
Dulu, setiap kali Baskara ada urusan pekerjaan diluar kota hingga tinggal di sana sampai berbulan-bulan, kepulangannyalah yang Rania nanti, tapi hari ini, begitu mendengar Baskara pulang, perasaannya justru campur aduk.
Tau apa yang lucu? Sebagian besar disinggahi oleh ketakutan milik gadis itu.
Rania pernah mendengar kalimat seperti ini, sebuah filosofi yang entah disampaikan oleh siapa dalam sebuah pembicaraan.
'Cinta itu menjagaku dari apa yang menyakitimu, bahkan oleh diriku sendiri,'
Tapi alih-alih menjaga, bukankah yang Rania lakukan sekarang tak ubahnya seseorang yang dengan sengaja menancapkan benda tajam perlahan tapi pasti ke tubuh laki-laki yang dicintainya melalui sebuah pelukan? Meskipun dia tahu, benda tajam itu akan membuat orang tersebut sakit bahkan berdarah-darah di akhir.
Meskipun Rania tahu, semakin dalam benda itu menancap, maka semakin tertatih pula seseorang tersebut.
'Tapi kalau bukan begini? Harusnya gimana? Harusnya apa yang gue lakukan? Jujur? Berterus terang kemudian gue akan kehilangan dia? Gue nggak bisa!'
Rania belum siap menjauh dari Baskara, Rania masih ingin mencarinya dalam setiap kesempatan, dan melihatnya berdiri setelah lebih dari satu bulan mereka tidak bertemu, membuat gadis itu berlari kencang dan langsung memeluk Baskara begitu dia sampai di hadapan Baskara.
"Ran, ini hujan." Baskara baru akan ke sana, tapi langkahnya kalah cepat dengan langkah yang Rania ambil.
"Setelah kita lama nggak ketemu, kamu pikir aku peduli?"
"Ya kan aku bisa ke sana, aku bisa nyamperin kamu, kenapa mesti lari-larian begini? Aku nggak bakal kemana-mana, aku udah nggak ada urusan apa pun lagi setelah ini."
"Bas,"
"Hm?"
'Nggak ada yang bisa kita perjuangin lagi sekarang.'
'Kita nggak punya kesempatan itu.'
'Yang aku pertanyakan, Bas, gimana dengan kamu? Ketika nanti kamu tau semuanya.'
"Kenapa?" tanya Baskara setelah lama Rania hanya diam sambil memeluk dirinya. Pelukan yang masih sama, tapi caranya menatap Baskara sangat berbeda dari biasanya, dan bukannya bertanya Rania kenapa, Baskara hanya mengusap punggungnya pelan, sambil menepuknya sesekali, karena mungkin... untuk sekarang hanya ini yang Rania butuhkan, alih-alih disudutkan dengan banyak pertanyaan yang hinggap pada kepala Baskara.
Gadis itu tersenyum setelah melepaskan Baskara, kemudian dia menatap Baskara dengan mata sedikit berkaca.
"Kangen aja."
'Tapi mata kamu...dia nggak mengambarkan kalimat itu sama sekali, Ran, jadi apa aku harus percaya?'
"I have something for you."
"What is?"
Baskara membuka pintu mobil, menunjukan buketnya yang sudah dia rangkai—ya meski tidak serapi di toko bunga mungkin.
"Jelek ya? Aku sama Lian emang nggak ada bakat sama sekali, sih, kalau soal beginian."
Rania sedikit melebarkan matanya.
"Emang kamu sendiri yang ngerakit ini?"
"Sama Lian."
"Really?"
"Iya." kali ini laki-laki itu tertawa pelan.
"Aku udah nonton beberapa video di youtube, tapi ya gitu... tetep aja hasilnya nggak memuaskan."
"Nggak memuaskan gimana, ini bagus tau, Bas."
"Begitu bagus?"
"Ihhh, benerann." Rania benar-benar melihatnya dengan mata berbinar, penuh akan kekaguman, terlebih ketika dia tahu kalau Baskara merakitnya sendiri. Ahh, tapi tumben sekali? Baskara tuh anti dengan hal-hal romantis begini, jadi Rania sedikit kaget.
"Seneng nggak?"
"Biar apa?"
"Biar mereka iri."
"Pacar siapa sih, suka pamer begini?"
Rania langsung mengalungkan tangannya dileher Baskara.
"Pacar siapa coba? Ya pacar kamu." Keduanya lantas tertawa, menertawakan kekonyolan mereka ketika saling bercanda.
Mungkin, untuk sebagian orang yang ada disekitar jalanan itu, mereka terlihat seperti pasangan idaman, tapi untuk satu orang yang menyaksikan semua itu melalui kaca mobilnya, rasanya sangat menyesakkan. Di titik ini Adam ingin sekali berteriak memanggil Rania agar Rania sadar akan keberadaannya, tapi lebih dari keinginan untuk diakui tersebut, justru dia merasa bahwa dia tidak punya hak apa pun, untuk sekedar marah, untuk sekedar tidak suka, karena mungkin, ini resiko ketika dia terlalu memaksa untuk masuk ke dalam hidup gadis itu.
°°°
"Kayaknya emang nggak banyak yang berubah dari kamu." Seseorang yang baru datang itu mengulas senyumnya, langkahnya yang anggun perlahan mendekati tempat di mana Adam tengah terduduk.
Lalu ketika dia benar-benar sampai di samping Adam, helaannya terdengar begitu panjang.
"Apa ya, Dam, bersaing sama orang yang dia cintai bener-bener enggak enak."
"Sekalipun kamu menang karena kamu bisa menikahi dia, tetep aja kamu kalah, karena dihatinya masih orang itu, bukan kamu."
"Begitu juga sebaliknya, sekalipun dia kalah, tetep, dia yang menang."
"Saya nggak butuh omong kosong itu sekarang."
Kali ini, seorang gadis dengan dress selutut itu tertawa, saat dia mendongak menatap arak-arakan awan, entah kenapa ucapan Adam terdengar begitu menggelikan dalam telinganya.
"Bukannya yang aku bilang itu bener?"
"Aku mencintai kamu, dan aku berakhir kalah ketika aku memaksa untuk bersaing sama orang yang kamu cintai, bedanya, aku nggak mendapat posisi sebagai orang penting dihidup kamu, aku juga nggak dapet perasaan itu, and for me, its so hurt."
"For your information, Dam, menyerah diawal nggak akan ngebuat kamu tertatih."
"Nggak ada pilihan menyerah untuk hal ini, jadi terimakasih atas nasihatnya."
Setelah itu Adam beranjak, berniat segera pergi dari tempat tersebut, tapi seseorang tadi justru menahan satu lengannya, membuat Adam menoleh—menemukan gadis itu tengah tersenyum miring.
"Aku nggak akan ganggu rumah tangga kalian, karena nggak peduli seberapa besar aku mencintai kamu—beruntungnya aku terlahir bukan menjadi seseorang yang licik."
"Bagus," kata Adam, melepaskan tangan itu dari lengannya.
Sekali lagi gadis itu tersenyum.
"Tapi kalau dia menyia-nyiakan kamu, jangan harap aku diam aja."
°°°
Di mobil Rania tidak banyak bicara seperti biasa, gadis itu hanya diam sambil sesekali melihat jalanan yang mereka lalui. Jika Baskara jelaskan, tatapan Rania tidak kosong, tapi juga tidak begitu menggambarkan jika pada detik ini, gadis itu bahagia.
Jadi pada detik selanjutnya, Baskara memutuskan untuk mengenggam tangan Rania, membuat Rania menoleh dengan seulas senyum tipis.
"Everything is gonna be okay," katanya pelan.
"Jadi jangan terlalu khawatir."
"Lagi pula ada aku, kan? Jadi jangan dipendem sendiri, semua orang butuh telingga untuk mendengar keluh kesah mereka, Ran. Tentang nggak enaknya hari ini milik mereka, tentang capeknya mereka, jenuhnya mereka, dan kamu punya aku. Kamu punya aku buat menceritakan semua itu."
"Pasti, aku pasti cari kamu."
"Tapi untuk saat ini, aku belum siap buat menceritakan apa pun itu, nggak apa-apa kan?"
"Sokayy, aku nggak akan maksa."
"Makasih, ya, Bas. Makasih karena kamu terus mengerti apa maunya aku."