
"Ihh apa sih, Ma, Ran ngga mauuu!" Rania terus meracau ketika mama menyuruhnya mendatangi kediaman Adam dan membawakan laki-laki itu makanan sebagai ucapan terimakasih—karena semalam dia sudah mengantarkan Rania pulang juga telaten mengurus Rania yang sudah hangover. Lagi pula hari ini hari minggu, jadi mama yakin, kegiatan Rania tidak sebanyak hari-hari biasanya.
"Ayo dong, Ran, lagian kan, mama masak banyak hari ini."
"Ya kasih ke siapa gitu."
Intinya kalau Rania yang mesti pergi ke sana, dia menolak dengan keras. Rania lebih memilih membagikan makanan mama ke warga komplek hanya dengan jalan kaki di siang yang terik bukan main ini dibanding ke rumah Adam dengan supir yang nantinya dia cuma duduk tenang sampai tiba di rumah laki-laki itu.
"Ma, jangan terlalu percaya deh, sama Adam, diam-diam menghanyutkan dia tuh!"
Kali ini mama berdecak, lalu menutup rantang terakhir dan menyusunya dengan melirik anak sulungnya dengan jengah.
"Nggak usah ngawur, mama kenal dia udah dari kecil."
"Ya kan manusia berubah-ubah, kalaupun kecilnya baik, belum tentu sekarang masih baik."
"Justru sekarang dia makin-makin-makin baiknya."
Rania sampai tertawa tidak paham. Tentang bagaimana mama yang begitu memuja Adam.
"Nah, selesai, gih berangkat!" seru mama setelah menyusun rantang tadi, membuat bahu Rania lemas disertai lenguhan panjang.
"Maaa!"
Tapi mama adalah mama. Sekeras apa Rania menolak permintaan wanita itu, pada akhirnya tetap mama pemenangnya. Jadi dengan hentakan yang menggebu-nggebu Rania masuk ke kamar untuk ganti baju, tapi beberapa menit setelahnya, dia bingung sendiri, perihal kenapa dia harus ganti baju segala, di saat baju yang dia pakai saat ini bukan baju yang jelek, nggak malu-maluin juga kok kalau buat keluar.
'Nah terus kenapa gue mau pakai dress segala?' batin gadis itu, dia juga langsung membuang dress yang sebelumnya sudah dia tenteng ke sembarang arah.
"Penting banget gue nemuin dia segala pake dress. Ewhh!"
"Lho, kok nggak jadi ganti?" tanya mama.
Mendapati Rania yang keluar dengan tampilan tidak ada bedanya dengan sebelum dia ke kamar jelas mama heran, sedangkan Rania hanya tertawa canggung.
"Ya lagian kan cuma ke rumah Adam, pakai ini juga nggak papa kan?"
"Its oke, kamu pakai apa aja juga cantik kok."
Rania tersenyum lebar, dia tahu itu. Tapi begitu sampai di dalam mobil, dia sengaja mengacak-acak rambutnya sampai terlihat sedikit lebih berantakan dari tadi. Pada intinya begini, jangan sampai dia terlihat cantik di depan Adam, nanti laki-laki itu makin terpesona dengan Rania siapa yang tanggung jawab? Kan Rania bingung.
°°°
Ada beberapa mahasiswa yang telat mengumpulkan tugas, dan Adam memberi mereka konsekuensi untuk menyerahkan tugas itu ke rumahnya secara langsung, yang di mana, hari ini adalah hari terakhir sebelum jam tiga, kalau masih ada yang terlambat, Wassalam, tidak ada toleransi dalam bentuk apa pun lagi.
Laki-laki itu berdiri setelah bel rumahnya di tekan beberapa kali, sekarang sudah pukul dua siang, sementara yang mengumpulkan tugas baru enam dari sepuluh orang. Jadi jelas Adam berpikir kalau seseorang yang tengah berada di luar adalah salah satu dari mahasiswanya, tapi ternyata,
Adam berkedip lucu. Kemudian mengamati Rania dari atas sampai bawah. Stelannya kasual yang santainya santai banget, dengan sendal jepit seadanya, dan rantang yang dia tenteng dengan ekspresi keberatan.
"Kamu ngapain?"
"Nih, mau ngemis, kali aja lo ikut."
"Saya serius."
Kali ini gadis itu berdecak dengan tatapan menghunus ke Adam.
"Ajak masuk dulu kek, di kira nggak panas apa!"
Sedang Rania masih melihat-lihat ruang tamu laki-laki itu. Tidak banyak yang bisa Rania temui, bahkan yang paling umum seperti foto keluarga. Hanya ada beberapa vas bunga dan barang-barang unik dari kayu, yang terlihat sederhana juga elegan dalam waktu yang bersamaan.
Gila sih, jiwa seni dalam keluarga ini terlihat sangat kuat dan mahal.
"Hari ini mama masak banyak."
Adam yang baru datang segera duduk di depan gadis itu, tapi dia masih belum berkata apa-apa.
"Kata mama, ini sebagai ucapan terimakasih, karena semalam lo udah ngurus gue."
"Oh itu."
Responya Adam... seringnya lebih ke menjengkelkan. Sekarang saja darah Rania sudah sedikit naik.
"Lagian gue tuh heran deh, kok lo bisa tahu kalau gue di sana? Jangan bilang lo ngikutin gue diem-diem?"
"Kamu kira saya selenggang itu?" tanya balik Adam. Malam itu dia memang tidak sengaja menemukan eksistensi Rania, dan dia pikir memang seharusnya dia menghampiri gadis itu. Menghampiri calon istrinya yang tengah mabuk, dan mengantarkan Rania pulang dengan selamat.
"Senin besok kalau kamu free, kamu bisa ikut saya."
"Kemana?"
"Cari rumah."
"Ya kalau mau cari rumah mah, nggak usah ngajak-ngajak gue, rumah juga rumah lo."
Gadis itu tertawa, merasa lucu dengan apa yang barusan Adam bicarakan. Tapi tidak lama setelah itu dia berpikir lagi sampai semuanya mendadak lebih jelas dalam kepalanya, kejelasan yang membuat tawanya perlahan-lahan memudar sampai benar-benar habis, lalu ketika dia mendongak dan menatap Adam, laki-laki itu justru mengangguk dengan senyum lebar. Seolah ekspresinya sekarang ini mengandung kalimat, 'iya, rumah kita.'
"Lo becanda kan? Iya dongg? Iyalah pasti."
"Saya serius."
"Becanda aja deh, serius mulu hidupnya."
"Ya kalau kamu emang sibuk, nggak papa, biar saya cari sendiri, nanti saya review satu per satu dan saya kirim ke kamu dalam bentuk dokumen, lengkap dengan foto rumahnya."
Kalau dilihat dari cara bicaranya Adam sih, nggak ada yang main-main alias memang serius.
Hhahh.
Rania menghela napasnya panjang.
Kayaknya dalam hidup, memang banyak hal yang udah seharusnya di yaudahin. Terlalu capek kalau diperjuangin dengan keras, toh ujung-ujungnya tetap mengecewakan.
"Gue mau, ada perjanjian pra nikah." Rania tiba-tiba berkata demikian, membuat lawan bicaranya menatapnya dengan bingung.
"Dan gue juga mau sampein ini ke lo, dalam pernikahan ini, gue nggak punya persiapan satu persen pun, jadi apa lo nggak keberatan kalau lo harus pontang-panting nantinya?"
"Gue juga nggak tahu, sebanyak apa gue bisa ngasih apa yang lo mau dari gue, karena bisa jadi, gue malah nggak punya satu hal pun dari banyak hal yang lo inginkan itu."
"Jadi Dam, apa lo tetep akan nikahin gue? Atau gimana? Kali ini apa yang gue omongin serius, beda dengan ucapan gue waktu kita ketemu pertama kali."
"Dan gue sangat berharap, lo nggak memaksakan diri lo."