadi abu, secara perlahan yang membuat ia tidak punya banyak waktu. Ia masih belum sepenuhnya pulih karena menggunakan banyak kekuatan untuk menyelamatkan anggota crest, seluruh dari mereka.
Tubuh asli Alia berasa di sebuah tabung darurat, melindungi dirinya dari kontaminasi akan Pandemonium. Jika ia tidak kembali ketubuh aslinya, maka kemungkinan besar Dr. Alia akan kehilangan nyawanya.
"Bagus, seperti itu.. Fokus. " Gumam Dr. Alia.
Dr. Alia kemudian mengeluarkan sihirnya, sihir itu keluar dari dalam tubuhnya berbentuk seperti inti bola, ia memasukkannya kedalam tubuh Vera. Bola inti itu adalah Time Orb, ini akan mempercepat durasi reaksi dari kekuatannya ketika Vera berhasil membuka kunci segel.
"Baiklah gini saja cukup..Semoga beruntung Vera." Kata Dr. Alia dan ia pun kembali ketubuh aslinya, raga di dunia milik Vera sudah menghilang.
Sementara itu Vera masih berusaha menenangkan dirinya, ia terlalu fokus akan ketakutannya. Hingga akhirnya ia mencapai titik terang, titik itu sangat terang hingga titik itu saat sudah semakin dekat, bentuknya mirip layaknya pintu bercahaya.
"Ini... "
Vera membuka pintu tanpa ragu dan ia langsung tersedot kedalam nya. Didalam pintu, Vera melihat banyak sekali cuplikan-cuplikan ingat dan harapan di setiap orang miliki. Semuanya saling terhubung, semuanya ada yang tidak terhubung, namun masih ada kesempatan di lain waktu untuk terhubung. Keinginan anak-anak yang kuat, keinginan remaja bahkan dewasa sama kuat nya, penyerangan Pandemonium dan Albaz secara bersamaan lebih mengerikan dibandingkan serangan nuklir yang sempat terjadi.
"... "
Vera melihat ke sebuah layar besar layaknya bioskop didepannya, itu adalah milik Vera sendiri. Ia melihat awal ia menggunakan senjata api, ia berhasil melindungi orang dan dirinya sendiri, tapi ia juga sempat tidak sengaja menarik pelatuk nya kepada orang yang salah, orang yang tidak berdosa.
"Aku yakin, sejarah ku bukan yang ini.. Tapi kata dokter, dunia mengalami perubahan sejarah dan juga perubahan pada fisik.. " Lirih Vera.
Setelah berhasil mengendalikan dirinya dalam waktu yang lama, layar itu menjadi retak dan dalam sekejap terbentuk pemandangan baru, didepan matanya ia melihat sebuah bola putih bersinar mengambang, tentu saja Vera mengambil bola putih bersinar dengan hati-hati.
"...Nghh...!! " Vera mengernyit ketika bola itu masuk kedalam tubuhnya, lalu sedikit meraung kesakitan ketika ia merasakan sesak nafas, meskipun ini adalah kesadaran Vera yang lain, tetap ia masih merasakan sakit di sekujur tubuhnya.
Saat Vera sedang berkonsentrasi di dimensinya, seorang pria datang, dia adalah Albaz Zachglow. Sedang memegang Apple of Eden yang ia rebut dari masa lalu.
Tentu Albaz akan datang karena rencananya akan gagal jika harapan manusia diserap oleh Vera, ia tidak tau bagaimana Vera melakukan nya tapi Albaz kini sudah siap untuk membunuh Vera didalam dimensinya sendiri.
"Waktunya perpisahan.. Vera Sergeeva.. "
...-Bersambung-...