Neona

Neona
Bab 5



Di sekolah


Saat di kelas, Nea termenung sendiri di bangku pojoknya. Kenapa dia suka bangku pojok? Ya karena menurutnya itu tempat paling strategis buat makan saat jam mata pelajaran.


Tiba-tiba...


Semoga kau dan aku, satu hati sampai mati


Setia tak terganti..


Nea, menyanyikan sepenggal lagu dengan wajah bengongnya.


" Ne? Lo nggak apa-apa kan?" Yoga menyadarkan Nea dari lamunannya.


" Hah? Lo ngomong apa?" jawab Nea dengan wajah bingung.


" Nggak ada, yok gais ke rooftop" ajak Dias pada mereka. " Yok" jawab mereka serempak.


" Oh ya, kalian duluan ya. Ntar gue nyusul" ujar Nea pada sahabatnya.


Saat menuju ke rooftop, tepatnya di tangga. Lagi-lagi Nea tidak sengaja menyenggol bahu Andre yang sedang membawa tumpukan buku.


Bruuuk..


" Duh, maaf nggak sengaja" berjongkok untuk membantu mengambil buku yang berserakan. Nea mengambil buku-buku tanpa melihat siapa yang dia tabrak.


" Astaga, lo lagi lo lagi!.. sial banget gue kalau ketemu lo!" sarkas Andre dengan wajah judesnya.


" Gue nggak sengaja!" menghempaskan buku yang sudah Nea ambil dan pergi menyusul sahabatnya.


" Ck, dasar!" Andre mengambil lagi buku-bukunya yang dibuang Nea.


Sesampainya di rooftop, Nea langsung duduk di samping Yoga dan menyandarkan kepalanya di pundak Yoga.


" Hufftt.. gais" panggil Nea pada sahabatnya dan menghela nafasnya dengan kasar.


" Ape?" jawab mereka serempak.


Hening, Nea tidak menjawab pertanyaan mereka. Nea malah bengong.


" Hee! Apaan lo panggil panggil, disautin malah diem bae!" Yoga yang bahunya dibuat senderan pun menghindar. Mau tidak mau, Nea akhirnya jatuh ke samping.


" ****** Yoga, bikin kaget aja lo! untung ni sofa ye. Gue jatuh ke lantai gue gorok leher lo!" ancamnya pada Yoga. Bagaimana ekspresi mereka berempat? tentu saja langsung tertawa, karena menurut mereka, Nea sama sekali tidak cocok untuk marah.


" Ahahah, lo kalau marah imut Ne. Nggak cocok ah.. Ahahah" tawa Ello dengan menabok lengan Fian yang berada di sampingnya. Leh? bukannya perempuan ya, yang suka nabok🤣.


" Aishhhh, yuk balek ke kelas" ajak Dias pada sahabatnya. " Ngoke" jawab mereka sambil berjalan.


Sudah lama mereka di sekolah, akhirnya waktu berpulang pun tiba. Mereka pulang pukul 15.30.


" Yok, El" Nea sudah nangkring di atas sepeda motornya Ello. " Ya ampun, Ne" heran Ello. Walaupun rumah mereka berempat berdekatan, mereka kerap sekali tidak berangkat sekolah bersama semenjak SMA.


......................


" Assalamu'alaikum... Nea datang" teriak Nea sambil terus berjalan ke arah tangga.


" Wa'alaikumussalaam, kebiasaan. Jangan teriak-teriak, Nea. Bukan di hutan ini" tegus mama Nita pada Nea yang saat itu sedang berada di dapur.


" Hehe, iya ma" menghampiri mama Nita dan mencium tangan mama Nita. " Aku ke kamar dulu, Ma" pamitnya setelah bersaliman.


" Iya, habis itu kesini ya bantuin mama" jawab mama Nita sambil melanjutkan masaknya. " Oke, Ma"


Tak lama kemudian, Nea sudah turun dan langsung ke dapur untuk membantu mama Nita menyiapkan makan malam nanti, sambil menunggu papa Indra dan bang Evan pulang dari kantor. Yaps, Papa Indra masih membantu sedikit masalah kantor.


Pukul 16.45, papa Indra dan bang Evan sudah pulang. Mereka pun segera bersih-bersih. Sambil menunggu makan malam tiba, kami berkumpul di ruang keluarga untuk berbincang-bincang, walaupun itu susah bagi Nea.


" Gimana pembelajaran di sekolah, Ne?" basa basi papa Indra pada Nea.


" Alhamdulillah" jawab Nea singkat.


" Belajar yang rajin ya, ntar papa ajak keliling Jawa Timur kalau Nea lulus dengan nilai yang terbaik" ucap papa Indra dengan mengelus pucuk kepala Nea.


" Yeeeeh, Jawa Timur? Ku kira keliling Indonesia" jawab Nea dengan nada kesalnya.


" Boleh, pokoknya lulus dengan nilai yang terbaik" balas papa Indra. " Oke, Pa" jawab Nea semangat tapi dengan wajah datarnya.


Beberapa hari kemudian


Di sekolah, seorang pria tampan berwajah dingin berjalan sendirian. Terlepas dari gadis di sekitarnya yang menatapnya, dia tetap melanjutkan berjalan menuju kelas barunya, sampai dia bertemu dengan seorang guru yang akan mengajar di kelas yang sama.


" Pagi, pak" sapanya pada guru yang berjalan dengannya.


" Pagi, kamu murid baru yang pindahan kemarin kan?" tanya Pak Rusli.


" Iya, Pak" jawabnya singkat.


Sesampainya di kelas, anak-anak pada heboh karena kedatangan seorang pria tampan. Tapi, tidak dengan Nea yang asik dengan HP nya.


'Anj*r tampan banget'


'Pangeranku'


'Aiihhh, nggak kuat mataku'


'Ketos kalah sumpah'


Teriak para ciwi pada kelas 12 IPA 2 saat melihat dia.


" Anak-anak diam, biarkan dia memperkenalkan diri dulu. Silahkan, nak" Pak Rusli mempersilahkan.


" Gue Kivandra Alfio, pindahan dari SMA 2 Bangsa, terima kasih" Kivan memperkenalkan dirinya dengan singkat. Anak-anak kelas yang melihatnya pun langsung melongo.


" Anj*r dingin banget, males gue" cakap salah satu ciwi di kelas.


" Ya sudah, silahkan duduk di bangku pojok itu" Pak Rusli menunjuk kursi di sebelah Nea yang kosong.


" Pak, nggak ada kursi lain kah? Udah enak sendiri lo" protes Nea pada pak Rusli.


" Nggak ada, udah terima aja" Pak Rusli pun duduk di kursi kerjanya.


Tanpa basa-basi, Kivan langsung duduk di sebelah Nea. Nea hanya melihat dengan sekilas wajah Kivan.


" Cakepan juga Abang gue" batin Nea.


Dias dan yang lain langsung melihat ke arah Kivan, Kivan yang dilihat pun heran.


" Kenapa?" tanya Kivan pada mereka.


" Jangan diem-diem bae, kenalan sini napa" ucap Yoga sambil menjulurkan tangannya. " Yoga" lanjutnya. Dan diikuti oleh Fian, Dias, dan Ello. Nea? bodoh amat.


Ello yang tahu kalau Nea bodoh amat, langsung bilang ke Kivan, " Dia, Nea. Sahabat kami berempat. Judes emang orangnya kalau belum kenal" ucap Ello. Kivan yang mendengarnya pun hanya mengangguk-anggukkan kepalanya, " Oh, oke".


Pelajaran sudah selesai, waktunya beristirahat.


" Lo mau ikut ke kantin nggak?" ajak Dias pada Kivan. " Sekalian, kita keliling sekolah biar Lo nggak nyasar" lanjutnya.


" Oke" balasnya singkat, setelah itu Kivan mengikuti geng SOG dari belakang. Eh nggak ding, sama Fian. " Kenapa lo pindah Van?" tanya Fian basa-basi.


" Ada masalah" Jawabnya singkat. Fian yang mendengarnya pun hanya mengangguk.


Sesampainya di kantin, seperti biasa Nea akan memilih tempat duduk bagian pojok.


" Biasanya ya El, tolong" ucap Nea pada Ello, kemudian Nea meletakkan kepalanya di meja sambil bermain tangannya. " Oke, kalian sama?" tanya Ello pada lainnya. " Ngikut" jawab Kivan.


" Yok, ikut gue Yas" menarik tangan Dias. Tak lama kemudian, Ello dan Dias datang membawa nampan berisi 6 soto, 3 air putih, dan 3 es teh.


" Terima kasih" ucap mereka yang hanya menunggu.


................


Selama beberapa hari itu, hubungan Nea dengan kedua orangtuanya mulai membaik. Sekarang, hari minggu. Hari dimana Nea dan teman-teman nya jogging di taman yang tidak jauh dari rumah mereka.


Sudah 3 putaran mereka lari, Nea yang melihat tukang bubur ayam pun langsung berhenti dan mengajak keempat temannya makan.


" Bang, 5 ya makan sini" ucap Nea pada kang bubur ayam. " 6 bang, sekalian" tiba-tiba Kivan nongol di belakang Nea. " Isssh, apaan sih" ucap Nea sewot sambil menghampiri keempat temannya.


" Kalau gini tadi mending sarapan dulu, Ne. Astaga, percuma kita lari" protes Fian sambil mengibaskan bajunya untuk memberi angin.


" Tau ih dasar, Nea. Kebiasaan" sewot Yoga sambil melirik sinis pada Nea.


Belum sempat Nea menimpali, " Gue gabung ya" Kivan mengambil kursi di samping Nea.


" Silahkan" balas keempat laki-lakinya.


................


Di sisi lain, tepatnya di rumah Nea. Bang Evan sedang duduk bersama kedua orangtuanya di ruang keluarga sambil berbincang-bincang.


" Jadi, gimana Ma? masalah perjodohan Nea dengan anak teman Mama itu?" tanya Bang Evan pada mama Nita.


" Emm.. nunggu lulus aja bang, mama takut ganggu sekolahnya nanti" ucap mama Nita.


" Oh, kenapa nggak di ikat dulu aja, Ma. Tunangan gitu?" tawar bang Evan pada mama Nita.


" Kenapa sih bang? kok abang yang heboh?" timpal papa Indra yang sejak tadi hanya diam.


" Gapapa sih, Pa" selanjutnya mereka hanya mengobrol tentang perusahaan di Jakarta yang akan di pindah ke perusahaan di Surabaya.


................


" Wis wareg, kuy muleh" ajak Nea pada keempat temannya, tanpa mengajak Kivan.


(wareg \= kenyang)


(muleh \= pulang)


" Yok, eh lo nggak pulang?" tanya Ello pada Kivan. " Iya, ntar" jawab Kivan dengan cuek.


Kemudian, Nea and the geng nya pulang sambil bercanda ria.


" Kok lo cuek banget sih, Ne" tanya Dias, karena heran dengan Nea yang cuek banget pada Kivan. " Cuek apa?" tanya Nea sok tidak tahu.


" Keknya dia suka lo deh, Ne" kompor Yoga sok tahu. " Ngadi-ngadi gue jambak" ancam Nea pada Yoga. " Haha, iya iya astaga gitu aja lo sensi banget" ejek Yoga pada Nea.


Jangan lupa, Read, like, komen, rate hehe


terimakasih.