Neona

Neona
Bab 20



" Berarti aku gabisa antar abang dong" Ucap Nea dengan puppy eyes nya.


" Bisa, ini aja langsung ke sana. Ntar biar abangmu yang izin ke sekolah" jawab Bang Satria.


" Ya nggak bisa abang, aku ujian" jawab Nea, dia mengambil nasi dan lauknya.


" Eh iya ya, ya udah nggak usah nganter nggak apa-apa" jawab Bang Satria.


" Dih, ya udah lah nggak apa-apa. Masih ada waktu, ujian dimulai jam setengah delapan juga" ucap Nea menatap jam yang melingkar di tangannya yang masih menunjukkan pukul enam.


" Oh ya udah, sekarang aja kita otw" ucap Bang Evan.


" Nah bener, ayok bang" menarik tangan Bang Satria.


" Tapi Bang Satria belum makan, Nea" sahut Mama Nita.


" Makan di mobil bisa, Ma" bela Papa Indra pada Nea.


" Nah yes, yok lah" Nea pun segera mengambil kotak makan dan segera mengisi nya dengan nasi dan lauk pauk.


" Abang makan sendiri di mobil ya, aku bawa motor soalnya" ucap Nea.


" Iya deh" jawab Bang Satria, " Emm.. Om, Tante.. Aku pamit dulu, terima kasih sudah menampung saya hehe" lanjut Bang Satria sambil berpamitan pada Papa Indra dan Mama Nita.


" Iya, hati-hati. Salamin sama Papa Mama mu ya" ucap Mama Nita sambil mengelus kepala Bang Satria.


" Iya, tan" Bang Satria, Bang Evan, dan Nea pun segera pergi meninggalkan rumah dan berangkat menuju Bandara.


Untungnya, jarak rumah ke bandara nggak begitu jauh, jadi Nea ke sekolahnya nggk akan telat. Sesampainya di bandara, Bang Satria dan Nea berpelukan sangat erat, kemudian Nea pamit pergi ke sekolahnya.


Nea melajukan motornya dengan kecepatan penuh. Sesampainya di parkiran sekolah, ia tak sengaja berbarengan dengan Andre yang juga turun dari motornya.


" Dih" guman Nea sambil menatap Andre sinis dan segera pergi dari parkiran.


" Apasih" batin Andre.


Sesampainya di kelas.


" Hufft, untung masih 15 menit lagi ujiannya" ucap Nea sambil mengibaskan tangannya mencari angin.


" Emang kenapa, Ne?" Tanya Ello yang memang kebetulan sudah datang dari tadi.


" Emm.. nganter Bang Satria ke bandara" jawab Nea.


" Kok udah pulang?" Tanya Fian pada Nea.


" Ya mana aku tahu ogeb!" jawab Nea ngegas.


" Yeeee, biasa aja ogeb" balas Fian, dia pun pergi ke meja yang sudah berurutan saat ujian.


Nea tidak pindah, karena memang kebetulan nomernya pas dengan bangku yang di dudukinya. Di depan Nea ada Ello, di samping Ello ada Yoga, di samping depan Yoga ada Dias, dan di belakang Dias ada Kivan, sebelah Kivan ada Fian. Yaps, mereka berpencar gais.


Pengawas ujian pun masuk, dan ujian segera di mulai.


" Bismillah, lancar semua" pinta Nea, kemudian dia mengerjakan ujiannya dengan santai. Waktu pun hampir selesai, Nea dan sahabat-sahabatnya langsung mengumpulkan ujiannya.


" Alhamdulillah, yuk rooftop" ajak Fian pada Nea.


" Jangan ah, ntar ke kelasnya keburu malah. Mending ke kantin aja yok" tolak Nea, Nea pun berjalan lebih dulu ke kantin, kemudian diikuti oleh Fian dan yang lainnya. Sesampainya di kantin, Nea hanya memakan gorengan yang disediakan di meja kantin.


" Nggak makan, Ne?" tanya Kivan yang sejak tadi diam.


" Nggak, makan aja kalau lo laper!" ucap Nea memanggil Kivan dengan sebutan 'lo'.


" Hah? kamu manggil aku apa?" tanya Kivan sedikit kaget dengan panggilan Nea.


" Keceplosan, sorry" jawab Nea santai sambil memakan gorengan.


" Hmm" Kivan pun pergi untuk membeli minum, tak lama ia datang dan membawa beberapa minuman.


"…Nea kenapa dah, aku ada salah apaan yak?" batin Kivan sambil menatap Nea.


Beberapa menit setelahnya, bel masuk pun berbunyi. Nea dan kawan-kawannya langsung pergi meninggalkan kantin.


Seperti tadi, ujian kedua. Lembar sudah dibagikan.


Nea dan teman sekelas langsung berdoa sesuai dengan kepercayaan masing-masing.


Di parkiran.


" Ne, ada apasih. Kenapa cuek banget!? Kalau aku salah bilang" pinta Kivan setelah berhasil menangkap lengan Nea.


" Hah!? gak ada apa-apa, kapan aku cuek?" Nea lupa sama sikap dirinya sendiri yang tadi.


" Lah? ya udah, kamu pulang hati-hati. Jangan ngebut" pesan Kivan, dia bingung dengan sikap Nea.. Pelupa.


" Iya kamu juga" setelah mengucapkan kalimat itu, Nea langsung mengambil motornya.


Nea menjalankan motornya dengan kecepatan sedang, dia juga melihat-lihat sekitar. Nea mau ke toko, dia ingin membeli sesuatu.


Setelah sampai tokonya, Nea langsung mencari jajanan yang dia suka dan memasukkannya ke dalam keranjang. Dia pun menuju kasir dan membayar semua belanjaannya. Sebelum melanjutkan perjalanan pulang, Nea menyempatkan diri untuk memakan ice cream di depan toko tersebut.


Beberapa menit setelahnya, Nea sudah menghabiskan ice creamnya dan dia melanjutkan untuk pulang.


****************


Sampai di rumah.


" Assalamu'alaikum, Mamaaaaaa" teriak Nea sambil membuka pintu rumah.


" Wa'alaikumussalaam, gak usah teriak-teriak Nea!" ucap Mama sambil menjewer telinga Nea.


" Duh, iya iya. Lepas dulu, Ma!" ucap Nea mengibah, Mama pun melepaskan jewerannya.


" Kebiasaan teriak-teriak, udah dibilang ini rumah bukan hutan!" ucap Mama dan berlalu meninggalkan Nea untuk kembali melakukan kegiatan memasaknya.


" Ya namanya juga khilaf, Ma" ucap Nea dengan wajah dibuat sesedih mungkin.


" Helleh" sahut Mama.


Di kamar Nea.


" Masih jam segini, nonton film dulu lah" ucap Nea setelah bebersih tadi.


" Kangen sama abang tapi, apa ke kantor aja ya" gumam Nea, " berangkat ke abang lah" lanjutnya. Nea kemudian siap-siap untuk pergi ke kantor Papanya, meskipun kantornya tidak sebesar pemilik perusahaan nomer 1 di Indonesia maupun Asia, setidaknya penghasilan dari kantor Papanya bisa menghidupi keluarganya.


Setelah mengenakan pakaian yang menurutnya santai, dia pun bergegas menemui mamanya untuk berpamitan.


" Ma, aku mau ke Papa ya" ucap Nea pada Mamanya yang kini berada di depan Televisi. Emm, maksudnya sedang menonton TV.


" Mau ngapain?" tanya Mama.


" Kangen Bang... Siapa Ma nama abng?" tiba-tiba Nea lupa dengan nama Abangnya.


" Yaa Allah Neaaa... Evan, nama abangmu Evan." ucap Mama penuh penekanan.


" Lupa" enteng banget jawaban Nea.


" Ya udah hati-hati kalau mau kesana, jangan ganggu pas lagi kerja ya" peringat Mama pada Nea.


" Iya-iya, kapan sih aku pernah ganggu itu" balas Nea sambil menyalimi tangan Mamanya.


" Sering" celetuk Mama.


Nea pun segera berangkat ke kantor Papanya. Setelah beberapa menit di perjalanan, Nea pun langsung masuk ke gedung.


Nea pun menuju ke resepsionis untuk bertanya. Nea melihat ada resepsionis baru disitu.


" Maaf mbak, Pak Evan nya ada?" tanya Nea baik-baik.


" Pak Evan keluar, adek ada urusan apa ya?" jawab resepsionis sedikit judes.


" Saya ada urusan penting sama Pak Evan" jawab Nea tak kalah judes.


" Iya urusan apa dek! Pak Evan itu orang penting, ga sembarangan bisa ketemu sama Pak Evan" jawab resepsionis sekali lagi dengan muka angkuhnya.


" Ya saya termasuk penting bagi Pak Evan" jawab Nea enteng dengan wajah usil.


Jangan lupa, Read, like, komen, rate hehe


terimakasih