
Rania harus mencari taksi lagi sepeninggalan Baskara. Laki-laki itu mengantar Rania sebelum gang kecil, seperti biasa ketika mereka selesai kencan, karena rumah Rania sudah tidak jauh dari sana dan Rania selalu memintanya begitu, tapi berhubung sekarang dia tinggal bersama Adam, maka beginilah jadinya.
Sebelumnya Rania sudah memberitahu Adam tentang kepulangan Baskara, Rania juga sudah memberitahu laki-laki itu bahwa dia akan pergi bersama Baskara sampai malam, lucunya, Adam berinisiatif untuk menjemput Rania, jelas Rania tolak, selain tidak enak, bukankah jika Rania menerima tawaran tersebut dia akan semakin menjadi orang yang tidak tahu diri? Sekarang Rania tahu apa yang dirasakan orang-orang diluar sana, ketika mereka sudah punya pacar tapi malah selingkuh dengan orang lain, dan untuk Rania, semua ini sangat merepotkan.
'Gue tau gue egois, tapi bukan kemauan gue juga untuk hidup jadi perempuan brengsek kayak gini.'
Bukan kemauan Rania juga untuk menyakiti dua laki-laki sekaligus.
Apalagi Adam—laki-laki itu teramat baik, jadi ada saat di mana Rania masih berpikir, tidak seharusnya Adam masuk ke hidupnya dan berakhir bersama perempuan seperti dia.
"Makasih ya, Pak."
"Sama-sama, Mbak, kalau begitu saya permisi, mariii."
"Marii," kata Rania ramah.
Setelah itu dia melangkah pelan, sementara ruang tamunya masih menyala, dan Adam tertidur di sofa panjang dengan kaca mata yang masih dia kenakan.
"Udah dibilang jangan nungguin gue, masihh aja, gue tahu lo banyak kerjaan, lo sibuk." Lantas gadis itu mengambil langkah untuk ke atas, membawa selimut dan memakaikan selimut itu ke Adam, karena sekarang memang musim hujan, dingin, mau membangunkan juga Rania tidak tega, jadi selagi menunggu Adam, dia memilih untuk membereskan barang-barang Adam yang masih berserakan di meja, untuk dia pindah ke kamar.
Dia juga sempat mengganti blouse kerjanya dengan stelan lebih santai, sebelum melesat ke dapur untuk membuat dua teh hangat.
Lalu begitu dia kembali ke ruang tamu, Adam sudah bangun dengan wajah masih mengantuk.
"Udah bangun? Pindah gih, di luar dingin."
"Udah dari tadi pulangnya?"
"Lumayan sih, 30 menit yang lalu kayaknya."
"Kok saya nggak dibangunin?"
"Ya gimana, orang lo tidur pules gitu."
Laki-laki itu menghela napasnya, kemudian betulan beranjak masuk ke kamar tanpa bicara lagi, melihatnya jelas Rania keheranan.
"Tumben dia nggak bawel?"
"Mau tidur sama saya?" tanya Adam begitu mendapati Rania akan masuk ke dalam kamarnya. Gadis itu sempat tercengang, kemudian menggaruk tengkuknya canggung.
"Apaan sii, orang gue mau ngasih teh ini, kan udah gue bikin, nggak mungkin gue minum dua gelas."
"Oh yaudah, taruh aja di sana."
"Lo langsung tidur?"
"Hmm."
"Ohh, oke."
Adam bergerak menutup pintu.
"Eh, Dam," tapi Rania lebih dulu menahannya.
Kemudian dia tertawa tidak jelas.
"Hehe, nggak nggak jadi, good night!"
°°°
Semalam sikap Adam itu sudah aneh, pagi ini makin aneh lagi, bayangkan saja, begitu Rania bangun, dia tidak mendengar pergerakan dari laki-laki itu sama sekali, sampai hari akan siang, Adam juga belum keluar dari kamarnya, dan begitu Rania memutuskan untuk masuk ke dalam kamar Adam, kamarnya kosong.
Gadis itu memegang gagang pintu dengan decakan pelan. Ini dia sudah pergi ke kampus buat mengajar? Tanpa pamit begitu?
Minimal dia memberitahu Rania lewat whatsapp kan bisa.
"Dia kenapa si? Nggak biasanya kayak gini."
Kemudian dengan dongkol Rania bergegas untuk bersiap ke kantor. Terpaksa hari ini dia juga harus naik taksi.
"Ran, siap-siap abis ini kita ada meeting, bahan buat presentasi lo udah siap kan?"
"Bantu gue buat koreksi lagi ya, belum sempet gue koreksi ulang karena semalem gue sibuk."
"Sibuk senang-senang sama mas pacar ya? Cieeee..."
Cieee...
'Cie apaan? Udah selesai juga seneng-senengnya, sekarang tinggal ngurus presentasi yang belum gue koreksi sama sekali,' batin Rania, gadis itu juga beberapa kali mengecek hpnya, dia kira sudah ada Whatsapp dari Adam, ternyata tidak sama sekali.
"Lo pergi, pergi aja, tapi ya minimal lo pamit ke gue anjirrr."
"Kenapa, Ran?"
Rania menarik napasnya panjang, setelah itu lanjut melahap rotinya lagi.
"Nggak kok, nggak apa-apa."
"Iyaa."
"Eh, btw, jam makan siang nanti lo sendiri yaa, gue ada urusan jadi nggak bisa nemenin lo buat lunch."
"Sama Baskara?"
Kali ini Rania tertawa pelan.
"Bukan berarti gue bisa ketemu sama dia tiap hari setelah dia pulang, lo kan tahu dia sesibuk apa."
Seminggu mereka bisa bertemu dua kali saja Rania sudah senang, karena ya memang begitu, pekerjaan Baskara sangat banyak, jadi Rania juga tidak mau memaksa laki-laki itu untuk menghabiskan banyak waktu bersama dia.
"Terus lo mau kemana?"
"Ada pokoknya."
"On time ya tapi, jangan sampai telat baliknya, tau kan jakarta macetnya kayak gimana?"
"Iyaa iyaaa, santai."
°°°
Saat jam makan siang dan Rania sudah sampai di tempat tujuannya, hal pertama yang dia tanyakan justru,
'Kenapa gue malah ke sini?'
'Kalau pun gue ketemu Adam nih yaa, apa yang mau gue omongin coba? Gue mau marah-marah di tempat umum begini cuma karena dia bersikap aneh? Nggak mungkin lah, imej gue apa kabar cuyy? Tampilan udah sedikit anggun begini rugi kalau gue rusak.'
Tapi belum lama terlalu dalam dia masuk ke area kampus, sepertinya dia sudah menemukan sosok Adam, tapi kenapa dia dikerubungi perempuan begitu?
"Kan, suami gue anjirrr," kata Rania begitu Adam menoleh. Benar-benar Adam. Lalu ketika Adam menyadari keberadaannya, gadis itu tersenyum lebar dengan tangan bersedekap, sementara Adam malah berkedip lucu, seperti speechless alias tidak bisa berkata-kata, apalagi ketika Perempuan-perempuan tadi semakin rusuh mendekat ke arahnya.
"Kayaknya gue emang datang di saat yang tepat." Kemudian Rania mengibaskan rambutnya dan mengambil langkah untuk ke sana.
"Misiii, ini ada apa ya?" tanya Rania begitu sampai, otomatis membuat mereka semua menoleh.
"Sayang, ada apa?"
"Sayang?" Ketika mereka kompak bertanya, Rania tersenyum, mengambil gerakan maju untuk mendekat ke Adam dan mengalungkan lengannya di lengan Adam.
"Saya istrinya, saya lihat dari jauh kalian ribut-ribut gitu sampai ngebuat suami saya kewalahan, jadi saya ke sini, sekalian juga mau ngajak suami saya makan siang."
"Pak Adam udah punya istri?" tanya salah satu dari mereka terkejut.
Adam belum sempat menjawab, karena Rania berhasil menyelanya.
"Ahh, pasti Adam belum kasih tau kalian." Lalu Rania mendongak menatap Adam.
"Sayang, harusnya kamu kasih tau lebih awal dong. Biar mereka tahu kalau kamu udah punya istri."
"Ran,"
"Udah ya semuaa, kami pamit dulu."
°°°
"Ada apa?"
"Kok ada apa?"
"Ya ada apa ke sini?" tanya Adam lagi, kali ini lebih ia perjelas, membuat Rania yang baru menyedot kolanya lurus menatap pemuda itu.
"Nggak apa-apa, emang gue nggak boleh ke sini?"
"Kenapa nggak bilang dulu ke saya?"
"Kenapa harus bilang? Kan kita suami istri."
Kali ini Adam melirik Rania jengah.
"Kalau situasinya dibalik, kamu terima nggak?"
"Maksutnya?"
"Kalau saya yang ke tempat kerja kamu tanpa ngomong dulu, kamu terima? Kamu nggak marah?"
"Ya...?"
Adam menghela napasnya sekali lagi.
"Usahakan buat ngomong dulu, saya nggak masalah kalau kamu ngajak saya makan siang."
"Lo marah?"
"Saya masih ada urusan." Kemudian Adam pergi begitu saja.