Our Long Story

Our Long Story
Chapter 10



Untuk waktu yang lama Adam dibuat diam oleh seseorang di depannya. Antara masih memahami kalimat yang baru saja disampaikan dan bertanya pada dirinya sendiri, apa yang dia lakukan sekarang ini salah? Adam bahkan tidak tahu, perasaan seperti apa yang dia simpan untuk Rania hari ini. Lalu dasar dia menikahi gadis itu, apakah hanya karena janji semasa mereka kecil? Yang mesti digaris bawahi, jika hingga sekarang, hanya Adam yang mampu mengingat siapa Rania. Tapi di satu sisi, harus Adam akui bahwa dirinya tidak keberatan sama sekali dengan perjodohan yang direncanakan oleh kedua belah pihak.


"Ada tamu kayaknya," kata Rania, memecahkan kebingungan dalam kepala Adam.


Terhitung sudah tiga kali bel di depan ditekan, tapi ternyata hanya Rania yang mendengar itu, sebab Adam masih kalut dengan isi kepalanya sendiri.


"Tunggu sebentar."


Rania mengangguk, membiarkan laki-laki itu beranjak dan menyambut tamunya.


Gadis itu berencana untuk langsung pergi begitu Adam kembali, tapi sepertinya dia masih lama, jadi Rania memilih untuk keluar lebih dulu, yang tahu-tahu dia menutup mulutnya takjub begitu melihat pemandangan di depan sana, di mana Adam tengah memeluk seseorang yang sepertinya akan jatuh, persis seperti adegan klasik yang sering dia jumpai di drama-drama.


"Wahhh, gue diselingkuhin nih?" Praktis gadis itu berkedip beberapa kali. Tapi seiring jalannya waktu, keadaan kembali normal, sepertinya yang terjadi juga jauh dari apa yang Rania pikirkan, bahkan begitu melihat Rania sudah ada di teras rumah, yang pastinya Adam tahu bahwa adegan dramatis tadi sempat Rania saksikan, laki-laki itu hanya menatap Rania dengan begitu santai, bahkan dia tidak menjelaskan apa-apa begitu benar-benar sampai di depan Rania.


Rania speechless, sebab dia kira, Adam akan gelagapan persis seperti laki-laki brengsek yang ketahuan selingkuh.


"Udah mau pulang?"


Kan!


Dia malah bertanya begitu loh alih-alih menjelaskan siapa perempuan tadi atau apa yang barusan terjadi.


Jadi sekonyong-konyong Rania malah mengarahkan dagunya ke pintu gerbang.


"Pacar lo?"


"Yang mana?"


"Ya yang tadi lo peluk."


"Oh itu."


'Mau heran tapi ini Adam.'


"Mahasiswi saya."


"Masaaa?" Kali ini Rania memicingkan matanya dengan berkacak pinggang.


"Bilangnya doang mahasiswa tapi peluk-pelukkan."


"Kalau nggak percaya juga nggak apa-apa." Yang setelah itu Adam malah masuk ke rumahnya. Gila sih, logika Rania tidak mampu menjangkau pemikiran laki-laki itu, sebab terkadang, tingkahnya memang di luar nalar.


"Ran!"


"Apaan?" Jelas Rania menyahut kesal ketika dia baru saja akan masuk mobil tapi Adam lebih dulu datang dan memanggilnya.


"Rantangnya."


'Kata gue sih emang jangan berharap banyak sama manusia sih gais.'


"Salam buat om sama tante."


'Apalagi kalau modelannya macam si Adam-Adam ini.'


"Hmm."


Rania membuka pintu lagi, tapi yang laki-laki menarik tangannya pelan.


"Apa lagi?"


"Yang tadi benar-benar cuma mahasiswi saya, jadi jangan salah paham."


"Iyaaa."


"Nggak usah cemburu."


"Dihh, pede banget lu jadi manusia."


"Dah sana pulang."


Sekali lagi Rania berdecak. Sebelum akhirnya benar-benar masuk ke dalam mobil untuk pulang.


°°°


Alasan kenapa Adam langsung ingin tinggal sendiri alih-alih tinggal di rumah orang tuanya terlebih dahulu mungkin karena laki-laki itu takut Rania tidak nyaman.


Sebenarnya Rania mengakui, Adam ini tipikal suami yang nantinya pasti sangat menghargai istrinya, dan yaa... wanita yang nantinya dengan Adam jelas beruntung, tapi karena Rania telah mencintai orang lain, ketika dia tahu dia akan mendapat keberuntungan besar lewat laki-laki itu, perasaanya justru kian hambar, seakan-akan dari caranya melihat gedung yang akan mereka singgahi untuk acara pernikahan mereka, melihat gaun yang akan dia pakai, melihat dia cincin yang sudah Adam beli, terdapat kalimat penegasan yang tidak bisa dipahami oleh siapa pun.


'Gue nggak menginginkan semua ini,'


"Maaf kalau saya lama."


Gadis yang tadinya hanya menunduk itu menatap sepasang sepatu yang pemiliknya baru menghampiri dia. Kemudian dengan helaan napas pelan Rania mengangguk.


"Its okay."


Lalu tanpa bicara apa-apa lagi keduanya lantas masuk ke dalam mobil Adam, menuju beberapa tempat yang sudah direkomendasikan oleh teman Adam.


Adam cukup sibuk selama belakangan ini, jadi dia juga meminta bantuan kepada teman-temannya.


"Gimana kerjaan di kantor?"


"Nguras semua energi gue, kayak biasanya."


Yang laki-laki tertawa pelan. Sedangkan yang perempuan hanya melirik jalanan dengan helaan napas semakin panjang.


"Kadang gue pengen mengundurkan diri saking capeknya."


"Ya udah, nanti kalau udah sama saya resign aja nggak apa-apa."


Adam pernah kerja di beberapa perusahaan, dan memang sangat melelahkan.


"Tapi nggak bisa segampang itu."


Nggak peduli gimana pekerjaan yang Rania lakukan hampir membuat dia gila, tetap saja besar untuk meninggalkan perusahaan tersebut. Tentang lingkungannya yang sudah terlanjur membuat Rania nyaman, tentang patner yang konyol, dan banyak lagi tentunya.


"Lo maunya gue gimana?"


"Gimana—apanya?"


"Ya kerja apa fokus aja gitu jadi istri." Rania memperjelas. Nggak tahu juga kenapa dia tiba-tiba menanyakan hal sedemikian kepada Adam. Membuat laki-laki itu meliriknya dengan senyuman tipis.


"Kalau saya terserah kamu, kamu nyamannya gimana."


"Kalau kamu tetep mau lanjut kerja ya silahkan, kalau mau fokus di rumah juga silahkan."


"Oke, nanti coba gue pikir-pikir lagi."


"Jangan maksain diri." Adam berkata lagi.


"Saya mau kamu enjoy jadi istri saya."


°°°


"Ini ada beberapa rumah yang promo buat calon pengantin baru, Mas, uang mukanya juga lebih murah dibandingkan yang lain."


"Tapi fasilitas yang kami sediakan nggak selengkap rumah lain sih, Mas."


"Cuma yaa, masih wort it dengan harga segitu."


Terang seseorang di depan Adam dan Rania, sedangkan brosur yang tadi dia bawah sudah dilihat-lihat oleh Adam dan Rania.


Sebenarnya ini tentang harga, rumah promo yang dikhususkan untuk calon pengantin memang dua kali lebih murah dibanding yang biasanya, tapi fasilitasnya kurang, jadi Adam tidak bisa langsung mengambil rumah itu.


Hanya saja Rania menoel bahunya pelan di beberapa detik setelahnya, membuat Adam menoleh dengan kernyitan.


"Ambil aja udah, murah loh itu," bisik yang perempuan.


"Fasilitasnya kurang lengkap, Ran."


"Nanti kita tambah sendiri nggak masalah, Dam, lagian luasnya juga sama kan sama yang lain, cuma beda di fasilitas."


"Kamu nggak keberatan?"


"Asal pas hujan nggak bocor aja udah syukur gue."