
"Dam, are you okay? Bisa pulang sendiri nggak? Gue panggilin taksi aja ya?"
Temannya itu sudah akan pergi setelah mendudukkan Adam di pinggir Bar, tapi Adam lebih dulu menahan lengannya.
"Nggak, gue bisa kok."
"Dengan kondisi lo yang udah setengah tepar begini lo kira bisa sampai rumah? Yang ada lo ketahan sama polisi ntar." Laki-laki itu berdecak tidak habis pikir, itu baru kemungkinan kecil, kemungkinan lainnya, bisa-bisa Adam menabrak kendaraan lain.
"Rik, udahh, bisa kok gue."
"Nggak-nggak, gua yang nggak tega." Jadi setelah itu Riki benar-benar meninggalkan Adam dan mencoba mencarikan Adam taksi, tapi setelah ia kembali, ia malah melihat seseorang tengah merengkuh Adam dan memapah laki-laki itu untuk berjalan ke dalam mobil.
Seseorang dengan tinggi sepundak Adam, seseorang dengan rambut panjang terurai juga setelan kasual santai. Seseorang yang justru masih asing untuk Riki sendiri, sebab lama dia mengenal Adam, sepertinya Adam belum pernah mengenalkan seseorang itu padanya.
"Engg, sorry," Riki menepuk pelan pundak perempuan tersebut, membuat perempuan itu menoleh.
"Gue temennya Adam, lo siapa ya?"
"Ahhh, iya-iya, gue juga temennya, temen lama."
"Ohh." Baru setelah itu Riki tertawa pelan.
"Terus ini temen gue mau dibawah kemana?"
"Gue anter aja pulangnya, kebetulan gue nggak bawa mobil."
"Terus, ntar lo pulangnya gimana?"
"Gampang, nanti gue bisa cari taksi."
Perempuan itu tersenyum, lantas berpamitan pada Riki untuk segera mengantarkan Adam pulang.
"Dah yaa, gue balik."
"Oiyaa, hati-hati."
°°°
Dalam hidup, pasti ada beberapa hal yang membuat kita berpikir, 'Andai waktu bisa diulang,' mungkin banyak dari kita yang sudah melakukan itu, sebab nyatanya, satu detik yang menurut kita nggak seharusnya terlewat dengan demikian mampu menghadirkan perubahan yang sangat luar biasa untuk hidup kita ke depannya.
Untuk Rumi, satu detik yang terlewat itu tentang, "Aku mau kita lebih dari temen."
Di saat sebelumnya dia tahu, bahwa Adam telah mencintai perempuan lain.
Ya meskipun pada akhirnya Rumi tidak memaksakan apa pun lagi, tapi tetap, hubungannya dengan Adam mendadak menjadi canggung.
Lalu malam ini, ketika dia mendapati eksistensi laki-laki itu, dengan keadaan tidak sadar, nalurinya justru bergerak sangat cepat untuk menghampiri Adam. Lucu yaa, padahal dia tahu kalau Adam sudah menikah, padahal dia sudah berniat untuk berhenti peduli pada laki-laki itu, tapi kenyataannya, dia tetap saja khawatir.
"Dam, heii? Kenapa?"
Adam tidak menjawab, dia hanya mendongak dengan seulas senyum tipis. Entah dia masih mampu mengenali Rumi dengan keadaannya sekarang atau justru bayangan orang lain yang tengah dia lihat.
"Damm, kamu bisa sakit kalau mabuk." Adam itu bukan laki-laki yang tidak kuat minum, hanya saja sebisa mungkin dia hindari karena setelah itu dia bisa sakit.
Sekarang saja dahinya sudah panas. Jadi setelah itu yang Rumi lakukan adalah merogoh saku Adam untuk mencari kontak mobilnya, kemudian mengambil mobil Adam dan memapah Adam untuk masuk.
Setelah bertemu dengan teman Adam dan berkenalan singkat, dia bingung harus membawa Adam kemana, secara Adam tidak memberitahu apa pun soal pernikahannya, bahkan di mana dia tinggal juga Rumi tidak tahu. Jadi langkah yang Rumi ambil adalah membawa Adam ke rumahnya. Sekarang ini yang paling penting Adam bisa beristirahat dengan nyaman. Lalu begitu mereka sampai, dia merelakan ranjangnya untuk dipakai laki-laki itu.
Rumi mulai melepaskan sepatu yang Adam kenakan, dan menyapu keringat laki-laki itu pada dahinya.
"Maaf yaa, aku nggak berniat buat nyari masalah," kata Rumi begitu ia tersenyum tipis memandangi Adam. Kemudian ia merapikan rambut laki-laki itu dari tempatnya duduk.
"Selamat beristirahat ya, Dam, tidur yang nyenyak, nggak usah berusaha buat mimpi indah."
°°°
"Apa gue telpon aja ya?"
"Tapi kalau dia masih sibuk takutnya dia keganggu."
HP yang sempat Rania ambil, diletakkan lagi ke atas meja, tapi belum sampai semenit, gadis itu mengambil kembali hpnya dan segera mencari nomor Adam. Menurutnya kalau pun Adam coba menghindar, cara yang dia pakai dengan tidak pulang bukanlah cara yang benar, maka ia memutuskan untuk segera menghubungi Adam.
Dan tahu apa yang mengejutkan?
"Iya, siapa ya?"
'Gue nggak mengenali suara ini,' batin Rania dibalik rasa terkejut begitu sambungan telepon terhubung.
Suaranya bukan milik Adam. Lucunya lagi yang mengangkat telepon itu adalah perempuan.
"Hallo!"
Rania masih tidak mengatakan apa-apa, dia akui dia begitu terkejut, sampai kemudian dia memilih untuk menutup telepon tersebut.
"Gue nggak salah, kan? Ini beneran jam satu dan dia lagi sama cewek?"
Gadis itu tertawa bersamaan dengan melempar hpnya.
"Gua kira dia nggak kayak cowok kebanyakan, ternyata sama aja."
"Sama-sama bangsat."
Rasanya percuma juga sedari tadi Rania menghawatirkan laki-laki itu, untuk apa? Sementara yang dikhawatirkan senang bersenang-senang bersama simpanannya.
Bukannya Rania menuduh yang tidak-tidak, tapi jika keadaannya begitu, apa bisa dia berpikir sedikit lebih positif tentang mereka? Jelas tidak.
"Ya tapi ngapain juga gue marah, itu hidup dia kan? Gua bahkan nggak berhak untuk ngatur-ngatur dia, sekalipun dia suami gue."
"Tapi kenapa ya, Dam? Kenapa rasanya tetep kesel? Kenapa rasanya gue nggak terima dengan apa yang barusan gue denger? Padahal jelaskan? Orang yang gue cintai itu bukan lo, tapi Baskara."
°°°
Paginya Adam merasa pegal pada sekujur tubuh, bahkan matanya sulit terbuka, tidak seperti biasanya ketika dia bangun, dan bayangan seseorang yang dia lihat ini, dia yakin sosok itu bukan Rania, lantas siapa?
"Heii, udah bangun?"
Adam mengernyit, seiring pandangannya yang semakin jelas, semakin dia bingung akan keberadaan Rumi, belum lagi ketika dia menoleh ke sekeliling, tempat ini bukan rumahnya.
"Lo—"
"Santaiii." Rumi tersenyum, menaruh segelas teh hangat ke meja kamarnya, sengaja dia buatkan itu untuk Adam.
"Semalam lo mabuk, gua mau anter ke rumah, tapi lupa kalau gue nggak tahu alamat rumah lo di mana, secara kan, lo nikah aja gua nggak diundang."
"Jadi gua bawa lo ke sini, sorry yaa."
"Saya yang makasih." ekspresi Adam terlihat lebih baik begitu Rumi selesai memberinya penjelasan.
"Dan maaf kalau saya ngebuat kamu repot."
Ucapan Adam membuat Rumi tertawa.
"Semalem emang repot, gua harus bantu lo jalan dengan badan lo yang segede itu, gua harus relain ranjang gue dan tidur di sofa, gue harus kedinginan di ruang tamu, tapi lucunya, gue sama sekali nggak keberatan."
"Rum—"
"Dam, gue nggak main-main sama ucapan gue, nggak peduli kalau pun lo mencintai perempuan lain, gue tetep akan berusaha buat dapetin lo, karena gue tahu, perempuan yang lo cintai masih mencintai laki-laki lain."