
Listrik dirumah sakit tempat Joni dirawat padam total. Joni yang takut akan gelap, menutup matanya rapat rapat. Dan joni mendengar suara pintu kamarnya terbuka dan ada makhluk yang datang dan mendekati joni.
Sambil memanggil nama joni halus, Jonii Jonii oh Jonii bulu roma joni berdiri, merinding, tubuh joni diguncang guncang kencang, joni membuka mata dan kaget bukan kepalang seperti sesosok kuntilanak Mbok Ijah mengarahkan cahaya senter ke wajahnya dan joni menjerit histeris.
"Aaaaww tolooong . . ibuuu tolooong".
"Ealah joni joni kenapa teriak segala, ini mbok ijah tau, cemen".
"Hufh habisnya mbok ijah kayak hantu tua, untung jantung saya gak loncat". Mbok ijah mencubit pipi joni gemas.
Tring akhir nya lampu menyala sempurna. Joni yang besok sudah boleh pulang termenung tatapannya kosong, mbok ijah yang perhatikan joni termenung bertanya.
"Kenapa muka nya manyun gitu? Apa yang sedang dipikirkan wahai anak muda?".
"Saya bingung mbok habis keluar dari rumah sakit ini harus kemana melangkah, saya tidak punya tujuan mbok, saya hanya sebatang kara disini mbok".
"Hmm kalau kamu mau ikut mbok saja, gimana?".
"Apa boleh mbok? Saya takut merepotkan mbok".
"Tidak mengapa nyonyah orang nya baik kok, dan pasti nyonyah tidak keberatan dan bakal kasih kamu kerjaan juga".
"Nyonyah siapa mbok?".
"Nyonyah Lunna, nyonyah si mbok, mbok kan ART dirumah nyonyah Lunna".
"Iya deh mbok saya mau ikut mbok, dari pada saya menjadi gembel dijalanan".
"Anak pinter, besok pagi mbok jemput ya, dah tidur udah larut juga, mbok mau pulang, takut dicariin nyonyah". Mbok ijah terbang kerumah nyonyah.
"Berada dirumah nyonyah".
Pagi yang di tunggu tunggu datang juga akhirnya, mbok ijah datang menjemput joni naik mobil alphard nyonyah, joni ikut masuk setelah mbok ijah duluan yang masuk. Di dalam mobil ada kang Tisna sopir keluarga nyonyah dan tentunya mbok ijah.
Kang Tisna enggan ngobrol dengan Joni, dia lebih milih diam dan mendengarkan mbok ijah dan joni talk talk. Sampai depan pagar rumah nyonyah yang terbuka otomatis, joni clingak clinguk takjub melihat rumah sebesar gedung serba guna.
Banyak mobil mewah berjejer di depan halaman yang luas, ada kolam renang dan lapangan golf juga. Joni mengekor di belakang mbok ijah masuk lewat pintu samping yang disentuh pintunya terbuka dengan sendiri alias otomatis.
Para asisten rumah tangga yang lain melihat joni dari atas sampai bawah dan berhenti pandangan nya di bagian tengah joni yang terlihat sama keren nya dengan wajah joni walau hanya dilihat dari luar.
Begitu pikiran mereka, ada juga yang cuek dengan kedatangan joni. Mbok ijah membawa joni kekamar yang akan ditempati joni. Ukuran kamar yang cukup besar, sudah lengkap semua fasilitas dalam kamar, ada tv, kulkas mini lemari tempat tidur dan juga kamar mandi tak lupa pake pendingin ruangan juga alias ac.
Berhubung nyonyah tidak ada dirumah lagi keluar negeri sama geng sosialita nya ke hongkong, joni belum dikenalkan secara langsung pada nyonyah. Joni yang sedang mencoba kasur barunya merasa sangat beruntung dan bersyukur masih ada orang yang berhati mulia mau menampung dirinya yang hidup merana di Ibu Kota ini.
Joni beranjak keluar kamar karena bosan, mencari mbok ijah barangkali ada yang bisa dibantu kerjakan pikir joni. Mbok ijah yang sedang membersihkan kolam renang dari dedaunan yang berguguran dikejutkan joni dan hampir saja mbok ijah terpeleset jatuh ke kolam renang, untung cepat ditangkap joni. Joni gituloh pria cepat tanggap situasi darurat.
"kamu ya bocah bikin saya hampir celaka".
"maaf mbok saya gak bermaksud begitu, sekali lagi maaf ya mbok". Joni nyengir kuda dan memperlihatkan giginya yang tersusun rapih.
"yadah ni gantiin si mbok bersihkan kolam, mbok mau luluran dulu, daki mbok udah numpuk, hehe".
joni melihat sekeliling memperhatikan ada orang apa tidak didekat kolam renang, karena mau buka baju dan berenang polos. Byuuurr suara air terdengar dan joni sudah berada di tengah kolam renang, berenang kesana kemari dengan hati riang.
Maiya Zea mengambil baju renang di dalam lemari kaca besar nan tinggi. Mencari baju renang miliknya dan segera memakai kan ke tubuh indahnya. Mencari baju handuk dan turun kelantai bawah tempat kolam renang berada, dengan segelas jus jeruk ditangan dan sambil mainkan hape, setiba nya dikolam renang besar dan luas itu, maiya zea melihat seperti ada orang yang sedang berenang.
Maiya zea mengerutkan dahi mencoba berpikir mamim dan papim nya sedang tidak berada dirumah, lalu siapa itu yang sedang berenang?.
"heh siapa lo, cepat keluar". Joni mendengar ada yang menyuruh nya keluar dan menyembulkan kepala keatas air, karena kalau keluar sekarang tidak mungkin karena dia sedang bugil, malu atuh.
"sa saya joni, maaf tadi saya tersesat".
"apa apaan lu main berenang dirumah orang, lu maling ya?. Help help pak agus, kang tisna cepat kesinii ada maling". Teriak maiya zea keras dan kedua orang yang dipanggil namanya segera ke arah suara anak nyonyah mereka tersebut.
"Ada apa non ada apa?".
"itu ada maling didalam kolam renang". Sambil menunjuk kearah joni. Dan kedua lelaki paruh baya itu segera menyuruh joni ketepi kolam dan keluar, joni tidak mau keluar dan akhirnya terpaksa ditarik keluar kolam.
Kang Tisna menyadari kalau pria tersebut Joni dan terkejut melihat Joni polos segera mengambil sarung miliknya yang selalu dikalungkan dileher dan menutupi batang joni yang terlihat kekar dan besar itu.
"nona maiya maaf ini teh si Joni, bukan maling atuh, dia dibawa kesini sama mbok ijah nona".
"hah maksudnya?".
"emm nanti nona tanya saja sama mbok ijah, saya permisi dulu bawa joni".
"Apa apaan sih, bikin mood gue berantakan aja tu cowok, siapa sih tu dia". Maiya zea yang badmood memanggil mbok ijah ke kolam renang.
"Ada apa nona cantik memanggil si mbok".
"Joni siapa?".
"Joni Joni ooh si Joni, itu pemuda malang kalilah hidupnya non makanya saya bawa kesini, supaya hidupnya tidak merana lagi non".
"haduh mbok ijah bikin saya stres, saya gak ngerti".
"Jadii gini non bla bla . .". Mbok ijah menceritakan semua dari awal sampai akhir gimana dia bertemu dengan joni, Maiya Zea terharu mendengar cerita mbok ijah bagaimana joni bisa dia bawa kerumah nya.
Maiya zea yang memiliki sifat sensitif menangis terisak dan berlari kekamar nya dan hanyut dalam kesedihan yang melanda.
Hari berikutnya mendengar kabar nyonyah lunna chita yang sudah berada dirumah, mbok ijah bawa joni kehadapan nyonyah yang sedang memainkan laptopnya di gazebo depan.
"Siang nyonyah, ini si joni yang saya ceritakan kemarin".
"Hmm. . ".
"Saya permisi kebelakang dulu nyonyah, permisi".
Mbok ijah pamit dengan sopan dan meninggalkan joni sendirian yang berdiri mematung di hadapan nyonyah. Setelah selesai dengan urusan laptopnya nyonyah berdiri dan menarik tangan joni hingga sampai ke salah satu kamar dilantai bawah. Di dalam kamar ...
Bersambung.