
Tanpa menjawab pertanyaan pria itu Joni ikut duduk dimeja makan.
"Kenalin aku Tyo Prasetyo umur mungkin tua dari kamu panggil aku bang tyo. Nama kamu?." Ucap tyo sambil menyuap nasi gorengnya.
"Nama aku Joni bang. Hmm kenapa aku bisa dirumah abang ya? Apa abang yang menyelamatkan aku?."
"Yes all right dan aku juga yang membuat kamu celaka ijon".
"Maksud abang? Aku gak ngerti. Nama aku Joni bukan Ijon bang".
"Hehe aku suka panggil kamu ijon sudah makan abisin dulu nanti kita ngobrol lagi".
Joni makan sambil melihat wajah bang tyo tidak asing dan rasa Joni mengenal wajah itu tapi dimana.Joni mencoba mengingat dan tiba tiba sendok Joni jatuh kelantai dan membuat Tyo kaget.
Mata mereka beradu dan membuat Joni salah tingkah Joni berdiri dan membawa piringnya ketempat cucian dan memilih masuk kekamar lagi. Melihat tingkah Joni Tyo tersipu malu,
"Apa mungkin dia mengenaliku cepat tanggap banget tu bocah salut".
Tyo masih asyik makan sambil bermain hp ada panggilan masuk.
"Hello zeyeng hmm iya iya i'm understand, okay i'm bentar lagi coming, see u".
Telpon ditutup dengan segera Tyo menyudahi sarapanya dan pergi kekamar. Segera membuka lemari dan memilih baju tanpa menghiraukan Joni.
Tyo memilih baju kemeja panjang hitam dalaman kaos nampak ketek dan celana putih pendek sepaha yang mencetak kejantanannya.
Tyo duduk menghadap cermin dan merias wajahnya sendiri membuat alis yang sempurna, menjepit bulu mata kemudian pakai maskara, tak lupa softlen sentuhan terakhir liptint pink. Aku cantik lirih Tyo.
Tak lupa pakai jam tangan dan tas pria semprot parfum yang harum, pakai sepatu kets, topi warna putih dan Tyo melihat dirinya lagi dicermin memastikan penampilannya sudah sempurna dan kemudian bicara pada Joni.
"Aku keluar sebentar cari angin jangan keluar rumah aku kunci dari luar dan jangan coba coba kabur. Faham kamu, Dan ini obat jangan lupa diminum, jangan nyusahin".
Joni mengambil obat dan meminumnya tanpa berkata sepatah katapun.
"Bagus adik ganteng penurut". Deg Joni merinding disko ketika dipanggil adik ganteng. Dia teringat kembali peristiwa di warung janda.
"Aaa apa munkin bang Tyo wanita dikamar no.13 itu ya. Ooh Tuhan bantu aku keluar dari sini".
Itu baru prasangka Joni saja. Kepalanya berdenyut Joni kembali memilih untuk tidur supaya cepat sembuh. Menjelang siang Tyo sudah kembali kerumahnya dan melihat Joni masih tidur diatas kasurnya.
Tyo segera mandi wajib karena akan berangkat kerja. Joni terbangun hendak buang air kecil dan mencari kamar mandi setelah selesai tanpa sengaja Joni melihat di dalam sebuah kamar yang pintunya terbuka banyak pakaian wanita.
Berbagai macam rambut palsu, sepatu wanita berbagai macam warna dan tas tertata rapi dan ada meja rias dengan cermin besar lengkap dengan peralatan makeup. Joni berpikir itu kamar istri Tyo.
Ah biarkan bukan urusan aku juga. Diatas meja makan Joni melihat ada plastik yang berisi makanan. Karena kelaparan Joni memakannya tanpa izin karena tidak ada orang dirumah.
Walaupun wajah Joni babak belur tapi nafsu makannya tak pernah luntur. Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam suara pintu terbuka dan Tyo sudah pulang bekerja dengan membawa dua bungkus pecel ayam dan jus semangka.
Tyo bergegas ke kamar mandi dan membersihkan diri. Hendak berjalan menuju kamar Tyo melihat pintu kamar pribadinya yang kedua terbuka.
"Ah sial aku lupa mengunci pintunya karena buru buru sih tadi". Sungut Tyo sambil memanyunkan bibir.
"Masih betah tidur aja kamu gak gerah apa? Udah makan kamu ijon?".
"Gimana mau mandi bang tas aku aja hilang semua pakaian ku disana, makan udah tadi siang".
Tyo lupa tentang tas Joni dia keluar dan segera memberikan tas Joni. Joni senang dan mengucapkan terima kasih pada Tyo dan dia berlalu kekamar mandi. Joni kaget didalam ember kamar mandi ada ****** ***** dan bra wanita terendam serta baju mini. Joni shock banget.
Joni shock banget melihat logo baju diember itu ada tulisan warung janda boleh dicoba. Astaga apa benar bang Tyo wanita dikamar no.13 atau itu baju milik adik perempuannya atau istrinya.
Joni dilanda kebingungan yang besar. Nanti saja Joni tanyakan kalau sudah selesai mandi aku gerah sekali. Joni memakai bajunya didalam kamar mandi karena segan sama Tyo kalau pakai didalam kamarnya.
"Hm bang Tyo aku mau bertanya apa boleh?".
"Boleh ngomong aja".
"Gimana ceritanya aku bisa sampai dirumah abang dan kenapa abang menyelamatkan aku, aku merasa berhutang budi".
"Good lah kalau kamu merasa punya hutang sama aku dan kamu harus membayarnya lunas. You understand? ". Jawab Tyo cuek.
Bukan nya menjawab pertanyaan Joni Tyo malah menyuruhnya membayar hutang. Mendengar jawaban Tyo, Joni jadi merasa ada yang aneh dengan Tyo dan lebih memilih tidur dikursi ruang tamu dari pada seranjang dengan Tyo.
Hp Joni hilang entah kemana dia belum sempat memberitahu sang nenek tentang keadaannya sekarang semoga saja nenek tidak terlalu cemas memikirkan Joni. Hendak rebahan Tyo memanggil Joni masuk kedalam kamar.
"Ijon siapin makanan tadi abang sudah beli itu diatas meja makan, kita makan malam".
"Oke bang". Tyo iseng saja mengerjai Joni.
Setelah selesai menyantap makan malam Tyo menyuruh Joni cuci piring dan duduk kembali dengan Tyo di kursi meja makan karena Tyo ingin bicara.
"Ada lowongan kerja buat kamu. Kerjanya gampang banget dan digaji besar".
"Kerja jadi apa tu bang digaji besar pula ijazah aku cuma SMA".
"Kalau mau dan setuju besok ikut abang dan langsung kerja, biar hutang kamu cepat lunas, perlu uang untuk hidup juga kan kamu. Makanya kerja".
Joni hanya pasrah dan mengangguk tanpa berkomentar lagi. Ke esokan hari Joni sudah selesai didandani ala gaya Tyo, wajah Joni tampan rupawan jadi apapun yang dikenakan Joni pas dan makin menambah aura ganteng Joni.
Mereka seperti anak kembar sama sama pakai topi baju kemeja, celana pendek nampak paha, sepatu kets dan bahkan aroma sama. Mobil jemputan Tyo sudah datang didepan rumah, segera Tyo dan Joni masuk mobil.
Di sepanjang jalan Joni hanya diam memikirkan apa yang setelah ini akan terjadi pada hidupnya. Mobil berhenti disalah satu hotel melati, mereka berjalan memasuki salah satu kamar.
Pintu kamar dibuka dan Tyo menyuruh Joni duduk diatas kasur menunggu temannya datang. Joni tertidur dan kemudian terbangun ketika Joni merasakan ada yang menyentuh pahanya pelan hingga sampai puncak.
Joni kaget bukan main dia meloncat turun kasur melihat seorang bule yang berbadan tinggi kulit putih menyilaukan, rambut pirang dan perutnya banyak roti sobek hanya memakai ****** yang ternyata menyentuh pahanya.
Tyo pergi entah kemana, Joni panik karena dia tidak pandai bicara english. Cuma sorry sorry yang terdengar dari mulut Joni. Joni berjalan mundur mendekati pintu. Bule itu berjalan maju mendekati Joni tersenyum hingga menampakkan giginya yang tersusun rapi, dengan cepat menarik tangan Joni hingga berada didalam pelukannya.
Bule itu menggendong Joni dan berkata "It's okay beby, , it's not hard, , believe me, I like your dicky".
Bule mematikan lampu kamar, menutup hordeng dan menjatuhkan tubuh Joni telungkup diatas kasur. Joni tidak tau apa yang akan dilakukan bule tersebut kepada dirinya.
Bule itu menurunkan semua celana Joni dan memegang pinggang Joni kuat sehingga Joni tidak bisa bergerak kabur. Tiba tiba lubang belakang Joni serasa ditusuk pedang tumpul besar dan berurat.
Joni menahan sakit yang begitu luar biasa. Badan Joni bergerak maju mundur. Joni menutup mulutnya agar tidak mengeluarkan suara aneh. Tapi bule dibelakang Joni justru sedang komat kamit entah apa yang dia ucapkan.
Gerakan bule laksana naik kuda kudaan itu makin kencang, dan menimbulkan suara kasur yang berderit, karena kasur kamar melatinya masih menggunakan dipan kayu jati, membuat Joni tak berdaya.
Pedang tumpulnya yang besar itu sudah mengoyak lubang buang air besar Joni. Akhirnya pedang tumpul besar itu memuntah lendirnya juga dan berserakan dilantai kamar.
Lubang Joni panas serasa dikasi bara api. Tubuh joni mati rasa, segera dia kekamar mandi sambil jalan mengangkang, mengguyur seluruh tubuh dari rambut hingga ujung kaki, entah berapa lama Joni didalam kamar mandi, hingga terdengar suara ketukan.
Tyo menyuruh Joni keluar segera. Joni sengaja berlama lama dikamar mandi untuk menghindari bertemu bule laknat yang merenggut kesucian lubang belakang nya.
Tyo menyodorkan amplop coklat yang isinya cukup tebal ketangan Joni. Joni heran hendak bertanya apa isinya tapi Tyo berlalu dan keluar kamar Joni menyusul dari belakang meninggalkan hotel melati.
Sampai dirumah Tyo meletakkan bungkus makanan yang tadi dia beli diatas meja kemudian kekamar mandi dan siap siap pergi bekerja. Dengan membawa tas cukup besar entah apa isinya Tyo meninggalkan Joni dan menguncinya dari luar.
Bersambung.