
Rania menghela napasnya berkali-kali untuk hari ini. Pekerjaan di kantornya sudah cukup membuat dia kehabisan energi, belum lagi sepulang dari kantor dia harus makan malam bersama keluarga Adam, kalau biasanya perempuan itu bisa menghabiskan waktu selama berjam-jam hanya untuk merias diri, maka malam ini tidak, dia hanya mengenakan stelan kasual berupa baju polos putih yang dibalut kemeja bahan linen berwarna biru dongker serta celana jeans, untuk wajahnya, sekedar moisturizer tipis-tipis juga liptin berwarna keungguan, tapi menurut Adam, gadis itu masih terlihat cantik bahkan ketika dia ogah-ogahan seperti sekarang. Adam sengaja menjemput gadis itu ke rumah karena yang lain sudah lebih dulu menunggu mereka di restoran langganan keluarga Rania. Dan begitu masuk, Rania hanya diam dengan memalingkan wajahnya ke luar jendela, sesekali gadis itu memejamkan matanya karena dia betulan lelah, Adam yang menoleh dan memperhatikan dia dalam diam ikut menghela napas pelan, dan dia memilih untuk memutar lagu yang akhir-akhir ini kerap dia dengar. Time's up-Ha jin, yang mana, menurut Adam, lagu itu juga cukup menenangkan. Jadi siapa tahu, perasaan Rania bisa membaik setelah mendengar lagu tersebut.
Hanya saja,
"Lo tau ... lagu ini buat orang yang lagi putus asa karena kenyataan nggak berjalan sesuai dengan harapannya." Rania mengatakan itu setelah dia mendengarkan lagu yang Adam putar dengan baik, dia tahu lagu ini, bahkan setelah melewati reff untuk yang pertama kali, Rania langsung tersenyum getir meski tanpa menoleh atau sekedar melirik ke Adam.
"Kenapa ya...? Kenapa semua harus direncakan kalau pada akhirnya bakal begini?"
"Nggak ada satu hal pun yang berjalan sesuai rencana gue, brengsek emang!"
"Dan lagi-lagi gue harus nerima, lagi-lagi harus gue yang ngalah."
"Saya tahu, menikah dengan saya bukan bagian dari rencana kamu untuk sekarang ini."
Lagi—gadis itu tertawa.
"Emang! Dan gue nggak habis pikir kenapa lo masih ngotot nikahin gue!"
"Tapi Ran, pernah nggak kamu berdoa supaya kamu bisa bersama dengan orang yang paling baik?"
"Menurut lo Baskara bukan orang yang baik dan lo adalah orang yang baik itu? Gitu?"
Adam tersenyum.
"Nggak, saya nggak bilang dia orang jahat, tapi bisa jadi, ada yang lebih baik dari dia buat kamu, dan ada yang lebih baik dari kamu buat dia. Banyak yang belum kita tahu di sini."
"Gimana kalau gue nggak butuh orang paling baik atau apalah itu? Gimana kalau gue cuma mau Baskara?"
"Yakin?" tanya Adam, yang seketika menghentikan mobilnya dan menatap Rania dalam, bahkan mereka berakhir menatap satu sama lain dengan lirikan menghunus, seolah saling menyelami, untuk saat yang lumayan lama.
Sampai Adam menarik napasnya panjang dan kembali menjalankan mobilnya, sementara Rania, lagi-lagi ia tersenyum getir, bingung harus memahami bagian yang mana terlebih dahulu, karena semua sama-sama membuat dia bingung. Bagi Rania semua ini terlalu tiba-tiba juga mendadak, dia pun tidak punya persiapan apa-apa, jadi mana bisa langsung menerima begitu saja?
°°°
Begitu sampai Adam langsung membuka pintunya dan memilih masuk terlebih dahulu tanpa menunggu Rania, bahkan dia tidak menoleh sedikit pun, membuat Rania menyumpahi punggung itu dengan wajah kesal yang kentara, dia juga sengaja menghentakkan kakinya pada setiap langkah, supaya Adam setidaknya tahu kalau sekarang Rania sungguh muak dan ingin sekali melempar sendal yang ia kenakan sampai menimpuk kepala Adam.
"Apaan, sih? Jemput cuma buat formalitas doang, dasar nggak jelas!"
Tapi biarpun begitu Rania ogah menyamai langkah Adam, jadi dia hanya berjalan santai, tapi diluar dugaan, Adam tidak langsung masuk ke ruangan yang sudah dipesan, dia berdiri di ujung pintu, seperti menunggu Rania.
"Kenapa nggak langsung masuk? Takut dikira calon suami yang enggak baik karena nyelonong ninggal calon istrinya? Iya?"
Rania kemudian tertawa, jenis tawa mengejek dengan tarikan bibir begitu lebar.
Adam melirik Rania, tapi yang dilirik tidak ada takut-takutnya, malah dia makin mendekat ke Adam seperti menantang, lalu tersenyum culas sekali lagi sebelum membuka ruangan tersebut.
"Baru aja mama mau telpon," kata mama Rania begitu mereka sampai, mungkin mereka kira semuanya baik-baik saja, padahal banyak yang terjadi sebelum keduanya sampai di tempat itu.
"Makasih ya, Adam, udah jemput Rania."
"Makasih yaa..." Rania ikut berterimakasih dengan nada sok dilembutkan.
"Tapi lain kali, jangan nyelonong gitu dong, kan aku nggak bisa jalan cepet-cepet. Hampir aja aku jatuh tadi karena kamunya cepet banget."
"Bener, Dam?" tanya papa Adam, tapi sebelum Adam sempat menjawab, Rania lebih dulu menyela.
"Iya om, tapi nggak apa-apa kok."
Rania tersenyum sekali lagi, membuat Adam menghela napasnya pelan. Mungkin ini ujian untuk Adam, jadi sudah seharusnya Adam banyak-banyak bersabar menghadapi tingkah Rania.
Malam ini bukan hanya sekedar makan malam santai, tapi mereka juga akan membahas soal pernikahan keduanya, dan sudah berapa persen persiapan pernikahan mereka, apalagi kesannya juga mendadak, jadi pihak keluarga Rania khawatir kalau Adam kewalahan ketika dia memutuskan untuk mengurus semuanya sendiri.
"Rania bantuin saya kok, Tan."
Rania yang baru menyuapkan spageti ke mulutnya seketika terbatuk, yang langsung Adam ambilkan minum, di mata keluarga Rania, Adam betulan sosok yang cekatan, bahkan mama kalah cepat dari laki-laki itu padahal sekarang mama yang di samping Rania.
Rania sempat menatap tajam ke Adam, tapi Adam balas dengan senyuman lebar, jadi kesannya makin menyebalkan untuk Rania.
'Apaan sih, dia pikir gue peduli gitu soal pernikahan ini?'
"Bener Rania bantu kamu?" tanya mama Rania sedikit ragu.
"Iya Tan."
Dalam kepala Rania, sekarang ini Rania tengah memukul Adam dan menjambak rambut Adam dengan satu tarikan yang mengakibatkan rambut tersebut rontok dalam jumlah banyak, tidak sampai di sana, bahkan Rania juga meneriaki Adam dengan berbagai sumpah serapah, tapi yang sebenarnya, yang Rania lakukan justru melampiaskan kekesalannya itu pada daging steak yang tengah dia potong-potong sekarang, sambil terus menatap Adam dengan mata penuh emosi, membuat Adam berkedip lucu, bingung kenapa gadis di depannya seperti ingin membunuhnya begitu, yang lain pun sama, mama juga langsung menyadarkan Rania dari lamunannya lewat tepukan pelan yang mama berikan ke pundak Rania.
"Ran? Kenapa sih?"
Barulah Rania sadar, dan dia kaget ketika mendapati Adam masih santai memakan steak, bahkan rambutnya masih tertata rapi, Rania meneguk ludahnya kasar, ternyata yang tadi benar-benar hanya sekedar halusinasinya.
Padahal dia betulan ingin melakukan itu ke Adam.
'Argghh!'