Oh Joni !

Oh Joni !
Bab 3. Kepergian Joni



Joni membuka baju dan celana Dinda setelahnya mereka berdua menjadi polos. Joni yang sudah belajar cara bercinta membuka kaki dinda lebar lebar dan mulai menjilati bibir bawah Dinda rakus.


Seolah sudah pemain pro jarinya pun dikocokkan dalam lubang nikmat Dinda membuat Dinda menggeliat. Joni menjalar naik kedua bukit Dinda menyusu seperti bayi yang kehausan setelah puas Joni meremas nya dan menjepitkan batang Joni dikedua payudara Dinda.


Menggoyangkan pinggul maju mundur Joni melenguh nikmat dan mendesah. Kemudian batang Joni menerobos masuk kedalam gua tersempit dimuka bumi ini tapi lembab penuh lendir. Sekali hentak Dinda terperangah karena tak menyangka punya Joni kepala nya besar dan panjang urat nya keliatan.


Kedua nya terbang melayang kedalam kenikmatan duniawi. Joni mempercepat genjotan nya dan memuntahkahn lendir pekat keatas perut Dinda. Dinda tersenyum puas pada Joni dan mengacungkan keempat jempolnya pada Joni.


Joni tak menyangka dia bakal seperkasa itu dan tahan lama. Malam itu takkan pernah dilupakan Joni sebagai bekal petualangan cinta nya dimasa depan. Pengalaman pertama Joni dengan sepupu nya sungguh berkesan dihati Joni.


***


Joni memutuskan untuk pergi mengadu ayam didesa tetangga. Bercanda bukan begitu maksudnya pergi mengadu nasib tak mungkin selamanya bertengger dengan sang nenek dan menumpang hidup sampai mati disana.


Kehidupan nenek Joni sederhana saja tiap bulan hanya mengharapkan kiriman uang dari anak anak nenek untuk biaya hidup ditambah lagi kebutuhan Juna yang tidak sedikit dan tiap bulan berobat kerumah sakit.


Nenek punya sawah tapi sudah dijual untuk merenovasi rumah dan lebih nya untuk simpanan nenek. Dengan berat hati sang nenek melepaskan kepergian Joni dan nenek memberikan kartu atm yg nominalnya lumayan untuk bertahan hidup kalau Joni tidak boros.


Desa sebelah sebenar nya tidak terlalu jauh dari rumah nenek tapi karena di desa Remang Senja nama kelurga Joni sudah tercoreng Joni memilih merantau.


Tak lupa Joni memeluk tubuh adik nya untuk terakhir kali bertemu dan berpamitan dengan sang nenek. Setelah menempuh 1jam perjalanan bus yang ditumpangi Joni pecah ban dan terpaksa semua penumpang turun sampai ban mobil selesai diganti.


Cacing diperut Joni meronta minta diisi. Joni berjalan mencari tempat makan terdekat sambil menghisap rokok ditangan. Diseberang jalan ada warung nasi "Warung Janda Boleh dicoba".


Joni tertawa melihat tulisannya karena sudah lapar parah Joni masuk kewarung tersebut. Sampai didalam Joni memilih duduk paling pojok sambil melihat hamparan sawah yang luas.


"Mau pesan apa adik ganteng mau coba bagian yang sebelah mana mau langsung dicolok juga boleh". Ucap salah seorang waiters disana sambil menggerakkan bahunya kesana kemari.


Joni risih melihat wanita muda tersebut yang memakai baju mini namun tetap memilih salah satu menu nasi ayam bakar madu dan juga teh es.


Karena genit sang wanita muda menunduk menampakkan belahan bagian atas nya tepat dimata Joni berpura tidak melihat pesanan yang ditunjuk Joni.


"Yang mana tadi pesanannya adik ganteng aku gak lihat." Joni menelan slivanya kemudian menunjukkan lagi menu ayam bakar dan matanya tak berkedip memandang milik wanita itu.


Melihat joni seperti itu sang wanita berucap, "Mau nyedot susu langsung gak adik ganteng. Kalau iya dibelakang saya tunggu".


Joni hanya terdiam wanita itu berlalu sambil menggoyangkan pinggulnya meninggalkan Joni. Makanan datang diantarkan oleh pria seumuran Joni. Lalu menyerahkan selembar kertas ketangan Joni.


Joni membacanya "Adik ganteng mbak tunggu dibilik no.13 jangan lupa datang". Setelah membacanya Joni meremuk kertas tersebut. Nanti saja setelah makan aku pikirkan lagi aku sangat lapar gumam Joni dalam hati.


Setelah bersendawa besar Joni hendak ke kamar mandi melewati lorong panjang ada beberapa kamar beserta nomor. Joni jadi teringat kamar no.13 dicari nya kamar tersebut dan hendak membuka pintu tangan Joni langsung ditarik masuk kedalam, dan sedetik kemudian Joni berada dalam pelukan seorang wanita muda yang lumayan cantik kulit agak sawo matang dan rambut panjang sebahu.


Wanita muda itu bernama Tya dengan cepat dia mengambil dompet Joni dan melihat uang didalamnya hanya lima lembar uang berwarna biru. Tya mengambil semua uang Joni.


"Adik ganteng kalau sudah masuk kekamar ini berarti harus membayar saya. Ngerti gak sih. Dahlah cepat buka bajunya biar kerjaan saya cepat selesai". Ucap Tya.


"Maksudnya mbak, saya gak ngerti coba dijelaskan lagi. Kembalikan uang saya. Kenapa juga saya buka baju. Saya mau pergi dari sini".


Joni sambil berusaha mengambil uangnya dan berhasil Joni dengan sigap kabur dari kamar itu. Tya meraih hp menelpon mami.


"hallo mami mangsa kabur". Suara telpon ditutup dan Tya keluar dari kamar.


Joni yang sudah berhasil kabur dicegat oleh dua orang laki berbadan jumbo. Dan diantara mereka ada Mami yang punya warung nasi berpenampilan menor rambut warna warni seperti pelangi ada tato disana sini dan sendalnya tinggi sekali tak tau harus berkata apalagi.


Joni dihajar oleh bodyguard mami tanpa belas kasihan. Joni pingsan dan mami mengambil semua isi dompet dan meninggalkan tubuh Joni begitu saja.


Malam semakin larut dan hanya terdengar suara burung hantu tut tut tut perkutut. Garing. Joni terjaga dari pingsannya melihat sekeliling mencoba menerka, ini dimana disurga apa neraka ternyata masih didunia.


Didalam sebuah kamar yang cukup nyaman ketika menoleh kesamping Joni terkejut bukan kepalang ada pria yang sedang tidur bertelanjang dada tengah memeluk dirinya mesra.


Joni berteriak "Tolooong tolooong siapa saja every body home". Suara Joni membuat pria itu bangun dan menjitak kepala Joni.


"Berisik banget lu taik. Budeg ni gua. Udah tidur aja pake teriak lontang lontong". Pria itu kembali tidur tanpa berkata apapun pada Joni.


Nyali Joni menciut dia melihat jam di dinding pukul 4 pagi dan takkan mungkin ada yang menolong juga Joni kembali memejamkan mata. Siapakah pria disamping Joni malaikat atau jini oh jini. . ?.


Ayam berkotek tanda akan bertelur, ayam berkukuk tanda sudah pagi.


"Selaaaamat pagi duhai kekasih sebutlah namaku menjelang onanii mu. ." Terdengar nyanyian dari dalam kamar mandi dan membuat Joni terbangun dari mimpi dan bicara sendiri,


"Liriknya salah itu dasar sableng, duh laper.." Joni keluar kamar clingak clinguk hendak mencari makanan didapur pemilik rumah siapa tau ada yang bisa dimakan.


Nasib baik berpihak pada Joni ada dua piring nasi goreng komplit dengan telor ceplok dan susu coklat. Menggugah selera Joni, pas berjalan menuju meja makan ada sebuah cermin dilemari memantulkan wajah Joni yang babak belur banyak plester dan kelapa diperban mata joni biru sembab.


Astaga aku kenapa, Joni mencoba mengingat kejadian apa yang menimpanya sehingga menghancurkan wajahnya yang tampan rupawan seperti Ivan Gunawan.


"Ah benar aku dihajar diwarung janda itu sialan dan uangku juga diambil semuanya."


Joni masih terdiam berdiri terpaku didepan cermin kemudian pundaknya ditepuk pria yang berjalan kearah meja makan.


"Ayo duduk kita sarapan. Apanya yang masih sakit apa perlu kerumah sakit? ". Kata pria itu.


Bersambung.