Our Long Story

Our Long Story
Chapter 21



Untuk saat yang lama, yang Rania lakukan hanyalah menatap segelas coklat hangat miliknya—hangat yang perlahan-lahan dingin. Kali ini tentu bukan masalah pekerjaan, bahkan Rania bisa pastikan jika gangguan tidur yang ia alami akhir-akhir ini bukan dari sana, karena pekerjaannya memang lancar-lancar saja.


Tiga hari yang lalu, Adam sempat bercerita soal alasan lain dibalik kenapa dia menerima perjodohannya dengan Rania, dan sampai hari ini—Rania masih bingung, tentang bagaimana cara Adam berpikir. Apa dia pikir seseorang akan terus larut oleh bayang-bayang seseorang yang lain, ketika dia ditinggalkan begitu saja? Kalau pada akhirnya dia pergi untuk kembali lagi ke dalam hidup Rania meski untuk waktu yang sangat lama, kenapa tidak berterus terang dari awal? Kenapa tidak meminta Rania untuk menunggunya? Kenapa semuanya harus berakhir dengan serumit ini untuk Rania?


Terus melanjutkan hubungannya dengan Baskara padahal Rania sudah punya suami jelas tidak benar, tapi bukan berarti Rania akan meninggalkan Baskara begitu saja, Rania mengenal rasa kosong. Rasa kosong ketika seseorang tiba-tiba ditinggalkan padahal keadaan sebelumnya berjalan dengan baik-baik saja.


"Boleh saya duduk?"


Rania yang tadi sibuk dengan isi pikirannya—yang terlampau rumit dan sulit untuk diurai itu, menoleh sebentar, lalu dia mendapati Adam sudah berdiri di sana, dengan kemeja navi yang masih melekat, laki-laki itu juga sengaja menguar dasinya, sebelum akhirnya duduk ketika Rania mengangguk.


"Duduk aja."


Kemudian Rania menyodorkan segelas coklat yang tadi dia pegang.


"Belum gua minum, tapi udah dingin."


"Buat saya?"


"Kali aja lo haus, kan?"


Rania terlalu lelah kalau harus ke dapur dan menyiapkan teh hangat untuk Adam, meskipun harus digaris bawahi bahwa itu adalah bagian dari kewajibannya.


"Nyesel kan, nikah sama gue? Gue tuh belum sedewasa itu, gue belum bisa ngejadiin yang wajib sebagai kewajiban yang emang mesti harus gue lakukan."


Kali ini Adam yang ganti menatapnya, dengan perlahan-lahan meneguk coklat tadi, benar, coklat tersebut sudah dingin, hangatnya pergi entah sejak kapan.


"Harusnya setelah lo menikah, perempuan yang lo nikahin bisa ngurus lo dengan baik, bisa nyiapin minuman hangat buat hilangin sedikit aja dari lelahnya lo, bisa buatin lo sarapan, bisa masakin masakan kesukaan lo, bisa nyiapin baju lo biar lo nggak repot lagi milih baju."


"Klise nggak sih, kalau saya jawab, saya nggak mempermasalahkan ketidaksiapan kamu dalam hal ini?"


"Klise, banget." Rania sampai tertawa di detik setelahnya.


"Pasti dalam hati lo ngerasa dirugikan, bahkan sampai nyesel, udah waktunya lo jujur sama gue, Dam. Gue nggak bakal tersinggung kok, jadi luapin aja semua keluhan lo."


"Sejauh ini ngga ada, bener-bener nggak ada."


"Kalau nanti lo udah bosen, lo udah capek, lo bisa kok langsung ninggalin gue."


"Kenapa harus ninggalin?"


"Ya jalannya emang gitu kan?"


Adam meletakkan gelas tadi, lalu menatap Rania sesaat.


"Yang mesti dihilangin itu bosennya, capeknya, bukan hubungannya."


"Kamu bisa minta apa pun dari saya, Ran, tapi nggak dengan cerai."


Setelah mengatakan itu, Adam berniat untuk meninggalkan Rania, tapi perkataan Rania justru menahan langkahnya untuk masuk lebih dalam.


"Kenapa? Kenapa enggak kalau pada akhirnya gue tetep nggak bisa mencintai lo?"


"Kenapa enggak kalau sampai kapan pun gue nggak bisa ngelupain Baskara? Dalam hidup, nggak semua hal akan berjalan sesuai kemauan lo, Dam, ada beberapa hal yang memang ketika lo udah coba buat maksain tapi hasilnya tetep begitu—sama—nggak berubah—nggak seperti yang lo mau—mungkin setelahnya yang harus lo lakukan bukan memaksa lagi, tapi menerima. Terima kenyataannya meskipun sangat berat. Seperti saat gua nerima kepergian lo yang tiba-tiba waktu itu, seolah-olah gue memang nggak ada artinya, seolah-olah lo nggak pernah takut kalau kita jadi asing bahkan sampai nggak mengenali satu sama lain."


"Ran—"


"Dan kamu memilih buat nggak mempertanyakan alasan dibalik kenapa saya tiba-tiba pergi? Bahkan setelah kita ketemu lagi?"


"Bukannya alasan kenapa lo tiba-tiba pergi udah jelas ya? Gue nggak penting, sama sekali nggak penting, jadi lo pergi gitu aja tanpa beban."


"Udah ya, mending lo bersih-bersih, masalah ini, gue nggak mau bahas lagi."


°°°


Pagi tadi, setelah bangun tidur dan menyiapkan semua keperluan untuk pekerjaannya, Adam menyempatkan diri untuk membuatkan Rania sarapan, tapi sepertinya Rania masih marah, sebab sarapan yang Adam buat utuh, segelas susu yang Adam siapkan juga masih berada di meja.


Adam mewajarkan marahnya gadis itu, pun jika dilihat dari sudut pandang Rania, Adam memang terlampau jahat, tapi tentunya Adam punya alasan, hanya saja alasan tersebut belum mampu ia sampaikan kepada Rania. Alasan yang sebenarnya, alasan yang harus Rania dengar.


"Gue sempet ngira kalau lo nggak normal." Malamnya Adam memutuskan untuk pergi mendatangi salah satu temannya di bar, temannya itu berkata demikian setelah meneguk segelas wine. Kemudian dia terkekeh dan menuangkan wine tadi ke gelas di depan Adam.


"Ternyata lo udah suka sama cewek."


"Berhasil lagi."


"Berhasil gimana?"


"Berhasil lo milikin, nggak kayak gue."


Kali ini Adam tertawa. Kalimat barusan entah kenapa terdengar begitu lucu saat sampai pada telinganya.


"Nggak berjalan semulus yang lo mikir, status dia emang udah jadi istri gue, tapi enggak hatinya."


"Nggak usah bercanda."


"Gua nggak lagi bercanda."


Kemudian Adam berkata lagi.


"Jangan kayak gue, Ham."


"Kenapa dengan lo?"


"Gua egois, gue terlalu mikirin perasaan gue sendiri, cinta yang gue maksut justru berakhir seperti omong kosong."


Di saat-saat seperti ini, Adam selalu menyalahkan dirinya habis-habisan, tapi tetap, dia tidak bisa jika menceraikan Rania dan membiarkan gadis itu bersama Baskara. Sial.


"Apa yang salah dari orang yang berusaha memperjuangkan apa yang dia mau, sampai akhirnya dia berhasil?"


"Suka sama seseorang nggak selalu tentang ngejar atau berusaha milikin," sela Adam. Laki-laki itu memutuskan untuk meneguk segelas wine tadi. Membuat tenggorokannya lebih basah.


"Mungkin cara gue menyukai dia emang salah." Lalu tanpa menunggu Ilham, Adam menuangkan sendiri wine ke dalam gelasnya.


"Mungkin nggak seharusnya gue ngotot sampai ngebuat dia berakhir di keadaan yang sekarang. Karena buat dia ini terlalu rumit."


"Dan semuanya salah gue."


"Jadi lo bakal gimana? Cerai sama dia? Bukannya itu terlalu awal?"


"Yang gue takutin, gue sama dia nggak berujung nemuin titik terangnya, Ham? Gimana kalau semakin kita ngelangkah jauh, semakin keadaan terus berjalan dengan nggak baik?"