Oh Joni !

Oh Joni !
Bab 20. Kapal Pesiar



Hendricko murka, melihat istri nya bercumbu dengan pria idaman yang sudah mengabaikan dirinya. Hendricko berjalan keluar mengambil samurai yang terpajang di dinding.


"Ii tu siapa nyonyah?". Joni terbata.


"Mas hendricko suami saya".


"Hah, yang benar nyonyah, mampus, bisa hilang nyawa aku ni".


"Maksudnya jon?".


Belum sempat Joni menjelaskan Hendricko melempar nya satu kearah Joni, dan Joni tidak siap samurai itu jatuh dekat kaki Joni.


"Ambil itu, kita main pedangan".


"Ma maafkan saya tuan, saya tidak bisa main pedang".


"Bukan nya kamu jagoan hah".


"Tidaak tuan, maafkan saya".


Hendricko mendekati Joni dan mengarahkan ujung samurai dileher Joni. "Kenapa kamu mengabaikan panggilan saya, saya tidak suka itu !!".


"Ma maafkan saya tuan, saya tidak bermaksud mengabaikan tuan".


"Terus alasannya karena ingin bercumbu dengan istri saya ha?".


"Ti tidak begitu tuan, tuan salah paham".


"Omong kosong". Hendricko ngambek.


"Mas tenangin dulu pikiran kamu, ayok kita bahas dikamar saja, nantik kita akan kasih hukuman pada Joni, yuk sayang".


Nyonyah menenangkan tuan. Akhirnya leher Joni tidak jadi putus kena sabetan samurai.


"Huft syukur, untung masih utuh ni leher, kabur ah".


Joni ngacir kekamar nya. Tempat teraman dirumah ini ya cuma kamar, Joni mengunci dari dalam supaya tidak ada yang masuk, Joni masih stres dia memilih tidur saja.


Sementara itu dikamar berbeda, Lunna Chita dan Hendricko membahas si Joni.


"Kenapa mas begitu marah pada Joni, tadi mata aku kelilipan jadi minta tolong sama Joni untuk meniup kan nya".


"Benarkah seperti itu?". "Iya benar mas aku tidak bohong, Joni aku kerjakan dirumah ini karena rekomendasi mbok ijah mas".


Hendricko mulai percaya dengan perkataan sang istri, namun sebenarnya hendricko masih kesal pada Joni karena mengabaikan nya. "tapi bukan kah nama dia ijon?". "bukan mas Joni". "hmm mungkin orang yang berbeda, sudah saya lapar". "yuk mas kita makan".


Tengah malam Joni terbangun dan merencanakan ingin kabur dari rumah nyonyah. Karena tidak ingin lagi terlibat dengan keluarga yang aneh menurut Joni.


Menyandang tas ransel membawa barang seperlu nya, mendorong motornya keluar pagar dan setelah menjauh dari rumah nyonyah, Joni menyalakan motor dan memacu motornya kencang menuju apartemen baru pemberian tante Cindy.


Membeli makanan karena dari siang Joni belum makan, singgah di nasi goreng malam, memesan dua piring nasi. Setelah selesai makan Joni ke minimarket 24 jam beli peralatan mandi, cemilan yang banyak, minuman, tak lupa rokok satu slof.


Joni melaju kan motor nya menembus hening nya malam. Sampailah Joni di apartemen baru, membuka pintu dan melihat sekeliling merasa puas diri, telah bisa mencapai satu persatu keinginan nya. Yang belum ada yaitu mobil, rumah pribadi dan istri, he nanti saja Joni pikirkan lagi.


Joni membuka kaca jendela dan duduk dibalkon luar, menikmati suasana ibu kota yang penuh bangunan perkantoran menjulang tinggi, dihiasi banyak lampu dari setiap rumah yang ada dan tak lupa rokok ditangan, mainkan ponsel, melihat ada situs lowongan kerja,


'PT-Xtra membuka lowongan kerja bagi yang berminat, syarat sebagai berikut : pria berumur dibawah 30 tahun, good looking, macho dan cool, ijazah tak penting, kerja mudah dan gaji besar, berminat hubungi nomor dibawah ini'.


"Kerjaa apaan gak pake ijazah, jual diri, haha coba ah siapa tau beruntung". Ujar Joni, nomor di save dan besok pagi saja Joni hubungi.


"Iyaa selamat pagi, iyaa saja Joni, ingin mencoba melamar kerjaan tersebut, apa nanti siang langsung interview, oh oke, terimakasih".


Cepat banget prosesnya. Joni melajukan motor ke toko pakaian, membeli semua perlengkapan untuk interview nya nanti. Siang pun datang, Joni naik taksi online saja karena sedang turun hujan, kelokasi tempat interview dengan penampilan yang paripurna sempurna. Semua mata tertuju pada anda.


Menyerahkan biodata diri dan menunggu dipanggil masuk ruangan. Banyak juga pria yang berminat kerja di PT-Xtra ini, entah kerjaan apa yang ditawarkan.


"Joni Perkasa, silahkan masuk".


"Baik".


"Silahkan duduk, perkenalkan diri kamu".


"Selamat siang, perkenalkan nama saya Joni Perkasa biasa dipanggil Joni, umur 23 tahun, pengalaman kerja belum ada, terimakasih".


"Apa anda pernah memuas kan tante kesepian?". Pertanyaan macam apa itu.


"Maaf, maksudnya?".


"Berapa tante yang sudah anda puas kan?".


"Hah?".


"Selamat anda diterima kerja disini, ini kontrak kerja anda silahkan dilihat dan kalau setuju di tanda tangani dibawah ini".


"Tunggu tunggu saya kerjanya apa?".


"Kerja nya gampang tinggal memuas kan tante tante kesepian dan sepenuhnya gaji dan hadiah yang anda terima menjadi milik anda".


"Jadi gi g lo maksud nya?".


"Bisa dibilang begitu, anda termasuk kriteria yang cocok untuk tante Cristihne, nanti kami akan menghubungi anda lagi Joni, dan ini gaji pertama anda, silahkan diambil".


"Terimakasih". Joni mengambil amplop memasukkan dalam saku celana dan geleng geleng kepala, memang sudah takdir ku terlahir sebagai gi g lo. Joni ke barber shop, mengecat rambut menjadi warna grey, macam artis korea, setelahnya dia pergi ke klinik gigi, memakaikan kawat behel pada gigi nya yang sudah rapi, biar kayak bonge alay nya.


Menghabiskan gaji pertamanya dari PT-Xtra, tak lupa Joni membeli paket nasi dan ayam kfc untuk dibagikan Joni ke anak jalanan. Kembali lagi ke apartemen dengan penampilan baru rambut sudah dicat abu, menunggu hari sabtu, karena itu jadwal kerjaan baru. Untuk menjaga stamina Joni latihan fitnes dekat apartemen, menjajal semua peralatan yang ada.


Nyonyah Lunna Chita dan tuan Hendricko masih mencari dimana keberadaan Joni. Joni menghilang tanpa jejak bahkan mbok ijah pun tidak tau Joni pergi kemana.


Hari sabtu pun tiba, Joni dijemput sopir PT-Xtra, mengantarkan Joni kesebuah pelabuhan kapal, Joni heran dan bertanya pada manajer sebelah sopir,


"Maaf pak ini kita ngapain ya di pelabuhan?".


"Kamu akan berlayar sebulan diatas kapal pesiar tante Cristihne, kamu tidak membaca kontrak kerja kamu?".


"Hm itu saya lupa pak, jadi. . .".


"Sudah turun sana tante Cristihne sudah menunggu".


Joni makin bingung apa yang harus dia kerjakan sebulan diatas kapal, 'bodoh kenapa aku tidak membaca kontrak kerja dulu main tanda tangan begitu saja'. Joni mengutuki diri sendiri.


Apa boleh buat nasi telah jadi bubur, ditelan atau tidak di buang.


"Wow kapal pesiar yang mewah, baru pertama ni aku berlayar dilautan terombang ambing bersama tante kaya, paling ya disuruh puas in siang malam, tapi ini selama sebulan, mampus bisa lecet rudal aku".


Tepok jidat sendiri. Joni melangkah masuk kapal, sopir dan manajer PT-Xtra melambaikan tangan kepada seseorang yang berada diatas kapal, tidak mungkin bye nya pada aku, mungkin pada tante Cristihne. Aku melangkah ke dalam kapal pesiar tingkat tiga tersebut, dan aku . . .


Bersambung.