Neona

Neona
Bab 2



" Kamu bahagia kan walau di rumah cuma tinggal berdua aja, ditinggal mama papa pergi kerja terus? Ya, biar abang sering ninggal kerja juga sih" menoleh ke arah Nea, bang Evan harap-harap cemas dengan jawaban Nea.


" Bodoh amat, yang penting cuan ngalir mah" Nea terkekeh dengan tatapan kosongnya.


" Dek? yang bener ih" kesal dengan jawaban Nea.


Nea jengah dengan pertanyaan bang Evan.


" Ya terus mau gimana bang? Jalanin aja sih" berdiri ingin meninggalkan bang Evan.


" Eits mau kemana? sini dulu" menarik tangan Nea. Bang Evan belum puas dengan jawaban Nea.


" Apalagi bang?" mendudukkan dirinya di samping bang Evan, dengan wajah malesnya.


" Nggak ada, udah duduk berdua sini. Masa nggak kangen sih sama abangmu yang ganteng ini" mengedipkan mata kearah Nea sambil tersenyum tipis.


" Jijik bang astaghfirullah"


Hening beberapa saat..


" Yok kita makan, udah jam segini nih.. ntar habis bersih-bersih kita nikmatin senja sore" Yoga berjalan ke arah Nea dan langsung duduk di sampingnya.


" Iya, kalian bersih-bersih dulu sana" bang Evan memerintahkan kepada Nea and the geng untuk bersih-bersih, sementara dirinya memesan makanan untuk makan sorenya.


" Ne, besok kita berangkat sekolahnya pagian ya" pinta Fian pada Nea. Nea yang mendengarnya pun langsung menolehkan kepalanya.


" Kenapa? mau ketemu sama Sista?" tanya Nea pada Fian. " Udah ditolak 4 kali masih aja ngejar-ngejar dia, dasar Fian. Toh juga masih banyak perempuan lain yang cantik" lanjutnya dengan meninggalkan mereka berempat.


" Njir jleb ahaha, udah sih Yan bener kata Nea. Cewek kek gitu gausah diperjuangin lagi, ntar diri lo sendiri yang sakit" Dias mengusap punggung Fian.


" Huuuufffft... ya gimana lagi we, namanya juga cinta" Fian menatap Dias dengan sendunya.


Di kamar mandi


" Itu bukan cinta tapi G*bl*k, kalau cinta itu sama-sama memperjuangkan" Yoga mendorong Fian ke samping. " Udah lah Yan, berhenti aja, beeeh susah sekali ini anak" lanjutnya,Yoga heran dengan kelakuan Fian.


" Iya iya ntar gue coba" Fian menjawabnya pasrah.


" Apanya dicoba?" Ello tiba-tiba bertanya, " Langsung gas lupain, nggak ada itu namanya coba-coba" lanjutnya.


" Kau kira gampang?" menatap jengah ke arah Ello.


Di luar kamar mandi


" Woi anj*r, cepetan napa astaghfirullah. Lama amat kek anak perawan" Nea berteriak karena mereka berempat belum juga keluar, " Lapar loh ini akunya, gue tinggal ya" lanjutnya sambil meninggalkan Dias and the geng.


" Udah Ne, tunggu bentar" Dias dan yang lain segera menyusul Nea. " Maaf Ne, kami lama hehe" lanjut Dias sambil terkekeh.


" Ngoke" Nea bodoh amat.


17.15


Setelah membersihkan diri dan makan mereka pun duduk di tepi pantai, mereka menikmati senja sore yang begitu apik.


" Senyum dia kek senja ya, menyenangkan tapi nggak bisa tahan lama" Nea memulai obrolan ditengah keheningan.


" Maksudnya?" Yoga menatap Nea bingung.


" Kepo ah lo Yog" Nea melempar topi ke Yoga.


" Yeee terus kenapa lo ngomong oneng" melempar topinya kembali ke Nea


" Terserah aku dong" balasnya cuek.


18.00


" Sholat dulu ya, habis itu kita pulang" bang Evan menginterupsi Nea and the geng untuk melaksanakan sholat.


" Oke bang" jawab mereka serempak.


Mereka pun dalam perjalanan pulang, dengan Yoga sebagai pengemudi nya.


" Yog kalau capek bilang yee" Fian menoleh ke arah Yoga. " Iya" jawab Yoga.


Sementara di tempat duduk bagian tengah, Nea sudah tertidur dengan berbantal paha bang Evan.


" Dek, astaghfirullah baru juga masuk udah molor" Bang Evan meminta bantal ke Ello untuk Nea.


" Jaaan, emang kang molor banget dia" Ello memberikan bantalnya.


" Biarin, daripada ngoceh mulu" Fian yang asik main game pun langsung menyaut.


Yoga menjalankan mobilnya dengan kecepatan rata-rata. Bang Evan menatap alam yang mereka lewati di sepanjang perjalanan sambil menikmati hembusan angin malam yang menerpa wajahnya.


Ello yang melihatnya pun langsung menegurnya.


Sudah 1 jam perjalanan mereka pulang.


" Bang, kasihan si Nea ih ntar bangun-bangun masuk angin lo" menatap bang Evan yang berada di belakangnya.


" Sstt.. dibuka gini biar si Nea bangun" mengganggu Nea dengan memainkan rambut Nea.


" Duh, baaang bisa diam nggk sih. Aku ngantuk, nggak usah ganggu" memukul perut bang Evan secara brutal.


" Iya iya astaga dek, udah wee sakit" berusaha menghentikan tangan Nea yang masih berusaha untuk memukul.


" Ahaha, lo sih bang, udah tau kalau dia tidur nggak bisa diganggu malah diusilin. Ck ck ck" Dias hanya menatap jengah kepada bang Evan.


Nea yang sudah merasa terganggu pun akhirnya terpaksa untuk bangun. Sepanjang perjalanan, Nea hanya diam sambil menikmati pemandangan alam disekitarnya. Padahal hari sudah malam, pemandangan apa coba yang dilihat mereka haha.


" Yog, coba puter musiknya yang kencengan dong" Pinta Nea sambil memakan rotinya.


" Ngoke" Yoga menaikkan volume musiknya.


Sudah 2 jam mereka di jalan dalam hutan. Sampai akhirnya, mereka pun tiba di jalan raya besar, Yoga berhenti saat lampu merah. Nea melihat sekitarnya, tetapi dia tidak sengaja melihat ada penjual arum manis.


" Yog, berhenti disitu bentar ya nanti" Nea menunjuk kang arum manis yang sedang mangkal disitu.


" Oke", saat lampu hijau menyala, Yoga pun menjalankan mobilnya ke arah kang arum manis. Nea yang sudah tidak sabar, segera turun.


" Bang, arum manis dua ya. Buat bentuk lope bang" pinta Nea pada kang arum manis nya. " Oke neng, tunggu ya" kang arum manis pun segera membuat pesanan Nea.


10 menit kemudian, arum manis berbentuk lope pun sudah berada di tangan Nea.


" Ini bang" memberikan uang biru pada kang arum manis. " Eh neng, ini kebanyakan" sambil menyodorkan kembali uang biru tadi.


" Beeeh, sudah bang ambil aja. Terimakasih bang" Nea meninggalkan kang arum manis dan segera masuk mobil. " Terima kasih neng" teriak kang arum manis.


Di dalam mobil, Fian sudah menggantikan posisi Yoga untuk mengemudi.


4 jam sudah mereka menempuh perjalanan dari pantai ke rumah. Pukul 21.30 mereka sudah sampai di rumah masing-masing.


" Bang, gendong sampe kamar" pinta Nea kepada abangnya dengan wajah imutnya. Tanpa persetujuan bang Evan, Nea sudah nemplok di punggung bang Evan.


" Duh, untung abang bisa nahan, Ne. Kalau jatuh gimana?" omel bang Evan sambil terus berjalan ke kamar Nea. " Turun gih, bersih-bersih dulu terus tidur. Nice dream dek" perintah bang Evan sambil meninggalkan ciuman sayang pada Nea.


" Nice dream too abang sayang" menutup pintu kamarnya. Setalah itu, bang Evan segera pergi ke kamarnya.


Bruuk..


Nea menjatuhkan dirinya di atas kasur.


" Huft, capek kali aku. Dah lah nggak usah bersih-bersih" tanpa membersihkan diri dahulu, Nea langsung terlelap dalam tidurnya.


Jangan lupa, Read, like, komen, rate hehe


terimakasih. Hanya penulis amatiran.