
" Assalamualaikum, Nea pulang..." teriak Nea saat membuka pintu rumah.
" Wa'alaikumussalaam, nggak usah teriak, Nea. Ini bukan hutan" teriak bang Evan dari ruang keluarga.
" Lah, lo kan juga teriak bang!" menghampiri bang Evan, kemudian duduk di sebelah bang Evan sambil mengusap keringat di dahinya. Dengan jahilnya, setelah mengelap keringatnya, Nea langsung mengusapkan tangannya ke lengan bang Evan.
" Iyyyyuh, jorok banget Neaaaaa!" teriak bang Evan menggelegar. Tak tinggal diam, lengan yang terkena keringat Nea pun langsung diusapkan kembali ke baju Nea. Nea hanya tertawa melihat abang nya.
" Rame banget sih, teriak-teriak terus kek di hutan" ucap mama Nita menghampiri, karena mama Nita tadi berada di taman belakang.
" Ini nih anak mama, masa keringat habis olahraga diusapin ke wajahku" adu bang Evan setengah berbohong.
" Dasar patonah!" teriak Nea sambil melempar bantal sofa ke arah bang Evan.
" Mana papa, Ma?" tanya Nea sambil menyenderkan kepalanya di sofa.
" Pamit ke kamar tadi, kenapa?" meletakkan majalahnya yang dibaca.
" Nggak apa-apa, tanya aja" ucap Nea sambil berdiri, " aku ke kamar dulu, Ma. Mau mandi, gerah" pamitnya, dengan segaja menginjak kaki bang Evan.
" Akhlak ilang, Nea!" teriak bang Evan, sambil menyentuh kakinya.
Di kamar
" Hmm, ntar malam ngajak bang Evan ke danau lagi ah" berbicara sendiri di depan kaca. " Eh, ngajak bang Evan apa sendiri aja ya?" Nea mempertimbangkan keinginannya, " Apa ngajak SOG ya?" masih berbicara sendiri.
Grup WA SOG
Nea: Ntar kita keluar ya, sekitar pukul 7 malam!
Fian: Mau kemana?
Ello: Ke pasar malam?
Yoga: Insyaallah
Dias: Tumben, Yog
Yoga: Gue males, pengen tidur
Nea: Oke, nanti kita ke rumah Yoga aja. Fiks
Fian: Gas!
Dias: Gas!
Yoga: Nggak ada, kalian resek kalau kesini
Ello: Terus?
Yoga: Kita keluar.
Nea: Oke, ntar di taman aja yaw.. Bye
Setelah itu, Nea segera membersihkan diri. Tak lama kemudian, Nea turun dan menghampiri bang Evan yang sedang bermain PS di ruang keluarga.
" Bang, keluar yok cari bakso. Enak nih, siang-siang begini makan bakso" duduk sambil menatap bang Evan yang serius bermain sepak bola di PS. Karena tidak ada jawaban dari bang Evan, Nea pun langsung mematikan PS nya.
Bang Evan? jelas terkejut, lagi-lagi dia dibuat emosi oleh adik tersayangnya.
" Huuuufffft, Neaaaa adik abang yang manis dan cantik" tersenyum marah ke arah Nea. Nea yang melihat itu tidak ada rasa takut malah ingin ketawa. " Ada apa!" langsung bertanya dengan muka datar.
" Makannya kalau ada orang ngomong, telinga dibuka buat dengerin. Eman, kuping gawe centelan tok!" menatap bang Evan dengan senyum mengejek nya.
" Mau apa?" mode biasa, sambil menyalakan lagi game nya.
" Ayo beli bakso" ajak Nea sambil menarik tangan Bang Evan.
" Enggak ah, gue mau mie ayam" melepaskan tangan Nea, dan mengambil stik PS nya lagi.
" Yaaa!, kita cari penjualnya yg jualannya dobel. Astaga!" Nea mengcapek dengan abangnya.
Mereka berdua pun berkeliling mencari tempat penjual mie ayam yang ada baksonya. Mereka berkeliling panas-panasan, ya.. karena mereka naik sepeda motor.
" Itu bang!" menepuk pundak bang Evan. Bang Evan pun segera menuju ke tempat penjual mie ayam nya. Mereka berdua segera turun, dan mencari tempat duduk di dekat kipas.
" Bang, mie ayam 1, bakso 1, es jeruk 3" ucap bang Evan pada abang penjual nya.
" Iya, Mas" abang bakso pun segera membuatkan pesanannya, karena emang siang itu sedikit sepi pengunjung warungnya.
Tak lama kemudian, makanan mereka datang.
" Bang, kok air nya 3?" tanya Nea sambil mencampur adukkan sambal dengan baksonya.
" Iya, Abang tahu kalau nanti kamu kepedesan pasti nyerobot punya abang!" menyendok mie ayamnya. " Nyoba nggak dek?" tanyanya sambil menyodorkan mie yang sudah digulung ke arah mulut Nea. " Mana bang" Nea membuka mulutnya dan bang Evan menyuapkan mie nya.
Dari kejauhan, seseorang melihat interaksi Nea dan bang Evan dengan wajah yang tidak bisa ditebak. Dia tidak tahu, kalau Nea punya abang.
" Oh ini toh, yang buat dia cuek sama siapapun! Udah ada yang punya ternyata" orang itu pergi dengan motor sportnya.
Tak lama kemudian, Nea dan bang Evan pun sudah selesai. Mereka segera pulang, tapi ada aja yang buat berhenti di tengah jalan. Nea, kalau sudah lihat makanan pasti khilaf mulut eh mata ding.
" Bang, berhenti" Nea melihat ada penjual pentol bakar, dan di segera turun untuk membelinya. Bang Evan yang ada di atas sepeda motor hanya diam menunggu.
Sudah 30 menit Nea turun, tapi tidak ada tanda-tanda untuk kembali ke bang Evan. Bang Evan yang jengah, sudah turun dan ingin mencari adiknya. Tapi apa yang di dapat?
" Abaaaang! bantuin" Nea kesusahan membawa makanan yang dia beli.
" Astaga, dek. Apaan ini, katanya tadi beli pentol bakar doang, kenapa jadi ada boba, cimol, cilok, kue leker, sosis bakar, duh apa ini? bakso lagi" cerocos bang Evan pada Nea, meskipun begitu tetap membawakan ke sepeda motor.
" Ssstt.. abang diem" bicara Nea sok halus.
Saat di jalan, Nea memakan cimolnya. Dia pun bergantian makannya. Setelah Nea makan, dia akan menyuapi bang Evan. Orang-orang yang melihatnya pun mengira bahwa mereka adalah sepasang kekasih.
'Dunia milik berdua'
'Yang lain ngontrak'
'Sok romantis jal'
'Panaaaas'
'So sweeet'
Bisik-bisik para pengendara jalan lainnya yang saat ini berhenti di lampu merah.
Ternyata, ada Andre di belakang Nea. Andre pun tidak mengetahui, jika Nea punya seorang abang. Andre juga mengira, kalau itu adalah kekasihnya.
" Apaan sih alay banget makan di atas motor, nggak bisa gitu berhenti dulu" ucap Andre sewot. Untung dia pakai helm.
Nea dan bang Evan hanya bodoh amat mendengar suara-suara di sekitarnya.
Tak lama kemudian, mereka berdua sudah sampai di rumah. Nea langsung mengajak bang Evan ke belakang untuk menikmati jajanan yang Nea beli. Sebenarnya bang Evan menolak, tapi karena paksaan Nea, akhirnya bang Evan mau.
" Panggil temenmu kesini aja dah, abang nggak sanggup, Ne. Ini banyak banget dah" keluh bang Evan setelah melihat jajanan yang sudah di keluarkan dari kantong kreseknya.
" Oke bang" Nea pun keluar rumah langsung pergi ke rumah tetangga yang merupakan sahabat-sahabatnya.
" Diaaaaaas, Yogaaaa, Fiaaaan, Elloooooo, cepetan ke rumah" teriaknya tanpa rasa bersalah. Keempat anak tersebut hanya mendesahkan napasnya. Kemudian menghampiri Nea di taman belakang.
" Yok makan-makan, tadi gue beli banyak" ucap Nea pada sahabatnya.
" Beneran ini, Ne?" ucap Dias yang saat itu tengah mengantuk menjadi melek seketika.
" Iya, udah kalian...
Jangan lupa, Read, like, komen, rate hehe
terimakasih