Oh Joni !

Oh Joni !
Bab 7. Mbok Ijah



Di selamatkan mbok ijah


Pemilik mobil merasa kesal, bukan karena Joni, tapi karena istri nya ingin bercerai dan minta harta gono goni, dia melampiaskan kekesalan pada Joni dan membuat kegaduhan di pasar, dia memfitnah Joni mencuri dompet nya, yang sengaja dia letakkan di saku jaket Joni.


Joni mencoba membela diri, mengatakan dia tidak mencuri, tapi barang bukti menjelaskan semua nya, Joni dihakimi orang pasar, menendang, memukul pakai balok kayu dan menyeret nya ke pos pengamanan.


Mengetahui Joni dihakimi orang pasar, bapak penguasa lahan parkiran menyusul Joni dan menenangkan orang pasar. Jalan tengah yang ditempuh yaitu mengusir Joni dan menyuruh nya jangan kembali lagi ke pasar.


Merasa tak berdaya melawan orang pasar, bapak penguasa lahan parkiran membawa Joni keluar, merasa iba dan kasihan, bapak pengusaha lahan parkiran memberikan uang gaji Joni sepenuh nya hari ini tanpa di potong.


Joni berjalan menahan rasa sakit, wajah nya babak belur tapi tidak akan membuat wajah Joni jadi jelek, perut dan kaki nya sakit, susah berjalan. Joni tak tau lagi harus kemana, kemana saja yang penting jauh dan tak akan lagi kepasar itu.


Baru saja joni merasakan nyaman di pasar dan memiliki pekerjaan, namun ada saja cobaan yang datang kepada joni. Di ruko kosong Joni duduk sambil meneguk minuman mineral. Mencoba menenangkan pikiran yang kacau, menghela nafas kasar dan menunduk, air mata mengalir dipipi Joni yang banyak bekas luka.


"ibuu, hiks ibuu aku membutuhkan mu, tolong aku ibuu, hiks". Joni menangis.


Tak ada lagi harapan, aku sudahi saja hidupku ini, aku akan menyusul ibuku, tidak akan ada juga yang peduli pada hidupku. Matipun jasadku akan dibuang begitu saja. Joni dengan putus asa berjalan ketengah jalan berharap ada mobil truk yang menabrak tubuh nya dan langsung mati.


Niat buruk Joni bunuh diri di kabulkan Tuhan, Ada mobil pickup pengangkut pasir melaju dengan sangat kencang, sopir tidak melihat ada orang yang berdiri di tengah jalan, ciiiit suara rem mobil diinjak, bruukk tubuh Joni terpental jauh dan berguling guling, darah segar mengalir dari kepala, ramai orang berlarian, mereka cuma melihat tidak berani mendekat, tubuh Joni tergeletak banyak darah yang keluar.


Diujung jalan melihat orang sedang ramai berkerumun, niat hendak kepasar tapi Mbok Ijah malah penasaran ada kejadian apa? Lagi ada diskon minyak goreng kah atau diskon sabun cuci, pikir mbok ijah, bergegas mbok ijah mempercepat langkah nya, menerobos masuk kumpulan orang.


Dan mbok ijah kaget bukan main, menutup mulut, mengucek mata nya, seakan tidak percaya apa yang sedang dilihat nya. "Astaga, Tuhan, apa yang telah terjadi, seperti nya saya mengenali wajah anak muda tersebut, siapa ya??".


Mbok ijah mencoba mengingat lagi siapa pemuda itu. Karena mbok ijah punya amnesia tingkat rendah, dia tidak jadi menolong joni malah ngacir ke pasar. Tetiba langkah mbok ijah terhenti, dia putar balik badan dan menelpon ambulance.


Benar sekali Mbok Ijah sudah ingat dengan pemuda yang menghabiskan lima mangkok bubur ayam waktu itu. Sesampai nya dirumah sakit, petugas medis atau perawat rumah sakit segera membawa joni yang tidak sadarkan diri dan banyak darah segar mengalir dari kepala joni dengan tandu menuju rungan operasi supaya bisa menyelamatkan nyawa joni.


Mbok ijah berdoa dalam hati, semoga kamu bisa selamat anak muda yang entah siapa naman ya saya lupa, amin. Hape mbok ijah berdering ternyata teman sesama ART nya menelpon kenapa mbok ijah lama sekali balik dari pasar nya, sebentar lagi nyonyah akan pulang. Bergegaslah mbok ijah pergi dari rumah sakit dan kembali belanja kepasar.


Operasi joni berjalan lancar, nyawa joni bisa tertolong, namun joni masih koma. Karena joni tidak ada sanak saudara, petugas rumah sakit menamai kasur joni dengan kata "kamu siapa".


Tiga hari selanjutnya, Mbok Ijah yang sedang mencabuti bulu ayam yang baru dia sembelih, dan melihat darah ayam di tangan, dia teringat akan sesuatu hal. Bergegas ambil dompet, pake sendal jepit dan naik ojek ke rumah sakit tempat joni dirawat.


Bertanya pada resepsionis, dan menuju kamar joni, mbok ijah lega karena anak pemuda yang mbok ijah tidak tau nama nya itu selamat. Syukurlah. Ketika mbok ijah mau ambil kursi mau duduk dekat joni, perawat rumah sakit bertanya pada mbok ijah, apakah mbok ijah nenek pasien tersebut? "saya bukan nenek nya, tapi mbah buyut nya".


Perawat hanya bengong dan melihat penampilan Mbok Ijah dari ujung rambut sampai ujung kaki yang mirip emak emak desa, rasanya tidak mungkin beliau punya black card. Tapi yasudah lah, bergegas perawat perempuan ke loket depan tempat administrasi pasien.


Mbok ijah mengusap punggung tangan joni lembut, seketika joni mampu membuka mata nya dan menoleh pada mbok ijah, "eeh kaget eeh kaget. Ah kamu bikin mbok jantungan ajah".


"m b o k i j a h". Joni ngomong terbata bata.


"iya saya mbok ijah, kamu siapa ya, saya lupa?".


"s a y a j o n i m b o k".


"oh joni ya ya mbok ingat, kenapa kamu bisa berada disini sih jon?".


"sa sa ya ma ma u ma ma ti sa ja mb ook".


"kenapa kamu mau mati?".


"sa sa ya su dah ti dak mam puu daan sa saya . . ".


"ah mbok kasihan lihat kamu ngomong mending diam saja, yadah mbok pulang dulu, besok kesini lagi, ok anak muda".


Mbok ijah pergi meninggalkan joni, dan joni menitikkan air mata, karena mbok ijah lagi lagi menolong nyawanya, dan joni berjanji dalam hati untuk membalas budi baik mbok ijah sampai dia mati.


Keesokan hari nya mbok ijah datang lagi menepati janjinya pada joni untuk datang lagi. Dia membawa bubur ayam lagi lima mangkok dan menyerahkan pada joni yang sudah bisa duduk di atas kasurnya ,dengan kepala diperban, kaki dan tangan digibs semua.


Mbok ijah menyuapi joni dan dengan lahap joni menghabiskan 3 mangkok saja bubur ayam. Mbok ijah senang joni mau makan bubur pemberiannya. Mbok ijah pulang lagi kerumah dan bilang pada joni besok akan bawa bubur ayam lagi.


Joni dengan air mata yang mengalir di pipi menganguk membalas ucapan mbok ijah barusan. Joni merasa terharu dengan kebaikan mbok ijah. Joni menutup mata dan berharap besok sudah bisa keluar dari rumah sakit dan mencari pekerjaan, mengumpulkan uang dan membalas kebaikan mbok ijah terhadap dirinya.


Pagi datang namun matahari enggan keluar, jadilah hari ini hujan lebat sampai malam, dengan diikuti sambaran petir yang menakutkan. Tiba tiba listrik di rumah sakit padam semua. Tidak ada penerangan di kamar joni, joni ketakutan dan dia hanya memejamkam mata berharap lampu kembali hidup. Pintu kamar joni terbuka, ada sesosok makhluk yang datang, melayang layang, dan mendekati joni yang sedang ketakutan dan . . .


Bersambung.