
" Dih, gue udah gendut ini. Mau diet" ucap Nea sambil memakan ayam gorengnya.
" Eits, anak Mama nggak ada yang diet-diet ya. Makan selagi bisa makan" titah Mama tanpa ada bantahan.
Setelah makan malam selesai, Nea kembali ke kamarnya untuk belajar.
Ting, hp Nea berbunyi
" Gini nih, waktunya belajar jadi nggak konsen" gerutu Nea, tanpa memperdulikan HP nya yang berbunyi.
Ting, ting
" Dih, siapa sih" Nea mengambil HP nya, dia ingin mematikan datanya, malah ada yang telfon.
📞nomor tidak dikenal
" Siapa?" tanya Nea saat mengangkat panggilan.
" Kivan" jawabnya, " Lama banget sih balesnya, sibuk?" lanjutnya.
" Iya, dan lo ganggu" balas Nea singkat.
" Dih, nggak usah sok cuek. Masih ingat kan, apa yang aku bilang kemarin?" balas Kivan mengingatkan.
" Ngaca mas, dirimu juga cuek" jawab Nea enteng.
" Ntar aja, sekarang save nomer aku"
" Hmm" cuek Nea lagi.
" Dah, tidur sana. Jangan gadang" ucap Kivan.
" Hmm, lo juga" balas Nea.
" Iya" jawab Kivan, kemudian mematikan telepon nya.
" Dih, ni cowok rese juga. Udah dicuekin juga tetep aja" gumam Nea.
" Tapi asik juga sih" tertawa kecil, kemudian melanjutkan belajarnya.
...........
Keesokan harinya.
" Yuhuuuu, Princess Nea turun. Mana sambutan nya untuk princess satu yang cantik ini" teriak Nea sambil menapaki tangga terakhir dari lantai dua.
" Berisik, Nea" cibir Bang Evan.
" Tau ih, pagi-pagi teriak-teriak aja" sahut Kak Salma, sepupu Nea.
" Lah? Kakaaaaaakk..." Nea berlari ke arah kak Salma dan memeluknya erat.
" Dih, kakak kenapa datang nggak bilang-bilang sih" protes Nea saat melihat sepupu nya datang tanpa memberi kabar.
" Kejutan dong" balas Kak Salma sambil mengelus kepala Nea, " Udah, makan sana" lanjutnya.
Suasana meja makan hening, mereka menikmati makanan pagi itu. Tak lama kemudian, sarapannya sudah selesai.
" Kak Sal, Bang Sat nggak ikut?" tanya Nea.
" Heh, Bang sat siapa? jangan ngada-ngada kamu, Nea" omel mama Nita.
" Bang Satria, Ma" jengah Nea.
" Ikut, tapi masih ke suatu tempat dulu" jawab kak Salma.
" Oh, yaudin. Oke semua, Nea berangkat mencari ilmu dahulu ya.. Selamat tinggal" ucap Nea meninggalkan mereka berempat.
" Dih, ada-ada saja itu anak" heran Bang Evan.
" Yogaaaaaaaaaa, yuhuuu. Gue males bawa motor, nebeng" teriak Nea di halaman rumah Yoga, kebetulan Yoga mengeluarkan motornya.
" Pagi-pagi nggak usah teriak-teriak, Nea" protes Yoga.
" Eh, tante.. nebeng Yoga dulu Tan hari ini" cengir Nea saat melihat Tante Novi keluar rumah.
" Haha, iya Nea" balas Tante Novi lembut.
" Ayok, Yoga.." Nea sudah nangkring diatas motor, " Kami, berangkat dulu, Tan. Byeee" melambaikan tangannya pada Tante Novi.
" Ini langsung aja, Yog? Nggak nunggu yang lain?" tanya Nea saat Yoga melewati rumah sahabatnya yang lain.
" Lah? cuma kita doang yang belum berangkat, Ne" jelas Yoga.
" Kita telat?" kaget Nea.
" Nggak, cuma kita lelet" balas Yoga cengengesan.
Aaaaawww..
jerit Yoga karena perutnya di cubit oleh Nea.
" Dih, Ne. Apaan dah suka banget nyubit-nyubit" keluh Yoga sambil mengusap perutnya.
" Bacot" balas Nea sewot.
Kivan yang melihat adegan itu hanya menarik nafasnya. Ya, Kivan melihat mereka saat berhenti di lampu merah tadi.
" Huuuufffft, untung mereka sahabatnya. Gue nggak yakin, diantara mereka nggak ada yang nggak ada rasa" gumam Kivan.
Sesampainya di sekolah.
" Bisa-bisanya, kalian ninggalin kita" ucap Nea pada Dias, Ello, dan Fian.
" Maaf, Ne" cengir Ello sambil mengangkat 2 jari.
" Y" jawab Nea singkat.
" Dih, apaan coba" heran Fian.
" Bacot!" bales Nea.
" Ssstt... biarin si Nea" lerai Dias, daripada Nea tambah ngamuk.
Kivan yang baru datang, heran melihat Nea yang menunjukkan wajah marah pada sahabatnya.
" Kenapa, Ne?" tanya Kivan.
" Diem, lo" jawabnya cuek.
" Mending diem, Van. Ntar kena semprot malah" ucap Yoga.
Pelajaran pertama, kedua, ketiga sudah selesai..
" Saya akhiri ya.. Oh ya jangan lupa tugasnya dikumpulkan nanti sebelum pulang" terang Pak Danu.
" Denger-denger kelas 12 mau ngadain acara camping? Bener tak?" tanya Ely pada temen sekelasnya.
" Nggak tahu juga sih, ntar deh coba tanya Andre" ucap Putri.
" Oke deh, moga aja jadi. Eneg banget tiap hari pelajaran mulu.." keluh Ely.
" Lebay ah, Lo" sahut Ello.
" Dih" sewot Ely.
" Tadi di jalan, gue nggak sengaja ketemu Bang Sat, Ne" ucap Fian mencari topik supaya Nea berbicara.
" Oh iya, dia kesini" jawab Nea apa adanya, " Mau ke kantin nggak kalian?" menawarkan.
" Iya iya ayo" Dias langsung berdiri, daripada kena semprot lagi, batinnya.
Di Kantin
" Traktir gue sepuasnya, gue nggak ngambek lagi" ucap Nea.
" Iya, Lo ambil apa aja dah" jawab Ello.
" Sip, tapi nanti pas pulang" ucap Nea lagi.
" Iyaaa, terserah lo dah" Dias berdiri, " Mau pesen apa? biasanya atau ada yang lain?" tanya Dias pada mereka.
" Bakso"
" Bakso"
ucap Nea dan Kivan bersama.
" Cieee" goda Yoga menoel dagu Nea.
" Dih, apaan. Cepetan, udah laper" balas Nea ngegas.
" Santai dong, Ne" Dias dan Yoga meninggalkan mereka dan memesan makanan.
" Ne, ntar malam sibuk nggak?" tanya Kivan setengah berbisik pada Nea.
" Kenapa?" Nea menoleh ke arah Kivan, mata mereka pun saling tatap.
" Mau jalan-jalan nggak?" tawar Kivan pada Nea.
" Nggak bisa keknya, gue juga mau keluar" balas Nea kemudian mengambil Bakso yang tadi dipesennya dari nampan yang dibawah Dias, " Makasih" lanjutnya.
" Oh gitu, oke. Kapan-kapan aja dah" pasrah Kivan.
" Iya" Nea memakan baksonya yang sangat pedas itu.
" Jangan banyak-banyak atuh sambalnya, ntar sakit perut" ucap Kivan memperingatkan.
" Dih, selalu aja nggak mau ngaca" balas Nea saat melihat bakso Kivan juga sama sepertinya, merah cabe tanpa ada kecap.
" Hehe" cengir Kivan.
................
Sepulang sekolah.
" Gue mau jajan dulu, sesuai janji kalian" ucap Nea pada sahabatnya.
" Iya, jajanlah sepuasnya" balas Ello enteng.
" Berhenti, Yog" menepuk bahu Yoga. Nea turun dan membeli makanan yang diinginkan. Ada Boba, Cimol, Batagor, Pentol, Cilok, dan Leker pisang dan masing-masing yang dibeli ada 5.
" Astagaa, Nea. Banyak kali kau beli itu" Fian melongo melihat yang Nea beli, sudah dipastikan bahwa merekalah yang akan memakan itu semua.
" Makan bareng, tenang aja" ucap Nea enteng.
" Tenang-tenang, mana ada. Banya kali itu" protes Dias.
" Dah, kalian protes aku beli lagi" ancam Nea yang kemudian menyerahkan makanan itu pada Ello dan Fian untuk dibawa.
" Yuk, pulang" perintah Nea pada sahabatnya.
" Enteng banget kalau ngomong" batin Yoga.
" Dasar perempuan" batin Dias.
Sesampainya di rumah.
" Kalian langsung kesini, nggak boleh pulang. Gue tau kalian ntar nggak bakal balek lagi" ucap Nea benar. Nea sudah tahu, dari wajah-wajah mereka akan menghindari makan itu.
" Iya Nea iyaaa, ayok dah" jawab Fian turun dari motornya.
" Kalian langsung ke belakang" ucap Nea. Kemudian Nea membagikan makanan yang dibeli tadi pada para pekerja di rumahnya. Setelah itu, Nea langsung bergabung pada mereka di belakang.
" Kok makanannya berkurang?" tanya Ello heran.
" Mau nambah kah?" dibales tanya sama Nea.
" Eh enggak astaga, tanya doang" balas Ello cepat.
Saat Nea berdiri dan menoleh ke belakang, tiba-tiba ada Bang Satria di belakangnya.
" Baaaang Saaaaattttt" teriak Nea seneng kemudian memeluk tubuh Bang Satria dengan erat. Sudah lama rasanya Nea tidak bertemu Bang Satria karena pekerjaan dan tempat tinggal yang jauh.
" Dih, bisa nggak jangan Bang Sat gitu, Ne" raut wajah Bang Satria datar, tapi tangannya tetep memeluk sepupunya erat.
" Nggak bisa, terserah gue" ucap Nea tanpa mau dibantah.
" Kalian ini kenapa nggak langsung pulang?" tanya Bang Satria saat melihat teman Nea ada di sana.
" Tanya aja bang sama Nea, laknat emang tuh anak" canda Yoga.
" Fakta" sahut Dias sambil memakan pentolnya.
" Abang mau nggak?" Fian menawarkan makanan yang ada disitu.
" Gue haus, minta Boba nya aja" langsung mengambil punya Nea dan meninggalkan mereka.
" Lah? punya gue?" tanya Nea pada diri sendiri.
" Punya kita kan masih ada" ucap Yoga.
" Eh, temen lo kan temennya Andre, bener emang nanti ada camping?" tanya Nea pada Ello.
" Nggak tahu,
Jangan lupa, Read, like, komen, rate hehe
terimakasih