
Sepeda Roda Tiga.
"Ini susu 1liter harus lu habisin semua tak bersisa, kalau lu sanggup gue bakal bebasin lu, tapi kalau tidak gue kasih sanksi lu, ni pegang sendiri susu nya".
Joni dengan susah payah memegang susu 1 liter dan mencoba menyedot nya, joni tak kuasa sampai mengeluarkan susu lewat hidung, sungguh penyiksaaan.
"Nona Maiya saya sudah tidak sanggup, turunkan saya nona". Joni memohon.
"Ealah cemen banget lu, lu harus terima sanksi". Maiya zea membawa sebotol lintah darat, eeh bukan tapi lintah penghisap darah kotor, semua pakaian joni dibuka hingga tak tersisa dengan posisi masih tergantung terbalik, kaki di atas kepala di bawah.
Kemudian maiya zea meletakkan satu persatu lintah di tubuh joni, hingga semua lintah yang dibotol habis. Joni sungguh ketakutan, terus memohon pada maiya zea untuk menghentikan permainan nya, lintah itu terus menghisap darah joni, bahkan sudah sampai ngesot ke milik Joni, Joni teriak.
"Tolooong nona, tolong saya nona, saya menyerah nona, saya akan lakukan perintah nona, apapun itu , tapi tolong singkarkan lintah ini nona, saya mohon nona, saya sungguh takut".
Joni sampai menangis. Maiya zea jadi tidak tega dan menurunkan joni, mengambil semua lintah yang menempel ditubuh joni, meninggalkan banyak bekas hisapan dari lintah.
Joni terduduk lemas dan menunduk menitikkan air mata, isi perutnya rasa mau keluar semua dan kepala nya berputar putar. Dan bekas si lintah meninggalkan rasa nyeri pada tubuh joni.
Maiya zea mengambil obat P3K di ruang kantor mamim nya, dan mengoleskan salep pereda rasa nyeri pada tubuh joni. Joni menatap mata maiya zea dalam dan membuat maiya zea malu, dia memalingkan wajahnya dari joni.
"Kenapa natap gue gitu, gue gak suka".
"Maaf nona dan terima kasih masih peduli sama saya".
"Biasa aja gak usah pede ya".
Mamim atau nyonyah meninggalkan mereka berdua karena ada telpon dari suami tercinta Hendricko Cahyo.
"Yang sebelah sini nyeri sekali nona, coba nona pegang".
Tangan joni menuntun tangan maiya zea ke bagian tengah nya, benar saja milik Joni sudah berdiri kokoh tidak tergoyahkan. Maiya zea menarik kembali tangan nya tapi di tahan oleh joni dan terus mengusapkan tangan maiya zea disana.
"Mmhh ya begitu nona, mmhh nikmat, milik ku suka dielus tangan nona, sangat lembut mmhh".
Sekarang tangan maiya zea dengan sendiri nya mengelus punya joni. Mengocok nya keatas dan kebawah dengan cepat. Joni tanpa permisi ******* bibir maiya zea sambil memegang kedua pipi nya tanpa ada perlawan dan maiya zea juga menikmati ciuman joni.
Tok tok, suara pintu diketuk. Kedua orang itu menghentikan aktifitas mereka, dan sama - sama serentak melirik kepintu.
"Siapa itu nona yang datang".
"Lah mana gue tau, kan dari tadi gue sama lu disini Joni".
"hehe iya ya, betul juga, udah cepat buka pintu nya nona".
"Lu nyuruh gue ha, lu bosan hidup apa".
"Maaf nona maaf, saya masih ingin hidup lama lama didunia ini".
"Maka nya jangan nyuruh - nyuruh gue, cepat lu ke sana Joni".
Tok tok tok, suara ketukan pintu itu semakin keras.
"Sa-saya merinding Nona, saya takut sumpah".
"Apaan maksud lu?".
"Gini ya nona, waktu itu saya ditinggal sama nyonyah sendirian di kamar, dan tiba tiba saja lampu nya mati, kemudian ya nona . . .".
Belum sempat Joni melanjutkan bicara nya Maiya Zea berteriak dan memeluk tubuh Joni erat.
"Nona nona, saya belum selesai ngomong ni".
"Sstt, jangan dilanjutin Joni, gu-gue gak sanggup dengar nya, please".
"hehe ternyata nona lebih penakut dari pada saya, udah gak apa nona, ada saya di sini".
Joni mengusap lembut rambut panjang nona Maiya Zea dan bersenandung.
#tidurlah, nona Maiya Zea, mimpilah dalam tidurmu, bersama Joni#.
"Haha, apaan tu, nyanyi apaan, dasar lu aneh".
"Hehe itu biar nona gak merasa takut lagi". Joni cengengesan.
"bukaaaa pintu nya Joni, hi hi hi". Suara dari luar itu nyaring terdengar.
"Ii-itu suara Mbok Ijah nona".
"Eh bukan loh, bukan suara mbok Ijah, lebih mirip suara hantu, pakai hi hi segala".
"Nona jangan becanda, saya takut lagi ni nona".
"Hi hi hi, Joni. . .!".
Krik cring krik cring, lampu diruangan itu hidup mati hidup mati.
Membuat kedua manusia itu berteriak histeris dan berjalan menjuah dari pintu dan mendekati jendela.
"Ki-kita lompat saja dari sini Jon".
"Jangan gila donk nona, itu tinggi banget, saya gak mau matii. .".
"Astaga kamu ya Joni, yaudah gue aja yang lompat".
"Jangan nona, kita tunggu saja dulu sebentar lagi, keadaan akan normal lagi".
Maiya Zea tidak perduli, dia sungguh takut dan ingin segera keluar dari ruangan itu, Joni sudah berusaha menahan Maiya Zea agar tidak turun dari jendela.
Namun Maiya Zea keras kepala sekali, Joni tidak punya pilihan dia juga ikut turun melewati jendela.
Krek suara pintu terbuka.
"Hey, kalian berdua mau bunuh diri, cepat naik lagi". Teriak Mamim yang kaget melihat anak nya bergelantungan di pagar penyangga.
"Mamim. . .help me, tadi ada hantu".
"Hantu apaan siang bolong gini, ada ada saja kamu, cepat naik, kamu juga Joni, bukan nya lindungi anak saya".
"Maaf nyonyah, saya juga takut, sungguh, hukum saja saya nyonyah".
"Banyak omong kamu, cepat bantuin Maiya naik keatas".
Mereka semua telah meninggal kan ruangan berhantu itu.
***
"Nona Maiya Zea, jangan pergi, jangan tinggalkan saya. . .nona".
Joni berlari sekuat tenaga mengejar Maiya Zea dengan nafas yang tersengal sengal.
Namun Maiya Zea tidak menghiraukan Joni, dia terus melaju kencang dengan sepatu roda nya, Joni melihat ada sepeda anak kecil di dekat tong sampah.
Joni memakai sepeda itu buat mengejar Maiya Zea, itu sepeda roda tiga yang digunakan Joni. Orang yang melihat Joni mentertawakan nya.
Joni tidak ambil pusing, dia tidak perduli dengan omongan orang, susah payah Joni mengayuh sepeda roda tiga itu hingga berkali terjatuh.
Joni bangkit lagi dan mengayuh dengan kencang dan membentur dinding, tiba saja sepeda itu roda nya terlepas, tidak sanggup menahan berat badan Joni. Sepeda roda tiga itu sudah rusak.
Kepala Joni benjol dan hidung nya mimisan, Joni menangis terisak dan dilihat oleh banyak orang. Mereka mentertawakan Joni.
Brug, Joni terjatuh dari atas kasur, dan ternyata barusan dia bermimpi.
"hualah cuman mimpi, dasar ya mimpi aneh, kenapa juga harus mimpi seperti itu, argh".
Joni mengucek mata nya dan meraba area kening, ada benjolan, dia menghampiri cermin.
"Astaga, ada telur ayam di dahi ku, haha lucu lucu, mimpi jadi nya kok beneran nyata ada nya ya.
Bersambung.
Makasih udah baca novel Oh Joni. Tinggalkan komen nya ya kakak, itu jadi masukan buat saya.
Makasih sekali lagi.