Our Long Story

Our Long Story
Chapter 23



Seingat Rumi, dulu waktu mereka masih berteman dengan akrab, Adam selalu sarapan roti panggang dengan selai coklat, ditambah segelas susu putih dan beberapa potong buah, bisa dibilang, Adam ini tipikal manusia yang sangat menjaga pola makannya, Rumi saja heran dengan laki-laki itu, apalagi pola makan mereka memang sangat bertolak belakang. Di pagi hari yang seharusnya diisi dengan makanan-makanan ringan, Rumi justru bodo amat dengan menjadikan gorengan sebagai menu sarapannya.


Jadi melihat Adam tertawa ketika ia mendapati beberapa menu sehat di meja makan Rumi, Rumi jelas sudah tahu, tentang apa yang ditertawakan laki-laki itu.


"Sekarang gue paham, kalau hidup sehat itu penting." Ia menoleh, lalu lanjut dengan roti panggang yang masih dia buat.


"Semalem istri lo telpon, nanti jelasin ya, takutnya dia salah paham."


"Dan maaf juga kalau gue lancang angkat telpon lo, gua nggak tahu." Kemudian Rumi membawa roti tadi dan meletakkan persis di depan Adam.


"Kita masih temen, Dam, lo bisa cari gue kalau lo butuh temen ngobrol."


"Makasih."


"Cobain, dijamin enak." Beberapa bulan terakhir Rumi sering membuatnya, jadi dia yakin kalau hasilnya tidak begitu mengecewakan. Dan begitu Adam mencobanya, ternyata di luar dugaan, perempuan tersebut memang sudah handal.


"Kayaknya kamu udah bisa buka toko roti, Rum."


"Kannnn?" Rumi excited.


Jangan heran kenapa pada detik berikutnya gadis itu terkekeh, sebab sewaktu dia masih kecil, dia memang sempat mempunyai keinginan itu, membuka toko roti dan ikut turun tangan dibagian produksinya.


"Lo harus beli roti di gue minimal seminggu tiga kali kalau gue bener-bener dikasih rejeki dan kesempatan."


"Kasih saya diskon setiap saya beli."


"Nggak masalah."


Keduanya lantas tertawa.


Rumi jadi berpikir, terakhir kali mereka bisa mengobrol santai begini kapan ya? Mungkin sekitar tiga tahun yang lalu. Jadi dengan helaan napas ringan, gadis itu membatin, 'Kayaknya gue emang sekangen itu sama Adam yang kayak gini, Adam yang suka becanda, Adam yang bisa duduk berjam-jam sama gue.'


"Dam,"


"Hmm?"


"Jangan terlalu maksain diri ya!"


Adam mendongak, menatap Rumi lebih jelas.


"Lo harus bahagia, jadi kalau sama dia lo nggak kunjung bertemu sama kebahagiaan itu, cari kebahagiaan yang lain."


"Gue nggak berniat apa-apa, gue juga nggak bilang kalau bisa aja kebahagiaan itu ada di gue, karena sekalipun gua cinta sama lo, gua nggak akan ngerusak apa yang ngebuat lo bahagia. Gue harap lo ngerti sama apa yang gue omongin barusan."


°°°


Setelah dari kediaman Rumi, ada urusan di kampus yang mengharuskan dia datang padahal dia tidak ada jadwal mengajar hari ini, Adam hendak menghubungi Rania, supaya gadis itu tidak khawatir, tapi hpnya lowbat, jadi dia baru bisa bertemu Rania ketika pukul delapan malam, itu pun mereka sama-sama baru pulang bekerja.


"Ran,"


"Gua mau tidur, capek."


Gadis itu melangkah masuk ke kamarnya, meninggalkan Adam yang baru melepas dasi, dan melihat Rania yang buru-buru pergi seperti menghindar, jelas Adam menyusul dengan melangkah cepat, hingga ia bisa menarik lengan Rania.


"Bisa bicara sebentar nggak? Ada yang harus saya bicarain sama kamu."


"Besok aja yaa, gua capek banget."


"Lagian gua udah tahu kok, apa yang mau lo jelasin."


"Lo mau jelasin alasan dibalik kenapa semalem lo bisa tidur sama cewek lain, iya kan?"


"Saya nggak tidur sama dia." Adam cukup terhenyak dengan apa yang Rania katakan barusan, bahkan dengan spontan dia melepas tangan Rania.


"Bukannya gue udah bilang, lo nggak perlu menutupi apa-apa dari gue, gue nggak masalah."


Kali ini Adam sudah cukup frustasi.


"Ran, gimana bisa saya tidur sama perempuan lain, sementara saya udah punya istri?"


Tapi jawaban Rania tidak kalah frustasinya. "Ya karena gue nggak bisa menjalankan tugas dengan benar, jadi bisa-bisa aja. Kalau enggak, kenapa cewek itu bisa angkat telepon gue padahal gua telpon lo jam satu malam? Cewek sama cowok berduaan semalam itu ngapain? Ha? Nggak usah munafik lah, Dam, gua tahu lo cowok normal."


"Bedain normal sama nggak waras."


"Lo—"


Adam menghela napas panjang saat Rania mulai menunjuknya dengan mata memerah.


"Gua tahu ya gua salah, gue brengsek karena gue nggak bisa ngelepasin baskara di saat gue udah menikah sama lo, tapi gue nggak nyangka kalau lo bisa lebih brengsek dari gue." Dan saat gadis itu menangis, terisak dengan napas tersenggal, yang Adam lakukan hanya diam dengan menatapnya tidak habis pikir. Bagaimana bisa Rania berpikir sejauh itu tentang Adam.


"Gue nggak tahu kenapa gue nangis, gue nggak tahu kenapa gua harus marah, nggak tahu juga kenapa gue ngerasa dihianatin kayak gini. Tapi yang jelas, kayaknya pisah emang yang terbaik buat kita, gua bisa balik sama Baskara, dan lo bisa menikah sama perempuan itu."


"Kamu bicara apa, sih, Ran? Kenapa semua masalah yang terjadi selalu kamu kaitkan dengan cerai?"


"Ya terus lo mau apa? Kalau cewek itu hamil lo mau ngeduain gue dengan menikahi dia?"


"Kasih saya waktu buat ngejelasin siapa dia, oke? Dan jangan nangis kayak gini." Adam mendekat, mengusap bawah mata Rania, sebelum akhirnya memberanikan diri untuk memeluk gadis itu dengan mengusap punggungnya perlahan.


"Percaya sama saya, saya nggak sebrengsek itu, saya nggak mungkin macem-macem sama perempuan lain."


°°°


"Saya minta maaf yaa, maaf kalau saya ngebuat kamu khawatir dengan enggak pulang, dan maaf kalau saya ngebuat kamu berpikir yang enggak-enggak." Adam menuangkan segelas air putih untuk Rania, meski dia belum bicara apa pun semenjak selesai menangis, tapi sepertinya, dia sudah lebih tenang ketimbang tadi.


"Saya nggak berniat untuk nggak pulang, malam itu saya nggak sengaja mabuk, dan tiba-tiba Rumi datang kemudian membawa saya ke rumahnya, saya nggak bisa menyalahkan dia karena dia memang enggak tahu tempat saya tinggal sekarang, bahkan saya enggak mengundang dia ke pernikahan kita."


"Kami nggak melakukan apa-apa, saya tidur di ranjang sementara dia tidur di sofa luar, dia ke kamar lagi ketika HP saya berdering, kalau dia tahu kamu istri saya, mungkin dia nggak akan mengangkat telpon itu, karena ya begini, bisa-bisa kamu salah paham." Ada jeda, jeda yang di mana Adam tertawa pelan. Bahkan dia menggeleng geli ketika mengingat Rania yang menangis tadi.


"Kalau kamu bingung kenapa kamu nangis, kenapa kamu marah, kenapa kamu ngerasa dihianatin, kayaknya itu wajar, Ran, karena kalau pun kamu belum bisa mencintai saya, saya tetap suami kamu."


"Istri mana yang bisa biasa aja ketika dia salah paham dan mengira suaminya tidur sama perempuan lain?"


"Jadi sekali saya minta maaf."


"Kayaknya gue yang harus minta maaf, bukan lo." Rania mendongak.


"Gue asal tuduh, bahkan gue hampir nggak ngasih lo waktu buat ngejelasin apa yang sebenarnya terjadi, maaf ya, Damm."


"Saya maafin."


"Yang bener?"


kali ini Adam tertawa.


"Maunya kamu gimana sih? mau saya marah-marah?"


"Ya nggak gituu, tapi kan—"


"Dah sana tidur, katanya ngantuk."


"Makasih ya."


"Iyaaa."