Neona

Neona
Bab 18



" Bang, ada sinyal kah?" tanya Nea, karena melihat Bang Satria membalas WA.


" Ada, yang T kayanya" jawab Bang Satria.


Nea pun mengambil HP nya dan segera menghubungi Mama Nita bahwa mereka baik-baik saja.


" Lanjut ya" ucap Yoga.


" Yok gas, biar cepet nyampe bawah" sahut Nea. Mereka pun segera melanjutkan perjalanan. Selama perjalanan, mereka tidak pernah sepi. Selalu aja ada obrolan yang dibicarakan.


Sampailah mereka di pos 1, mereka pun mengambil pasokan air lagi, cuma 1 botol sih. Jalanan menuju basecamp pun lebih santai, karena jalanan sudah landai.


Maghrib pun tiba, mereka akhirnya sampai di basecamp tempat awal pendaftaran. Tanpa membersihkan diri, mereka langsung turun ke area parkir dengan menaiki ojek. Sesampainya di area parkir.


" Bang, bersih-bersih di penginapan apa di SPBU?" tanya Nea.


" Langsung aja, enak ntar habis bersih-bersih terus tidur" jawab Bang Evan.


" Oke yok gas" sahut Bang Satria.


Mereka pun segera mencari penginapan terdekat. Sesampainya di penginapan, untungnya ini seperti villa jadi terdapat 2 kamar dalam villa.


" Bersih-bersih gih kalian, gue mau keluar dulu" ucap Nea sambil menarik tangan Kivan.


" Eh? mau kemana?" cegah Bang Evan. Kivan bingung.


" Cari makan" jawab Nea, kemudian Nea dan Kivan segera mencari makanan yang seadanya.


" Maaf, Van. Waktu muncak, kita malah jarang ngobrol" kekeh Nea.


" Nggak apa-apa, sungkan juga akunya sama abang kamu" jawab Kivan sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


" Ahihi" Nea pun segera memesan makanan.


" Pak, bungkus 8 ya" ucap Nea pada bapak penjual nasi bungkus.


" Iya mbak" bapaknya segera membungkuskannya. Tak lama kemudian, bapaknya sudah menyerahkan makanan itu pada Nea.


" Ini pak" Kivan memberikan uang 2 lembar berwarna merah, " kembaliannya ambil aja pak" lanjut Kivan.


" Ya Allah, terima kasih ya Nak" ucap Bapak penjual nasi bungkus.


" Sama sama pak" Kivan dan Nea pun segera pergi.


Sesampainya di penginapan. Nea melihat Dias dan Fian tertidur di atas karpet.


" Bangun weee, makan dulu" Nea membangunkan Dias dan Fian dengan menggoyang-goyangkan tubuhnya.


" Emmm.. apa?" tanya Fian masih mengantuk.


" Makan dulu, terus lanjut tidur" jawab Nea.


Mereka semua pun makan, dan setelah beberapa jam mereka pergi untuk tidur. Nea pun masuk ke kamar depan, dan 3 orang kamar belakang, dan 4 orang lesehan di sebuah ruangan.


Sekitar pukul 04.30, Nea terbangun.


" Sekarang aja dah, ntar enak nggak siang-siang, besok ujian gaes" gumam Nea, kemudian turun dari tempat tidurnya dan keluar kamar. Nea pun segera membangunkan yang lain untuk ibadah.


" Bangun kalean semua, ibadah terus siap-siap" teriak Nea saat berada di kamar belakang. Begitupun juga dengan ruangan yang berisikan sahabatnya tidur.


Mereka semua pun segera bangun, mandi bergantian, dan melaksanakan ibadah. Setelahnya, mereka bersiap-siap untuk keluar dari penginapan.


" Udah semua?" tanya Nea.


" Udah, aman. Kenapa pagi-pagi sekali sih?" tanya Bang Satria sambil beberapa kali menguap.


" Kita besok ujian, biar nggak malam-malam pulangnya bang" cibik Nea, kemudian keluar dari penginapan.


" Beeeh dingin banget" keluh Fian sambil mengusap-usap tangannya.


" Kan tadi ana bilang pake jaket" ucap Nea jengah.


" Iya iya" Fian pun segera memakai jaketnya.


" Aishh, gue laper, Ne. Sarapan dulu lah" keluh Ello mengusap perutnya.


" Ya ini kita keluar cari sarapan, El" sahut Yoga.


" Tapi, cari nasi ya" ucap Ello.


Mereka pun, segera meninggalkan penginapan. Mereka mencari makanan di sekitar penginapan. Karena di Kota M masih pagi, jadi banyak kabut turun dan hawanya pun menjadi sangat dingin.


" Wushh, pagi-pagi bawa tas berat banget. Ntar dari kota gue yang bonceng ya bang" ucap Nea, setelah mereka sampai di sebuah tempat makan khas kota M.


" Jangan lah dek" jawab Bang Evan.


" Pas dari kota bang, kalau masih hutan ya gue kagak mau" ucap Nea.


" Iya terserah dah, cepet pesen makan sana" jawab Bang Evan sambil memerintah Nea.


" Dih.. sama semua apa gimana?" tanya Nea pada mereka semua.


" Sama in aja dah, biar nggak lama milih" sahut Fian.


" Yaps tul" ucap Kivan.


" Oke, bentar" jawab Nea, kemudian dia pergi untuk memesan makanan. Tak lama kemudian, Nea kembali dan mereka pun mengobrol sambil menunggu makanan datang.


" Bang, gaes.. mau cerita, tau nggak? Pas kita ketemu sama pendaki yang dari kota J itu?" Nea berbicara dengan menurunkan suara bicaranya. Semua penasaran, akhirnya mereka merapatkan duduknya.


" Dih, jan deket-deket napa. Jauhan, kita bukan lagi rapat" sambung Nea. Mereka pun menggeser kursinya sedikit.


" Ada apa, Ne?" tanya Bang Satria yang kepo banget.


" Mereka tanya perempuan cuma Nea doang kan?" sahut Kivan.


" Iya itu.. tau nggak kalian? Sebenarnya..." ucapan Nea terpotong saat pelayan membawakan makanan mereka.


" Permisi mbak, ini" ucap pelayan sambil meletakkan makanannya.


" Makasih ya" ucap semuanya.


" Iya" Pelayan pun pergi.


" Sebenarnya apa, Ne?" tiba-tiba Ello bertanya.


" Nanti aja, makan dulu" ucap Dias. Dias tidak mau memberitahu apa yang dia rasakan, biar Nea saja (pikirnya).


" Yaudin" jawab Ello. Mereka pun makan dengan tenang, dan tak lama kemudian mereka selesai.


" Jangan terburu-buru pulang, masih pagi kali ini" ucap Bang Evan pada semua.


" Iya, lanjut lah yang tadi, Ne" ucap Ello menatap Nea.


" Oh itu.. sebenarnya perempuannya bukan aku doang kemarin, ada satu lagi cuma di belakang Bang Sat" jawab Nea santai. Semua orang yang mendengarnya pun sedikit melongo.


" Eh? beneran, Ne?" tanya Fian tidak percaya.


" Tanya aja tuh sama Dias" jawab Nea. Sekarang, semua mata tertuju pada Dias. Dias sedikit ahem lah hihi.


" Kenapa?" tanya Dias.


" Beneran emang yang dikatakan Nea, Yas?" tanya Bang Evan.


" Iya, cuma di pos itu doang kok. Nggak nyampe turun" jawab Dias. Mereka semua hanya ber oh ria.


" Ntar mampir beli susu ya" ucap Nea pada Bang Evan.


" Iya, sekalian beli sapi-sapinya lah kalau bisa" canda Bang Evan.


" Boleh, lo yang pulang bawa sapinya" jawab Nea.


" Van, lo bisa jagain adek gue nggak? Janji nggak bakal nyakitin?" tiba-tiba Bang Evan bertanya pada Kivan.


" Eh? I-iya bang, insyaallah" jawab Kivan sedikit bengong.


" Awas aja lo nyakitin adek gue" Bang Evan sedikit mengancam Kivan.


" I-iya bang" jawab Kivan sedikit gugup.


" Dih apasih bang" sahut Nea.


" Yaudah lah, yok kita ke tempat susu" ajak Bang Satria pada Bang Evan.


Jangan lupa, Read, like, komen, rate hehe


terimakasih