Our Long Story

Our Long Story
Chapter 15



Anehnya dari seorang Baskara, dia bisa menghindar dari alkohol ketika sedang bersama temannya—bukan lantaran sok suci atau apalah itu, dia hanya berpikir, setidaknya ada satu orang yang tidak mabuk supaya mereka bisa pulang dengan selamat, hanya saja ketika sampai di rumah, maka laki-laki itu akan meneguk alkoholnya sendiri, sampai diluar kemampuannya pasti, sampai dia berakhir hangover dan banyak hal yang tadinya rumit dalam kepalanya perlahan terurai satu persatu. Banyak hal yang lucunya hanya punya satu objek, banyak hal yang lucunya hanya tentang satu orang. Di saat biasanya Baskara jarang berpikir yang tidak-tidak tentang hubungan mereka ke depannya, malam ini, entah kenapa begitu berbeda. Ada banyak pertanyaan dalam diamnya laki-laki itu, terlebih ketika dia tengah tersenyum miring sambil menatap lampu ruangannya yang temaram.


Apa dia sudah melakukan yang terbaik untuk Rania selama ini?


Bahkan di saat dia tidak memberi gadis itu kepastian padahal mereka sudah berjalan cukup jauh?


Baskara tersenyum sekali lagi.


Seberapa lama kira-kira?


Seberapa lama Rania mampu menunggunya?


Kemudian laki-laki tersebut menutup matanya perlahan, pengaruh alkohol yang kuat membuat dia tidak kuat untuk menahan rasa kantuknya lagi, hingga pada detik selanjutnya dia benar-benar terlelap.


Sedang pada saat yang sama, hpnya berdering.


Raniaa 🖤


Makasih buat hadiahnya, Bas.


'Dan maaf, maaf kalau aku masih menerima hadiah ini seolah nggak terjadi apa-apa' pesan yang tidak Rania kirim. Pesan yang tadinya sudah dia ketik—panjang, tapi kemudian dia hapus cepat.


°°°


Pukul delapan malam, Adam sudah memarkirkan mobilnya di depan kantor Rania, sebelumnya dia sudah mengirimi Rania pesan, dan gadis itu bilang, sebentar lagi dia turun, tentu Adam tidak keluar, sebab dia tahu, selama tiga tahun lebih Rania bekerja di perusahaan ini, pasti dia punya banyak kenalan, dan pasti, pasti ada beberapa orang yang akrab dengan gadis itu sehingga berakhir tahu banyak hal tentang Rania, bahkan dengan siapa Rania menjalin hubungan, jadi tetap di mobil sepertinya lebih baik di banding turun.


"Lama ya? Maaf."


Ada sekitar 20 menit sampai pintu mobil dibuka dan gadis itu masuk kemudian duduk di samping Adam. Membuat Adam mengulas senyumnya sesaat, sebelum akhirnya menyalakan mesin mobil.


"Nggak juga."


20 menit belum bisa dibilang lama bagi Adam.


"Mampir dulu ya sebentar, pasti perut kamunya belum makan."


Rania sedikit tersenyum, terakhir makan memang siang tadi, selebihnya dia hanya minum sekotak susu coklat dari temannya.


Tapi—


"Turun."


"Gue nggak laper."


Kriuk~~~


Sekarang Adam menunduk, menatap perut Rania yang seketika dipegang oleh pemiliknya dengan cengiran lebar.


"Hehe."


Caranya tertawa benar-benar diluar prediksi Adam.


"Itu yang kamu bilang nggak laper?"


"Serius tauu gak laper." Rania sudah berjalan di belakang Adam untuk masuk ke rumah makan sederhana.


"Nggak tahu deh kenapa bisa bunyi." sambung gadis itu, masih berkata tegas jika dia tidak lapar, yang setahu Adam, kalau perut bunyi ya pasti lapar.


"Adam,"


"Hm?"


"Mau ngomong,"


"Silahkan."


"Jangan marah ya!" Kali ini Rania benar-benar memohon, mengundang kernyitan di dahi Adam.


"Ngomong dulu coba, biar saya dengerin." pinta Adam, nadanya masih lembut seperti biasa.


"Sebenarnya gue bingung, harus bilang atau enggak ke lo, tapi gue enggak enak kalau mesti bilang, takut lo-nya kesinggung, kalau nggak gue omongin juga gue tetep nggak enak."


Intinya Rania benar-benar tidak tahu tindakan seperti apa yang mesti dia ambil kali ini. Memberitahu Adam jelas akan menyakiti perasaan laki-laki itu, tidak memberitahunya dan membiarkan Adam tahu sendiri malah lebih terlihat jahat.


"Ran, kenapa?"


Tidak tahu, Rania tidak tahu.


Tiba-tiba saja dia menangis, dan dengan cepat mengusap air matanya, membuat Adam mendekat dan ikut mengusap bawah mata gadis itu.


"Dengerin saya, kalau kamu emang nggak mau kasih tahu hari ini, nggak apa-apa, jangan memaksakan diri kamu dan berakhir nangis kayak gini."


"Kayaknya gue emang jahat."


"Nggak, siapa yang bilang begitu."


Adam mengusap punggung Rania perlahan.


"Berhenti nyalahin diri kamu kayak gitu, saya paham kalau kamu butuh banyak waktu."


Tapi pada detik ini, Rania menahan tangan laki-laki itu, dengan tatapan paling sayu miliknya.


"Gimana kalau gue nggak bisa lupain Baskara, Dam?"


"Gimana kalau gue terus hidup dibawah bayang-bayang dia?


"Gimana dengan lo?"


"Semakin gue kenal sama lo, semakin gue ngerasa jahat karena gue harus nyiai-nyiain orang sebaik dan sesabar lo! Semakin gue kenal sama lo, semakin gue ngerasa bego karena diluar sana, pasti banyak yang pengen dapet kesempatan ini, tapi gue justru jadi orang paling nggak bersyukur karena gue malah nggak menganggap lo seperti yang seharusnya."


"Gue nggak berniat nyalahin takdir, tapi kenapa sih, Dam? Kenapa mesti kayak gini?"


"Kenapa yang terjadi sangat jauh dari yang gue perkirakan?"


Adam mengulas senyumnya, mungkin Rania lupa, jika ada saat di mana hidup memang berjalan dengan begitu lucu.


"Ini gue nggak apa-apa kan nangis di sini?"


"Nggak papa, nangis aja, sini saya peluk biar nggak dilihat orang yang lewat."


"Ishhh!"


Adam tertawa, lalu langsung merengkuh Rania dan mengusap bawa matanya lagi.


"Jangan nyalahin diri sendiri lagi ya, Ran, jangan ngerasa jadi orang jahat lagi, nggak peduli serumit apa keadaan nantinya, tetep aja, kamu nggak berhak buat disalahin. Paham, kan?"


"Jangan baik-baik, gue gampang luluh sama orang baik."


"Kalau gitu saya bakal lebih baik lagi dari ini."


"Ihh apaan coba?"


"Udah selesai belum nangisnya? Makan dulu ya,"


"Gue udah nggak punya tenaga."


"Saya suapin."


"Nggak deh, makasih."


"Yaudah makan sendiri."


"Iyaaaa."


°°°


"Dam, yang mau gue omongin tadi itu..."


Rania mengeluarkan kalungnya, membuat Adam secara otomatis melihat ke arah kalung tersebut.


"Gue dapet kalung ini dari Baskara, kayaknya minggu ini dia bakal pulang, dan cincin dari lo, sengaja gue simpen."


"Maaf yaa... kalau kesannya, gue nggak menghargai yang lo kasih."


"Nggak papa, nggak usah minta maaf."


"Lo marah?"


Adam tersenyum.


"Kalau saya marah nanti kamu nangis lagi kayak tadi nggak?"


"Ya nggak tahu, tapi sedih pasti."


"Nggak marah kok," jawab Adam.


"Nggak bakal marah, malah saya mau berterimakasih ke kamu."


Mendengar perkataan Adam, jelas Rania mengernyitkan keningnya bingung, pasalnya berterima kasih untuk apa? Dia tidak merasa pantas untuk mendapatkan kata itu dari Adam.


"Emang gue ngelakuin kebaikkan apa ya hari ini? Bukannya gue malah nyakitin perasaan lo? Bahkan di saat gue nggak ada rasa sama sekali ke lo, ketika lo nerima hadiah dari cewek lain aja kayaknya gue bakal marah."


"Wahhh, kayaknya saya mesti hati-hati kalau berinteraksi sama lawan jenis."


"Serius ihh, makasih buat apa?"


"Makasih aja." Adam bergerak untuk merapikan rambut gadis itu dari samping.


"Makasih karena kamu udah kasih tahu saya soal ini."