Our Long Story

Our Long Story
Chapter 08



Bisa dibilang Rania ini jarang minum, dia hanya mampir ke kedai terdekat untuk memesan minuman beralkohol sesekali, yang dalam setahun masih bisa dihitung jari, tapi begitu dia minum, dia tidak akan berhenti sampai benar-benar hangover. Mama sudah melarang Rania, karena minuman beralkohol jelas berbahaya untuk kesehatan Rania, tapi Rania hanya mengiyakan, di belakang mama malah beda lagi.


Gadis itu tertawa pada udara yang kosong dengan gelas kecil yang lagi-lagi dia teguk, sedangkan pipinya sudah merah dan matanya sulit terbuka.


Saat sedang seperti ini, rasanya Rania ingin mengumpulkan beberapa orang yang juga sedang putus asa. Rania butuh didengar, Rania butuh ditepuk pundaknya tanpa di semangati, dan orang terdekatnya, tidak ada yang bisa melakukan itu untuk Rania.


"Nggak ada yang peduli sama perasaan gue." Lagi—dia tertawa.


"Hidup tuh... kadang anjng ya?" Bicara sendiri seolah-olah di depannya sana ada orang yang tiba-tiba hadir dan mampu mendengarkan dia.


"Nggak sekali dua kali hal-hal yang enggak lo inginkan malah terjadi, dan hal yang lo inginkan, mereka akan semakin jauh nggak peduli seberapa besar lo berusaha lari ke dia."


Di titik ini, agaknya Rania setuju dengan yang disampaikan oleh kunto Aji melalui lagunya.


Gadis itu mengangguk, lalu meneguk lagi wine itu, dan dia hampir membuka botol baru, sayangnya tangan lain lebih cepat menahan Rania, wajah lelahnya kini menatap Rania dalam, sementara Rania, senyumnya makin melebar, bahkan dia langsung merentangkan tangannya, entah sosok siapa yang tengah dia lihat sekarang ini, yang jelas, bisa jadi di matanya, Adam adalah orang lain.


"Anterin gue pulang, gue nggak bisa nyetir sendiri." Dan tanpa menunggu jawaban Adam, gadis itu benar-benar menarik Adam mendekat lalu memeluknya, dengan dengkuran yang perlahan-lahan terdengar keras.


Iya, dia tertidur beberapa detik setelah itu. Membuat Adam berdecak pelan sebelum akhirnya merenggangkan pelukan Rania dan menatap Rania sekali lagi.


"Kalau kamu bingung, saya lebih bingung Ran. Kenapa saya tetep kekeuh dengan niat saya padahal Rania yang sekarang sangat beda dengan Rania yang saya kenal dulu."


Bahkan Rania yang sekarang sangat membenci Adam. Rania yang sekarang sudah mencintai laki-laki lain.


"Saya nggak tahu apa yang sebenarnya saya harapkan dari kamu."


"Kalau pun kamu mampu mengingat saya, bukan berarti janji waktu itu masih berlaku kan? Saya tahu." Adam tersenyum. Lalu setelah merapikan rambut-rambut Rania ke kebelakang telingga gadis itu, Adam coba mengangkat Rania dan membantu Rania masuk ke dalam mobil.


"Jangan pulang dulu... gue nggak mau mama ngomel-ngomel." Rania mulai meracau, tapi matanya masih terpejam.


Adam coba mengabaikan perkataan Rania, membuat Rania menarik lengannya kuat ketika merasakan pergerakan mobil yang Adam kendarai.


"Gue bilang jangan pulang dulu!"


"Terus kamu mau ke mana dengan kondisi yang kacau begini?"


"Gue nggak mau pulang! Pokoknya nggak mau!"


"Ya udah, maunya kemana?"


"Nggak tahu!"


Sekarang Adam masih bisa sabar, tapi nggak tahu beberapa menit lagi, bisa jadi dia akan membuang Rania ke rawa-rawa.


"Kamu harus pulang, tante udah nyariin kamu dari tadi."


"Kok lo jahat sih?"


Rania menoleh, matanya menyipit, coba melirik Adam meski rasanya sangat sulit untuk sekedar membuka mata.


"Mama gue kalau ngomel bisa dari malem ketemu malem lagi, lo tega sama gue? Hah?"


"Kalau pun nanti saya punya anak dan anak saya mabuk-mabukan sampai tengah malam begini, saya juga akan marahin dia."


"Nggak!" Rania langsung menggeleng tegas. Membuat Adam keheranan saat menatap gadis itu.


"Lo nggak boleh marahin anak gue."


"Maksutnya?"


Boleh nggak sih Adam ketawa? Apalagi saat mendapati wajah kesal Rania, laki-laki itu sampai memalingkan wajahnya dan terkekeh pelan, benar-benar tidak habis pikir dengan Rania dan tingkahnya.


"Jadi kamu mau punya anak sama saya setelah kamu dan saya menikah?"


Tapi di sebelahnya, Rania kembali tenang, gadis itu tidur lagi, dan pertanyaan Adam tadi melayang begitu saja tanpa sempat Rania jawab.


°°°


Adam dengan telaten melepas sepatu hak tinggi milik Rania begitu dia selesai membaringkan Rania ke tempat tidurnya, sedangkan mama Rania, beliau masih di dapur untuk membuatkan Rania teh hangat, jadi selagi menunggu mama Rania, laki-laki itu melihat-lihat kamar Rania dan terpaku pada beberapa foto Rania yang gadis itu tempel di dinding, ada juga foto gadis itu ketika dia masih kecil, dengan baju pesta berwarna merah menyala dan kuncir dua dan jepit rambut bulat-bulat memenuhi bagian depan. Asli, Rania terlihat sangat manis dan anggun dalam foto itu, hingga ketika menoleh ke Rania besar yang tengah berbaring sekarang, Adam jadi ketawa sendiri.


"Nggak nyangka kalau kamu akan tumbuh seperti ini."


"Galak, judes, keras kepala."


Adam lagi-lagi tertawa, kemudian mendapati Rania mengeliat membuat laki-laki itu inisiatif menarik selimut Rania sampai menutupi setengah dari tubuh Rania, baru setelahnya dia keluar dengan perlahan.


"Dam, minum teh dulu ya, tante juga buatin buat kamu."


"Harusnya nggak perlu repot-repot, Tan."


Mama Rania melambaikan tangannya dengan senyum lebar.


"Nggak kok, nggak repot, malah tante berterima kasih ke kamu karena kamu udah anter Rania pulang, maaf juga ya kalau Rania selalu ngebuat kamu kerepotan."


"Sama-sama, Tan. Adam juga nggak masalah kalau harus antar jemput Rania."


Revan yang diam-diam mendengar pembicaraan itu sesekali melebarkan matanya takjub, dia tim Adam Rania sejati, bahkan dia ingin keduanya cepat-cepat menikah, bukannya bagaimana, tapi Adam ini seperti laki-laki yang benar-benar sanggup menggayomi pasangannya, sikapnya pun sangat dewasa.


"Kalau gue jadi kak Rania sih, udah gue sikat dari lama nih laki, asli gue mah."


°°°


Rania menguap lebar, satu tangannya bergerak mengusap kepala dengan kasar, dan begitu matanya sudah terbuka penuh, rasanya sedikit pening.


"Gue siapa? Gue di mana?"


Jangan pikir dia amnesia deh! Bahkan kepalanya tidak tergores barang sedikit pun, dia memang begitu setiap kali bangun dan kepalanya pusing.


"Bukannya semalem gue ke kedai terus minum ya? Kok sekarang gue udah di kamar?"


"Adam ke sana."


Mama yang baru masuk memberitahu Rania, membuat gadis itu mengernyitkan kening.


"Adam?"


"Iya Adam, kalau nggak ada dia, kayaknya kamu bakal tidur di kedai itu deh, jadi sok, bilang makasih ke dia."


Gadis itu berdecak, bukannya dia tidak tahu diri, tapi gimana ya... Berterimakasih ke Adam membuat lidahnya mendadak keluh, dia seperti tidak bisa mengatakan itu kalau orangnya Adam.


"Nggak ahh, Rania tuh kesel tau sama dia."


"Kesel kenapa lagi coba mama tanya?"


"Ya kesel aja."