
Hari Senin, SMA 2 Nusa akan melaksanakan kegiatan upacara bendera. Nea and the geng sudah stay di bangku masing-masing. Mereka mengobrol sebentar sebelum upacara bendera dimulai. Saat sedang asik mengobrol, tiba-tiba Dina datang kepada Nea.
" Ne, ada 2 topi nggak? gue lupa nggak bawa" ucap Dina.
" Nggak, nih pake aja punya gue" menyodorkan topi yang dipegang kepada Dina. Sebelum ada di tangan Dina, tiba-tiba Kivan datang dan mengambil topi itu.
" Enggak usah dikasih, salah siapa nggak bawa. Udah tau hari senin" ucap Kivan sewot sambil mengambil topi Nea, dan menarik tangan Nea keluar. Karena upacara bendera akan dilaksanakan 2 menit lagi. Dias, Ello, Fian dan Yoga hanya mengikuti dari belakang.
" Nggak usah pegang-pegang kali" ucap Nea sewot sambil mengibaskan tangannya.
" Jangan judes-judes bisa kali. Semakin lo cuek ke gue, gue makin tertantang buat godain lo" bisik Kivan tepat di telinga Nea. Nea yang mendengarnya pun masih bengong sambil mencerna apa yang dikatakan oleh Kivan.
" Wee malah bengong, udah nggak usah dipikirin. Sekolah aja yang bener" ucap Kivan dengan senyum manisnya dan memakaikan topi Nea yang sejak tadi dia pegang.
Deg, deg, deg
'Anjir, apaan ini. Yakali gue bisa jatuh cinta pada pandangan pertama. Nggak, nggak mungkin' batin Nea.
" Akkheeeem, upacara mau dimulai. Jangan pacaran mulu" sindir Dias saat melihat adegan tadi.
" Siapa juga yang pacaran, ngadi-ngadi lo" balas Nea sewot sambil memukul lengan Dias.
" Ya kita lah, Ne" jawab Kivan tanpa beban.
" Dih" Nea memilih mundur mencari tempat yang aman.
Tanpa disadari, ada seseorang yang melihat interaksi keduanya dengan tatapan tidak suka.
Upacara bendera sudah selesai, semua siswa kembali ke kelas masing-masing. Oke, pelajaran pertama, Bahasa Indonesia.
Detik-detik pelajaran berakhir, Bu Endang malah memberikan tugas.
" Tugas kalian, mendefinisikan cover ini maksudnya bagaimana. Nanti istirahat jam ke dua, semua sudah terkumpul di meja kerja saya. Pelajaran saya akhiri, saya pamit. Assalamualaikum" jelas Bu Endang tanpa mendengar protesan dari murid-muridnya.
" Mantap, i lope you bu" teriak Riza frustasi.
" Yang ini ngapain?" tanya Nea frustasi, karena sejak tadi dia bingung. " Aaah, yaya. Peta ini melambangkan Bhineka Tunggal Ika" Ujar Nea menemukan jawabannya.
Tak lama kemudian, tugas Nea and the geng nya sudah selesai, termasuk Kivan. Yang lain masih pada nyantai, karena masih dikumpulkan istirahat jam kedua.
..........
Kring kring kring
" Akhirnya kelar juga nih tugas" ucap Andin sambil merenggangkan otot nya.
" Alay ih" jawab Ello yang kebetulan berdiri di samping Andin.
" Iri bilang deh, El" sewot Andin.
" Kalian mau ikut ke kantin apa nggak? Jan berantem mulu elah" ucap Yoga datar.
" Eh iya iya astaga, Yok" jawab Ello langsung berjalan meninggalkan Andin. Nea yang masih di belakang, menawarkan ajakan pada Andin.
" Ikut nggak?" tanya Nea.
" Boleh?" jawab Andin.
" Yok" menarik tangan Andin, dan berjalan di belakang para laki-laki.
Saat di lorong Nea dan Andre berpapasan, mereka saling menatap. Bukan karena punya rasa, tapi karena kejadian itu membuat Nea menatap seolah-olah Andre adalah musuhnya.
" akhem ekhem.. udah kali tatap-tatapan nya" sindir Kivan yang tidak sengaja melihat adegan itu.
" Dih, apaan coba" sewot Nea.
" Lah? emang kenapa, Van? Lo cemburu?" tanya Dias.
" Kepo" jawab Kivan datar.
" Lah" balas Dias.
Sesampainya di kantin, seperti biasa Nea langsung memilih tempat duduk di bagian pojok. Kivan penasaran, kenapa selalu di pojok.
" Kenapa mesti di pojok sih, Ne?" tanya Kivan heran.
" Suka aja, strategis" jawab Nea sambil pergi ingin memesan makanan. " Mau apa kalian?" lanjutnya bertanya pada yang lain.
" Biasanya aja dah" jawab mereka. " Oke, yuk El" Nea menarik tangan Ello. Kivan yang melihat itu, menahan rasa gimana gitu.
Tak lama kemudian, makanan mereka datang. Mereka makan dengan tenang tanpa ada obrolan.
" Mau ke kelas apa ke rooftop?" tanya Fian pada sahabatnya.
" Din, kita mau ke rooftop. Lo ikut nggak?" tanya Nea pada Andin.
" Emm.. gue ikut ya" jawab Andin sambil melirik ke arah Yoga. Tapi, Yoga tidak sadar.
" Kalian ke rooftop dulu ya, ana mau ke toilet bentar" pinta Nea langsung ngacir ke toilet.
Sesampainya di toilet, tiba-tiba ada seseorang yang menepuk pundak Nea dari belakang saat Nea selesai menutup pintu toilet nya.
" Hei! Lo kan yang nyuruh Fian berhenti ngejar-ngejar gue" tanya Sista dengan wajah sinisnya.
" Lah? Lo nya ngaca nggak? Udah tau dikejar malah sok jaim, tolol dipelihara" sarkas Nea sambil meninggalkan toilet.
" Anjir!" umpat Sista keluar toilet sambil menghentakkan kakinya.
" Bersyukur gue pindah kesini" batin Kivan.
Sedangkan Ello asik menggoda Andin.
" Din, tuh rambut potong napa. Kek kunti lo" canda Ello pada Andin.
" Ih, apaan sih. Terserah gue dong" balas Andin sewot.
" Ya kalau jadi kunti, ntar kan tinggal nakutin Lo, El" sambung Yoga sambil bermain game online di HP nya.
" Anjir, yakali!" ucap Ello.
" Kok Nea lama sih" tanya Dias pada yang lain.
" Lah mana saya tau" jawab Fian.
" Eh itu dia" tunjuk Dias pada Nea yang baru datang.
" Kok lama banget, Ne" tanya Fian saat Nea duduk di sebelahnya.
" Nanti aja" Jawabnya dengan wajah datar.
" Nanti kita mau main basket, lo ikut nggak Ne?" tanya Ello.
" Nggak, gue pulang duluan" Nea menjawab dengan tangan yang masih asik menscroll Instagramnya.
" Tumben?" tanya Yoga.
" Nggak mood gue" jawab Nea sambil menyenderkan kepalanya di bahu Fian. Kivan yang melihat itu, entah ada rasa cemburu atau apa, dia terlihat tidak suka.
" Oushh, nape nggak mood lo? Ada yang ganggu?" tanya Fian sambil menolehkan kepalanya.
" Ntar aja gue cerita" jawab Nea, kemudian berdiri, " Yok ke kelas, udah masuk nuh" ajaknya pada yang lain.
................
Seperti yang dibilang tadi, Nea pulang duluan.
" Assalamualaikum, Nea pulang.. Yuhuuu efribadiii" teriak Nea saat membuka pintu.
" Wa'alaikumussalaam, Masya Allah. Udah dibilangin jangan teriak-teriak mulu, Nea" Mama Nita menghampiri Nea dan langsung menjewer telinga Nea.
" Eh iya iya, Ma. Ampuun dah, lepasin dulu" pinta Nea sambil berusaha melepaskan jewerannya.
" Lah? napa dijewer Ma?" tanya Bang Evan yang tiba-tiba muncul dari belakang.
" Kebiasaan dia teriak-teriak dalam rumah" jawab Mama Nita sambil melepaskan jewerannya.
" Jambak aja sekalian, Ma" ucap Bang Evan memanasi.
Bug
" Mampus, Lo" ucap Nea sinis saat dia berhasil meninju perut Bang Evan.
" Sakit oneng" keluh Bang Evan sambil mengelus perutnya.
" Omongan kalian kenapa nggak ada yang disaring? Kotor semua!" protes Mama Nita saat mendengar ucapan putra putrinya.
" Maaf, Ma" ucap keduanya.
" Aku ke kamar dulu, Ma" pamit Nea sambil meninju punggung Bang Evan, kemudian lari secepat-cepatnya.
" Neaaaaa!" teriak Bang Evan. '****** emang tuh anak, awas aja yaaa' batin Bang Evan.
" Aku juga mau pamit ke kamar dulu, Ma" ucap Bang Evan. Mama yang melihat keduanya hanya menggelengkan kepalanya. Heran, kenapa sudah besar masih aja suka berantem.
..........
Malam hari, sekitar jam 9.
Ceklekk..
" Ikut nggak dek? Gue mau keluar nih" tawar Bang Evan pada Nea yang sedang belajar.
" Kemana?" tanya Nea.
" Ikut nggak?" tawar Bang Evan lagi.
" Iya, kemana dulu, Bang!" tanya Nea ngegas.
" Cari jajan yok" tanpa ba-bi-bu Nea langsung mengambil jaketnya.
" Ganti celana mu dulu, masa pake pendek gitu. Nggak suka abang" sewot Bang Evan saat melihat Nea memakai celana pendek.
" Y, bentar" Nea mengambil celana panjangnya dan langsung dipakainya.
" Goo bang" Nea menarik tangan Bang Evan dengan semangat.
" Makanan mulu otakmu, heran abang" ucap Bang Evan sambil mengikuti langkah Nea.
" Pamit dulu sana sama, Mama. Gue tunggu di depan" perintah Nea pada abangnya, kemudian dia keluar rumah.
Jangan lupa, Read, like, komen, rate hehe
terimakasih