Our Long Story

Our Long Story
Chapter 19



"Dia ada masalah apa sih? Kenapa gue mesti dibawa-bawa coba? Cih! Kekanak-kanakan banget jadi manusia." Rania mendumel beberapa kali selepas kepergian Adam, bahkan laki-laki itu tidak menoleh sekalipun ke belakang untuk memastikan keberadaan Rania.


Jadi dengan langkah kesal Rania pun turut pergi, mencari taksi kemudian kembali ke kantornya, yang mana, ketika dia sampai di sana, jam istirahat sudah habis, sementara perutnya berbunyi nyaring meminta sesuap dua suap.


"Lhaa, bukannya lo tadi pergi keluar buat makan, Ran?"


"Makan ati kali," sahut Rania, jawaban yang ia lontarkan membuat kawannya nyaring menghela napas panjang.


"Kan lo ada maag, kalau telat makan kambuh yang ada."


"Nggak kok, sekali dua kali kayaknya nggak masalah."


"Yang bener?"


"Kalau kambuh tinggal ke rumah sakit nggak, sih?" tanya Rania, dari nadanya seolah itu memang bukan masalah yang besar, dan tidak perlu juga dikhawatirkan. Padahal ketika hal itu benar-benar terjadi dia pasti akan merutuki dirinya sendiri dengan penuh penyesalan, seperti yang sudah-sudah, terlebih ketika mama sudah berceramah panjang lebar mengenai sesibuk apa pun dia, usahakan jangan pernah telat makan.


"Ke rumah sakitnya, sih, gampang ya, tapi tau sendiri kan, maag tuh bukan penyakit yang sembuhnya cepet, mama gue dulu, dua bulan lebih baru bener-bener pulih, tipikal penyakit yang emang harus menerapkan konsep lebih baik mencegah dari pada mengobati, karena dalam proses pengobatannya, dibutuhkan waktu yang begitu lama.


"Ya bener juga, tapi entaran dehh, gue bener-bener nggak mood buat makan."


"Kenapa lagiii?"


Rania menghela napas pelan.


"Ya nggak mood aja, kesel." Membuat rekannya tertawa pelan sambil menggelengkan kepala tidak habis pikir.


"Btw, Ran, materinya udah gue kirim ke lo ya, kalau kepanjangan, bisa langsung lo coret-coret mana yang sekiranya nggak perlu, nanti kirim lagi ke gue."


"Iya, iya, gampang, thanks ya."


"Yoi."


"Inget lo, setelah kerjaan lo semuanya kelar, langsung makan."


"Siap komandan, siaapp!"


Rania sampai tertawa geli.


'Tapi gue bete banget samsek! Kayak kenapa siiii? Lo tuh kenapaaa? Apanya yang salah coba? Harus banget lo ketus gitu ke gue di saat gue sendiri bahkan enggak tahu di mana letak salahnya? Hello!!! Yang bener aja, Masbrooo!!!' Nahkan, jadi merutuk sendiri lagi dia. Tapi kali ini Adam benar-benar mengesalkan untuk ukuran manusia, ya maksudnya apa gitu? Tiba-tiba dingin? Tiba-tiba marah cuma karena hal kecil? Kan Rania bingung.


°°°


Sepertinya tidak seharusnya Adam bersikap buruk seperti tadi kepada Rania, kalau boleh jujur, dia pun risih dengan beberapa mahasiswanya tadi, dan Rania sangat membantunya, jadi bukankah seharusnya dia berterima kasih alih-alih marah?


Laki-laki itu mengusap pangkah hidungnya pelan, sedikit menyesali perbuatannya beberapa jam lalu. Kemudian setelah jam kerjanya berakhir, dia memutuskan untuk menjemput Rania dan menelpon Rania, membuat Rania mengernyitkan keningnya seketika.


'Ngapain? Mau marah-marah lagi? Nggak bakal gua angkat.' yang mana setelahnya benar-benar langsung Rania tolak. Lagi pula dia masih sibuk-sibuknya sekarang.


Dan tahu apa yang terjadi?


Iya,


Adam menelponnya lagi.


"Ihh apaan siihh?"


"Angkat aja deh, Rann, kali aja penting."


"Gue angkat telpon dulu ya, sorry banget."


Temannya itu mengusap pelan pundak Rania dengan ulasan senyum tipis.


"Iyaa nggak apa-apa."


Rania memutuskan untuk ke toilet, dan begitu sambungan sudah terhubung, gadis itu menarik napasnya panjang sebagai pembuka.


"Apaa? Ha? Mau marah-marah lagi? Lo kenapa sih? Pms?"


"Saya minta maaf."


"Bodo amat, Dam, bodo amat."


"Pulang sama siapa?"


'Cuma segitu aja dia minta maaf? Sumpah!'


"Jalan kaki." Rania masih menjawab dengan sangat ketus.


"Ya udah biar saya jemput."


"Nggak usah, nggak perlu, gue punya uang buat ngegojek."


"Saya udah dibawah." Adam benar-benar mengatakan itu tanpa dosa.


"Di bawah di mana?"


"Ya di bawah kantor kamu."


"Lo—"


Setelah itu telpon dimatikan secara sepihak, seakan-akan dia tidak menerima penolakan sama sekali dari Rania. Bukankah Adam benar-benar mengesalkan hari ini?


Hhaahhhh.


Gadis itu menghela napasnya lagi, dengan kesal ia menatap pantulan dirinya di cermin, lalu sekonyong-konyong Rania meniup jidatnya seolah di sana ada poni, padahal hanya sehelai dua helai rambut yang berantakan.


"Udah?"


"Udah kok."


"Siapa, Ran, nyokap?"


"Ahh enggak."


"Ehh, btw, ada roti tuh, makan dulu." Kebetulan seseorang baru saja memberinya roti, jadi dia berikan roti itu pada Rania, mengingat Rania belum makan apa-apa, hanya sarapan pagi.


"Beneran buat gua?"


"Iya makan aja."


"Thank's."


"Abis ini kemana, Ran, nonton yuk, lama nggak nonton."


'Ihh pengen bangettt!'


'Tapi kan, Adam udah dibawah?'


Gadis itu membatin lagi.


'Padahal gue udah lama nggak nonton, otak juga jenuh banget lagi.'


"Ya? Mau nggak?"


"Sebenarnya mah mau. Cuma nggak bisa gue, abis ini ada urusan, sorry yaaa!"


"Yaahhh! Nggak apa-apa deh."


°°°


Rania hanya memakan roti, sekarang jelas perutnya kelaparan, melihat beberapa menu menggiurkan di depannya membuat dia hampir gila, tapi dia mati-matian menahan dirinya untuk tidak memakan apa pun di depan Adam.


"Mau saya suapin?"


"Apaan, sih?" Kemudian dia memalingkan wajahnya lagi, kali ini sukses membuat Adam menjeda kegiatan makannya hanya untuk sekedar menghela napas pelan sambil mengamati Rania.


"Saya tahu saya salah."


"Ya emang lo salah, labil tau nggak!"


"Iyaa, maaf."


"Sekarang makan dulu, setelah itu lanjut lagi marahnya nggak papa."


Adam juga menyodorkan beberapa makanan kesukaan Rania tepat di hadapan gadis itu.


"Saya kemarin lihat kamu sama Baskara." Ucapannya membuat Rania sedikit terkejut.


"Harusnya saya biasa aja, kan? Tapi ternyata susah juga buat saya, Ran, lucunya, saya malah melampiaskan semuanya ke kamu, padahal dari awal kamu sudah memberi peringatan pada saya, kalau semuanya pasti berjalan dengan sulit."


"Lo—"


"Makan dulu, saya tahu kamu belum makan."


"Dam, gue minta maaf. Gue minta maaf kalau gue nyakitin perasaan lo."


Adam tersenyum sekali lagi, dengan memberi sepotong dagingnya untuk kemudian dia taruh ke mangkuk Rania.


"Jangan minta maaf, semua ini menang resiko yang harus saya tanggung, karena saya egois, dan saya terlalu memaksakan kehendak saya di awal."


"Bukan lo, tapi mereka." Para orang tua yang Rania maksut kali ini.


"Papa saya tidak pernah memaksa saya untuk menerima perjodohan itu, Ran, apa pun keputusan saya, beliau akan menerima dan menghargainya."


"Terus?"


"Tapi saya tetap menerima itu, karena saya pikir, keadaanya tidak jauh berbeda dari beberapa tahun lalu."


"Gue nggak paham." Rania tidak tahu apa yang Adam maksut, bahkan caranya tersenyum sekarang membuat Rania semakin bingung.


"Saya mencintai kamu."


Apa itu adalah jawaban?


Tapi anehnya, kenapa Rania malah semakin tenggelam dalam kekalutan itu?