
Berulang kali Rania mengetuk kepalanya begitu dia berhasil ngibrit dan keluar dari kamar Adam, yang tadi itu, 'Gua sama dia mau ngapain?' bayangan keduanya masih melekat sampai sekarang, dan itu membuat Rania gila hingga ia mondar-mandir tidak tahu harus bagaimana. Kalau nanti dia bertemu Adam—salah, sudah jelas lah dia akan bertemu Adam, mereka saja satu rumah.
"Nggak-nggak, gua sama dia nggak boleh ketemu dulu, mau dikemanain nih muka?"
Lagi pula apa yang membuat mereka hampir melakukan itu sih?
Kecoa.
Iya benar kecoa.
"Kecoa sialan!"
Bisa-bisanya hewan sekecil itu menjebak Rania, maksutnya apa pura-pura mati padahal sehat walafiat? Kenapa juga tadi Rania heboh? Kenapa dia tidak terpeleset saja? Kenapa Adam harus sigap menolongnya dan—ahh, bayangan sialan tadi muncul lagi dengan sangat jelas, ibarat film mungkin setiap kali muncul ke permukaan pasti versi hd.
"Gimana yaa? Gua harus gimana?"
Minta maaf karena tidak mengizinkan Adam melakukan hal itu? Minta maaf karena mendorong Adam? Atau diam saja di dalam kamar begini?
Dan Adam—apa dia marah?
Rania menghela napas panjang setelahnya, karena kalau pun Adam marah, sepertinya memang wajar.
Gadis itu terlentang dan menatap langit-langit kamarnya dengan deru napas berat, dia jadi berpikir, apa iya hidup yang dijalani semua manusia pada akhirnya akan membaik? Apa tidak ada kemungkinan lain selain itu? Tapi katanya, pada akhirnya setiap orang akan bertemu dengan titik terangnya masing-masing, dan Rania penasaran, titik terang dalam hidupnya akan masalah ini seperti apa? Apa nantinya dia bisa melepas Baskara? Atau justru Adam yang akan melepaskan dia dan mereka berakhir hidup masing-masing?
"Tapi nggak peduli siapa yang akan hidup bersama orang lain, gue harap dia bisa bahagia, gua harap dia bisa dicintai dengan tulus, di mengerti perasaannya."
"Dan kalau pun titik terangnya berakhir dengan gua nggak bersama--sama salah satu dari kalian, doa gua masih sama."
Karena baik Adam maupun Baskara, mereka sama-sama lelaki baik yang pantas dilimpahi kebahagiaan, mereka sama-sama laki-laki tulus yang pantas dicintai.
"Aku nggak tahu harus ngejelasin semuanya dari mana, Bas, aku terlalu bingung dan takut."
"Aku bahkan nggak tahu apa yang ngebuat Adam memilih bertahan padahal jelas-jelas dia akan sering terluka karena aku yang belum bisa melepas kamu, karena aku egois, karena aku terlalu mikirin perasaanku sendiri."
°°°
20.00.
Sejauh ini Adam belum mendapati Rania keluar dari kamar, bahkan pintunya masih tertutup rapat, dan Adam sendiri hanya memperhatikan itu dari ruang tamu, apa iya Rania belum makan? tapi kalau pun sudah kapan?
Sebenarnya dia juga kenapa sih? Soal tadi memang membuat keadaan canggung, tapi setidaknya dia keluar sebentar untuk makan, kalau dia sakit bagaimana? Jadi dengan hela napas panjang Adam melangkah ke sana untuk mengetuk pintu beberapa kali, awalnya tidak ada sahutan apa pun, ketika Adam ingin menerobos masuk, pintunya malah kunci, Rania tidur?
"Ran, ini saya." Laki-laki itu masih tidak menyerah.
"Coba keluar sebentar," sambungnya lagi.
Sementara di dalam sana, Rania mengeliat ketika merasa ada yang memanggilnya, nyawanya bahkan belum terkumpul penuh ketika dia menyingkap selimut dan berjalan ke arah pintu, kemudian pintu kamar ia buka begitu saja seolah tidak ada yang terjadi di antara mereka.
"Dam," Dia menguap, menutup pintu lagi untuk berjalan ke kursi kemudian duduk di sana. Sekitar tiga menit ia masih memejamkan mata, dan bayangan itu menerpanya lagi, hingga membuat dia melebarkan matanya sempurna. Dia hampir berdiri dan ngacir lagi ke kamar, tapi Adam berhasil menahan bagian baju belakangnya, membuat gadis itu menoleh dengan wajah memerah persis seperti tadi pagi.
Kali ini Adam berdecak, lelah sekaligus heran dengan Rania yang benar-benar belum makan, dia tahu karena sekarang perut perempuan tersebut berbunyi.
"Lepas nggak?" Gadis itu melotot, tidak terima dengan Adam yang tiba-tiba menarik baju belakangnya dan membuat dia gagal lari.
"Nggak," jawab laki-laki itu.
"Ihh lepas gue bilang!"
"Makan dulu, seharian kamu nggak makan."
Ahh sialll! Rania bahkan baru sadar kalau dia belum makan seharian, pantas perutnya sekarang lapar.
Kemudian Adam melenggang pergi ke dapur untuk memasakkan gadis itu, tentu dengan bahan seadanya, karena di kulkas mereka nyaris tidak ada apa-apa.
Rania yang masih berdiri mencoba mengatur denyut jantungnya yang sedari tadi rasanya seperti mau copot karena ritme yang luar biasa, dan ketika dia menoleh, dia sudah mendapati Adam menggoreng sesuatu, hal itu membuatnya ikut ke dapur dan menyeret kursi di ruang makan untuk ia duduki, Adam yang tahu kalau Rania sekarang duduk di belakangnya hanya tersenyum tipis tanpa menoleh sedikit pun.
Laki-laki itu akan memasak makanan berkuah yang tentunya hangat malam ini, karena beberapa hari bisa dibilang dingin, jadi makanan berkuah pasti sangat cocok.
"Kenapa nggak beli aja? Repot kan kalau harus masak begini?"
Yang ditanya masih memotong beberapa daun bawang.
"Kenapa juga nggak masak makanan instan, ramen misalnya."
"Kamu sering makan ramen?"
Kali ini Rania mendadak excited, "Sering, sering banget, tuhhh! Gue aja sampai nyetok sebanyak itu."
"Mulai hari ini nggak boleh terlalu sering, kalau kamu laper malam-malam, bangunin saja aja, nanti saya masakin, makan makanan instan keseringan nggak baik buat kesehatan kamu."
'Apa sih, sok perhatian,' batin Rania.
Tapi yang Adam bilang tuh sebenarnya ada benarnya memang, mama juga dulu sering sekali mengomel ketika Rania mengonsumsi makanan instan secara berlebih.
"Dam, masak apa? Baunya enak!"
"Oh ya?"
Rania mengangguk, sementara Adam hanya tertawa dan segera menyiapkan masakannya di mangkuk, mangkuk satunya lagi ia isi nasi.
"Cobain."
"Jadi insecure."
"Nanti saya ajarin biar nggak lagi insecure."
Rania mendongak, menatap Adam tidak percaya, "Lo aja sibuk banget, mana sempet ngajarin gue."
"Weekend."
"Okee."
"Mau makan buah? Saya kupasin dulu."
Padahal Rania tuh belum mengiyakan, gadis itu jadi tertawa dan segera mencicipi masakan Adam, yang ternyata memang seenak itu, ini kalau Rania tidak melihat sendiri Adam memasak, mungkin dia tidak akan percaya dan menyangka Adam membelinya secara diam-diam.
"Buka resto aja gimana? Ini enak bangett!"
"Mau bantuin saya ngurus resto kalau saya beneran buka resto?" tanya Adam—laki-laki itu menggelengkan kepalanya dengan tawa pelan.
"Tapi serius deh, Dam, ini enak banget!"
"Kayaknya gua bakal nambah nasi."
Kalau Rania tahu masakan Adam seenak ini, dan Adam punya banyak waktu luang untuk memasak, dia akan memohon pada laki-laki itu untuk dimasakkan setiap hari.
Dia jadi membatin ketika menatap punggung Adam.
'Katanya jodoh itu cerminan diri, tapi kenapa dengan diri gue yang kayak gini malah dipertemukan sama orang sesempurna dia?'