
Tak lama kemudian, mie pun sudah matang. Mereka berempat memakan 3 mie dalam 1 wadah. Namanya laki-laki ya, belum sampe 5 menit mie pun sudah ludes. Apalagi di atas gunung, yang panas pun akan terasa dingin.
" Oh ya, bentar mau ambil air buat besok mumpung sepi itu sumbernya" ucap Bang Satria.
" 2 botol aja, Sat" jawab Bang Evan.
Bang Satria pun hanya membawa 2 botol. Saat di sumber air, ternyata ada seorang cewek yang sedang mengambil air juga.
" Mbaknya darimana?" tanya Bang Satria membuka obrolan sambil menunggu giliran.
" Eh? dari kota B mas" jawab Mbaknya, " masnya darimana?" lanjutnya bertanya.
" Saya dari Kota S mbak" jawabnya, Bang Evan pun segera mengambil air saat dirasa Mbak tadi sudah selesai.
" Mbaknya namanya siapa ya?" ucap Bang Satria selagi mbaknya belum pergi.
" Panggil Ruru, mas" jawab mbak Ruru kemudian langsung pergi.
" Loh? mbak Ruru kok cepet amat yak" heran Bang Satria kemudian melanjutkan mengambil airnya. Tak lama kemudian, Bang Satria sudah kembali ke tendanya.
" Heee, tidur kalian. Ati-ati lo kena jambak Nea" ucap Bang Satria saat melihat Fian dan Ello masih di depan tenda.
" Lah? kita nungguin abang" jawab Ello beralasan. Mereka pun masuk tenda dengan memakai sleeping bag masing-masing, karena udara semakin dingin.
Pukul 04.00, Nea sudah bangun. Dia melihat Bang Evan tertidur menghadap ke arahnya.
" Bangun, Bang. Ayok summit, biar dapet sunrise" Nea menggoyang-goyangkan tubuh bang Evan. Kemudian Nea keluar dan masuk tenda-tenda lainnya untuk membangunkan semuanya.
Mereka segera bangun segera melaksanakan ibadah dan mempersiapkan diri untuk pergi summit, karena perjalanan menuju puncak banyak sekali jalan terjal, tanpa ada jalanan landai.
" Abang pake oblong gitu aja?" tanya Nea pada Bang Evan yang hanya memakai kaos oblong.
" Iya, ntar ribet kalau pake jaket. Yok" ajak Bang Evan pada semua.
" Gue nggak ikut muncak ya" ucap Ello, dan semuanya menoleh kearahnya, " Eh kenapa? gue males. Masih ngantuk ini, pen bobok" jawabnya sambil nyengir.
Nea menatap Ello dengan tajam, awas aja kalau lo nggak ikut, habis lo, batin Nea.
" Iya-iya gue ikut" putus Ello saat melihat tatapan Nea.
" Nah, ayok berangkat" ucap Nea.
Sebelum berangkat, mereka berdoa terlebih dahulu. Oke, pukul 04.20 mereka melakukan summit. Trek yang mereka lewati cukup menantang sih. Banyak bebatuan dan tanah gembur, makannya mereka harus ekstra hati-hati. Perjalanan menuju puncak hanya satu jam jika kuat.
Pukul 05.35 mereka sudah sampai puncak, mereka pun disuguhkan dengan lautan awan yang cukup menyejukkan mata dan matahari terbit yang Masya Allah indahnya.
" Huweeee, terharu" ucap Nea memeluk Bang Evan dan menangis. Rasa syukur tiada henti, karena melihat keindahan alam yang sangat indah, dan melihat kuasa Allah.
" Dih, Ne. Jangan nangis, udah" Bang Evan menenangkan Nea.
" Udah bang, fotoin gue" Nea menyodorkan kameranya pada Bang Evan.
" Bentar selpi dung dek" ucap Bang Evan, kemudian Bang Evan mencium pipi Nea dan memotret nya, begitu sebaliknya.
" Sini, Van. Kita berdua poto" ajak Nea pada Kivan. Kivan pun menghampiri Nea.
" Sama gue" sahut Bang Evan.
" Pergi, gue mau poto berdua" Nea mendorong Bang Evan. Selesai sudah berfoto ria bersama Kivan, sekarang giliran tim SOG yang poto ges.
" Lo dibelakang gue El, Yog" ucap Nea yang berada di tengah-tengah.
" Oke, yok" jawab Ello. Mereka pun poto bersama. Setelah semua selesai berpoto-poto. Pukul 08.30 mereka pun turun, dan menuju tenda pun hanya 45 menit.
" Lapar gue, mana berasnya. Gue yang masak" ucap Nea kemudian membongkar nesting untuk memasak nasi dan lainnya.
" Kompor sisain dua buat turun ntar" ucap Bang Satria.
" Iya bang" Jawab Fian, " Loh kita turun kapan bang?" lanjutnya bertanya.
" Besok pagi-pagi sekali" jawab Bang Satria.
" Kita naik gunung sebenarnya banyak banget lo yang bisa dipelajari" ucap Bang Evan memulai obrolan.
" Ntar aja bang ceramahnya pas turun" sahut Nea sambil memasak nasinya.
" Oneng" Bang Evan mendorong Nea.
" Duh, untung nggak tumpeh nih" ucap Nea dan mencubit perut Bang Evan.
" Van" panggil Bang Satria, otomatis Bang Evan dan Kivan menoleh dan sama-sama bilang apa? ahaha.
" Eh sorry, Evan, Van" bicara Bang Satria pada Kivan.
" Main gitar yok" Dias mengeluarkan gitar yang dibawanya dari dalam tenda.
*Ku pikir kau sudah melupakan aku
Ternyata hatimu masih membara untukku
Waktu kan berlalu tetapi tidak cintaku
Dia mau menunggu untukmu untukmu
Aku milikmu malam ini
Kan memelukmu sampai pagi
Tapi nanti bila ku pergi
Tunggu aku di sini
Waktu kan berlalu tetapi tidak cintaku
Dia mau menunggu untukmu untukmu*
Dias membawakan lagu dari Pongki Barata-Aku milikmu.
" Dih, masih pagi oi bukan malam" protes Kivan.
" Iya juga sih, bentar. Apaan ya lagu yang enak" Dias berpikir untuk mencari lagu yang enak.
Laut biru begitu lapang
Dan gelombang menghalau bosan
Petualang bergerak tenang
Melihat diri untuk pergi lagi
Ya sejenak hanya sejenakIa membelai semua luka
Yang sekejap hanya sekejapIa merintih pada samudera
Sebebas camar engkau berteriak
Seikhlas karang menunggu ombak
Seperti lautan engkau bersikap
Dias membawakan lagu dari Iwan Fals yang berjudul sang petualang.
" Nah, cukup cocok" sahut Fian.
" Van, tolong siapin piringnya ya" pinta Nea pada Kivan.
" Siap" Kivan pun segera menyiapkan piring dan sendoknya.
Tak lama kemudian, makanan pun sudah siap. Ada nasi, sayur sop, tempe, sosis dan sebangsanya.
Mereka pun makan dengan lahap. Mereka beristirahat lagi untuk menyiapkan tenaga besok pagi. Kebanyakan para lelaki sudah tertidur. Hanya Nea dan Kivan yang berada di luar tenda.
" Beda kamu ya, Yang" ungkap Kivan apa adanya.
" Apanya?" tanya Nea bingung.
" Emm, cerewet haha" canda Kivan.
" Ya kalau udah srek dihati pasti gu- eh aku cerewetin sih" ungkap Nea yuyur😅.
" Dih, masih nyeplos aja tuh gue-gue" sewot Kivan.
" Uluh, nggak usah ngambek" canda Nea.
" Tidur gih, Van" pinta Nea.
" Nggak mau, kenapa? kamu mau tidur?" tanya Kivan.
" Enggak juga sih hehe" jawab Nea.
" Tidur kalean berdua, pacaran mulu" teriak Bang Evan dalam tenda.
" Dih, Iri saingin bos" balas Nea mengejek.
Pukul 11.00 Nea dan Kivan pun masuk ke tenda masing-masing untuk tidur sebentar. Tak lama kemudian mereka bangun pukul 12.00, mereka melaksanakan ibadah, dan berleyeh-leyeh sambil membersihkan keperluannya.
" Nggak jadi pulang besok, sekarang aja. Nyar nginep di Oyo aja ya ges, besok kuta jalan-jalan keliling Kota M bentaran" ucap Bang Evan. Bang Evan tadi sempat berdiskusi dengan Bang Satria dan Nea.
" Boleh bang, kalau gitu ayok dah. Biar nggak kemaleman ntar" ucap Yoga.
" Oke, sekaranglah kita beberes" ucap Nea.
Mereka pun segera membereskan apa yang mereka buat, saat sedang membereskan perlengkapan, ada seseorang yang tiba-tiba datang.
" Permisi mbak, mas. Apa masih ada persediaan mie nya ya, kalau boleh dibeli kami beli 4 mbak mas" ucap pendaki lain yang kehabisan bahan makanan.
" Oh ada mas mbak, sebentar" ucap Nea, kemudian mengambilkan 1 bungkus plastik beras, 2 bungkus roti, dan 3 bungkus mie.
" Ini mbak, nggak usah dibayar" menyodorkan kantong plastik pada pendaki yang meminta bantuan.
" Aduh, terima kasih banyak ya mas mbak, Barakallahu" ucap pendaki itu, kemudian mereka pamit untuk kembali ke tendanya.
Untung saja, Nea membawa banyak persediaan. Jadi tidak takut untuk kehabisan.
" Udah semua?" tanya Nea pada semua.
" Udah mbak" jawab tim SOG.
" Yeeee" Nea mencibikkan bibirnya.
" Oke, berdoa dulu ya" Ucap Bang Evan, dengan doa yang sama. Turun dengan lancar, tidak kurang satupun, dan selalu dilindungi oleh Allah.
" Go berangkat" ujar Ello.
Mereka pun melakukan perjalanan turun pukul 13.00
" Bang Sat, lo kok nggak ngajakin gue ngomong sih" tanya Nea yang kebetulan berada di belakang bersama Bang Satria.
" Dih, lu nya aja yang pacaran mulu" cibir Bang Satria.
" Nggak usah bawa-bawa pacaran kali, iri ya saingin" ejek Nea balik.
" Dih" sewot Bang Satria.
Perjalanan turun tidak terlalu berat, karena sebagian besar pendaki akan lari untuk sampai ke tempat basecamp. Dan jarang juga para pendaki turun banyak yang beristirahat. Mungkin hanya beberapa.
" Malam ini, tak ingin aku sendiriiiii" sepenggal lagu dinyanyikan Nea.
" Kita berdelapan ya" sahut Bang Evan dari depan.
" Dih, gue nyanyi" Nea pun melanjutkan nyanyiannya.
Nea berhenti melihat turunannya begitu curam. Kivan pun langsung menyodorkan tangannya ke Nea. Nea langsung menggenggam tangan Kivan. Kivan membantu Nea supaya tidak jatuh dengan berpegangan pada pohon di sampingnya.
" Sekitar jam berapa bang kita nyampe basecamp" tanya Fian.
" Paling maghrib lah" ucap Bang Evan.
" Henti dulu, capek bang" sahut Dias.
Mereka pun berhenti sekejap, untuk meluruskan kaki. Setelah 10 menit, mereka melanjutkan perjalanan.
" Mari maasss" sapa mereka pada pendaki lain yang sedang beristirahat juga.
" Iya mas, mari mari" jawab pendaki lain bersamaan.
" El, ada ciwi tuh, minta semangat sana ntar lu lari ke bawahnya" ucap Nea.
" Videoin ya" pinta Ello.
" Gampang, gih cepet" Nea mendorong Ello dan mengeluarkan HP nya.
" Mbak, kasih semangat dong" ucap Ello pada mbak pendaki itu.
" Semangat, maaas" jawab mbak pendaki sambil tersenyum manis.
Ello pun langsung lari kebawahnya. Yang lain hanya tertawa melihat tingkah Ello. Ada-ada saja.
Akhirnya mereka sudah sampai di pos 2, mereka pun melaksanakan ibadah dan beristirahat sebentar. Nea memakan rotinya sambil menyuapi Kivan dan Bang Evan yang berada di sampingnya.
" Minum masih banyak kan ya?" tanya Bang Evan pada Fian.
" Ada, tenang aja" jawab Fian sambil memberikan air pada Bang Evan.
Jangan lupa, Read, like, komen, rate hehe
terimakasih