
Penyamaran kang Tisna sampai sekarang tidak diketahui anak dan menantunya, kang Tisna sembunyikan, biar nanti takdir saja yang membuka semua pemberanan. Hari kedatangan Hendricko Cahyo di ibukota disambut meriah dan mewah, banyak hidangan makanan tersaji dirumah, sengaja kang Tisna menghilang lagi dan bersembunyi di apartemen, supaya Hendricko tidak mengetahui keberadaan nya.
Wajah Hendricko murung dan sedih, alasan dia pulang kampung yaitu, kekasih nya Jhonson mencampakkan Hendricko dan memilih pria lain. Hendricko ingin melampiaskan ke kecewaan hati nya bermain cinta dengan pria tampan. Hendricko menghubungi seseorang.
"Carikan saya pemain baru yang handal dan tampan supaya saya puas dan akan saya berikan imbalan sangat besar, faham kamu Tyo".
"Ba baik big boss saya akan laksanakan tugas dengan baik, kali ini tidak akan mengecewakan big boss". Tutut sambungan telpon diputus.
"Mampus gue, stok cuma anak ingusan yang ada, siapa yang harus gue cari, benar si Joni cuma dia satu satunya orang yang masuk kriteria". Tyo bergegas ke ibu kota, melaju kan mobil dengan kecepatan tinggi.
Sampai dirumah Hendricko mendapat pelukan mesra dari sang istri dan anak tercinta, dan juga tepuk tangan dari para ART.
"Papip betah banget sih disana, di susul juga gak boleh, gak kangen apa sama anaknya".
"Kangen donk, papip banyak urusan disana honey, maaf ya, ni papip bawain banyak oleh oleh".
"Yee makasih papip".
Setelah nyonyah dan tuan masuk ke dalam rumah, para ART memakan dengan lahap sajian yang tersedia, Joni juga baru selesai menyantap Diana Eddah diruang laundry karena semua staff berada dihalaman luar menyambut tuan.
Nyonyah dan tuan seharian berada di dalam kamar, melakukan kewajiban suami dan istri, dari atas kasur, guling guling di atas lantai, atas sofa, menempel di jendela yang kacanya super besar, hingga di kamar mandi, dalam bathub semua pose mereka coba, sampai kelehan dan sampai tenaga terakhir.
Tiga hari tiga malam sudah mereka melakukan ritual penanaman benih di dalam rahim. Hendricko hari ini berencana menemui ayahanda tercinta dipemakaman ibunda nya, mengenakan stelan jas hitam menambah kesan macho pada Hendricko.
ODia hanya pergi sendirian karena ayahanda melarang membawa serta istri dan anak. Mengendarai lambo silver melaju kencang ke pemakaman. Sampai disana ayahanda sudah menunggu kedatangan Hendricko.
"Ayaaah, aku datang". Memeluk tubuh kang Tisna.
"Anak ku Hendricko". Membalas pelukan. "Maaf ayah aku datang terlambat".
"Belum terlambat Hendric, belum, kamu masih bisa memperbaiki semuanya."
"Aku tidak bisa ayah, jangan memaksa aku, kalau tidak aku akan bunuh diri".
"Jangan tinggalkan ayah sendiri didunia ini, ayah cuma punya kamu".
"Maka nya jangan paksa aku untuk berubah, aku pamit, jaga kesehatan ayah, aku sayang ayah". Hendricko pergi meninggalkan ayah nya sendirian.
"Honey, apakah dosa kita dimasa lalu, hingga Hendric seperti ini". sambil mengusap batu nisan istri tercinta dan kang Tisna menitikkan air mata.
Merasa bosan dirumah saja Joni berencana jalan jalan sendirian di mall, sekedar mencuci mata. Mengendarai motor mirip Valentino Rossi ke mall. Sampailah Joni di mall, dia berencana ke salon ingin creambath rambut dan facial wajah.
Ditempat lain Hendricko sudah sampai disebuah kamar hotel mewah menunggu kedatangan Tyo Prasetyo yang akan membawakan nya mainan baru. Namun Tyo tidak bisa memberikan apa yang Hendricko mau, perut Tyo ditendang Hendricko membuat dia tersungkur.
Tyo berjanji beri dia kesempatan sekali lagi sampai nanti sore akan membawakan mainan sesuai permintaan big boss Hendricko.
"Baik sampai sore, lewat dari itu kamu akan saya habisin".
"iii yaa big boss saya mengerti, saya pamit big boss". Tyo pergi keluar hotel.
"Sialan tu Joni, dimana dia bersembunyi, awas saja kalau ketemu gue cincang tu adik kecilnya sampai habis". Tyo kesal dan sangat marah.
Tyo memarkirkan mobil di sebuah mall untuk menenangkan diri sejenak. Memesan secangkir kopi dan menghirup vape duduk dekat jendela, hendak menyeruput kopi mata nya menangkap sosok Joni sedang berjalan santai menenteng tas belanjaan.
Kopi di tangan tumpah dan berserakan di baju Tyo, tidak dihiraukan, Tyo berlari mengejar Joni dan membekap mulut Joni dari belakang dan menodongkan sebuah pistol di pinggang Joni.
"Siapa kamu?". Joni menoleh kebelakang dan kaget bukan main itu adalah Tyo Prastyo, orang yang tidak ingin ditemui Joni lagi dihidupnya.
"Jangan banyak bacot lu, ikut atau lu mati".
"iya iya bang aku ikut, tapi kita kan bisa jalan santai, tidak dekatan kayak gini bang, aku gak bakal kabur bang, janji". Tyo melepaskan Joni dan mengikuti ke mana arah Tyo pergi.
Sampai diparkiran Tyo menyuruh Joni masuk dan mengikat tangan serta kaki Joni, supaya Joni tidak bisa melawan, tak lupa mulut Joni juga dilakban. Joni hanya diam percuma juga melawan orang yang sudah tidak punya akal sehat.
Sampai dihotel Tyo melepaskan ikatan Joni dan juga lakban dimulut.
"Abang mau jual saya lagi ke bule?".
"Bukan bule oon, ke big boss konglomerat, kalau lu gak bisa bahagiin dia, lu bakal melarat, faham lu".
"Iyaa iyaa". Joni hanya bisa pasrah tak ikhlas, dia sudah tidak mau merelakan lubang belakangnya lagi, dari pada mati ditembak Tyo, mending rasain nyeri dilobang belakang.
Sampai pintu kamar hotel big boss, Tyo dan Joni masuk, Hendricko sedang meneguk botol wine dan sedikit mabuk.
"Bos ini dia orang yang saya janjikan".
"Bagus keluar kamu, tinggalkan saya berdua". Tyo keluar dan Joni harus menghadapi pria berkelainan itu.
Joni punya ide supaya tidak menyakiti lubang belakangnya sendiri. Dia mendekati big boss dan mengusap pipi bibir hingga dada bigboss, mengelus rudal big boss lembut dan mengambil alih botol wine.
Joni menuangkan ke mulut big boss semua wine yang bisa membuat big boss mabuk berat dan tidak sadarkan diri. Setelah pingsan Joni meletakkan tubuh big boss atas kasur dan membuka stelan jas yang dikenakan.
Duduk disamping big boss dan memperhatikan wajahnya, Joni pernah melihat wajah ini tapi dimana, Joni lupa. Joni main ponsel dan menyalakan rokok menunggu big boss bangun. Semenjak kepulangan tuan besar Joni tidak ada job dari nyonyah maupun nona dan Joni juga tidak tau kalau big boss adalah suami nyonyah.
Sejam kemudian big boss tersadar dan Joni mulai berakting.
"Honey kamu udah bangun, tadi sungguh permainan yang luar biasa". Joni mencium pipi big boss dan merebahkan kepalanya diatas dada big boss. "Sungguhkah?".
"Iyaa honey aku tidak berbohong, sungguh hot rasanya". Joni berbohong dan memakai kembali pakaiannya.
"Aku mau pulang honey udah malam".
"Kok cepat banget, apa kita tambah seronde lagi".
"No no honey, besok saja kita lanjutin, aku mau kerumah sakit, jagain ibu aku". Lagi Joni berbohong.
"Wait, ketik nomor kamu disini, biar aku bisa menghubungi kamu tanpa Tyo". Joni mengangguk, mengetik di hape big boss dan memeluk tubuhnya.
"Apa kamu yakin tidak mau main sekali lagi". Big boss meyakinkan Joni. Joni menggeleng, big boss paham tidak mungkin memaksa, kemudian big boss menyerahkan amplop tebal berisi tumpukan uang dollar ketangan Joni.
Joni mengambilnya berucap thank you ditelinga big boss mesra dan meninggalkan big boss dikamar hotel sendiri.
"Asshh sial aku lupa menanyakan namanya, tapi untung nomor hape nya sudah aku minta, sungguh gemes dan imut sekali dia". Big boss tersenyum sendiri memikirkan Joni.
Sementara itu Joni sedang memikirkan cara membalas perbuatan Tyo.
Bersambung.