Neona

Neona
Bab 19



Daripada urusan panjang, mending potong aja, batin bang Satria.


" Yaudah yok" jawab mereka semua. Mereka pun segera meninggalkan tempat makan, dan segera menuju ke tempat dimana tempat itu adalah tempat menjual hasil produksi dari sapi. Atau pusat oleh-oleh kota M.


Sesampainya di tempat susu, Nea mengambil ice cream dan membayarnya langsung kemudian membawanya keluar untuk dimakan. Kivan mengikuti dari belakang.


Tiba-tiba Kivan menyenderkan kepalanya di bahu Nea.


"Sayaaaang" ucap Kivan pada Nea sedikit manja.


" Apa?" tanya Nea sambil menyuapkan ice cream pada Kivan.


" Kangen tau!" jawab Kivan sok merajuk.


" Dih, dari kemarin kan bareng, Van" ucap Nea.


" Apaan, bareng doang deket kagak" Kivan masih merajuk.


" Hmm, iya iya.. habis ujian kita keluar berdua" Nea tidak mau ambil pusing.


" Bener ya" ucap Kivan dengan mata berbinar.


" Iya, Van" jawab Nea, tiba-tiba Yoga keluar dari tempat oleh-oleh.


" Bisa-bisanya ya, yang di dalem milih-milih. Kalian malah pacaran" heran Yoga pada Kivan dan Nea.


" Nggak usah bacod, iri saingin" jawab Nea cuek.


" Dih, belum ada" jawab Yoga kemudian duduk samping Nea, " Gue masih belum yakin sama si Andin" lanjutnya sambil meminum susu yang dibawa dari dalam.


" Nggak yakin kenapa?" tanya Nea penasaran.


" Emm.. nggak tau lah aku" jawab Yoga mengedikkan bahunya.


" Heleh" Nea berdiri membuang wadah ice cream nya. Tak lama kemudian, orang yang sedang berbelanja pun keluar.


" Udah selesai, markipul gaes" sorak Fian dan Ello.


" Apaan?" tanya Kivan tidak mengerti.


" Mari kita pulang, aneh-aneh emang mereka berdua" sahut Nea.


" Dih" ucap Fian dan Ello.


Mereka pun segera meninggalkan kota M dan kembali ke kota S. Di perjalanan, mereka mengendarai motornya dengan kecepatan rata-rata, mereka menikmati perjalanan sekitar. Banyak pohon-pohon besar di sekelilingnya, dan mereka merasakan angin sepoi-sepoi yang menerpa wajahnya.


" Andai di tempat kita gini ya bang, pasti adem ahihi" ucap Nea pada Bang Evan.


" Bisa aja sih, tapi rawan longsor" jawab Bang Evan.


" Dih, ya cari daerah yang nggak rawan lah bang" balas Nea.


" Boleh aja, ntar kamu kuliah aja disini. Biar tiap hari lihat pohon terus" ucap Bang Evan.


" Ide yang bagus" Nea pun diam dan menikmati lagi pemandangan sekitar.


Tak lama, sekitar 2 jam setengah mereka sudah sampai di kota S, dan sekarang mereka sudah berada di rumah Nea.


" Alhamdulillah, akhirnya sampe juga" ucap Ello kemudian merebahkan dirinya di bawah.


" Istirahat dulu lah kalian, ntar gue bangunin" ucap Nea pada semua.


" Kalau aku langsung pulang, Ne" sahut Kivan.


" Entaran napa, masih capek" balas Nea. Nea pun langsung pergi ke kamarnya.


" Tapii.." Kivan belum melanjutkan perkataannya, sudah dipotong oleh Fian.


" Udah istirahat aja dulu" sahut Fian.


" Oke deh" Kivan pun merebahkan dirinya, dan tak lama mereka sudah berada di alam mimpi.


Nea lebih dulu bangun dari alam mimpinya. Dia pun langsung ke bawah untuk membangunkan mereka semua.


" Bangun yuhuuuu... udah mau ashar ini, bangun bersih-bersih sekalian sholat terus makan, kalian pulang" ucap Nea panjang sambil menggoyangkan bahu mereka semua. Setelah mereka bangun, seperti yang diucapkan Nea tadi. Mereka semua langsung bersih-bersih.


" Pulang dulu ya" pamit Kivan, dan yang lain pada Bang Evan, Bang Satria, dan Nea.


" Iya" Nea mengantarkan Kivan sampe pagar rumah.


" Besok aku jemput loh, Yang!" ucap Kivan sebelum melajukan motornya.


" Oke deh, tapi jangan ngebut loh ya" Kivan memberi izin.


" Iya, udah pulang sana. Belajar, besok ujian" ucap Nea menepuk pundak Kivan.


" Iya, daaah ya.. see you" Kivan pun melajukan motornya dengan kecepatan rata-rata.


" Too" Nea berbalik dan kaget ada Bang Evan di belakangnya.


" Anjir setan bangsul" umpat Nea sambil memukul badan Bang Evan.


" Awas aja lo macem-macem kalau pacaran" ancam Bang Evan pada Nea.


" Macem-macem apa sih bang" jengah Nea, kemudian meninggalkan Bang Evan dan pergi ke kamarnya.


" Mantap lah, besok matematika" Nea pun membuka bukunya dan memulai belajar.


" Ntar malem ke minimart bentar ah, gosong wajah gue nih" gumam Nea.


Malam harinya.


Nea sudah siap dengan motornya, tiba-tiba Bang Evan datang dari belakang.


" Mau kemana malam-malam gini?" tanya Bang Evan menginterogasi.


" Mau open" jawab Nea becanda.


" Pulang lo, aneh-aneh aja" mengambil kunci motor Nea.


" Dih abang, gue mau ke minimart. Cepat balikin" ucap Nea sambil mengadah meminta kuncinya.


" Beneran lo? Yakin? jangan-jangan lo mau ketemuan ya sama si Kivan" tuduh Bang Evan tidak jelas.


" Sotoy setan, gue mau beli sesuatu" ucap Nea ngegas.


" Ya udah nih, awas lo macem-macem" Bang Evan pun mengizinkan Nea pergi.


Sesampainya di minimart.


" Hmm.. sekalian beli apa ye enaknya. Pingin nyamil gue" Nea pun memasukkan beberapa makanan ringan dalam keranjangnya. Nea pun tidak sengaja bertemu Kivan bersama Laura. Laura menggandeng mesra lengan Kivan.


Nea pun langsung menutup kepalanya dengan Hoodie nya dan memakai masker.


" Setan, bisa-bisanya tadi pamit tidur, malah jalan" umpat Nea, kemudian Nea terburu-buru pergi ke kasir dan membayar semuanya. Saat keluar dari pintu, Nea tidak sengaja menabrak tubuh seseorang.


" Maaf" ucap Nea kemudian pergi dari minimart tersebut dengan hati sedikit ahem. Nea mengendarai motornya dengan kecepatan penuh. Sampai di rumah, Nea langsung pergi ke kamarnya tanpa memperdulikan Bang Evan yang memanggilnya.


" Kenapa dah tuh anak" gumam Bang Evan kemudian ia pergi ke kamarnya juga.


Di kamar Nea.


" Hufft, dah lah ngapain mikir gitu. Tidur aja, besok biar pressh nih otak" gumam Nea kemudian dia langsung memasuki alam mimpinya.


Keesokkan harinya.


" Yuhuuu, efribadiii Nea yang cantik turun nih. Mana sambutannya" teriak Nea sedikit berjalan cepat ke arah meja makan.


" Berisik" jengah Bang Evan.


" Abcd bang" sahut Nea.


" Loh, Bang Sat mau kemana?" tanya Nea saat melihat koper di dekat ruang makan.


" Mau pulang lah" jawab Bang Satria sambil mengambil roti.


" Kok pulang?" tanya Nea lagi dengan wajah imutnya.


" Ya, besok abang mau kerja lagi Ne" jawab Bang Satria.


" Yaaaah, seminggu lagi gitu loh bang" pinta Nea sambil menyenderkan kepalanya di lengan Bang Satria.


" Ya nggak bisa toh, kantor butuh abang ini. Ini aja curi-curi waktu" ungkap Bang Satria sambil mengelus kepala Nea.


" Tapi, kalau nanjak lagi.. kesini ya bang?" pinta Nea pada Bang Satria.


" Iya, tenang aja, Nea" jawab Bang Satria.


Jangan lupa, Read, like, komen, rate hehe


terimakasih