
Pada waktu yang sama di mana Crystal of Depression dikalahkan. di sebuah koridor, seorang laki-laki berkacamata dan berambut pirang tengah membawa beberapa buku dan ia berlari kecil. Kelihatannya ia sangat terburu-buru dengan buku itu.
"Cepat Alen, waktu kita tidak banyak.. Jika kita tidak tepat waktu, maka kesempatan kita untuk menguasai seluruh dunia akan pupus." Ucap seorang wanita berambut biru pendek, ia terlihat tengah mengibaskan wajahnya dengan kipas, wajah cantiknya yang memerah akibat suhu yang tinggi membuat dirinya merasa gerah, ditambah dengan pakaian yang ia masih belum terbiasa pakai.
"Andai saja kau tau aku hampir ketahuan Albaz." Celetuk Alen.
"Cih, gausah banyak bacot ayo langsung saja tumpukkan buku itu ke tempat yang udah aku siapkan. " Ucap wanita tersebut sambil berdecih.
Wanita tersebut menepuk tangannya beberapa kali dengan keras dan beberapa orang dengan jubah dan dengan tudung di jubah yang mereka pakai datang dengan perlahan. Mereka adalah perkumpulan dari penyihir sekte gelap, mereka menggunakan sihir berunsur gelap dan terlarang.
"Ritual pemanggilan ninetail harus berjalan sempurna Valeria, ia dikurung didalam Crystal dan menjadi crystal seutuhnya akibat ulah Albaz pada masa lampau." Ucap salah satu anggota pria yang ada di perkumpulan tersebut.
"Benar, hanya ninetail yang dapat mengabulkan permohonan kita untuk menyelamatkan dunia dari Pandemonum, kita tidak bisa percayakan pada manusia yang bernama Albaz itu." Ketus sang wanita, salah satu anggota dari perkumpulan tersebut.
Balik lagi ke tempat dimana Fredericka berada, hari sudah pagi dan ia sudah berada didalam hutan. Ia tidak bisa beristirahat dan jika ia bisa, maka ia tidak akan bisa tidur nyenyak dan hanya akan membuat kepalanya pusing.
*DUAR*
Sebuah ledakan terdengar, lokasinya sangat jauh namun amat sangat terasa dan menggema. Suara sirine juga terdengar berbunyi sekali lagi setelah penyerangan pertama terjadi.
*Bzzzt*
Komunikasi terhubung dan terlihat ada Vera, Arabel, Dr. Alia dan Revita juga terhubung.
"Kalian, kembali ke Harbringer aku akan memberikan kalian titik pertemuan.. " Ucap Dr. Alia dan ia terlihat berang.
"Dan jangan matikan komunikasi, kecuali emang tidak disengaja. " Imbuhnya.
"Aku tidak bisa, ada orang disini.. Mereka rakyat dan manusia biasa kita tidak bisa meninggalkan mereka. " Balas Fredricka.
Terlihat Dr. Alia mengerutkan keningnya, ia sempat memijat kepalanya mendengar reaksi Fredericka.
"Ledakan tadi itu apa?. " Tanya Vera dengan polos.
"Crystal of Ninetail entah bagaimana bangkit dan posisinya berada di balai kota, radar juga menunjukkan bahwa Albaz disana dan kelihatannya melawan ninetail. " Jelas Dr. Alia.
Fredericka terdiam sebentar ketika yang lainnya mulai bertanya, ia kemudian diam-diam mematikan alat komunikasi dan bergegas pergi ke arah balai kota.
Suara khas Pandemonium terdengar saat Fredricka berada di depan bangunan biasa, ia melihat banyak sekali Pandemonium berbondong-bondong menuju kearah balai kota.
1..2....21...Totalnya ada 21 dan Fredricka menyerang salah satu dari mereka dari jarak jauh.
"Jangan halangi jalanku. " Ucap Fredricka geram.
Ia mengubah pedang besarnya itu menjadi sebuah pistol canggih, senjata api yang pelurunya menggunakan energi dan kebetulan Fredricka mempunyai banyak energi apalagi ia adalah Crystal.
"Lemah sekali dirimu, kenapa tidak mau gunakan cara brutal...?" Inti dari dalam dirinya berbicara, ia tertawa, menertawakan Fredricka.
"Diam kamu Promethia, aku tidak seperti dirimu." Balas Fredricka.
Promethia menjadi kesal karena ucapan Fredricka, ia kemudian mendengus dan mencaci maki Fredricka. Fredricka hanya diam dan melanjutkan aksinya mengalahkan semua Pandemonium yang ada di hadapannya saat ini.
"Hufff.. Huff..." Fredricka menarik nafas dengan berat, entah mengapa area disekitar sini seperti magnet dan tubuhnya tersebut terasa seperti diserap ditambah ia belum beristirahat total.
"Kasihan.. si bodoh Fredricka kelelahan dan ia tidak tau dan tidak sadar ada sesuatu yang aneh. " Sekali lagi, Promethia mengolok-olok Fredricka dan Fredricka hanya terdiam lagi.
Ia mulai mencerna kata dari Promethia tapi ia tidak paham.
"Ahh lupakan, dia juga menyerap kekuatan aslimu, yaitu kamu bisa mengendalikan api. Entah darimana dirimu bisa dapat kekuatan itu, tapi bisa kukatakan bahwa itu adalah sihir. " Imbuh Promethia.
Sihir? jadi selama ini kekuatan apinya yang ia keluarkan. Itu bukan energi? bukan dari Promethia? Fredricka kemudian bertanya lagi kepada Promethia apa yang ia pikirkan dan Promethia mendengus kencang.
"Bodohnya.. Aku pernah mengatakan sebelumnya kan? aku ini adalah Crystal of Vortex, aku hanya bisa menggunakan Void dan Thunder. " Jawab Promethia dengan angkuh.
"Kalau teman pendekmu yang namanya Vera itu, dia adalah.. "
Kata-kata Promethia terhenti, ia menyadari ada suatu perubahan atau mungkin ia hanya bermimpi saja atau ia hanya berhalusinasi. Promethia kemudian mencoba mengingat kembali tentang Vera.
"Vera adalah Crystal of Hope... Dulu di masa lalu seorang wanita yang bekerja di panti asuhan mendapatkan berkah berupa Crystal of Hope, dia adalah Crystal of Hope pertama kali oleh penyihir yang bernama Valeria, Crystal of Hope adalah makhluk yang baik tidak seperti diriku dan beberapa crystal lainnya bahkan Tetra Crystal." Jelas Promethia.
"Aku benci mengatakannya bahwa meskipun sesama crystal, dia adalah crystal pembantah dan malah membantu umat manusia, terkhusus Albaz dan Farrah." Imbuhnya.
Fredricka hanya terdiam, menyerap ungkapan dari Promethia. Tapi ia masih belum mengetahui kekuatan dari Vera sebagai Crystal.
"Es dan Magnet..Juga Crystal of Hope dapat di definiskan sebagai God Mecha. Benar, Mecha.. Itulah mengapa ia tidak akan pernah mau menurut. " -Promethia.
Setelah selesai mengalahkan seluruh Pandemonium yang muncul lagi, Fredricka berlari, melanjutkan arah perjalanannya menuju balai kota.
"Sedikit lagi, hampir sampai... " Batin Fredricka.
Saat sudah berada di balai kota yang begitu besar dan megah, mungkin sekarang sudah berupa puing akibat pertarungan Albaz dan ninetail yang sekarang masih berlangsung.
"Ughh.. Menyedihkan, diriku kalah sama manusia rendahan ini. " Ucap ninetail yang kini menggertakkan giginya dan ia benar-benar babak belur.
"Ninetail, berhentilah melawan dan ikut denganku. " Ajak Albaz.
"Persetan, tolol. Elu ngajak ketempat yang salah.. Cuih.. " Ninetail terlihat tidak takut dan malah mencibir Albaz sembari meludahi dirinya.
"Padahal udah aku kasih keringanan. " Ucap Albaz.
Tanpa basa-basi, Albaz mengangkat pedangnya dan dengan cepat mengayunkan pedangnya, memotong ninetail dengan mudahnya. Ninetail tak sempat menjerit, atau mengerang disaat itu juga dan tubuh nya berubah menjadi sebuah batu crystal.
Dari ekor mata Albaz, ia melihat Fredricka datang dan kini terlihat bersembunyi darinya.
"Disitu rupanya dirimu, Crystal of Vortex.. " Lirih Albaz.
Albaz merasakan bahwa tugasnya sudah hampir selesai karena Ra sudah mengumpulkan semua Tetra Crystal dan ketika melihat Fredricka, ia pun mulai menyeringai apalagi ia mengalahkan kecoa yang menghalangi jalannya, ia sudah membasmi semua anggota penyihir sekte gelap kecuali Valeria karena ia kabur saat mengetahui dirinya kalah dengan Albaz.
Albaz kemudian melakukan sesuatu, Fredricka kaget disaat Crystal didalam dirinya bereaksi dan nafasnya mulai berat begitu juga dengan pandangan nya.
"Ughh, apa... Ini.. " Lirih Fredricka.
Ia merasakan kesadaran nya mulai menghilang dan gadis itu menutup matanya. Saat mata Fredricka terbuka ada perubahan didalam dirinya, mata biru layaknya diamond dan warna rambutnya memutih.
Fredricka bertingkah bukan seperti dirinya sendiri, gadis itu terkekeh hingga akhirnya ia tertawa lepas.
"Heheh, hahahaha... Akhirnya bebas dan aku bisa menaklukkan dunia ini."
Benar, Promethia telah mengambil alih tubuh Fredricka. Berkat energi Pandemonium dan sihir para penyihir gelap membuat Promethia mampu melumpuhkan kesadaran Fredricka.
...-Bersambung-...