Neona

Neona
Bab 9



" Kok bawa mobil sih?" protes Nea saat melihat Bang Evan malah mengeluarkan mobilnya.


" Loh? kenapa emang?" tanya Bang Evan heran.


" Mau pake motor aja bang, pingin kena angin aku tuh" Nea dengan muka sok imutnya.


" Jijik, udah pake mobil aja. Ntar kan bisa dibuka jendela nya" terang Bang Evan.


" Oke" tanpa protes lagi, Nea masuk ke mobil dan membanting pintu mobil nya.


" Pelan astaga, Nea" kaget Bang Evan.


Malam ini ku sendiri


Tak ada yang menemani


Seperti malam-malam


Yang sudah sudah


Hati ini selalu sepi


Tak ada yang menghiasi


Seperti cinta ini


Yang s'lalu pupus


Tuhan, kirimkan lah aku


Kekasih yang baik hati


Yang mencintai aku


Apa adanya


Bang Evan sengaja memutar lagu Munajat Cinta-T.R.I.A.D, karena melihat adiknya yang selalu jomblo.


" Pas banget tau dek sama kamu" sindir bang Evan.


" Kata siapa?" tanya Nea.


" Lah? Lo udah nggak jomblo lagi?" Bang Evan penasaran.


" Kepo" jawab Nea sambil tersenyum tipis.


" Dih" sewot Bang Evan.


" Bang, berhenti. Adikmu mau membeli pentol dulu" ucap Nea sambil menepuk pundak bang Evan.


" Awas lo beli banyak-banyak" ancam Bang Evan trauma.


" Pentol doang" ucap Nea, kemudian turun dari mobil.


Sesampainya di tempat kang pentol.


" Bang pentolnya 2 bungkus"


" Bang pentolnya 2 bungkus"


Ucap Nea dan Andre bareng. Kemudian mereka saling tatap karena kaget.


" Saya dulu bang" ucap Nea.


" Nggak, gue duluan" balas Andre sewot.


" Gue bang, cepetan" pintanya ke kang pentol.


" Gue" ucap Andre maksa.


" Duh, Mas Mbak.. udah jangan bertengkar. Ambil sendiri aja" ucap kang pentol yang jengah melihat perdebatan itu.


" Dih, abang yang jual yah abang yang ngambil" ucap Nea bercanda. Kemudian, Nea mengambil pentol nya sendiri. Diikuti oleh Andre juga, tapi lebih dulu selesai Nea.


" Ini bang uangnya, terima kasih" ucap Nea sambil menyodorkan uang. Kemudian Nea pergi dan dengan sengaja menginjak kaki Andre.


" Anjir, stres tuh anak" umpat Andre pada Nea.


" Jangan gitu, Mas. Ntar jodoh lo" goda kang pentol pada Andre.


" Dih, mana mau gue bang. Cewek modelan kek dia" ucap Andre sewot sambil memberikan uangnya, " Dah bang, makasih" lanjutnya, kemudian pergi.


Di mobil


" Nih bang" menyerahkan pentolnya.


" Udah? kita pulang apa mau beli lagi?" tawar Bang Evan.


" Pulang" singkat Nea.


" Oke" menyerahkan pentolnya pada Nea, " Suapin abang" lanjutnya. Dengan sangat terpaksa, Nea menyuapi abangnya.


" Uhuk, uhuk, Nea pelan-pelan napa kalau nyuapin" ucap Bang Evan sambil memukul-mukul dadanya. Bang Evan pun menepikan mobilnya.


" Maaf bang" menyerahkan minum, sambil mengusap punggung bang Evan.


" Ada masalah apasih" tanya Bang Evan.


" Nggak" masih mengusap punggung.


Tanpa disadari, ada seseorang yang melihat interaksi keduanya.


" Pokoknya, lo harus jadi milik gue. Nggak rela gue lihat lo sama cowok lain" ucapnya penuh keyakinan. Kemudian, seseorang itu pergi.


" Udahan bang?" tanya Nea.


" Udah, yok" jawab bang Evan, kemudian melajukan mobilnya dengan kecepatan rata-rata. Tak lama kemudian, mereka berdua sudah sampai di rumah.


................


" Ne, bangun coba. Telat ntar lo ke sekolah nya" ucap bang Evan sambil menarik selimut Nea.


" Ntar ah, ngantuk banget dah" keluh Nea sambil mengambil kembali selimut nya.


" Udah di tunggu noh sama, Yoga" ucap Bang Evan dan mengambil selimutnya lagi.


" Duh, suruh mereka duluan deh" kembali tidur tanpa selimut. Bodoh amat yang penting tidur.


" Oke, awas aja ntar lo teriak-teriak" bang Evan pergi meninggalkan Nea.


Tak lama kemudian, terdengar suara teriakan Nea.


" Abaaaang! kenapa nggak bilang kalau udah jam setengah 7" berlari ke arah bang Evan sambil membawa tas nya asal.


" Lah? tadi kan udah di bangunin, lo aja yang males" bantah bang Evan.


" Isshhh, yaudin. Ma, Pa aku berangkat dulu.. Byeee" setelah menyalimi kedua orangtuanya, Nea langsung menarik Bang Evan yang sedang membenarkan jas nya.


" Ayok bang, buru" tarik Nea setengah menyeret.


" Dih, salah siapa bangun telat" cibir Bang Evan. Kemudian mereka berdua berangkat menggunakan mobil, bang Evan melaju dengan kecepatan setengah diatas rata-rata.


Gerbang sekolah hampir saja tertutup, untungnya Nea berlari secepat mungkin. Dan, yaaa Nea berhasil masuk.


" Telat?" tiba-tiba Kivan datang dari samping.


" Astaga, ngagetin banget" ucap Nea ngos-ngosan.


" Udah yuk ke kelas, sebelum gurunya datang" ajak Kivan sambil menarik tangan Nea.


" Dih, nggak usah pegang-pegang kali" Nea mencoba melepaskan tangannya.


" Nggak ada penolakan" ucap Kivan tanpa menerima bantahan. Nea hanya menurut saja, mengikuti Kivan.


" Udah tau telat, malah pacaran. Dasar" ucap Andre saat berpapasan dengan Nea.


" Dih, sirik bilang" jawab Nea sewot.


" Sstt.. jangan diladenin lagi, Ne" ucap Kivan.


Sesampainya di kelas, semua orang heran. Karena bisa-bisanya, Kivan dekat sama Nea padahal anak baru. Sedangkan, temen-temennya pada dicueki.


" Akkheeeem, udah ada yang pacaran nih?" teriak Sam, teman sekelas Nea.


" Dih, apaan sih. Dasar Samsul" teriak balik Nea.


" Cieeeeee" kompak anak kelas lainnya.


" Ck, apaan coba" Nea duduk di kursinya.


" Ne, kemarin lo nggak jadi cerita. Kenapa?" tanya Dias penasaran.


" Oh, nggak jadi hehe" jawab Nea dengan senyum kecilnya.


" Lah? nggak jelas lo" ucap Yoga.


" Yeee, terserah gue dong" balas Nea.


" Oke" jawab Ello, tanpa mau memperpanjang.


" Ntar pulang kita ke mall yuk" ajak Nea pada sahabatnya.


" Ngapain? Lo mau shopping?" tanya Ello.


" Enggak, main aja" berbicara penuh harap.


" Oke" jawab mereka.


" Lo nggak ngajak gue, Ne?" tanya Kivan.


" Kalau lo mau ikut ya, silahkan" jawab Nea.


" Oke, gue ikut" ucap Kivan.


................


" El, gue sama lo ya" ucap Nea yang saat itu melihat jok belakang Ello kosong. " Duh, gue ama Yoga" jawab Ello langsung, karena dia tau, Kivan ingin bersama Nea.


" Terus gue sama siapa?" tanya Nea.


" Sama gue, sini" tarik Kivan membawa Nea ke motor sportnya. Kemudian, Kivan memakaikan helm ke kepala Nea tanpa melepaskan tatapannya pada mata Nea. Nea yang ditatap menjadi salah tingkah.


Blushhh..


" Apaan sih" ucap Nea sambil cepat-cepat menyingkir dari depan Kivan.


" Lo lucu tau kalau lagi blushing" ungkap Kivan gemas dan menoel sedikit pipi Nea.


" Eh-eh" kaget Nea karena kelakuan Kivan.


" Dih, apaan sih pegang-pegang mulu, suka gue tau rasa lo" canda Nea menghilangkan kegugupannya.


" Emang gue suka" ungkap Kivan.


" Dah lah, ayok" tanpa menghiraukan lagi, Nea naik di jok belakang motor Kivan.


" Pegangan, ntar jatuh lo nangis" ledek Kivan pada Nea.


Mereka menuju mall terdekat dari rumah, biar enak pulang nya. Kivan mengajak ngobrol Nea.


" Lo, ada pacar?" tanya Kivan dengan setengah berteriak.


" Hah?" Nea masih budeg telinganya.


" Lo, udah ada pacar?" tanyanya sekali lagi.


Tanpa sadar, Nea memajukan badannya dan berpegangan erat pada jaket Kivan.


" Emm.. kenapa?" tanya Nea balik.


" Nggak apa-apa sih, tanya doang" ucap Kivan, kemudian dia diam.


Disisi lain, Fian dan Dias sedang berbincang juga.


" Keknya Kivan suka deh sama Nea" ungkap Dias setengah berteriak.


" Biarin dah, kasihan tuh anak kelamaan jomblo haha" jawab Fian sambil tertawa.


" Geblek, kita kan disuruh bang Evan ngejagain Nea biar nggak pacaran" Dias menoyor helm Fian dari samping.


" Iya juga sih, nggak apa-apa. Ntar kita rembug aja tuh abang-abang" balas Fian enteng.


Sesampainya di mall, mereka hanya berjalan-jalan tanpa membeli apapun, gabut memang si Nea. Ke mall hanya jalan-jalan.


" Lo, nggak mau beli apa gitu?" tanya Yoga sambil menggandeng tangan Nea.


" Nggak, cuma pingin lihat-lihat aja sih" Jawabnya sambil melihat-lihat toko sekitarnya.


" Hmm, dasar gabut" ucap Yoga.


Kivan tidak suka melihat Yoga menggandeng tangan Nea. Dia pun menyerobot ke tengah-tengah.


" Kita makan disitu yok" ucap Kivan sambil menarik tangan Nea.


" Lah? kita ditinggal" ucap Ello sambil mengikuti Nea dari belakang.


................


" Terima kasih ya, Van. Hati-hati pulang nya" ucap Nea pada Kivan yang mengantarkannya pulang.


" Iya, sama-sama. Byee" balas Kivan sambil melajukan motornya dengan kecepatan tinggi.


" Dih, udah dibilang hati-hati malah ngebut" kata Nea saat melihat Kivan ngebut.


" Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh wahai penghuni rumah yang Allah Rahmati" ucap Nea tanpa berteriak seperti biasanya.


" Wa'alaikumussalaam, eh tumben nggak teriak-teriak Non?" jawab Mbok Asri yang kebetulan lewat di ruang tamu.


" Haha, ntar nyonya ngamuk kalau aku teriak, Mbok" balasnya sambil ketawa, " Duluan ya, Mbok" meninggalkan Mbok Asri sendiri dan pergi ke kamar.


" Huffftt, capek oi" tanpa mengganti baju dan bersih-bersih, Nea sudah terlelap.


Makan malam tiba, tapi Nea tidak kelihatan batang hidungnya dari sore.


" Nea mana, Ma?" tanya Papa Indra pada Mama Nita.


" Masih di kamarnya kali, Pa. Coba susulin Bang" perintah Mama Nita pada bang Evan.


" Oke, Ma".


Ceklekk..


" Lah, bujug buset dia masih tidur" heran Bang Evan.


" Bangun, Ne. Makan dulu, ntar lanjut tidur" ucap Bang Evan sambil mengangkat tubuh Nea untuk didudukkan.


" Gendong sampe meja makan" Nea merentangkan tangannya.


" Dih, Nggak mau abang. Lo berat, jalan sendiri" tolak Bang Evan kemudian berbalik ingin pergi dari kamar Nea. Sebelum jauh, Nea lari dan lompat ke punggung bang Evan.


" Yok, Bang" ucap Nea sambil menyenderkan kepalanya di bahu bang Evan.


" Astaghfirullah, Nea. Turun nggak, lo berat banget dah" keluh Bang Evan sambil berusaha menurunkan Nea.


" Nggak, ayo lah bang. Lama amat dah" Nea malah mengetatkan pelukannya.


Sesampainya di meja makan, Mama Nita hanya menggelengkan kepalanya.


" Nea, astaga nak. Kamu udah gede lo, masa masih minta gendong abang terus sih" heran mama Nita pada anak bungsunya.


" Biarin, abang-abang aku. Terserah aku dong, Ma" jawab Nea sambil mengambil makanan.


" Ck, iya iya. Udah makan yang banyak biar berisi" ucap Bang Evan.


Jangan lupa, Read, like, komen, rate hehe


terimakasih