PANDEMONIUM

PANDEMONIUM
BAB XIX : ALAM BAWAH SADAR WENXIA



Apakah, manusia punya mimpi.. Apakah mimpi manusia bisa diwujudkan, mungkin seperti burung yang terbang kelangit,kenapa mereka bisa terbang? seperti ikan berenang di air, kenapa mereka bisa hidup diair dan berenang tanpa kesusahan.


Ikan maupun burung dapat melakukan apa yang mereka lakukan karena keinginan mereka, semua itu hanya keinginan dan mimpi yang kuat, setidaknya inilah yang aku pikirkan. Hal yang aku pikirkan ketika aku menulis ini di buku jurnal ku.


"Huft, aku penasaran apakah kehidupan manusia ini seperti pohon, dimana setiap anggota tubuh pohon tersebut mempunyai dunia lain, mempunyai universe lain, memiliki kehidupan selain yang ada disini."


Ucap Albaz, dia meletakkan pulpennya dan bersantai pada kursi hitam miliknya. Rasanya nyaman, kursi ini baru di beli oleh Farrah yang merupakan pacarnya.


Albaz yang masih muda melihat kearah kiri dan kanan, ia melihat ruangannya berantakan namun ia terlalu tidak ada energi untuk membersihkan nya.


Ia masih memiliki pendirian teguh dengan apa yang terjadi disekitarnya dan dia akan berusaha mewujudkan harapan Farrah. Meskipun seorang komandan, Farrah juga ahli dalam bidang astreologi dan ia terus saja membicarakan tentang kehidupan luar.


Albaz tersenyum ketika Farrah dan dirinya berkencan di hari pertama, Farrah meletakkan kepalanya di bahu Albaz serta bertanya kepada Albaz.


"Hei.. Menurutmu, menurutmu apakah ada dunia lain diluar sana?"


Albaz yang masih muda belum mengetahui apapun dan ia hanya menduga saja.


"Mmm, dunia diluar? maksudnya seperti planet? "


Mendengarkan jawaban Albaz membuat Farrah tertawa kecil lalu sedikit mencubit lengan Albaz.


"Heh... Buat apa coba kamu gitu, sakit tau." Ucap Albaz dengan muka yang merah karena menahan sakit.


Meskipun cubitan kecil, tetap saja Albaz merasakan kesakitan dan langsung mengusap lengan yang di cubit oleh Farrah.


"Bukan itu.. Tapi tidak salah sih dan juga tidak benar, tapi maksud aku adalah, apakah di luar dari galaksi kita, universe kita ini ada kehidupan lain? atau apakah belum ada dan kita ini seperti biji pohon yang menunggu untuk mekar dan menghasilkan banyak dunia?"


Mata Farrah berbinar, ia melihat ke langit cerah. Langit biru, kenapa langit warnanya biru juga sempat membuat Farrah bertanya-tanya walaupun secara sains ia sudah tau jawabannya.


"Menurutku dunia lain... Ada, mungkin mereka seperti kita tapi dengan nasib dan takdir berbeda-beda.. Seperti kamu dan aku, mungkin diluar sana kita adalah musuhan di sekolahan atau bahkan tidak pernah ketemu sama sekali."


Albaz menjawab apa yang ia bisa, Farrah mengangguk dan ekspresi nya menunjukkan rasa respek dengan apa yang Albaz katakan.


Bagi Farrah itu adalah konsep dari universe, dari dunia mereka sendiri. Dan amat sangat jauh dengan konsep dunia luar. Farrah sudah memikirkan hal tersebut ketika ia masih di sekolah menengah atas, dimana ia berjumpa dengan Albaz yang dikala itu Albaz hanyalah murid baru yang tidak punya teman dan jarang bergaul, tetapi memiliki potensi dalam bidang olahraga.


Keinginan Farrah semakin dipegang oleh Albaz ketika Farrah meninggal dikala itu, perang pertama dengan makhluk luar yang bernama Pandemonium. Makhluk yang juga ada di dalam inti bumi, bagaimana cara datangnya mereka tidak tau bahkan Albaz sekalipun.


Kenapa ikan dan burung mempunyai keinginan yang besar dan itu terwujud, kenapa manusia tidak dapat melakukannya dan hanya sebuah kesalahan yang diperoleh. Albaz yang sekarang merosot di samping singgasana tua, ia melihat kelangit-langit dan di samping nya terdapat Greatsword miliknya, teman lamanya yang ia sempat tinggalkan.


Hidup abadi tidaklah menyenangkan baginya, malah sebuah kutukan yang mengerikan. Kenapa beban ini ditanggung olehnya? ia tidak tau, bisa dikatakan Albaz sedang berada di titik lemah nya.


Di sisi lain, mungkin tepatnya Mei Qinglin berada di Wenxia. bisa dikatakan tempat ini adalah mimpi, masa lalu, ingatan dari Mei Qinglin.


Sesuai namanya, tempatnya, Wenxia adalah gambaran dari tempat kelahirannya di Cina. Orang yang hidup sejak zaman Dinasti, mempunyai banyak pengalaman. Zaman dinasti yang terkontaminasi karena adanya Pandemonium, Mei mengetahuinya bahwa tempat ia tinggal, tempat ia lahir ada di sebuah biji hitam yang terkontaminasi dari makhluk spirit yang dengan setia menemaninya.


Namun makhluk spirit yang menemani nya selama bertahun-tahun harus meninggalkan nya setelah 150 bersama makhluk spirit yang bernama Xiaoyu Hen dan kembarannya yang bernama Xiaoyu Xin.


"Huft..."


Mei menghembuskan nafasnya, ia berhasil kabur saat dunia berhasil ditaklukkan dan setelah beberapa jam kemudian ia merasakan kehidupan atau dunia kembali lagi dan merasakan kehidupan muncul kembali.


Mei tidak paham kenapa begitu, tapi sepertinya ada yang menolong mereka.


Mei yang melakukan kultivasi dan berkonsentrasi di sebuah batu yang simetris di dekat air terjun. Di Wenxia. Mungkin sudah saatnya, sudah saatnya ia mengajarkan ilmu bela diri kepada Fredicka.


Mei perlahan membuka matanya, semakin ia berfikir dengan jelas, semakin ia mengetahui tujuan Albaz. Mungkin hanya sebuah dugaan, tapi yang jelas selain Albaz ingin menghancurkan dan membuat kembali ulang dunia, Albaz juga ingin menghidupkan kembali istrinya, Farrah.


"Albaz, berapa banyak dirimu mengorbankan anggota mu sendiri..Mengorbankan temanmu sendiri." Ucap Mei yang masih duduk dengan damai.


Mei kemudian mengaktifkan berbagai form nya satu persatu, merasakan kekuatan mengalir didalam tubuhnya. Kekuatan yang sudah ia latih sejak bertahun-tahun lamanya dan kekuatan yang ia peroleh dari spirit yang menemaninya selama bertahun-tahun.


Ia kemudian meliat kedepan, ia melihat bayangan ilusi Albaz yang melihat dirinya. Mata itu tersapu hanya melihat dirinya. Tatapan itu yang membuat Mei masih merasakan kehangatan.


Mei memejamkan matanya lalu saat membuka matanya, ilusi Albaz telah menghilang. Jika dunia memberikan kesempatan pada dunia, maka ia harus mengubah kehangatan ini kepada Fredricka, Vera dan Arabel.


"Sebelum itu, mungkin ada baiknya jika aku melatih kembali gerakan ku." Ucapnya dan ia berdiri dari tempatnya dan langsung melompat dengan mudah dan terlihat ringan sekali.


Mei mendaratkan kakinya di tempat lain dan ia memejamkan matanya, sebuah sinar didahi nya berbahaya dan beberapa Pandemonium muncul didepannya. Ini adalah ilusi Pandemonium sebagai bahan dasar latihannya ataupun sebagai tempat ia melakukan eksperimen dengan kekuatan barunya dikala itu.


Mei kemudian bergerak maju, dengan gerakan lincah ia menghajar ilusi Pandemonium dan setiap pukulannya menciptakan energi tambahan sejauh 4 meter.


Satu persatu Pandemonium tumbang dan ia melakukan rolling ke samping kiri ketika Pandemonium lain menyerangnya dan Mei langsung memberikan sapuan kaki yang menjatuhkan ilusi Pandemonium dan menghajarnya.


Setelah ilusi Pandemonium udah dikalahkan, Mei bernafas dengan tenang dan ia siap untuk keluar dari ilusi ini dan kembali ke dunia.


"Fredricka, Vera, Arabel.. Tetap hidup aku akan datang, kali ini aku akan bersama kalian." Batin nya.


Mei menutup matanya lagi, tanpa portal ia sudah kembali ke dunia setelah beberapa detik. Ia melihat langit yang hitam, ini adalah awal penyerangan dari Albaz dan juga orang yang bernama Ra sedang dalam pertarungan melawan beberapa Crystal dan memaksa mencabut inti mereka saat pada Crystal jatuh lemas tidak berdaya. Itu adalah pemandangan sebelum ia kembali lagi kesini dan ia melihat langit biru, angin yang berhembus menyentuh pipinya dan ia melihat Fredricka, Vera dan Arabell di dekatnya tersenyum kearahnya.


...-Bersambung-...