Our Long Story

Our Long Story
Chapter 16



"Yaelah, Bas, masih aja lo," komentar teman Lian begitu dia keluar dari kamar mandi dan masih menemukan Baskara berurusan dengan beberapa bunga mawar—lengkap dengan tangkainya, laki-laki itu akan pulang hari ini, dia sengaja merakit buket untuk sang kekasih—Rania. Masalahnya Baskara sudah menonton beberapa tutorial menyusun bunga mawar di youtube beberapa kali sejak dia bangun, sampai akan jam delapan tapi bunga itu belum juga disusun, sebagai teman yang baik, jelas Lian menyarankan laki-laki itu untuk membeli saja, sebab Lian juga tidak pandai merakit bunga.


"Lu mah gegayan lagian." laki-laki itu kemudian duduk, lantas mengambil satu tangkai yang Baskara punya.


"Setau gua, lo jarang nih ngasih yang kayak gini ke cewek, paling-paling lo cuma ngasih dia makanan, inget lo jadian sama dia hari apa aja dia udah bersyukur, Bas."


Sederhananya, Baskara memang bukan laki-laki yang romantis, hanya saja dia penuh akan perhatian, dan hal kecil yang sering dia lakukan itulah yang membuat Rania semakin mencintainya, Baskara tidak pernah memberi Rania bunga di hari-hari paling penting mereka, Baskara tidak pernah memberi kejutan dengan latar belakang sweet seperti pasangan lain, laki-laki itu jauh sederhana dari yang kalian pikir.


"Nggak tau kenapa gua takut aja akhir-akhir ini," kata Baskara setengah tersenyum, setelah sebelumnya dia hanya diam untuk saat yang cukup lama.


"Takut kalau Rania diambil orang? Takut ada yang lebih baik dari lo dalam memperlakukan dia?"


"Banyak. Gue takut akan banyak hal tentang dia."


"Lo lagi capek kali, nggak biasanya orang kayak lo overthinking." Mengingat beberapa hari kebelakang mereka sangat sibuk, jadi Lian pikir, sepertinya Baskara memang kelelahan.


"Dan setiap kali gue didatangin sama ketakutan-ketakutan itu, gue nggak memikirkan bagaimana Rania sama sekali, gue justru sibuk mikirin diri gue sendiri, gue sibuk mikirin perasaan gue. Brengsek nggak si?"


"Brengsek." Kali ini Lian tertawa.


"Tapi bukannya itu manusiawi?" tanyanya kemudian.


"Bukannya itu wajar banget untuk ukuran manusia kayak kita?"


"Lo takut dia sama orang lain, tanpa terkecuali kalau dia akan bersama--sama orang yang jauh lebih baik dari lo, meskipun lo masih sangat menyayangi dia, dan meskipun, seharusnya lo bisa sedikit aja lebih bahagia buat dia, tapi Man, udah pasti perasaan lo berantakan."


"Itu yang gua pertanyaan sekarang, Yan."


"Apa yang sebenarnya nggak gue terima? Kehilangan Rania karena gue sangat mencintai dia? Atau justru berantakan yang gue rasain setelah kehilangan itu sendiri?"


"Mungkin dua-duanya. Mungkin lo nggak cuma takut dia pergi, mungkin lo juga takut kalau lo nggak bisa mengatasi perasaan lo sendiri nanti."


°°°


Sekitar enam tahun yang lalu, lewat toserba yang selalu Baskara kunjungi setiap kali dia selesai olahraga sore bersama teman-temannya. Saat itu Baskara mampir seorang diri karena yang lain lebih dulu pulang, pertama kali mendorong pintu toserba, aroma apel hijau yang menyeruak tapi menenangkan dalam satu waktu seketika menyambutnya, seperti biasa, dan ketika dia menatap mas-mas kasir, mas-mas kasir langsung memberikan senyum paling lebar, bukan senyum sapaan, senyum itu memiliki makna perasaan merasa bersalah, melihatnya pundak Baskara mendadak lemas.


"Udah gue duga, pasti nggak ada."


Iya, pasti sesuatu yang akan dia cari tidak ada.


"Mas, kan kemarin saya bilang, saya tuh suka banget sama es krim rasa mint kemarin, tapi kenapa stoknya nggak ada terus siii? Saya pelanggan setia loh di sinii!"


Es krim mint?


"Ada satu cewek, demen banget dia sama es krim rasa mint, sama tuh kayak lo, tiap kemari pasti ngomel-ngomel ke gue, protes, katanya kenapa nggak ada stok sama sekali." Mas Danan—penjaga kasir itu sempat memberitahu Baskara mengenai salah satu gadis yang kerap mencari rasa es krim mint kemarin—tepatnya ketika toserba sepi, sehingga mereka bisa mengobrol di luar, dan perempuan itu—apa dia yang Mas Danan maksut?


"Ya kan saya udah bilang sebelumnya, es krim yang rasa itu langka mbak, jarang ada karena peminatnya emang sedikit, di sini aja yang beli cuma dua orang, kamu sama dia tuh!"


Yang ditunjuk mematung.


Apa?


Gue? tanya Baskara pada dirinya sendiri.


"Sumpah yaa!"


Marah lagi dong dia.


Abis itu keluar, dan melengos begitu saja, membuat Mas Danan menghela napas dengan sangat panjang.


"Siapa si?" Dan begitu Baskara mendekat, Mas Danan menatapnya lelah.


"Ya itu yang gue maksut, cewek dengan selera aneh, yang kalau ke sini pasti ngomelin gue mulu, lagian rasa lain kan ada, ribet bener."


"Bukan aneh, kalau dia aneh, gue juga aneh dong?"


"Ya emang lo berdua aneh."


"Anjirr."


"Lagian bang, selera tuh nggak bisa dipaksain."


"Mau pergi aja? Nggak jadi beli apa-apa lo?"


"Gue beli ini aja dah." Baskara menunjukkan dua es krim rasa taro kesukaannya, kedua setelah rasa mint yang pasti.


Setelah itu dia keluar, tapi yang tidak disangka, gadis tersebut masih ada di sekitar jalan sana. Baskara tidak tahu apa yang membuat kakinya mendekat ke arah perempuan tadi, sampai di perempuan menoleh begitu mereka sudah berjalan bersampingan.


"Kenapa nggak coba rasa baru? Bukan buat ngegantiin mint di urutan pertama yang lo suka, cuma buat pengganti aja kalau mint nggak ada, cuma buat pengganti aja ketika lo sedih dan lo nggak bisa menemukan mint, lo bisa menemukan rasa yang lain, yang juga cocok sama lidah lo siapa tau."


Gadis itu masih diam, tidak mengatakan apa pun, membuat Baskara mengulas senyumnya tipis.


"Selama stok mint belum ada, gue sibuk nyari rasa lain yang cocok dilidah gue, dan ini entah rasa yang keberapa."


"Maksutnya? Lo belum pernah ngerasain taro sebelumnya?"


"Belum, mau nyoba bareng?"


Lalu yang terakhir,


"Nama gue Baskara."


"Ahh, iyaa, gue Rania."


"Makasih yaa, rasa taronya enak."


"Siap."


Tapi biar Baskara tandai, hingga hari ini, mint untuk Rania belum tergantikan dengan rasa apa pun, Mint masih punya ruang paling besar dalam hidup gadis itu dibandingkan rasa lain yang pernah mereka coba.


Sepertinya tidak jauh dari Baskara sendiri, karena sampai hari ini pun, es krim kesukaannya masih saja mint.


°°°


"Padahal, menurut kebanyakan orang, mint itu aneh." Rania bergumam pelan dengan menyuap satu sendok es krim mint yang baru dibelikan oleh Baskara.


"Sedunia ngomong kayak gitu juga aku nggak ngaruh, tetep suka," kata Baskara di sebelahnya.


Membuat yang perempuan tertawa pelan.


"Aku juga."


"Juga apa?"


"Juga nggak peduli sama pendapat orang tentang mint."


"Tos dulu nggak?"


Gadis itu makin tertawa kali ini, kemudian dia benar-benar menyambut tangan Baskara dengan penuh semangat.


"Sekarang aku tanya ke kamu, jawab jujur ya tapi."


"Apa?"


"Lebih suka mana aku apa es krim mint yang biasanya kamu beli?"


"Kalau aku jawab 'kamu', percaya nggak?"


"Enggak."


"Yaudah."


"Ihh apaan? Gitu aja?"


Tapi Baskara adalah Baskara.


Sehingga pada detik selanjutnya Rania hanya tertawa dan mengusap pelan rambut pemuda itu.


"Tapi aku juga lebih suka kamu, suer!"


"Percaya," kata laki-laki itu.