Oh Joni !

Oh Joni !
Bab 6. Hidup di Pasar



Merana part 2


"Maayat mayat ada mayat tolooong buk ibuk pak bapak toloooong".


Tak ada yang menolong, karena takut mbok ijah bangkit dan hendak pergi saja, kaki mbok ijah dicengkram kuat oleh calon mayat barusan karena dia hidup dan itu ternyata si Joni.


Mbok ijah teriak histeris sampai tak terdengar suara nya sama sekali hanya mulut yang terbuka lebar.


"Buk uhuk uhuk tolongin saya, saya laper buk, dari kemarin belum makan maka nya saya memilih pingsan buk uhuk uhuk".


"Kaa kamu bukan mayat? ".


"Bukanlah buk mana ada mayat seganteng saya".


Hah mbok ijah bernapas lega karena bukan mayat yang ada dihadapan nya melainkan anak lelaki tampan. Kebetulan ada tukang bubur ayam lewat, langsung mbok ijah pesan dua mangkuk, tiga, empat, lima mangkuk habis dilahap Joni yang kelaparan.


Mbok ijah senang dan tertawa karena mulut Joni berlepotan kena bubur, mbok ijah melap mulut joni dengan tatapan sendu, teringat akan sesuatu hal mbok ijah berdiri dan membayar bubur ayam.


Kemudian Mbok ijah menepuk pundak Joni "Nak ibu pergi dulu, sudah kenyangkan, mau kepasar nanti kesiangan pulang nya".


"buk buk, gimana sebagai ucapan terimakasih saya bantuin ibuk belanja dipasar".


"Gak usah panggil ibuk, mbok ijah saja, kalau mau bantu kemonlah kalau begitu anak muda cus kita let's go".


Joni tertawa mendengar mbok ijah. Mbok ijah orang yang humoris suka bercanda dan siapa menyangka dia punya anak sebelas dan semua di titipkan dikampung.


Seorang janda yang memilih merantau ke Ibu Kota jadi ART rumah orang kaya untuk membiayai seluruh hidup anggota keluarga nya.


Dijalan menuju pasar Joni hanya mendengar kebawelan mbok ijah, membantu membawa belanjaan mbok ijah. Sebuah mobil angkot berhenti dan hendak naik mbok ijah memberikan uang lima puluhan ketangan Joni dan tersenyum melihatkan gigi tengah nya yang ompong satu.


Joni memang sudah tidak punya uang lagi karena dompet nya di ambil Tyo. Joni merasa senang hati karena masih ada orang baik di dunia dan mau menolong nya.


Joni duduk termenung ditepi jalan melihat lalu lalang kendaraan yang lewat.


"Bagaimana nasib aku sekarang, dimana aku akan tidur, makan, ibuuu aku rindu".


Dan tanpa sadar air mata nya keluar dengan deras. Hiks hiks. Malang nasibmu Joni menjadi gelandangan. Malam menjelang Joni memilih tidur di emperan sebuah toko emas.


Tanpa alas tanpa apapun yang menutupi tubuh nya dingin udara malam menusuk kedalam tulang. Joni mencoba menutup mata berharap bisa melupakan sejenak kejam nya hidup di Ibu Kota.


"Dek .. Dek bangun, saya mau buka toko, dek.!".


Penjaga toko emas itu terus mengguncang tubuh Joni, Joni mencoba membuka mata dan melap air liur yang menetes.


"Maaf maaf mbak", hanya itu yang diucapkan Joni dan dia pergi.


Joni mencari WC umum mencuci wajah serta duduk termenung sebentar diatas kloset sambil menghisap rokok ditangan. Sekarang aku harus bagaimana, uang ditangan cuma lima puluh ribu, rasanya seperti mimpi saja, baru kemaren siang dia dengan mudah menghamburkan uang beli ini beli itu, dan pagi ini dia sah menjadi gelandangan alias gembel.


Hua pengen Joni berteriak namun sadar ini di WC umum. Cring lampu diatas kepala Joni menyala menandakan ada sebuah ide yang muncul. Dia berjalan menuju tempat parkiran pasar dan berniat mencari bapak bapak penguasa lahan parkiran disana.


Joni dengan muka sok imut nya menatap mata bapak bapak penguasa lahan parkiran, hatinya luluh dan sedih mendengar cerita Joni yang dikarang nya separo dan benar adanya separo.


Joni diperbolehkan jadi tukang parkir dengan syarat bagi hasil. Tentu Joni riang gembira mendengar itu. Si bapak penguasa lahan parkiran menyerahkan baju seragam dan peluit ketangan Joni, juga ada identitas tukang parkir pasar.


Joni segera memakai seragam kerja barunya. Ada pelanggan pertama, sepasang suami istri dan anak balitanya mengeluarkan mobil dari parkiran, Joni melambaikan tangan mengatur agar mobil itu bisa keluar selayaknya tukang parkir biasa, si istri menyodorkan uang lima ribuan ketangan Joni.


Joni mengambil uang itu dan berucap "terimakasih buk semoga anda dan keluarga selamat sampai tujuan hati hati di jalan".


Si istri tersenyum manis pada Joni. Merasakan keroncongan karena dari kemaren cuma makan bubur ayam lima mangkok yang ditraktir mbok ijah, Joni mencari gerobak nasi goreng dan memesan satu piring nasi goreng spesial dan tak lupa satu gelas teh hangat.


Joni berjalan lesu ke tempat parkiran, sudah ramai motor dan mobil berjejer rapi terparkir. Mata Joni berbinar dan senyum tersungging di wajah tampan nya, akan ada banyak uang masuk hari ini.


Siang menjelang, Joni masih sibuk bekerja, mengatur dan mengeluarkan mengarahkan kendaraan, ternyata Joni tidak sendiri ada tiga orang pekerja lainnya. Pasar sudah sepi, matahari terbenam, para pekerja berkumpul di kantor tempat si bapak penguasa lahan parkiran duduk.


Menyerahkan setumpuk uang receh kemudian mereka mendapat lembaran uang berwarna merah atau biru bahkan ada warna hijau juga tergantung hasil kerja mereka sendiri.


Setelah selesai pembagian uang gaji para pekerja keluar kantor. Joni melihat uang hasil keringatnya sendiri, dua lembar warna biru dan empat lembar warna hijau.


"lumayan bisa beli makan".


Joni masih bersyukur. Walaupun uang yang didapat sedikit tidak apa apa, dari pada harus melayani para bule laknat itu. Hah Joni kembali lesu,


"Aku tidur dimana ya malam ini".


Nanti saja Joni pikirkan, dia kelaparan cuma tadi pagi makan, dia mencari penjual bakso dekat pasar, memesan bakso biasa saja supaya tidak mahal.


Malam makin larut, akang jual bakso menutup pondok bakso nya, joni mendekat.


"Kang boleh saya tidur dibangku itu, saya tidak akan menganggu cuma numpang tidur, saya tidak punya tempat berteduh, boleh ya kang, please".


Garuk garuk kepala akang itu mengizinkan dan pulang kerumah. Akang yang baik, Joni merebahkan tubuh diatas bangku kayu melipat kan tangan diatas kepala sebagai ganti bantal dan memejamkan mata.


***


Matahari pagi membangunkan Joni dari tidur yang tidak nyenyak karena banyak nyamuk. Hoam Joni ngantuk sekali tapi dia harus bekerja. Sadar sudah dua hari tidak mandi, Joni ke warung membeli perlengkapan mandi dan juga handuk kecil, pergi ke WC umum dan segera mandi.


Joni sudah wangi namun masih memakai baju yang sama. Joni pergi kekantor dan memakai baju dinas nya. Si bapak penguasa lahan parkiran memberikan Joni dua bungkus plastik, yang isinya beberapa potong pakaian seken namun masih layak pakai dan juga ada sarung, plastik satu lagi ada berisi bubur kacang ijo dan beberapa roti.


Joni merasa terharu si bapak penguasa lahan parkiran orang yang baik hati. Tanpa sadar Joni memeluk tubuh bapak penguasa lahan parkiran dan meneteskan air mata, Joni menangis tersedu sedu, dia berjanji kelak kalau sudah sukses, bakal membalas semua jasa baik orang yang telah membantunya, mbok ijah, bapak penguasa lahan parkiran dan akang penjual bakso.


Joni segera menghapus air matanya dan melahap makanan nya.


"Jon, kamu kemaren malam tidur dimana?".


"Itu pak di pondok bakso akang Toni, di bangku luarnya".


"Kamu nantik malam boleh tidur dikantor, itu ada kasur juga, kamu bisa pakai untuk sementara waktu tinggal, namun ingat berikan uang sewa nya".


"Yang benar pak, saya boleh tidur disini, te..terima ka..kasih banyak pak, saya bersyukur sekali, bapak baik sama saya".


Joni mencium tangan si bapak penguasa parkiran dan kembali menangis, si bapak penguasa parkiran mengelus punggung Joni.


"Sudah jangan menangis terus, cepat habiskan makanan nya kembali bekerja".


"Siap pak saya akan menghasilkan uang yang banyak hari ini".


Joni kembali menemukan semangat dalam hidupnya. Ternyata Tuhan masih memberikan Joni nasib baik. Joni setiap hari bekerja keras, bahkan jadi kuli panggul membawa karung bahan dagangan para penjual.


Ada saja orang baik yang selalu memberikan makan siang pada Joni, dan memberinya baju baru. Bersyukur sekali Joni. Tanpa terasa Joni sudah sebulan dipasar, dia masih saja menantikan kedatangan mbok ijah, berharap berjumpa sekali saja.


Hendak membalas budi. Tapi mbok ijah tidak pernah kepasar lagi, Joni yang sudah terbiasa hidup dipasar, bahkan sudah banyak kenalan dari pedagang, pembeli, orang yang sekedar jalan dan juga Joni dijodohkan dengan anak penjual bakwan, tukang potong ikan, gadis penjual kain kafan, karena tampang Joni yang rupawan, dengan gaya yang sangat menawan membuat gelisah para perawan, Joni menolak banyak tawaran, sadar diri belum mapan. Ah Joni jadi plin plan.


***** suara klakson mobil membuyarkan lamunan Joni, segera Joni bangkit dari duduknya dan mengatur mobil supaya lurus posisinya.


Bersambung.