Our Long Story

Our Long Story
Chapter 12



Dulu Rania sangat penasaran dengan pernikahan, tentang apa yang dirasakan oleh kedua mempelai, tentang apa yang dirasakan orang-orang terdekat dari kedua belah pihak, dan untuk hari ini, rasa penasaran itu sudah tidak ada lagi, berganti dengan tarikan napas panjang disertai kalimat yang begitu sederhana.


'Ternyata begini,'


Begini yang dia rasakan dalam pernikahannya.


Begitu keluar, para tamu langsung menyapanya dengan ucapan selamat secara silih berganti, disertai doa juga tentunya, yang kebanyakan dari mereka berdoa supaya pernikahan Rania dan Adam selalu dilimpahi kebahagiaan dan langgeng.


Rania jadi bingung harus menanggapi seperti apa, mengaminkan doa-doa tadi atau bagaimana?


Sementara Adam yang baru menghampiri gadis itu menyahut cepat, dengan segaris senyum tipis yang dia perlihatkan kepada para tamu.


"Aamiin, terima kasih atas doanya."


Dan melihat Adam sekarang membuat Rania bertanya-tanya dalam kepalanya sendiri.


'Apa yang sebenarnya lo rasain sekarang sih, Dam?'


'Apa lo beneran bahagia?'


'Gimana bisa? Sementara lo juga nggak menginginkan semua ini.'


"Apa?" Gadis itu menatap tangan Adam tidak mengerti, ketika Adam mengulurkan tangannya persis di depan Rania.


"Ikut sama saya."


"Ya kan bisa jalan sendiri-sendiri, harus banget gandengan? Kayak mau nyebrang tau nggak!"


Rania hampir berjalan lebih dulu, membuat Adam berdecak pelan dan segera menggandeng tangan gadis itu.


"Kata mama saya harus jagain kamu."


"Dengan cara kayak gini?"


"Iyaa, kamu nggak biasa pake sepatu hak tinggi kan? Jalan aja kerepotan begitu, makanya saya gandeng biar nggak jatuh."


Kemudian dengan hati-hati Adam mendekat dan berbisik pelan.


"Emang kamu nggak malu kalau nyungsep di antara banyak orang begini? Kalau saya sih, malu."


"Lo lagi ngedoain gue nyungsep?" Jelas Rania langsung bersungut-sungut. Membuat yang laki-laki tertawa pelan. Bukannya dia mendoakan, tapi yang dia lakukan semata-mata untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan tersebut.


"Habis ini langsung masuk ke dalam aja."


"Ih, lu mau ngapain?"


Bukannya apa-apa, tapi Rania tuh udah deg-degan dari tadi. Tapi di samping dia, Adam justru menatapnya dengan jengah.


"Nggak usah mikir yang enggak-enggak," kata laki-laki tersebut.


"Saya udah siapin sandal yang lebih nyaman buat kamu, jadi ganti dulu."


"Nggak apa-apa kok, gue masih kuat."


"Nggak, kaki kamu bisa merah-merah nanti."


°°°


"Lo mau ngapain?"


"Masuk."


"Nggak boleh, tunggu di sini dulu karena gue mau masuk."


Sekonyong-konyong Rania langsung menutup pintu setelah mengatakan itu, membuat Adam berkedip lucu karena lagi-lagi coba memahami situasinya.


Rania ini kenapa sih? Kenapa dia selalu berpikir yang tidak-tidak, padahal Adam hanya ingin mandi dan mengganti pakaiannya di dalam.


"Dam, kami pamit dulu ya." Mama dan keluarga yang lain menghampiri Adam, membuat laki-laki itu beranjak dan tersenyum tipis.


"Iya Ma."


"Jagain loh menantunya papa."


Sekali lagi Adam tersenyum. Dan begitu mereka sudah pergi, ketika Adam baru saja akan mendudukkan dirinya di kursi, pintu dibuka dengan kepala Rania yang sedikit menyembul dari sana.


"Dam,"


"Ya?"


"Tolong panggilin mbak-mbak yang tadi dong, bajunya susah dibuka."


"Mbak-mbak yang tadi kan udah pulang."


"Mama mana?"


"Udah pulang, baru aja."


"Ha? Serius?"


Kali ini Adam mengangguk dengan gestur sederhana, kontras dengan Rania yang rasanya ingin menangis.


"Kok lo diem aja sih mereka pulang."


"Terus saya mesti gimana?"


"Ya cegah kek, apa kek."


"Ya kamu juga kenapa nggak minta bantuan pas mereka masih di sini." Dari caranya menjawab Adam masih sangat santai, berbeda dengan Rania yang sudah bersungut-sungut emosi.


"Terus nasib gue gimana?"


"Coba lagi sana, siapa tahu bisa."


"Nggak bisa Dam, susah banget dibukanya."


"Mau saya bantu?"


"Dihh, ogah."


"Ya udah."


"Kok yaudah sih?" Rania protes.


Tuhkan!


Adam jadi bingung sendiri sekarang.


"Ya terus saya mesti gimana?" tanya laki-laki itu.


"Kamunya dibantu juga nggak mau."


Ya iya sih, tapi kan maksut Rania jangan Adam juga yang membantu dia. Setelah itu muka Rania mau ditaruh mana coba?


"Lo mau ngapain?" Melihat Adam yang berdiri lagi membuat Rania was-was, bahkan dia hampir menutup pintu, tapi tangan Adam lebih dulu mencegah itu dengan decakan pelan.


"Sini saya bantu."


"Ehh, nggak usah-nggak usah."


'Dia kenapa sih?' batin Adam tidak paham. Caranya melihat Adam seakan-akan Adam adalah hantu yang menyeramkan.


"Saya merem."


"Bener lho ya?"


"Iyaaaa."


"Awas kalau lo ngintip."


"Ngintip juga sebenarnya nggak dosa, orang tadi udah ijab qabul." Yang laki-laki berucap enteng, membuat Rania tidak segan menimpuk bahunya.


"Kok kamu kdrt sih sama saya?"


"Ya lo ngomongnya enteng banget perasaan."


"Tapi yang saya bilang nggak salah kan?"


"Adam!"


Kali ini Adam tertawa, dan segera membalik tubuh Rania sampai membelakangi dia.


"Iya-iya maaf."


"Merem!"


"Iya astaga."


°°°


"Adam! Lo masih lama?"


"Saya baru masuk, Ran."


Bahkan belum tiga menit Adam ke kamar mandi, tapi yang perempuan sudah teriak-teriak dari luar.


"Gue pulang duluan aja yaa, ngegojek."


"Iya."


'Anjirrr, punya suami nggak peduli banget sama istrinya.'


"Ohh, lo udah nggak peduli sama gue?" Rania berucap pelan dari luar kamar mandi, tapi caranya bicara begitu dingin, dan Adam masih mampu mendengar semua itu.


"Ya bukannya gitu, tapi kalau kamu nggak mau nungguin saya, ngegojek aja."


"Ishh!"


°°°


Begitu Adam keluar, laki-laki itu justru mendapati wajah Rania yang kelewat sebal, dengan Rania yang duduk di tepian kasur dan meliriknya dengan tatapan mematikan, dan jelas semua itu membuat pergerakannya terhenti, bahkan setelahnya, Adam membiarkan rambutnya yang basah tetap basah tanpa sempat dia usap untuk dia keringkan.


"Lo kalau mandi lama banget sih?" tanya gadis itu, nadanya masih belum bersahabat.


"Lama karena saya kira kamu udah pulang," jawab yang laki-laki, kalau Adam tahu Rania masih di sini, pasti dia sudah mempersingkat ritual mandinya.


"Pulang naik apa coba?"


"Kan katanya tadi mau nge-gojek."


Siallll.


Adam nih kalau kata Rania tipikal orang yang gampang percaya emang.


"Ya udah saya minta maaf."


"Iyeee."


"Nggak ikhlas banget jawabnya."


"Lo!"


Baru saja tangan Rania menunjuknya, tapi Adam segera menurunkan tangan itu dengan helaan napas pelan.


"Udah ya, jangan marah-marah."


"Begini juga nggak sopan sama suami," lanjutnya kemudian.


"Ya tapi gue kesel Adammm!"


"Iyaaa, kan sayanya juga udah minta maaf."


"Terserah deh, terserah!"


"Tunggu di mobil sana, biar barang-barangnya saya yang beresin." Adam mulai membereskan barang-barang mereka, sedangkan Rania, mau pergi dulu dia mana tega, apalagi dia tahu kalau Adam juga pasti sama lelahnya, jadi pada akhirnya dia memutuskan untuk membantu laki-laki itu sampai semuanya selesai.