Our Long Story

Our Long Story
Chapter 24



Rania memekik heboh begitu selesai mendownload film horor thailand, kesannya mungkin agak berlebihan, tapi wifi di rumah beberapa hari terakhir memang lemot, bahkan untuk satu film dengan durasi satu jam saja butuh waktu tiga 3 lebih untuk mengunduhnya. Film ini rekomendasi dari rekan kerjanya, katanya sih tidak begitu seram, malah dominan lucu dan dipenuhi lawakan-lawakan, tapi apa?


"Aaaa!"


Gadis itu melempar bantalnya sampai mengenai laptop begitu hantu perempuan muncul dengan wajah seram dan rambut acak-acak yang diurai, padahal baru beberapa menit film tersebut Rania putar.


Jadi pada akhirnya dia mem-pause sebentar dengan decakan tidak habis pikir.


"Gua paling benci sama setan."


"Apalagi kalau tiba-tiba muncul tanpa dibarengi backsound serem, jantung gua copot ******!"


Kann, jadi mengomel begini dia.


Belum lagi ketika dia menutup laptop tersebut dan melihat sekeliling kamarnya, kenapa mendadak ikut menyeramkan sih? Gorden kamar Rania terus bergerak persis seperti gorden di rumah tua dalam film tadi, dan tiba-tiba saja angin berhembus lebih dingin, belum lagi di luar hujan dengan kilat menyambar sesekali.


"Adaam!" Dia berteriak, bergerak hati-hati untuk keluar dari kamar dan terus memanggil Adam.


"Damm, udah tidur?"


Tapi tidak ada jawaban sama sekali.


"Shitt!"


Asli ya, Rania paling anti dengan suasana mencekam begini, sesekali dia bahkan menoleh ke belakang, takut-takut kalau ada hantu yang mengikutinya dan muncul begitu saja membuat dia terkejut, saking was-was nya dia dengan kondisi di belakang, dia sampai tidak tahu kalau Adam sudah membuka pintu dan memperhatikannya sekarang ini, jadi begitu dia menoleh dan mendapati Adam, dia berteriak lebih kencang dari tadi.


"Aaaaahhh!"


Jangan tanya bagaimana Adam, mendapati istrinya yang aneh jelas dia langsung mendekat.


"Ran, heii kenapa?"


"Dam, takut!"


"Nggak-nggak, ada saya." Adam memeluk Rania, mencoba menenangkan gadis itu.


"Saya baru selesai mandi, maaf ya."


"Gua tadi lihat setan, serem."


"Di mana?" Heran dong Adam.


"Di film."


Kali ini Adam hanya tertawa sambil sesekali menepuk punggung Rania. Ada-ada saja jam segini malah menonton film horor.


"Gua takut."


"Sekarang masih takut?"


Tidak ada jawaban, tapi yang jelas Adam bisa merasakan bagaimana gadis itu mengangguk.


"Tidur di kamar saya kalau kamu takut."


"Terus lo tidur di mana?"


"Biar saya di bawah."


Rania melepaskan tubuh Adam, lalu mendongak menatap Adam dengan lebih jelas. Adam itu tulus, Rania mampus merasakan ketulusan dari laki-laki itu meski dia belum lama mengenal Adam. Jadi pada akhirnya dia menunduk dengan seulas senyum tipis.


"Nggak deh, gua tidur di kamar gue sendiri aja, kasihan lo kalau harus tidur di bawah."


"Saya nggak masalah."


"Tauu, gua yang nggak enak."


Rania tersenyum lagi, hampir berjalan untuk kembali ke kamar, tapi Adam lebih dulu bergerak untuk kemudian mengangkat tubuhnya, jelas Rania melotot kaget.


"Dam—"


Adam diam, tidak mengatakan apa-apa lagi.


Bahkan setelahnya Adam mengunci pintu rapat-rapat dan menyimpan kunci itu dalam saku celananya.


"Jangan memaksakan diri padahal kamu takut."


"Tapi gue—"


"Tidur yang nyenyak." Adam langsung mengambil selimut setelah mengusap rambut Rania, dan mengambil posisi tidur di bawah.


Melihat Adam meringkuk di bawahnya, Rania jadi merasa tidak enak. Apalagi bukan sekali dua kali Adam harus berkorban begini.


"Lo boleh kok tidur di ranjang, di luar hujan tuh, pasti dingin."


"Becanda?"


"Serius, sini."


Adam yang masih tidur menyamping di bawah sana mengedipkan matanya berulang, pasalnya ada angin apa sampai Rania mengizinkan dia untuk tidur seranjang dengannya? Cuma karena di luar hujan?


"Tidur doang nggak masalah deh kayaknya, buruan sini."


"Nggak apa-apa?"


"Ishhh buruu!"


"Anggep aja ini pembatas." Rania mengambil satu guling dan menempatkan guling itu di tengah-tengah mereka.


"Lo nggak boleh ngelewatin batas begitupun dengan gua."


Adam yang diberitahu hanya mengangguk-angguk, mirip bocah kecil sedang dinasehati oleh ibunya.


"Kalau sampai lo ngelewatin batas, gua bisa nendang lo dengan spontan."


"Paham?"


Ya setidaknya itu yang dikatakan Rania semalam sebelum keduanya tidur, tapi begitu Adam bangun, dia malah menemukan Rania tengah erat memeluknya, lalu guling yang dijadikan pembatasan entah hilang kemana, sepertinya Rania buang ke arah selatan, sebab sekarang guling itu berada di sana, Adam jadi tertawa pelan dengan satu tangan terlentang, bertanya-tanya kenapa Rania bisa memeluknya seperti sekarang, apalagi dia juga terlihat tidur dengan pulas, jadi mana tega Adam membangunkan gadis itu. Jadi dia lebih memilih untuk tidur lagi sebentar, rencananya dia akan bangun setelah adzan nanti, tapi lagi-lagi, gadis bernama Rania ini sungguh luas biasa.


"Dam," suaranya yang pelan membuat Adam menunduk.


"Hmm?"


"Ini beneran lo?"


Maksutnya? Adam sampai mengernyitkan kening tidak paham dengan pertanyaan yang baru saja Rania tanyakan, belum lagi ketika Rania merenggangkan pelukannya dan coba meraba-raba wajah Adam, yang terjadi selanjutnya rasanya begitu cepat, sampai-sampai Adam terkesiap.


"Aarghhhh!"


Bug.


Dug.


"Aakhhh!" Adam yang malang.


"Lo kenapa muluk-muluk gue?"


Gimana?


"Jelasin nggak?"


Bahkan gadis itu terlihat tidak peduli sama sekali dengan kondisi orang yang baru saja dia tendang dan kini tengah merintih kesakitan.


"Coba tanya sama diri kamu sendiri, ngapain meluk saya?"


"Kok gue?"


"Jelas-jelas bukan saya kan?"


"Ya terus kenapa bisa gue meluk lo coba?"


"Ran—" Kali ini Adam memejamkan matanya kuat-kuat, lelah sekaligus tidak paham dengan jalan pikir Rania.


"Kamu nanya saya, terus saya mesti nanya ke siapa?"


"Ihhh nggak tauuu, kalau pun gua yang meluk, harusnya lo cegah kek, apa kek."


"Kok jadi saya yang salah?"


"Ya emang lo."


Setelah Rania menyingkap selimut yang menutupi kakinya dan bergegas keluar dari kamar Adam, Lagi-lagi dia membuat Adam kebingungan bahkan sampai berkedip beberapa kali—mencoba mencerna keadaan yang sebenarnya.


Tapi konon katanya, perempuan memang seringnya begitu, mereka tidak mau disalahkan, dan sudah seharusnya yang laki-laki mengalah.


Ahh tapi entahlah.


"Ehh, Dam," Adam yang baru akan merapikan seprei menoleh ke arah pintu kamar, mendapati perempuan tersebut di sana dengan handuk yang sudah nangkring. Sekarang ini masih sangat pagi sebenarnya, adzan subuh saja baru terdengar.


"Kenapa?"


"Boleh minta shampo nggak? Shampo gua abis."


"Mau ambil sendiri atau saya yang ngambilin?"


"Ambil sendiri aja, lo taruh mana shamponya?"


"Di toilet, coba kamu cari."


Gadis itu mengangguk, melangkah ke arah toilet.


"Dam!"


"Kenapa?"


"Ini ada kecoa matiii!"


Astaga, padahal masih sangat pagi, tapi keadaan sudah runyam begini.


"Yaudah, nanti saya buang."


"Sekarang ajaa, geli."


Mau tidak mau Adam ke sana, Adam sudah menyiapkan alat-alat sederhana, tapi ternyata kecoa itu masih hidup, dia bahkan bisa bergerak lincah, membuat Rania berteriak bahkan sampai hampir terpeleset, beruntung Adam sigap menahan bahunya, meski tidak menguntungkan juga untuk mereka jika mereka harus sedekat ini, apalagi ketika Rania hendak bangun, otomatis jarak antara mereka semakin dekat, keduanya sampai bisa merasakan hembusan napas satu sama lain, bahkan Adam baru tahu, jika Rania punya tanda lahir di bibirnya, mungkin memang tidak banyak yang tahu, karena dari jauh, tanda titik ini tidak akan terlihat. Dan Rania—dia baru sadar kalau Adam punya hidung semancung ini, Rania yakin, mengikis jarak sedikit lebih dekat dari ini pasti bisa membuat hidung mereka bersentuhan, dan hidung Adam lah yang punya kontribusi besar.


Perlahan seperti ada yang mendorong mereka untuk lebih dekat pada satu sama lain, perlahan seperti ada yang menuntun mereka untuk memiringkan wajah pada arah yang berbeda, sampai akhirnya, Rania menjadi orang pertama yang sadar bahwa mereka akan melewati batas, dan dia mendorong tubuh Adam pelan.


----


Jgn lupa like n komen gaiss!!!