Our Long Story

Our Long Story
Chapter 14



Kembali ke kantor, kembali bekerja, yang di mana ketika baru sampai saja gadis dengan kemeja garis-garis berwarna sage dengan dominan putih tersebut sudah menghela napasnya panjang. Sedang orang-orang malah beranggapan pagi ini Rania tampak lebih fresh karena sebelumnya dia telah mengambil cuti selama beberapa hari. Tidak tahu saja bagaimana pesta pernikahan yang digelar juga menyita energi Rania.


"Eh, Ran!" Gadis itu menoleh, mendapati salah satu rekan sekaligus orang yang paling dekat dengan dia di kantor ini tengah berjalan mendekat, sementara di tangannya terdapat sebuah kotak panjang berwarna hitam dengan lapisan pita merah, nampak sederhana namun elegan pada sisi lain.


'Wahh, jangan bilang dia tahu kalau gue married?'


Tapi seingat Rania dia sudah melakukan tugasnya dengan baik dalam rangka menutupi pernikahannya bersama Adam.


"Lo—"


Gadis di depan Rania mengulas senyumnya.


"Dari Baskara."


Dua kata yang berhasil membungkam Rania.


"Karena kemarin lo nggak masuk, jadi dititipin ke gue."


Rania masih geming, membuat seseorang yang baru berbalik dan akan kembali ke ruangannya tadi menoleh sekali lagi.


"Emm, Ran, kayaknya Baskara masih di luar kota deh, kemaren yang nganterin itu abang-abang paket."


"Coba nanti lo hubungin sendiri aja ya, Baskaranya."


"Ahh iya. Makasih ya."


"Oke."


°°°


Sensasi panas terus menyelimuti wajah Rania, membuat sang empu membilas wajahnya berkali-kali selama jam istirahat berlangsung. Gadis itu belum menghubungi Baskara, tapi dia yakin Baskara memang belum pulang, terbukti karena laki-laki itu bahkan belum mengabari Rania lagi.


Bisa dibilang, miskomunikasi sering terjadi dalam hubungan mereka, apalagi ketika Baskara tengah berada di luar kota seperti sekarang, tapi Rania juga tidak masalah, apalagi hal tersebut tidak punya dampak yang serius untuk hubungan mereka, paling-paling keduanya jadi tidak tahu apa yang terjadi pada satu sama lain, kesibukan yang bagaimana, lelahnya masing-masing, tapi yang pasti, setelah Baskara pulang, semuanya tetap baik-baik saja.


Bicara soal Baskara, Rania jadi ingat dengan hadiah yang dikirim oleh laki-laki tersebut, ada satu batang coklat dengan merek favorit Rania dan kalung dengan liontin berukuran kecil berbentuk bunga sederhana, itu adalah kalung incaran Rania beberapa bulan lalu, tapi Rania tidak jadi membelinya karena terlalu mahal, di luar dugaan, Baskara justru tahu kalau gadisnya menginginkan barang tersebut.


Rania pernah bilang kan, Baskara adalah orang yang bisa memahami dia melebihi siapa pun.


Dengan ingatan itu, Rania malah sadar akan keberadaan cincin di tangannya. Cincin dari Adam, cincin yang mengikatnya.


Lalu perlahan-lahan Rania melepaskan cincin tersebut, dan memilih untuk menyimpannya di saku celana, sebelum akhirnya dia keluar dengan memasang kalung dari Baskara pada lehernya.


"Wihh, bagus banget Ran, kalungnya."


Bagus, Rania juga mengakui hal tersebut, tapi apakah kalung yang dia pakai sekarang ini masih memiliki arti? Sementara di belakang Baskara, Rania sudah punya hubungan baru bersama Adam, hubungan yang justru melebihi hubungan yang dia bangun bersama Baskara selama tiga tahun lebih.


"Pacar lo yang sekarang perhatiannya nggak main-main sih."


Dia berkata lagi, dengan berjalan di samping Rania.


"Kemarin dia ngasih lo kalung, sekarang dia ngirim makanan buat lo."


"Ha?"


Jelas Rania langsung menatap gadis itu.


"Iyaa, tadi pak satpam ke meja lo nganter makanan, dia bilang dari seseorang gitu, siapa lagi coba kalau bukan Baskara."


Tapi tidak lama setelah itu, HP Rania berbunyi, notifikasi ada pesan masuk, dan ketika dia mengira itu adalah pesan dari Bagas, ternyata salah.


Adam.


Jangan lupa dimakan.


"Kann, gue bilang juga apa, Baskara yang ngirim." Sedangkan teman Rania tadi sudah begitu yakin kalau pengirimnya adalah Baskara, membuat Rania tersenyum getir dengan helaan napas ringan.


°°°


Jika ada soju, besar kemungkinan sembilan puluh persen dari anggota tim tersebut mabuk, sisahnya masih sadar.


"Ini nih, yang gue benci dari kumpul-kumpul." Seseorang di ujung mengomel dengan rokok menyala begitu melihat teman-temannya terkapar, membuat Baskara tertawa pelan.


"Udah dibilang jangan minum banyak-banyak masihh aja, yang susah sekarang siapa coba?" Orang tersebut masih mendumel.


Pasalnya ketika ada acara makan-makan seperti sekarang, pasti sebagian besar orang mabuk, dan yang tidak mabuk kebagian mengurus mereka agar mereka bisa pulang dengan selamat.


"Btw, Bas,"


"Ha?" Baskara menoleh, mendapati laki-laki tadi—sebut saja Lian, menghela napasnya pelan, seolah ada hal lain yang membebani pikirannya sekarang ini.


"Cerita aja kalau emang mau cerita," kata Baskara begitu dia selesai membereskan botol-botol yang berserakan.


"Inget sama cewek yang bulan lalu gue bicarain nggak?" tanya Lian.


"Yang lo suka sama dia itu bukan?"


Kali ini Lian mengangguk.


Tapi tidak lama dia lagi-lagi menghela napasnya panjang, dan dari bagaimana dia menghela napasnya itu, seperti diringi oleh rasa sesak yang begitu besar.


"Udah nikah dia."


Di kursi lain jelas Baskara kaget.


"Bukannya lo berdua pacaran?"


"Nggak." Lian menjawabnya cepat.


"Tapi ya gitu, dia tahu kalau gue suka sama dia, dan gue rasa, dia juga suka sama gue."


"Terus kenapa malah nikah sama orang lain?"


"Kayaknya bener deh, yang mereka butuh dari kita tuh kepastian, kalau kitanya nggak jelas, mereka pasti bingung, kan? Apalagi nembak dia aja belum, gue cuma ngasih perhatian yang besar, tapi gue nggak memperjelas gue ini siapanya dia, gue nggak memperjelas dia ini siapanya gue."


Entah kenapa, alih-alih mendengarkan keluh kesah temannya dengan baik, Baskara justru teringat dengan Rania.


Apa untuk Rania, Baskara juga tidak jelas?


Apa suatu saat dia bisa kehilangan Rania hanya karena dia terlalu lama mengambil langkah karena terus mempertimbangkan ini dan itu?


Tapi Rania tahu seberapa besar Baskara menyayangi dia? Rania tahu jika Baskara tidak pernah main-main dengan hubungan mereka.


Bahkan pada setiap kesempatan, Baskara ingin memberikan yang terbaik untuk Rania.


"Bas, kalau ada cewek yang bilang, dia mau lo ajak susah yang penting lo berdua menikah dulu, lo bakal gimana?"


Baskara yang sedari tadi menunduk hanya menatap udara kosong di depannya. Lama, sampai kemudian dia sedikit mendongak.


"Mungkin gue akan nyuruh dia untuk tetap nunggu, karena kalau pun dia mau susah sama gue, gue yang nggak mau ngajak dia susah."


"Gue mau dia nunggu, sampai gue selesai mempersiapkan semuanya."


"Supaya dia nggak susah."


"Supaya dia nggak terbebani."


"Karena cara gue menyayangi dia memang begitu."