
"Ran,"
"Hm?"
"Kenapa mondar-mandir terus? Ada yang kamu cari?" tanya Adam—laki-laki itu ikut melihat sekeliling Rania ketika selesai mandi dan dia mendapati Rania tengah mondar-mandir seperti mengkhawatirkan sesuatu, bahkan pada sisi lain dia juga seperti tengah sibuk mencari barang hilang di sekitar sana.
"Gue... bingung aja."
"Soal apa?"
Gadis itu memutuskan untuk berjalan lalu duduk dipinggiran kasur, di susul dengan Adam.
"Gue bingung sama lo." Keduanya bersitatap pada detik yang sama.
'Bingung dengan apa yang lo bicarain, bingung dengan apa yang lo rasain sebenernya. Semua Dam, semua tentang lo mungkin selalu akan ngebuat gue bingung dan nggak mengerti, karena ya... Lo sesulit itu buat gua pahami. Lo sesulit itu untuk gue terka tanpa harus banyak tanya.'
"Kenapa ketika gue coba buat memprediksi satu dua hal tentang lo, perkiraan gue terus melesat, Dam? Dan kenapa harus sejauh itu? Sejauh itu dari perkiraan gua?"
"Sampai sini kayaknya lo udah paham sama apa yang gua omongin, sama kebingungan yang gua maksud, iya kan?"
"Sampai sini lo udah tau, kalau gue nggak lagi membahas hubungan gue sama Baskara, ataupun rasa bersalah gua atas sesuatu yang nggak seharusnya lo lihat."
"Dan gue butuh banyak penjelasan untuk hal itu, gue mau lo ngebuat gue mengerti, gue mau lo ngasih tahu gue yang sebenarnya. Bisa?"
"Apa yang mau kamu tahu?"
"Perasaan lo mungkin."
Lagi—mereka saling menatap, saling melirik, saling memperhatikan netra satu sama lain tak ubahnya seperti seseorang yang tengah menyelam.
"Perasaan lo yang sebenarnya." Rania mengulang lagi.
"Nggak ada yang harus lo paksain buat hubungan ini, jadi gue nggak mau ngelihat lo sampai ngebohongin diri lo sendiri."
"Justru saya mau jujur sama diri saya, sama kamu."
"Dengan bilang, kalau lo cinta sama gua?"
"Kalau sebenarnya memang begitu? Bukannya saya sudah jujur? Bukannya saya nggak lagi membohongi diri saya sendiri atau pun kamu?"
"Dam, what do you say?" Rania sampai spontan berdiri dan menatap Adam tidak habis pikir. Semua kekalutan itu—dia merasakannya kembali.
"Lo nggak perlu jadi freak di sini."
Adam hanya perlu jadi dirinya, dengan perasaannya yang sebenarnya, Rania tidak butuh kebohongan apa pun dari laki-laki itu. Adam juga tidak perlu memaksakan apa-apa lagi untuk hubungan mereka.
"Jadi nggak usah ngelantur dan ngebuat gue bingung sama perkataan lo." Setelahnya Rania melangkah untuk menjauh dari kasur, tapi belum sampai empat langkah dari sana, Adam lebih dulu menariknya.
"Menurut kamu, saya menerima perjodohan ini benar-benar tanpa alasan?" Pertanyaan yang berhasil membuat Rania menemukan eksistensi Adam lebih jelas dan lebih dekat dari sisi samping laki-laki itu.
"Saya menerima perjodohan itu karena saya yakin, kalau saya memang mencintai kamu."
"Bukannya lucu ya?" Perlahan-lahan Rania melepaskan tangan Adam dengan seulas senyum miring.
"Lucu aja, ketika lo baru ketemu sama gue sekali dan lo langsung suka sama gue, buat gue, cinta pandangan pertama tuh nggak beneran ada."
"Dan saya juga nggak percaya sama hal itu."
Kening Rania kian berkerut.
"Terus?"
Membuat Adam menghela napas ringan.
"Ya nggak percaya aja, bukannya suka sama orang nggak pernah segampang itu? Perlu banyak alasan sampai kamu benar-benar mencintai orang tersebut."
"Gue rasa, ucapan lo nggak sesuai sama—"
Kali ini Adam memberi hentakan cukup keras di tangan Rania, sampai gadis itu terhuyung, beruntung Adam berhasil menangkapnya, membuat Rania terduduk di pangkuannya dengan wajah panik bukan main, maksutnya,
'Apa-apaan anjirr?'
"Kayaknya kamu emang nggak inget sama sekali sama saya."
"Ma... Maksutnya?"
"Padahal kamu yang minta buat nggak dilupain, tapi lucunya kamu malah ngelupain saya gitu aja."
"Woii—"
"Jangan asal gerak, posisi kita sekarang sedeket itu."
"Ya lo ngapain sih, segala narik-narik tangan gue kayak gitu? Segala nangkep gue? Segala ngebuat gue duduk di pangkuan lo kayak gini? Drama tau nggak?"
"Ya terus kenapa kamu nggak langsung berdiri? Kenapa terus duduk di pangkuan saya? Sejujurnya saya udah pegel."
"Adaaammmm!!!"
Rania langsung ngibrit keluar, membuat laki-laki itu tertawa pelan.
°°°
Tingkah laku Rania hari ini kelewat lucu jika Adam menjelaskannya secara singkat, gadis itu terus melirik Adam dari dalam kamarnya, tak jarang membuat Adam bingung sendiri, apalagi ketika sekarang dia keluar.
"Lo masih utang penjelasan sama gua."
Adam yang baru menutup kulkas menoleh sebentar, mendapati Rania sudah berada di ruang makan dengan segelas susu hangat yang beberapa saat lalu dia buat.
"Sebenarnya saya udah kasih kamu penjelasan, tapi ada bagian dalam diri kamu enggak bisa menerima itu, jadi kesannya seolah-olah pemahaman yang kamu minta dari saya belum saya beri."
Rania memejamkan matanya kuat-kuat begitu Adam selesai bicara, kemudian gadis itu lekat menatap Adam.
"Gini deh, kata lo, lo nggak percaya sama orang yang bisa jatuh cinta sama orang lain dalam hitungan detik, tapi lo apa kabar?"
"Saya nggak mencintai kamu dalam hitungan detik."
"Ya terus?"
"Sebelumnya kita sudah kenal." Kali ini Adam mengambil langkah untuk duduk di depan Rania.
"Kita sering main bareng dulu, waktu kamu masih kecil, waktu umur kamu masih sekitar 6 tahunan."
"Lo—"
Adam tertawa, lalu menyela ucapan Rania.
"Dan tahu apa yang lucu?"
"Kamu melamar laki-laki yang saat itu usianya terpaut 7 tahun lebih tua dari kamu, kamu masih kelas 1 sd, tapi berani banget ngajak saya menikah."
"Satu pertanyaan saya, Ran."
Pada detik ini, Adam hanya memutar-mutar gelasnya. Lalu perlahan-lahan tersenyum tipis.
"Kalau saat itu saya nggak kemana-mana, kalau saat itu saya nggak pergi ninggalin Jakarta, gimana dengan kita sekarang?"
"Apa kita akan menikah sesuai kemauan kita sendiri? Atau memang nggak ada yang berubah? Apa caranya tetap seperti ini?"
°°°
Rania pov.
Yang paling gue inget saat gue berumur 6 tahun, gue selalu nangis tiap malem karena kepergian seseorang, perginya yang nggak pamit, perginya yang nggak memberi gue penjelasan, perginya yang nggak bisa gua nanti karena nggak tahu dia akan kembali atau enggak, perginya yang, pergi gitu aja.
Saat itu gue masih sangat kecil memang, tapi gue nggak menduga, kalau dia akan pergi dengan cara sesederhana itu.
Bahkan sehari sebelum dia ninggalin gue, kita sempet main dari pagi sampai sore, karena kebetulan hari itu hari minggu, sehari sebelum dia pergi bener-bener berjalan seperti hari-hari biasanya, dia juga nggak seperti seseorang yang sedang dilema karena harus ninggalin temannya, dia nggak seperti seseorang yang sedang khawatir, dia nggak seperti seseorang yang sedang takut, jadi pada beberapa tahun setelahnya, gue mulai berpikir, mungkin buat dia, gue nggak sepenting itu, berbeda dengan dia untuk gue. Mungkin buat dia, gue bukan apa-apa, cuma bocah ingusan yang emang nggak punya arti apa pun.
Sesekali gue masih sering mikirin dia, sesekali gue masih sering mendapati diri gue yang bertanya-tanya, Kira-kira dia udah tumbuh sedewasa apa saat ini? Gimana hidupnya? Apa dia punya temen? Apa semuanya mudah buat dia?
Dan biarpun begitu, gua nggak pernah berharap buat bertemu sama dia lagi, bukan karena gue marah, bukan karena gue kesel karena gue nggak ada artinya, tapi yaa... nggak ada aja keinginan buat ketemu lagi sama dia.
"Karena mungkin, buat gue, yang berarti itu bukan lo lagi, Dam, tapi dia."
"Ran," Dia yang saat ini lagi berjalan buat menghampiri gue, dengan setelan kasualnya, dengan wanginya yang selalu bisa gue kenali dari jauh.
"Aku bakalan pergi lagi ke luar kota, capek deh, padal baru dateng. Baru ketemu kamu."
Dia yang setiap pergi selalu bilang ke gue, dia yang setiap pergi selalu bisa gue nanti kepulangannya, nggak seperti lo.
"Jaga diri baik-baik, jaga makannya, kalau kerjaan banyak usahain buat tetep makan, paham kan?"
Dia yang nggak cuma penting buat gue, tapi dia juga membuat gue merasa, kalau gue juga sebaliknya buat dia, gue penting, gue berarti.
°°°°
boleh komen mbaaa²