Our Long Story

Our Long Story
Chapter 06



Rania baru saja pulang dari kantor dan niat merebahkan diri di kamarnya, tapi gadis itu tercengang ketika membuka pintu dan mendapati mama di dalam sana, dengan sekotak kardus besar.


"Mama ngapain?" tanya gadis itu—membuat mama menoleh meski hanya sesaat, sebab setelah itu mama melanjutkan kegiatannya.


"Mama lagi beresin kamar kamu."


"Terus kenapa foto-foto aku sama Baskara mama masukin ke kardus juga?"


"Gimana sama Adam kalau foto Baskara tetep kamu pajang di sini?" tanya mama.


Dan tau apa yang menyakitkan? Mama memikirkan bagaimana perasaan Adam, tapi mama tidak memimikirkan perasaan Rania sama sekali. Lucu!


"Setelah menikah, kamu akan tinggal di rumah Adam memang, tapi kan sebelum ke sana kalian akan ke sini dulu selama satu hari, jadi jangan sampai foto Baskara masih ada disekitar kamar kamu."


Terserahlah, Rania benar-benar lelah dengan hidupnya yang sekarang ini. Mau dibereskan semua juga terserah. Jadi dengan hela napas panjang gadis itu melempar tasnya di kasur dan segera melesat ke kamar mandi untuk mandi dan menenangkan diri sebentar.


Di kantor tadi sebenarnya dia sudah ada masalah, lalu di rumah, mama malah seperti itu, jadi dada Rania rasanya seperti dihimpit oleh benda keras, sementara kepalanya nyaris akan meledak karena terlalu banyak pikiran.


Pernikahan dengan Adam tinggal satu minggu lagi, semuanya Adam yang mengurus karena Rania terlalu malas kalau harus mengurus ini dan itu, lagian dia berpikir, kalau pernikahan ini kan bukan keinginannya, jadi dia tidak mau ikut repot. Bahkan beberapa kali Adam mengirimkan foto cincin kepada gadis itu, tapi Rania tidak menjawab apa-apa, dan ketika Adam menelponnya, dia membiarkan panggilan tersebut menjadi beberapa panggilan tidak terjawab, mungkin di sana Adam kesal, karena kesannya Rania tidak bisa diajak bekerja sama, tapi Rania tidak peduli, kalau perlu dia malah berharap Adam muak dan segera membatalkan niat konyolnya.


"Lagian tuh orang aneh banget jingan!" Rania mengerang kesal dengan menyibak kasar rambutnya yang sudah basah, sebenarnya dia tidak begitu membenci Adam, dia hanya tidak habis pikir dengan cara berpikir Adam yang kesannya ngawur dan asal-asalan.


"Kenapa gue sih? Kenapa nggak cewek lain? Kenapa gue mesti dilibatkan ke dalam hidupnya yang nggak jelas itu?"


Lagi-lagi gadis itu mengerang, dan dia berakhir menghela napas pelan ketika pancuran itu mengguyurnya sekali lagi.


°°°


Sedangkan di tempat lain, Adam mendesah berkali-kali ketika dia coba menghubungi Rania tapi gadis itu tidak mengangkatnya, bahkan pesannya sejak semalam hanya dibaca, Adam kira Rania lupa, tapi sepertinya gadis itu memang niat tidak membalas pesan dari Adam.


"Jadinya yang mana, Mas?"


"Saya ambil dua-duanya," pungkas Adam. Membuat karyawan tadi mengembangkan senyumnya dan langsung membungkus dua cincin tadi.


"Ini, Mas."


"Terimakasih."


Setelah ini Adam akan mampir ke rumah Rania dan bertanya langsung pada gadis itu cincin mana yang dia suka, dan begitu dia sampai, dia disambut baik oleh keluarga Rania, bahkan mama papa Rania meminta maaf pada Adam karena sikap Rania yang terkesan acuh tak acuh, sedangkan Rania, dia baru menuruni tangga, lalu ketika dia mendapati Adam tengah duduk di ruang tamu membuat gadis itu membuang muka dengan malas, dan Adam tahu, sebab ekspresi tidak suka tersebut ditunjukkan dengan sangat kentara.


"Saya telpon kamu berkali-kali tapi nggak kamu angkat, jadi ya udah saya ke sini," kata Adam.


Rania yang baru duduk makin meluruskan bibirnya, sementara Adam, laki-laki tersebut mengeluarkan paperbag yang dia bawah dan mengeluarkan dua kotak cincin.


"Menurut saya, dua-duanya bagus."


"Gila! Lo beli dua-duanya?"


"Kok diem?"


"Sebenarnya lo mau apa sih?" tanya Rania, tatapannya lebih bersahabat dari beberapa saat lalu.


"Lo orang kaya, jadi nggak mungkin kalau lo ngincer hartanya papa."


"Ya emang enggak." Giliran Adam yang menghela napas pelan, ternyata Rania benar-benar punya pemikiran ngawur seperti itu.


"Ya terus kenapa? Kenapa gue yang lo pilih? Lo mapan, lo ganteng, banyak kok yang mau sama lo."


"Emang."


Rania sampai tertawa keheranan dengan jawaban Adam, gila yaa, ternyata dibalik keformalannya laki-laki itu dia cukup narsis.


"Tapi saya cuma mau menikah sama kamu."


"Kagak usah sok dehhh, mual gue dengernya." Bahasa Adam tuh buat Rania dangdut abis, bahkan bulu disekitar lehernya mendadak berdiri sekarang ini.


"Mending lo terus terang dan buat gue paham sekarang juga, karena jujur aja gue masih bingung sama lo, dan gue hampir setres buat cari jawabanya."


"Sebenarnya yang lebih dulu ngajak nikah itu kamu, bukan saya."


"Ha?"


Adam kembali menyodorkan kotak cincin tadi.


"Cepet pilih yang mana, setelah ini saya harus balik ke kampus buat ngajar."


°°°


Maksut Adam apa? Rania yang mengajaknya menikah terlebih dahulu? Dia amnesia? Bahkan mereka baru bertemu dua minggu yang lalu, dan Rania tidak mengatakan apa-apa ke Adam.


"Gue bilang juga apa, tuh cowok emang nggak beres!" Nggak peduli sekeras apa Rania mengingat, nyatanya momen itu tidak pernah ada, itu cuma hasil dari halusinasi Adam.


"Kayaknya cinta pandangan pertama beneran ada deh, terus dia kesemsem sama gue waktu pertama kali dia ngeliat gue, sampai terobsesi begini, ck, emang susah kalau jadi cewek cantik tuh!" Sekonyong-konyong dia juga mengibaskan rambutnya, dan meniup pelan poni di depan, sambil berpikir kira-kira apa yang akan dia lakukan setelah ini? Apa dia kabur saja dari rumah? Supaya mereka panik dan mereka menuruti semua kemauan Rania supaya Rania mau pulang? Atau—dia betulan pergi jauh saja, pergi yang jauh, dengan Bagas, dan hidup bahagia dengan laki-laki itu. Tapi Bagas mana mau? Bahkan dia tidak mungkin meninggalkan pekerjaannya begitu saja demi Rania, sudah dibilang kan, Bagas itu tipikal orang yang sangat realistis.


"Apa gue pura-pura bunuh diri aja, ntar malem-malem gue pura-pura aja gitu mau loncat dari atap. Tapi kalau dibiarin gimana coba? Kan malu kalau nggak jadi, kalau nekat lompat beneran mati dong gue?"


"Hidup gue kenapa begini banget sih?" tanya Rania, mengeluh entah pada siapa ketika dia merebahkan tubuhnya.


"Atau jangan mama papa deh yang gue ancem, Adam aja gimana? Tapi kalau ntar sama-sama ngga ngaruh?"


Kalau Rania bisa melipat bumi mungkin sekarang ini sudah dia lipat saking kesalnya, biar saja orang-orang bubar dan sibuk ke sana kemari mencari tempat tinggal.


"Arghhh, cowo resek, nggak punya hati, egois! kenapa harus dia hah? Kenapa?"