
"Wagilasihh!" Rania tercengang begitu dia masuk ke dalam mobil dan Adam sudah di sana dengan buku list—lengkap dengan bagaimana laki-laki itu mencoret daftar yang sudah selesai. Kemudian ketika dia sadar akan eksistensi Rania, baru dia menutup buku tersebut dan menyimpannya di dasbor mobil.
"Kalau nggak dilist takutnya saya nggak bisa fokus dari satu ke yang lain." Laki-laki itu kini menjalankan mobilnya, membuat yang perempuan mengangguk-angguk paham. Memang dalam pernikahan untuk pestanya saja keperluannya sudah sangat banyak, dan Adam mengurus semua itu sendiri. Rania jadi merasa bersalah begitu tahu daftar list dalam buku Adam berangsur panjang.
Terlepas dari apa yang membuat Adam menerima perjodohan ini, yang jelas Adam tahu dan sadar akan tanggung jawabnya, sangat berbeda dengan Rania yang dari awal sudah acuh tak acuh.
"Ran,"
Gadis itu menoleh.
"Ya?"
"Mau makan apa?"
"Ikut aja."
"Ikut saya?"
Kali ini dia mengangguk.
Adam baru saja mengiyakan, kebetulan setelah ini ada warung kecil langganannya yang menjual beberapa menu makanan nusantara, tapi di perempatan jalan, Rania justru menunjuk ke gerobak abang-abang kaki lima.
"Ehh gue mau itu dong!"
"Apa? Permen kapas?"
"Bukan."
"Mau main capit boneka?" Sebab di sana juga ada mainan capit boneka, persis di sebelah kafe kecil.
"Ihh enggak, itu loh telur gulung."
"Astaga, saya kira apa."
Mata Rania cukup jernih ternyata, lokasi abang-abang penjual telur gulung begitu remang, dan diampit beberapa gerobak besar, tapi Rania masih bisa menemukan keberadaannya, hebat sih.
"Kamu tunggu di sini, biar saya yang beli."
"Jangan banyak-banyak ya Dam."
"Mau setusuk aja?" tanya Adam, kontras membuat Rania berdecak tidak habis pikir.
"Nggak ikhlas banget."
"Ya kan kata kamu jangan banyak-banyak."
Sekali lagi Rania berdecak.
"Ya iya sih, tapi ya nggak satu jugaa, mana kenyang kalau cuma sebiji."
"Ya udah, kamu mau berapa biji?" pada akhirnya Adam mengalah.
"Lima." Rania bahkan tersenyum lebar dengan mengangkat kelima jarinya dengan semangat.
"Saosnya dicampur aja ya."
"Oke tunggu sebentar."
°°°
Undangan sudah disebar satu hari yang lalu, karena konsep pernikahan mereka memang tertutup, maka hanya sanak saudara dan beberapa kolega dekat yang mereka undang, bahkan teman sekantor Rania tidak ada yang tahu kalau Rania akan melepas masa lajang, mereka hanya tahu kalau Rania mengambil cuti selama empat hari, begitu ditanya alasannya apa, gadis itu hanya menyampaikan alibi yang sudah dia buat matang-matang.
"Duhh, anak mama, cantik banget."
"Selamat ya ... Cantiknya Mama."
"Makasih Ma."
"Setelah ini langsung tidur ya, Ran, besok acara bakal berlangsung panjang, takutnya kamu kecapekan."
Gadis itu mengangguk seadanya, lalu setelah selesai membantu Rania melepas gaun tadi, mama pamit untuk keluar terlebih dahulu.
Dan tahu apa yang Rania lakukan begitu pintu sudah mama tutup dari luar?
Dia menunduk, menangis begitu saja tanpa paham apa yang tengah dia rasakan sekarang ini.
Seakan kebas dan perasaan itu terlalu rumit untuk Rania mengerti.
Katanya mereka mau Rania bahagia.
Tapi apakah menikah dengan Adam bisa menjamin bahagia itu sendiri? Lalu bagaimana Rania menjalani hidupnya setelah ini? Bagaimana dengan Baskara? Seberapa hancur laki-laki itu nantinya ketika dia tahu Rania telah menikah dengan laki-laki lain.
"Nanti, kalau pada akhirnya kamu tahu, mungkin aku bakal jadi manusia paling antagonis dalam hidup kamu, Bas."
Manusia paling tidak punya hati.
°°°
Rania pov.
Kalau biasanya setelah bangun tidur gue langsung siap-siap pergi ke kantor, hari ini gue akan melewatkan rutinitas itu dan menggantinya dengan hal yang jauh lebih menenangkan. Sedang seseorang yang udah berdiri di depan gue berkali-kali bilang, "Rileks ya mbak, rileks."
Tapi mana bisa coyyy, ini aja mata gue udah sembab parah kayak orang abis tanding MMA gara-gara semalam gue nangis sampai pukul dua pagi, tahu-tahu gue bangun dan udah adzan subuh.
Gue jadi mikir, kalau aja gue menikah sama Baskara, apa gue bakal selemes sekarang? Gue bukannya nggak menghargai Adam, tapi memang nggak semudah itu buat nerima pernikahan ini. Gue bahkan nggak tahu gue akan bertahan dengan dasar apa nantinya. Sedangkan dalam pernikahan, lo juga butuh yang namanya cinta kan? Seengaknya ketika lo punya sedikit aja rasa cinta, rasa sayang ke pasangan lo, dua hal itu udah bisa jadi alasan untuk nggak pergi dari dia ketika nanti dalam pernikahan lo, lo bertemu dengan banyak masalah yang ngebuat lo muak, entah sama keadaannya, atau justru sama orang yang bersama lo.
Gue juga penasaran gimana perasaan Adam sekarang? Apa dia bahagia? Kayaknya nggak juga. Kayaknya dia juga nggak seseneng itu karena menikah sama gue, karena yaa... sama seperti gue, dia juga nggak mencintai gue.
Lucu ya.
Lucu gimana gue bisa berakhir seperti ini.
Lucu gimana gue bisa ninggalin orang yang udah tiga tahun lebih sama gue dan menikah begitu aja sama orang lain yang bahkan belum satu bulan gue kenal sama dia.
Rasanya gue lagi berada di puncak komedi. Dan gue nggak punya alat bantu apa pun untuk turun kemudian kembali ke keadaan gue yang sebelumnya.
Gue bisa denger gimana acara di luar di mulai, dan nggak lama setelah itu, setelah perias tadi selesai dengan wajah gue, mama masuk dengan memeluk gue erat, sedangkan suara Adam yang ngucap ijab kabul terdengar makin lantang, bahkan secara bersamaan, suara itu membunuh suara-suara yang lain, membuat gue nggak bisa denger suara apa pun kecuali gimana dia nyebut nama gue dan ayah gue dengan lantang dan satu tarikan napas.
Hhaahh.
Udah.
Gitu aja ceritanya.
Ketika Rania Atmaja, akhirnya sah jadi istri seorang Adam Limiardi.
Gimana gue senyum dan natap pantulan diri gue di cermin terlihat sangat miris. Tapi mama justru mengusap kedua pundak gue dan memeluk gue dengan erat, dibarengi ribuan ucapan terimakasih.
Ternyata mama sebahagia itu. Sangat kontras dengan gue yang justru nggak tahu harus gimana. Gue sedih, tapi di satu sisi gue malah nggak bisa nangis dan kasih tahu semua orang kalau gue lagi nggak baik-baik aja.
Lalu ketika kerabat gue datang dan membanjiri gue dengan banyak kata selamat, gue hanya menatap mereka satu per satu, Lagi-lagi di barengi senyum tipis, padahal kata selamat itu sendiri nggak pernah sampai ke dalam hati gue.
Gue nggak bahagia.
Gue ngga bisa ngerasain seneng seperti apa yang mereka rasain sekarang ini.