Our Long Story

Our Long Story
Chapter 13



Karena sekarang baru hari pertama pernikahan mereka, maka keduanya memutuskan untuk pulang ke rumah keluarga Rania dahulu, apalagi masih banyak barang yang belum dibereskan, di rumah baru mereka perabotan juga belum lengkap, masih banyak barang yang merupakan kebutuhan pokok atau sehari-hari yang belum terpenuhi karena Adam juga belum sempat membelinya.


"Saya tidur di mana?" tanya Adam ketika laki-laki itu masuk dan mendapati Rania sudah tiduran di samping ranjang.


Rania sendiri hampir menjerit, tapi untungnya dia ingat kalau sekarang Adam adalah suaminya.


"Sorry, gue masih kaget kalau lo tiba-tiba masuk kayak gini." Gadis itu meminta maaf karena dia selalu memberi gestur berlebihan pada Adam, sebab dia masih belum terbiasa dengan kehadiran laki-laki itu. Yang paling parah, saat keduanya masuk secara bersamaan ke dalam kamar Rania ketika baru tiba tadi, Rania sampai mendorong tubuh Adam kuat dan menyuruhnya keluar.


"Lo tidur di mana ya, Dam?"


Kan, sekarang Rania jadi bingung sendiri, di sebelah memang kamar Revan, tapi ya kali sih dia menyuruh Adam tidur di sana, yang ada mama dan papa ngomel sampai pagi.


Tapi kalau bukan di kamar Revan terus Adam di mana?


Beberapa detik kemudian Rania menatap ranjangnya dengan getir, apa iya mereka tidur seranjang?


'Ishhh, jangan dong, nanti gue nggak suci lagi!'


Jangan lupakan bagaimana dia menggeleng dengan tiba-tiba di tengah-tengah acara membatin tersebut, membuat Adam yang sedari tadi hanya diam dan meliriknya menghela napas panjang.


"Kamu ada selimut lagi nggak?"


"Ada."


"Sini, biar saya tidur di sofa."


"Seriusan nggak apa-apa?"


"Iyaa."


"Ntar lu nge-klaim gue sebagai istri yang durhaka lagi."


Rania jadi bingung harus lega atau bagaimana, terlebih ekspresi Adam sekarang kesannya dingin dan datar, meski dari nada bicaranya, Adam seperti tidak keberatan.


"Gue aja deh yang tidur di sofa, lo boleh tidur di ranjang gue, asal jangan berantakan ya kalau tidur."


"Kok jadi kamu?" tanya Adam, keningnya semakin berkerut.


Sedang yang ditanya sudah mengemasi selimut dan bantalnya.


"Ya nggak apa-apa, udah sana tidur, capek kan pasti."


"Nggak usah aneh-aneh," kata Adam, menarik belakang kera baju Rania, otomatis Rania menahan kesal setelah itu karena langkahnya tertahan.


"Sana balik," imbuh yang laki-laki. Adam tidak mau Rania masuk angin atau apalah itu, apalagi di luar sudah gerimis sejak tadi.


"Lo kira gue anak kucing apa? Sembarang banget narik-narik, kecekek tau nggak!"


"Iyaaa maaf, lagian kamunya juga."


"Tapi dingin tau, Dam." Rania melihat keluar.


"Tuh tahu." sahut Adam, seperti biasa, selalu santai.


"Kalau kamu masuk angin kan saya ngerasa bersalah."


"Nah kalau lo masuk angin gue juga ngerasa bersalah cuy!"


"Ngerasa bersalah aja?"


Ketika Rania mendongak dengan wajah penuh tanya, Adam menunduk menatap gadis itu, diiringi senyuman tipis.


"Nggak khawatir kalau saya sakit?"


°°°


"Ran, kamu nggak pingsan kan?"


Entah sudah yang keberapa kali Adam memastikan kondisi Rania di dalam sana, pasalnya sudah tiga puluh menit lebih Rania di dalam dan dia belum keluar juga dari kamar mandi, padahal sebelumnya dia bilang ke Adam kalau dia tipikal orang yang mandinya cepat, bahkan Adam ingat bagaimana gadis itu membuat dia yakin beberapa menit lalu.


"Asli deh, gue kalau mandi cuma sepuluh menit, jadi gue dulu ya."


Sepuluh menit yang dia maksut sepertinya hanya perumpamaan, bentuk aslinya satu jam lebih mungkin.


"Bentarrr, abis ini selesai kok."


Dan percaya nggak percaya, setiap kali Adam mengetok pintu kamar mandi juga jawabannya selalu begitu.


"Saya mandi di rumah tetangga aja yaa."


"Ishhh, bentar Dam, nggak sabar banget sih."


Yang di dalam jelas langsung buru-buru, bahkan begitu keluar dia langsung menatap Adan nyalang.


Adam yang merupakan baru pertama kali menginap di sini jelas bingung.


"Siapa yang bening?"


"Tuh anaknya tetangga sebelah, cakep anjirr, gue yang cewek aja ngakuin kalau dia secetar itu."


"Saya nggak tahu."


"Masaaa?"


Kebiasaan Rania itu ngeyel.


"Ya kan saya bukan asli penghuni sini."


"Tapi pagi gini biasanya dia nyiram-nyiram taneman gitu di luar, masa lo nggak lihat?"


"Nggak."


Setelahnya Adam menggeser tubuh Rania, "Awas, saya mau mandi."


"Beneran bening tau, Dam, mau gue mintain nomornya nggak?" teriak Rania dari luar, yang tentunya langsung Adam jawab.


"Saya udah punya istri."


Begitu saja ketika akhirnya Rania berkedip lucu dan mematung di luar kamar mandi.


°°°


"Ciee pengantin baru."


Adam dan Rania yang baru turun seketika menatap satu sama lain secara bergantian, jelas mereka cengo untuk beberapa saat ketika orang rumah menyambut kedatangan mereka dengan senyum sementereng itu, dan kalimat yang begitu kompak, bahkan Revan juga ikut-ikutan, sebelum akhirnya Revan sengaja berdehem beberapa kali dan mencuri pandang ke pengantin baru yang dia maksut.


Kalau saja mereka tahu bagaimana keduanya tidur secara terpisah semalam.


"Duhh, mama jadi nggak sabar."


"Nggak sabar kenapa, Ma?"


"Punya cucu."


Uhuk.


"Whuhuk."


Beda dengan Adam, batuknya Rania menggempar pagi itu, bahkan Revan dengan sigap memberi mereka minum secara bergantian.


"Si mama emang gitu, maaf ya Dam," kata papa.


Adam membalasnya dengan anggukan canggung, sedangkan Rania justru menatap mama dengan tatapan tidak habis pikir, bisa-bisanya mama berpikir sejauh ini, jadi gimana bisa Rania tidak kaget, beruntung dia tidak sedang makan, kalau iya mungkin sudah dia semburkan ke mana-mana sampai mengotori ruang makan.


"Bilangin deh ke mama, jangan ngomong sembarang gitu, untung gue nggak ada riwayat jantung."


Revan yang tengah membereskan meja makan melirik kakaknya jengah.


"Lebay tau nggak, orang mama cuma ngomong gitu doang, lagian kan, nggak salah juga, orang kalian udah menikah."


"Ya tapi..."


"Sini biar saya cuci."


Ucapan Rania terpotong ketika Adam datang dan mengambil alih piring ditangan Rania, lalu membawanya ke dapur.


Sebenarnya mama sudah melarang Adam, tapi dia tetap bersikeras membantu mama, jadi di saat yang lain membersihkan meja makan, Adam dan mama mencuci piring di belakang, sebenarnya sudah menjadi kebiasaan dalam keluarga ini, dan yang membuat peraturan adalah papa, supaya mama tidak kerepotan karena harus mengurus rumah sendiri, jadi dari pagi sampai malam pasti mereka semua punya bagian masing-masing dalam menjaga kebersihan rumah.


"Omongan mama yang tadi, jangan dipikirin ya," kata Rania begitu keduanya sudah di mobil dan akan berangkat ke tempat kerja masing-masing.


"Kenapa?"


"Ya jangan aja, lagian kan kita baru nikah, kita juga masih muda, mikirnya yang sekarang-sekarang aja deh, jangan terlalu jauh."


"Iya."


"Muka lo kayak nggak setuju gitu."


"Emang kurang setuju."


"Wahhh, lo udah pengen punya anak Dam?" Sekonyong-konyong Rania jadi heboh sendiri.


"Nggak tahu, tapi kalau emang kamunya belum siap, saya nggak akan maksa."